Koridor Togean – Banggai

Koridor Kepulauan Togean-Banggai merupakan rangkaian pulau-pulau di Teluk Tomini, Sulawesi Tengah yang merupakan bagian dari Hotspot Walacea. Kepulauan Togean, dengan luas lautan dan daratan sekitar 600.000 hektar, secara global sangat penting karena termasuk di dalam segitiga terumbu karang dunia (Coral Triangle), yaitu area dengan keanekaragaman terumbu karang yang tinggi.

Penelitian RAP kelautan yang dilakukan CI pada tahun 1998 memperlihatkan keunikan dan keanekaan sumber daya kelautan di wilayah Kepulauan Togean dan Kepulauan Banggai. Di kepulauan Togean misalnya, terdapat hutan bakau yang sangat luas dan hamparan padang lamun yang menjadi sumber makanan dugong (Dugong dugon). Lebih dari 35 spesies ikan kupu-kupu (Chaetodontidae) hidup disini yang menunjukan bahwa terumbu karang dalam keadaan sehat. Di Pulau Banggai, yang terletak di Teluk Tolo, ditemukan spesies endemik, yaitu ikan kardinal Banggai (Pterapogon kauderni). Ikan yang banyak diminati para pemilik akuarium karena kecantikannya, saat ini dalam keadaan terancam karena pengambilan yang berlebihan, disamping laju reproduksinya yang sangat rendah.

Ancaman terhadap ekosistem laut Kepulauan Togean-Banggai cukup berat. Karena pengambilan hasil laut yang berlebihan, pengambilan ikan dengan menggunakan dinamit dan sianida, penambangan terumbu karang, dan pembersihan lahan, membuat habitat dan beberapa spesies endemik terancam punah.

Beberapa spesies lain yang terancam punah di Kepulauan Togean, sebagian diantaranya endemik, antara lain, biawak Togean (Varanus togeanus), subspesies monyet Sulawesi yang yang tergolong endemik daerah ini (Macaca togeanus), Singapuar Togean (Tarsius sp), dan Babirusa Togean (Babyrusa togeanus). Sementara itu, di Banggai ditemukan Gagak Banggai (Corvus unicolor) yang juga endemik, Kuskus Peleng (Palanger ursinus pelengensis), dan Singapuar Peleng (Tarsius pelengensis).

Untuk menjaga keanekaragaman hayati dan menjamin perlindungan jangka panjang bagi gugusan Kepulauan Togean-Banggai, CI Indonesia berusaha memperbaiki perencanaan pembangunan dan pengelolaan sumber daya alam. Pendekatan yang dilakukan CI dalam mencapai tujuan ini adalah dengan mengintegrasikan isu keanekaragaman hayati di dalam perencanaan wilayah dengan membangun konsensus di antara berbagai pihak yang berkepentingan dan memfasilitasi terbentuknya kawasan pelestarian alam berbasis masyarakat. Dalam pelaksanaanya, CI-Indonesia melakukan kemitraan dengan berbagai organisasi setempat dengan memfasilitasi terbentuknya Forum Togean yang lebih dikenal dengan nama Pusimparatan Togoiya, yaitu forum konsultasi publik yang untuk saat ini tengah memperjuangkan revisi tata ruang Kepulauan Togean (RDTR) dan Kabupaten Poso (RTRWK). Salah satu tuntutan yang diajukan Pusimparatan Togoiya adalah menolak alokasi hutan produksi dan hutan konversi seluas lebih dari 14,000 hektar di seluruh kawasan kepulauan Togean dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Poso tahun 2001.

Melihat potensi yang dimiliki Kepulauan Togean, CI Indonesia bersama dengan masyarakat lokal memprakarsai ekowisata Togean yang pengelolaannya dilaksanakan oleh masyarakat setempat. Pembentukan Jaringan Ekowisata Togean (JET) merupakan upaya untuk membuka akses masyarakat lokal ke dalam bisnis pariwisata sambil tetap melindungi keanekaragaman hayati di Togean.

Pendekatan lainnya adalah melakukan kampanye dan pendidikan konservasi bagi masyarakat Togean, untuk mengurangi ancaman terhadap ekosistem Kepulauan Togean dan perubahan sikap sehingga masyarakat mendukung terbentuknya kawasan lindung. Kampanye ini juga membangun kebanggaan terhadap tanah dan laut tempat mereka hidup, agar termotivasi untuk berpartisipasi dalam menjaga kelestarian Kepulauan Togean.

Data dari : http://www.conservation.or.id
 

Copyright © 2012 TelukPalu.Com All rights reserved. Powered by Wordpress