Cagar Alam Morowali

Lokasi

Berdasarkan pembagian wilayah administrasi pemerintahan, cagar alam Morowali terletak di dua kecamatan, yaitu Kec. Petasia (Kolonodale) Dan Kec. Bungku Utara, Kabupaten Poso.

Iklim dan Topografi

Topografi mulai dari datar sampai bergunung-gunung dengan puncak utama yang tinggi antara lain: G. Tokala (2.630 m), G. Tambusisi (2.422 m) dan G. Morowall (2.240 m). lklim dikawasan ini merupakan lklim tropis basah dengan curah hujan rata-rata 3.500 – 4.500 mm / tahun.

Sejarah

Cagar alam Morowali mempunyai nilai pelestarian yang tinggi sebab daerah ini merupakan salah satu daerah terluas yang masih ada dan merupakan daerah hutan hujan dataran rendah alluvial di Sulawesi. Selain itu untuk melindungi tipe hutan yang tumbuh pada batu-batuan beku basah atau ultra basah. Cagar alam ini seluas 225,000 Ha, berfungsi pula sebagai perlindungan sejumlah spesies mamalia dan burung endemik yang mempunyai daya tarik. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. : 374/Kpts-VII/1986, tanggal 24 Nopember 1986 ditetapkan sebagai Cagar alam dengan peruntukan sebagai tempat perlindungan ekosistem hutan tropis yang kompleks.

Potensi Sumber Daya Alam

Sebagai kawasan cagar alam, Morowali memiliki berbagai potensi seperti tipe ekosistem yang lengkap dari tipe hutan pantai sampai tipe hutan pegunungan. Keindahan alam kawasan ini dapat dimanfaatkan untuk tujuan pendidikan, penelitian dan pariwisata.

Flora

Ekosistem dikawasan ini sebagian besar didominir oleh jenis-jenis:

  1. Hutan Mangrove, Jenis yang dominan seperti (Rhizophora bruguiera sp., Cedops sp., Pandanus sp.) dan lain-lain.
  2. Hutan Alluvial Dataran Rendah Didominir oleh Callophyllum sp, Alstonia sp., Garcinia sp., Palaqulum dan Santiria.
  3. Hutan Pegunungan, Jenis Castanopsis sp., Palaqulum sp. Pangium edule dan Lithocarpus sp. banyak mendominir tipe hutan ini juga terdapat Agathis sp., Diospyros sp. dan Parinari sp.
  4. Hutan Lumut, Tipe ekosistem ini terdapat pada ketinggian 1.600 m dari permukaan laut. Pohon-pohon yang tumbuh pendek dan terlihat kerdil atau kurang baik pertumbuhannya. Didominir oleh jenis Querqus sp, Litocarpus sp, Tristania sp. Pada tipe ini lumut banyak ditemukan bergantungan pada jalinan cabang-cabang pohon dan Nepenthes sp. (kantung semar) yang besar-besar banyak dijumpai dipuncak-puncak pegunungan. Cemara (Casuarina sumatrana) merupakan pohon yang menjulang didaerah yang lebih kering dan merupakan tegakan murni disepanjang tepi S. Morowali. Agatis merupakan tanaman dominan dibeberapa daerah sebelah timur laut S. Tiworo. Agatis ini banyak dimanfaatkan oleh masyarakat setempat dengan menyadap getah damarnya. Selain itu beberapa jenis Orchidaceae banyak tumbuh dalam kawasan ini.

Fauna

  1. Mamalia, Kebanyakan mamalia besar Sulawesi, termasuk Anoa pegunungan/dataran tinggi yang endemik (Bubalus quarlessi), Babirusa (Babyroussa babirusa), Kera (Macaca tonkeana), Kus-kus beruang (Phalanger ursinus), Babi hutan (Sus scrofa), Rusa (Cervus timorensis) dan Musang abu-abu (Viverra tangalunga), Tarsius sp. juga dapat dijumpai dikawasan ini.
  2. Burung, Morowali memiliki habitat yang kaya, sehingga mempunyai fauna burung yang paling representatif. Jenis-jenis elang laut paruh putih (Haliaetusleucogaster), Belibis (Dendrocygna so.), Kum-kum hijau (Ducula aenea) dan Kum-kum putih (Ducula sp.). Burung pelatulk endemik dan Coracias temminckii yang endemilk. Jenis Megapodius seperti Maleo (Macrocephalon maleo) dan burung Gosong (Megapodius frycinet) banyak dijumpai ditepi S. Morowali, lembah Masoyo dan lembah Sumara serta beberapa sungal kecil.
  3. Reptilia, Beberapa jenis Bengkarung, Ular Sanca (phyton reticulatus), Ular rumput (Natrixsp,) serta Ular hijau kepala segitiga. (Trimesurus wagleri). Biawak dan Kura-kura juga terdapat dalam kawasan ini.

Fenomena Alam

Keindahan alam Morowali dapat dinikmati terutama bagi petualang yang menyenangi kegiatan jalan jauh, mendaki gunung dan panorama hutan hujan di Morowali.

Budaya dan Obyek Wisata Pendukung lainnya

Budaya suku Wana yang mendiami kawasan ini dengan kebiasaan berburu dan berladang berpindah-pindah. Orang-orang Wana berburu babi hutan, rusa dan babirusa. Obyek wisata lain yang dapat dinikmati adalah obyek wisata teluk Tomori yang diusulkan sebagai taman wisata laut yang menarik antara lain batu payung yang jelas nampak seperti payung pada saat air laut surut Kemudian gua tapak tangan di desa Tapahulu dan Ganda – ganda yang bernilai sejarah peninggalan Sawerigading.

Selain itu terdapat pula air terjun Ganda-ganda yang tingginya mencapai 15 meter. Berenang dipantai atau bermain sky air dan memancing dapat pula dilakukan di kawasan Teluk Tomori ini.

Kegiatan yang ditawarkan

  1. Penelitian, Kegiatan penelitian dapat dilakukan dikawasan ini terutama bidang biologi, ekologi, geologi dan kehidupan sosial budaya suku Wana. Beberapa penelitian telah dilakukan antara lain, mengenai sistem perladangan berpindah suku Wana dan cara perburuan suku Wana.
  2. Pendidikan, Dapat dilakukan kegiatan pendidikan pengenalan tumbuh-tumbuhan, pembinaan cinta alam, pendidikan kader konservasi.
  3. Pendakian, Pendakian gunung dapat dilakukan di G. Tambusisi (± 2.422 m), G. Morowali (± 2.280 m), dibagian selatan dan gunung berpuncak kembar G. Tokala (2.630 m).
  4. Rekireasi dan Wisata Alam lain, Kegiatan lain yang dapat dilakukan berjalan kaki sambil menikmati pemandangan. Perkampungan suku Wana juga menarik perhatian sebagai obyek wisata, mereka bermukim didaerah lembah Sobuku dan didaerah Kayu Merangka.

Sarana Informasi dan Pelayanan

Informasi tentang keadaan kawasan ini dapat diperoleh dari Kantor SBKSDA Sulawesi Tengah atau di Kantor BKSDA VI, atau langsung pada Sub Seksi KSDA Kolonodale.

Pengunjung yang masuk kekawasan CA. Morowali dapat ditemani oleh pemandu wisata alam atau oleh satu kelompok LSM yang memberi penjelasan dan memandu dikawasan tersebut. Penginapan banyak terdapat di Kolonodale.

Bagaimana Menuju Cagar Alam Morowali

Menuju cagar alam Morowali dapat ditempuh melalui jalan darat atau dengan pesawat terbang (sampai ke Poso) yaltu :

  • Palu – Poso dapat ditempuh selama 6 jam dengan mobil/motor (± 210 km) dilanjutkan dengan mobil/motor ke Kolonodale (± 230 km) selama 7 jam dari Kolonodale- Baturube memakai angkutan air/speed boat ± 3 jam.
  • Palu – Poso dengan pesawat ± 20 menit Poso-Kolonodale dengan mobil/motor 7 jam selanjutnya dari Kolonodale – CA. Morowali (Baturube) memakai speed boat 3 jam.

Thony Irawanto

Assalamu'alaikum Wr, Wb. Terimakasih atas kunjungan Anda. Trimakasih pula atas kritik dan saran yang telah disampaikan, mohon maaf bila masukan dari Anda belum bisa saya wujudkan semua dalam situs ini. Wassalam, Wr, Wb.

You may also like...

Comments

  1. Afil Ali says:

    pencurian kayu kurang lebih 400 panggal yang berukuran diameter 25 panjang 10 m. dan pembabatan hutan mangrove (bakau)….dengan panjang 1200m. lebar 15 m. dalam areal cagar alam morowali kec. soyojaya desa tambayli yang dilakukan leh perusahaan penambang nikel untuk kepentingan jalur pelabuhan dan jembatan dalam operasi pemutan nikel, yang dilakukan semata-mata hanya untuk kepentingan perusahaan tambang dan tentunya pendapat izin atau pembiaran dari pemerintah daerah kab. Morowali sehingga muncul pertanyaan dari Masyrakat mengapa perusahaan tersebut diberikan izin untuk merusak hutan lindung (cagar alam) sedangkan sudah dimuat dalam UU RI NO.5 TAHUN 1990 TENTANG KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM HAYATI DAN EKOSISTEMNYA tentang peraturan UU cagar alam.. kami dari masyarakat soyojaya meminta kepada balai konservasi SDA (BKSDA) agar para pelaku atau oknum-oknum yang terlibat dalam masalah ini agar diproses sesuai dengan hukum yang berlaku supaya menjadi pembelajaran bagi geerasi kini hingga masa akan datang… untuk melihat vedeo atau bukti perusakan anda bisa membuka you tube cagar alam morowali….