Duyung (Dugong dugon)

Duyung (Dugong dugon) adalah salah satu jenis mamalia laut herbivora yang unik. Seperti halnya mamalia lain, duyung mempunyai suhu tubuh yang tetap, bernafas dengan paru-paru dan memberi makan anaknya induk betina dengan cara menyusui. Adapun nama Dugong berasal dari bahasa melayu yaitu Duyong.

Duyung termasuk dalam Ordo Sirenia, Famili Dugongidae dan genus Dugong. Dugong memiliki badan yang cukup besar menyerupai kapal selam dengan panjang badan Duyung dewasa sekitar 2,5 – 3 meter dengan berat 225-450 kg. Panjang bayi Duyung yang baru dilahirkan sekitar 1 – 1,3 meter dengan berat 20 – 35 kg. Duyung berwarna abu-abu kebiruan dengan kulit yang tebal sekitar satu inchi atau keras dan licin. Rambut pada badannya lebih pendek dan sedikit dibandingkan dengan rambut yang terdapat disekitar mulutnya.

Duyung memiliki ekor mirip sirip ekor ikan pasu, tidak memiliki paruh seperti ikan lumba-lumba, serta memiliki bentuk kepala yang unik. Bentuk paruh yang bundar dan posisi mulutnya membuat Dugong mudah untuk mancari makan dengan cara menyapu permukaan laut. Dugong memiliki mata dan kuping yang kecil yang juga berarti Dugong kurang memiliki pendengaran dan penglihatan yang tajam.

Duyung hidup dan berkembang biak di perairan laut yang dangkal dan tenang yang banyak ditumbuhi oleh lamun. Duyung banyak mengkonsumsi lamun ini, tanaman laut seperti rumput yang tumbuh di dasar berpasir di laut dangkal dan hangat. Duyung juga gemar berkelompok antara 5 – 10 ekor yang terdiri dari induk jantan, betina dan anaknya; atau bergerombol terutama diwaktu musim kawin. Tetapi ada kalanya Duyung suka menyendiri. Duyung memiliki sifat monogamy dan berkembang biak sangat lambat. Biasanya beranak setiap 2 tahun sekali dimana setiap kali beranak hanya 1 ekor dan jarang kembar dua.

Biasanya Duyung banyak dijumpai di daerah perairan laut sampai pada kedalaman sekitar 20 meter. Populasinya saat ini sudah mengalami penurunan. Jumlah populasi Duyung di Indonesia diperkirakan 10.000 ekor pada tahun 1970-an dan terus menurun secara drastis menjadi sekitar 1.000 ekor pada tahun 1994. Diperkirakan di beberapa negara Duyung ini sudah banyak tidak ditemukan lagi yang diakibatkan oleh perburuan yang berlebihan oleh manusia untuk memperoleh daging, 2 pasang taringnya dan bagian-bagian lainnya, disamping gangguan habitat seperti pencemaran laut maupun adanya pengembangan usaha di pesisir dan daearah litoral dimana sumber makanan duyung berada. Sementara perkembangbiakannya sangat lambat dengan jumlah kelahiran anak yang terbatas.

Populasi Duyung banyak ditemukan di Australia, Teluk Persia, beberapa bagian Laut Merah, bagian pantai utara dan selatan Afrika Timur, Sri Lanka, Indonesia dan Kepulauan Pasifik. Di Indonesia Duyung dapat ditemukan di perairan Sumatera (Kepulauan Riau, Bangka dan Belitung), perairan Jawa (Taman Nasional Ujung Kulon, Cilegon, Labuhan, Cilacap, Segara Anakan dan bagian timur Blambangan), perairan Kalimantan (Balikpapan, Kotawaringin, Pulau Karimata, Teluk Kumai, dan Pulau Derawan), perairan Sulawesi (bagian utara: Arakan Wawontulap, Pulau Bunaken; perairan bagian tengah; Pulau Togian; bagian tenggara: Taman Nasional Laut Wakatobi; bagian selatan: Taman Nasional Laut Takabonerate), perairan Bali (Bali bagian selatan, Uluwatu, dan pantai Padang-padang), perairan Nusa Tenggara Timur (Sikka, Semau, Sumba, Lembata dan Flores, Taman Wisata Alam Laut Teluk Kupang dan Taman Nasional Komodo), perairan Maluku (Pulau Aru, Pulau Lease, Haruku, Saparua, Nusa Laut, Pulau Seram dan Pulau Halmahera bagian selatan), perairan Irian Jaya (Biak, Padaido, Sorong, Fakfak, dan Taman Nasional Laut Teluk Cenderawasih).

Sumber: Ditjen Pesisir dan Pulau-pulau Kecil
http://www.dkp.go.id
 

Thony Irawanto

Assalamu'alaikum Wr, Wb. Terimakasih atas kunjungan Anda. Trimakasih pula atas kritik dan saran yang telah disampaikan, mohon maaf bila masukan dari Anda belum bisa saya wujudkan semua dalam situs ini. Wassalam, Wr, Wb.

You may also like...