Dadendate

Masyarakat pemakai dadendate ditemukan di Kecamatan Sindue. Kurang lebih 36 kilometer sebelah utara Kota Palu, tepatnya di Desa Taripa yang berjarak kurang lebih 6 kilometer arah timur Ibu Kota Kecamatan. Desa ini sekaligus merupakan sampel penelitian.

A. Keadaan Geografis

Desa Taripa tepat berada di lereng gunung. Penduduk setempat menamakan gunung-gunung yang mengitari pemukiman mereka sebagai berikut:

  • Sebelah utara Gunung Simanggole
  • Sebelah barat Gunung Simoaya
  • Sebelah timur Gunung Toposo
  • Sebelah selatan Gunung Toampana

Hampir seratus persen penduduk Desa Taripa mempunyai sumber penghidupan di bidang perkebunan coklat dan palawija. Hal ini didukung oleh iklim dan hawa pegunungan. Hanya 2% yang bekerja sebagai pegawai negeri. Luas wilayah Desa Taripa adalah 21 km persegi, dengan batas wilayah sebagai berikut :

  • Sebelah utara dengan Desa Saloya
  • Sebelah timur dengan gunung yang disebelahnya wilayah kecamatan Ampibabo
  • Sebelah selatan dengan kuala (sungai) Lero
  • Sebelah barat dengan Desa Sumari

B. Keadaan Demografis

Desa ini adalah desa yang paling sedikit jumlah penduduknya. Taripa berarti pohon mangga. Dari hasil penelitian, penduduk desa ini berasal dari Orang Kori pedalaman. Sampai saat ini daerah pemukiman Orang Kori masih dapat ditemukam. Yakni sebuah daerah apa yang mereka namakan Sitabo. Kurang lebih 5 kilometer naik ke daerah pegunungan sebelah Timur.

Sitabo sendiri berarti pohon yang bundar. Babasa yang digunakan orang Taripa adalah bahasa Kaili dengan memakai dialek Rai yang terkadang tercampur dengan bahasa Kori.

C. Kondisi Sosial Budaya

Masyarakat di desa ini mayoritas memeluk agama Islam sisanya memeluk agama Kristen. Dalam sektor pendidikan penduduk desa ini umumnya masih rendah.

Taraf pendidikan ini masih dapat dilihat lagi dari presentasi penduduk desa yang mengecap pendidikan. Menurut nara sumber, orang Taripa atau Kori termasuk Kaili pedalaman. Hal ini dapat dilihat dari bentuk fisik mereka yang berbeda dengan desa-desa Pesisir Kecamatan Sindue. Jarak antara Desa Taripa dan daerah pesisir pantai sekitar 8 km.

Beberapa kesenian yang ada, selain Dadendate dapat disebutkan seperti Kayori ( Musik Vokal berbentuk syair-syair) dan Dondi ( Upacara syukuran panen).

DADENDATE, NYANYIAN PEMBAWA BERITA

A. Pengertian Dadendate

Dadendate terdiri dari dua kata yakni dade dan ndate. Dade berarti lagu, sedankan Ndate dalam pengertian bahasa Kori seperti berikut ini : Misalkan seseorang berada di kaki bukit atau gunung. Ketika ditanyakan hendak kemana, maka bila dijawab Ndate berarti di atas bukit sana atau ia akan melakukan perjalanan dengan menaiki atau mendaki bukit itu sampai tujuan. Jadi Dadendate artinya lagu yang mengisahkan suatu dari bawah ke atas. Apa yang diuraikan dalam syair lagu Dadendate sifatnya menanjak dan menuju ke puncak. Bila dia menceritakan sesuatu, selalu dari awal sampai akhir cerita tersebut.

Jadi Dadendate menurut nara sumber adalah sebuah kesenian yang paling komunikatif di komunitas To Sindue atau daerah sekitar desa Taripa atau daerah disekitar desa Taripa. Dadendate bisa menceritakan apa saja, mulai dari sejarah, romantisme muda-mudi, silsilah, perjuangan, dan lain-lain. Contohnya paling sederhana adalah proses seseorang dalam mencapai pendidikan mulai dari Taman Kanak-kanak sampai perguruan tinggi bahkan acara wisuda.

Banyak para pemerhati seni, budayawan, pengamat seni memberikan pengertian mengenai Dadendate ini. Tergantung dari perspektif mana orang memandang. Sebagian menyebut dadendate sebagai embrio teater daerah ini. Ada yang berpendapat bahwa Dadendate adalah sebuah seni sastra tutur, karena syairnya yang dilagukan secara spontan, puitis, tanpa teks maupun naskah. Karena mengandalkan improvisasi syair yang dilakukan senimannya.

Penulis sendiri memandang Dadendate sebagai nyanyian pembawa berita atau nyanyian berceritera. Dan pada literatur sejarah musik seperti nyanyian Troubadour di Perancis beberapa abad yang lalu.

B. Sejarah Dadendate

Dadendate, berawal dari Kimba a yang masih berupa doa-doa / syair-syair ritual orang tua dulu, berbentuk uraian dan masih bersifat individual. Dalam kurun yang cukup jauh berubah lagi menjadi dulua. Dibanding Kimba a, dulua sudah berbentuk lagu / nyanyian semisal Nopalongga (nyanyian menidurkan anak yang dilagukan ibunya dimana terkandung doa dan keselamatan yang ditujukan kepada wajah sang anak yang sedang berlayar mencari ikan). Kimba a dan Dulua belum menggunakan alat kecapi, masih berbentuk musik vokal semata. Dari dalua, bentuk kesenian ini berubah lagi menjadi bola-bola.

Perubahan yang menonjol adalah syair yang dibawakan tidak lagi berupa syair ritual, tetapi sudah menjadi syair yang profan. Semisal syair muda-mudi dalam acara memetik padi dan telah menggunakan kecapi. Tepatnya ketika orang mengambil waktu untuk istirahat. Kecapi digunakan sebagai pengantar dan perantara syair-syair yang digunakan (biasanya antara dua kelompok muda-mudi yang menggunakan sebagai lagu sebagai sarana komunikasi). Bola-bola dimulai oleh solo vokal dan didiikuti lainya. Ketiga bentuk kesenian ini masih bahasa Kori, induk dari bahasa Kaili Rai dan Bare’e.

Rampamole (pengenduran senor/tuning) adalah bentuk selanjutnya dari kesenian ini. Mulai dari Rampamole dan seterusnya sudah menggunakan bahasa Rai. Pada fase ini telah menggunakan kecapi bersamaan dengan nyanyian yang hampir mendekati Dadendate. Rampamole sendiri berarti dikendurkan, berarti diperkecil suaranya. Tidak terlalu lama dalam fase ini berubah lagi menjadi ciri-ciri yang ciri utamanya menjadi lebih panjang.

Pada fase ini, kesenian ini menyebar ke wilayah-wilayah lain sampai ke Toli-Toli. Ei-ei pada zamannya amat disukai oleh para muda-mudi.

Kurang lebih sekitar tahun 1952-1953 berubah menjadi Dadendate. Inilah bentuk terakhir dari kesenian ini. Menjadi sangat populer dan ciri khas kesenian dari daerah Sindue sekaligus kebanggaan mereka.

Orang Kori merasa kesenian ini adalah asli dari mereka. Tidak ada pengaruh Bugis, meskipun instrumen kecapinya mirip (bahkan dengan kecapi di Sulawesi Utara) dan lokasi sampel penelitian termasuk daerah pesisir. Kesenian ini menurut mereka tidak ditemukan di daerah lain.

Argumen yang mereka kemukakan adalah kata ndate buat To-Biromaru, To-Palu dan To-Tawaeli misalmya, berarti panjang. Sedangkan bagi To-Sindue bentuk menjadi panjang digunakan istilah nalonggo.

Namun hal ini menurut hemat penulis perlu di kaji lebih jauh karena menurut informan bentuk kecapi yang mirip perahu berkaitan dengan legenda Sawerigading. Selain dari itu perlu penelitian yang lebih mendalam apakah Dadendate benar-benar merupakan proses evolusi dari nyanyian ritual seperti Dulua dan Kimba a.

C. Pelaksanaan Dadendate

Dadendate dulunya adalah musik vokal individu yang kemudian berkembang ditambah dengan kecapi dan mbasi-mbasi, yang terkadang memainkan satu melodi yang sama.

Dadendate dapat dimainkan kapan saja dan dimana saja. Tidak ada batasan waktu yang pasti. Bisa sampai berhari-hari. Demikian juga dengan jumlah pemain tidak ada batasan pasti. Namun kecenderungan saat ini adalah, terdiri dari 3 orang pemain kecapi, 2 pria dan 1 wanita serta mbasi – mbasi. Pemain kecapi merangkap sebagi vokalis.

Dadendate bisa bercerita tentang apa saja, sesuai situasi atau pesanan dari orang. Syair-syair yang terlontar sangat spontan dan bisa berdasarkan apa yang nampak pada saat terselenggaranya Dadendate. Misalnya ketika permainan berlangsung ada suguhan teh, maka bisa saja momen penyuguhan teh itu terlontar dalam nyanyian tersebut.

Dadendate dimulai dengan penyeteman sederhana antara mbasi-mbasi dan senar kecapi. Kemudian Kecapi dan mbasi-mbasi memainkan satu tema sebagai pengantar atau intro dan kemudian disusul oleh vokal. Setiap permainan dadendate dimulai dan diakhiri dengan salam.

Dadendate terbagi dalam 12 (dua belas) jenis lagu:

  1. Andi Anona
  2. Dadendate
  3. Andi – andi
  4. Inalele
  5. Tabe la laindo
  6. 1 Gani
  7. Malaeka (dimainkan pada waktu subuh)
  8. Padang Masyhar
  9. Janda Muda
  10. Gunung Ladisayo
  11. Lanja ea Nona
  12. Rugi Temba mo aku e

Dalam sebuah permainan dadendate tidak harus kedua belas jenis lagu tersebut dimainkan dan urutan dimainkan lagu-lagu tersebut pun tidak mengikat.

Sebelum memulai permainanya, biasanya pemain dadendate akan menanyakan beberapa hal kepada yang punya hajat tentang tema yang mereka bawakan. Kalau dari pihak sang pengundang mengadakan syukuran atas kesuksesan salah seorang keluarganya menyelesaikan sekolahnya sampai sarjana, maka syair yang akan terlontar nantinya berkisar mengenai kisah pendidikan orang yang dimaksud. Mulai dari SD, SMP, SMA, merantau untuk kuliah, pun sampai wisuda.

D. Bentuk Fisik Kecapi Dadendate

Kecapi dadendate terbuat dari kayu lengo / Balaroa. Sedang senarnya dulunya menggunakan tali enau. Dan sekarang banyak yang berasal dari kawat kecil yang terbuat dari baja dan tali labrang rem sepeda.

Seperti yang telah diuraikan di depan bahwa bentuk kecapi pada permainan Dadendate menyerupai sebuah perahu. 0leh nara sumber hal ini berbubungan dengan legenda Sawerigading.

Sebuah kecapi terbagi atas bagian-bagian yang penamaannya diserupakan atau disamakan denga organ tubuh manusia. Seperti berikut ini:

  • Lelona : Bagian ekor dari kecapi
  • Pusena : Pusat / Penampang senar (Bridge)
  • Taina : Perut / Badan bagian belakang Kecapi / Resonansi belakang
  • Bombarana : Dada / Badan bagian depan Kecapi / Resonansi depan
  • Koyampalona : Papan jari terdiri dari lima bidang bundar sama besar (Fingerboard)
  • Ongena : Hidung / Penampang senar bagian depan (Nut)
  • Potoro : Telinga / Penyetem senar / Tunning head. Terdiri atas 2 potoro kiri dan kanan
  • Irana, : Daun / Kepala Kecapi / Head
  • Tutugo : Leher / Bagian penghubung antara badab dan kepala kecapi
  • Bengona : Bagian belakang Kecapi
  • Bolona : Lobang pada bagian belakang Kecapi. Terdiri 3 bagian dengan
    diameter yang berbeda
  • Lelona berukuran panjang 8 c, tinggi 10 cm, dan Lebar 1 cm
  • Pusena berukuran tinggi 5,5 cm, diameter 3,5 cm
  • Taina Panjang 20 cm, lebar 14 cm, dan tebal 9 cm
  • Bombarana Panjang 39 cm, lebar 11 cm, dan tebal 7 cm
  • Koyampalona Diameter 2 cm, Tinggi 5 cm, Panjang 17 cm
  • Ongena Panjang 3 cm, tinggi 0.5 cm, lebar 2 cm .
  • Potoro berukuran panjang 3 cm
  • Irana panjang 25 cm, tinggi 7cm, lebar 0.5 cm
  • Bengona berukuran panjang 58 cm lebar 20 cm
  • Bolona 1 berdiameter 2 cm, bolona 2 berdiameter 3,5 cm, dan bolona 3 berdiameter 5 cm.

Papan jari pada kecapi yang terdiri dari 5 bagian mempunyai kandungan pengertian akan 5 unsur dalam kehidupan, Masing-masing :

  1. Sirih menggambarkan urat yang mengelilingi tabuh manusia
  2. Pinang menggambarkan jantung
  3. Tembakau menggambarkan empedu
  4. Kapur menggambarkan tulang
  5. Gambir menggambarkan paru-paru

Penggambaran ini apabila digabungkan akan menjadi warna merah yang menggambarkan darah yang ada dan dibutuhkan oleh tabuh manusia. Ini merupakan ketentuan adat yang dalam bahasa lokal disebut Sambulugana.

Kecapi terdiri dari dua senar berukuran panjang 39 cm dengan diameter 0,5 cm.

Dua senar kecapi menggambarkan orang tua (senar bawah) menyayangi yang muda (senar atas). 2 senar itu juga menggambarkan keselarasan dan keseimbangan alam. Seperti juga atas-bawah, bumi – langit, perempuan-Iaki-laki, dan seterusnya.

E. Tehnik Bermain Kecapi

Pada bagian ini, untuk menguraikan tehnik bermain pada permainan kecapi dibagi atas tangan kanan dan kiri. Tehnik tangan kiri menggunakan teknik slur yang terbagi atas hammer on (menekan, memukul senar) dan pull off (menarik senar).

Tangan kanan menggunakan tehnik petik (picking) yang menggunakan batang kecil yang terbuat dari kayu yang berukuran seperti batang korek api. Kayu tersebut dijepit oleh ibu jadri telunjuk dan jari tengah.

Kecapi dimainkan dalam posisi duduk di kursi dan diletakkan pada pangkal paha. Bagian belakang kecapi diusahakan sedemikian rupa sejajar dengan bagian perut pemain. Hal ini berfungsi mengatur keras lembutnya suara kecapi. Apabila ingin menghasilkan suara yang keras, maka lubang bagian belakang kecapi dijauhkm dari perut. Sedangkan bila ingin menghasilkan suara yang lembul maka dua lubang kecapi dirapatkan ke perut.

F. Musik Dadendate

Dua senar kecapi pada permainan dadendate, masing-masing terdiri dari nada c’ untuk senar atas dan g untuk senar bawah. Penyeteman ini akan berubah apabila yang dimainkan adalah Rampamole dan ei – ei , dimana untak senar bawah menjadi c’ dan senar atas menjadi nada g. Atau mudahnya kebalikan dari Dadendate.

Melodi yang dihasilkan oleh baik kecapi, vokal dan mbasi-mbasi walaupun mempunyai garis melodi yang mirip, namun tidak persis sama. Fungsi kecapi selain sebagai pengiring juga akan mengikuti garis melodi bila mbasi-mbasi dan kemudian diikuti vokal.

Pada bagian ini diupayakan untuk melakukan penotasian dengan menggunakan not balok secara bersama-sama (full score). Namun untuk kecapi tidak dirinci menjadi kecapi 1, kecapi 2 dan kecapi 3 sesuai dengan jumlah kecapi yang dimainkan. Namun cukup satu kecapi saja dengan alasan untuk mempermudah penotasian dan diantara ketiga kecapi itu tidak terlalu mencolok perbedaanya.

Penotasian dilakukan pada awal permainan dan satu lagu yang utuh. Yakni pada saat penulis meminta mereka untuk bermain secara khusus untuk kepentingan penotasian. Dan pemain dadendate mengira bahwa pengulangan perekaman karena, sebelumnya mereka bermain kasar. Hal ini nampak pada syair yang mereka bawakan.

Yang dimaksud satu lagu yang utuh adalah sebuah pengulangan 1 bagian yang terdiri dari intro, kalimat melodi 1 (pembuka) vokal , interlude, kalimat melodi 2 (isi) vokal, interlude, kalimat melodi 3 (penutup) masing-masing untuk vokal pria dan wanita.

Sangat mungkin terjadi perubahan dan varian-varian pada pengulangan-pengulangan lainnya. Hal ini terutama nampak pada vokal yang sering kali menyesuaikan melodi dan syair. Baik silabis ataupun melismatis. Artinya penyanyi bebas untuk menambah atau mengurangi gerak melodi dengan syair yang spontanitas. Yang justru merupakan kekuatan musik Dadendate.

Musik dadendate dimulai dengan petikan kecapi sebagai pengantar (tidak dinotasikan). Untuk kemudian disusul dengan mbasi-mbasi yang akan bersama-sama membuat intro atau pengantar. Mbasi-mbasi akan memainkan melodi yang menyerupai vokal mulai pada birama 1 sampai birama 61.

Melodi mbasi-mbasi dimainkan dengan tehnik pogantainosa (tehnik untuk membuat melodi yang dihasilkan tidak terasa terputus atau berhenti untuk mengambil napas).

Melodi vokal untuk pria dan wanita berbeda. Perbedam sangat menonjol terdapat pada potongan melodi pembuka birama 61 – 74. Vokal pria mendahului vokal wanita. Kalimat melodi 1 vokal pria mulai dari birama 61 – 80.

Kalimat melodi 1 berisi syair-syair pembuka tentang isi syair yang akan disampaikan nantinya. Pada birama 81 vokal pria berhenti selama beberapa saat yang diisi oleh kecapi dan mbasi-mbasi. Pada saat ini vokalis agaknya diberi kesempatan untuk beristirahat dan menyusun syair-syair yang akan dinyanyikannya. Dalam penotasian dituliskan birama yang dibutuhkan untuk istirahat. Namun sesungguhnya berubah-ubah untak setiap pengulangan. Vokalislah yang menentukan kapan dia akan mulai.

Vokal akan memulai kalimat isi (kalimat kedua) pada birama 85 ketukan 2 – 109. Birama 90 ketukan 2 – 109 berisi melodi pendek yang diulang-ulang beberapa kali dan berisi inti syair yang dikemukakan. Syair pada potongan melodi ini bersajak a – a – a – a.

Kalimat penutup (kalimat ketiga) dimulai pada birama 110 – 117.

Setelah penyanyi pria menyelesaikan lagunya maka akan disusul penyanyi wanita yang diantarai oleh permainan mbasi-mbasi dan kecapi 118 – 120. Kalimat melodi pembuka dimulai dari birama 122 – 141. Pada birama 142 – 145 ada interlude yang diisi oleh mbasi-mbasi dan kecapi untuk memberikan kesempatan penyanyi istirahat dan menyusun syair-syair berikutnya.

Kalimat kedua (Kalimat isi) dimulai pada birama 146 – 160. Potongan melodi pada birama 150 – 153 diuIang-ulang beberapa kali dan berisi inti syair yang ingin dikemukakan. Jumlah pengulangan berubah-ubah untuk setiap pengulangan lagu. Namun dalam penotasian tanda ulang ditulis hanya satu kali untuk mempermudah penotasian syair pada potongan melodi ini bersajak a – a – a – a.

Kalimat ke tiga (Penutup) dimulai pada birama 161- 167.

G. Prospek Dadendate Mendatang

Dadendate sebagai nyanyian bercerita, pembawa kabar, bertutur, atau apapun julukan buat dia, sangat layak untuk mendapat perhatian dalam perkembangan selaanjutnya. Berbagai upaya untuk pengembangan kesenian tradisi sebenarnya lebih diupayakan untuk terjadinya seleksi alami.

Kesenian tradisi yang memang mati secara alami tergilas oleh perputaran zaman tidak perlu ditangisi. Yang dapat kita lakukan adalah mencegah kepunahan kesenian-kesenian tradisi yang mati tidak secara alamiah. Artinya punah sebelum waktunya. Penotasian yang dilakukan ini adalah salah satu cara mengatasi kepunahan yang tidak alami.

Dengan penotasian seperti ini akan terbuka kemungkinan untuk analisa modus, melodi, harmoni, beberapa elemen musik yang ada dalam dadendate, syair atau apa saja yang terdapat dalam dadendate. Analisa seperti ini penting untuk dapat merumuskan apa yang dapat kita lakukan untuk pemanfaatan idiom-idiom musik dadendate.

Kalau lanngkah yang kita ambil adalah memanfaatkan idiom tradisi menjadi sebuah garapan pertunjukan, maka keseringan kita untuk membuat karya-karya tanpa proses analisis terlebih dahulu dapat tedihindari.

Untak seniman tradisi dan kesenian dadendate itu sendiri, menurut pengamatan penulis tidaklah nieng-khawatirkan. Dari pergaulan dengan seniman tradisi itu sendiri selama penelitian berlangsung nampak bahwa mereka sebagai seniman sadar akan hak dan tanggungjawab mereka sebagai seniman.

Frekwensi pertunjukan mereka untuk mengisi acara-acara hajatan sedikit banyak mampu untuk menjaga mereka tetap berkesenian. Proses regenerasi yang mereka lakukan dengan menurunkan kemampuan tersebut kepada anak-anak juga berlangsung.

Hanya saja masalah syair memang menjadi kendala. Para maestro Dadendate umumnya, tidak mempunyai kemampuan bahasa Indonesia yang baik. Sehingga kekuatan syair pada musik ini akan mempunyai hambatan pada masalah komunikasi apabila dipresentasikan pada komunitas non Kaili yang berdialek Rai. Lain dengan apa yang terjadi pada kesenian Madihin pada suku Banjar di Kalimantan Selatan. Pemain-pemainnya mempunyai kemampuan bahasa Indonesia yang baik sehingga masalah diatas tidak terjadi.

Dalam sebuah diskusi seorang pengamat membayangkan apabila para pelaku Dadendate ini mempunyai kebiasaan membaca koran atau apa saja sehingga syair-syair yang mereka bawakan benar-benar masalah aktual yang terjadi pada masa dewasa ini. Hal ini dapat diatasi dengan seringnya megajak mereka berdialog tentang kondisi-kondisi terkini yang terjadi pada masyarakat Sesuai tradisi lisan yang mereka punyai.

Sumber: Perpustakaan Taman Budaya Sulawesi Tengah
Jl. Abd. Raqie Glr. Dato Karama No1 Palu. Telp. (0451) 423092

 

Copyright © 2014 TelukPalu.Com All rights reserved. Powered by Wordpress