Menonto / Pemasangan Pakaian

Maksud dan Tujuan Upacara, Pernyataan dari upacara ini samadengan pernyataan pada upacara molead (penggosokan gigi)hanya pada upacara ini pemasangan baju tradisional sebagai bertanda bahwa yang diupacarakan sudah masuk ke tingkat dewasa.

Tempat Upacara, Pelaksanaan upacara ini sama pula dengan tempat mengadakan upacara molead di mana rumah bahkan tempat upacara tidak dihiasi sebagai simbol, tetapi cukup biasa-biasa saja tanpa hiasan perlambang upacara.

Waktu Penyelenggaraan Upacara, Waktu pelaksanaan upacara moleada dan juga dilaksanakan pada siang hari. Waktu ini tidak boleh ditunda-tunda lagi, misalnya beberapa hari sesudah waktu moleada, tetapi upacara ini merupakan rangkaian upacara moleada sebab persiapan-persiapan dan perlengkapan upacara ini sudah disiapkan bersama-sama persiapan perlengkapan upacara moleada. Jadi, waktu yang dipilih tersebut adalah waktu benar-benar sama baiknya dengan waktu upacara moleada, pengertiannya dua hari berentetan itu dianggap cukup baik untuk melaksanakan kedua upacara tersebut.

Penyelenggara Teknis Upacara yang disepakati oleh keluarga dan oleh kebiasaan adat kampung dibenarkan untuk melaksanakan upacara-upacara tertentu. Dalam upacara ini sebagai penyelenggara teknis ditentukan oleh seluruh keluarga yang mana di antara sekian orang tertentu itu akan disenangi dalam melaksanakan upacara. Jadi, dipilih dari sekian banyak orang yang dapat melaksanakan upacara itu atas mufakat keluarga.

Pihak-pihak yang Terlibat dalam Upacara, Selain penyelenggara puncak teknis upacara ada lagi orang-orang sebagai pembantu dalam melaksanakan tugas-tugas lain yang tidak kalah pentingnya dan juga sebagai saksi-saksi dalam upacara. Orang-orang tersebut bertugas sebelum upacara puncak pada siang hari, yaitu pada malam hari meranum pacar pada tangan dan kaki yang diupacarakan, tetapi penyelenggara teknis upacara satu orang saja dan pembantunya satu orang pula.

Persiapan dan Perlengkapan Upacara, Dalam upacara ini dipersiapkan perlengkapan upacara, baik untuk upacara puncak maupun perlengkapan penunjang upacara tersebut. Persiapan-persiapan upacara adalah pakaian adat selengkapnya, yaitu pakaian adat Dampelas. Pakaian ini terdiri atas baju blus yang berwarna-warni dengan dasar boleh merah, kuning, krem. Pakaian dibuat dari kulit kayu beringin (donu = bahasa Dampelas), tetapi karena perkembangan teknologi maka baju dipergunakan dari bahan kain diperjual-belikan dan bahan yang agak berkualitet baik, tetapi warnanya tetap menurut ketentuan yang ditetapkan oleh adat. Pakaian (baju) ini sekarang dihiasi pula dengan benang emas atau emas imitasi pada bagian lengan, leher, dan dadanya ke bawah (dengan perut) dan kancingnya dari peniti-peniti emas pula, sedangkan sebelumnya hanya pakaian donu itu saja dan diikat pada bagian pinggang dengan tali hutan (luit tongkodo = bahasa Dampelas). Sarungnya adalah sarung sutra (bomba = bahasa Dampelas) yang berkualitet baik walaupun hanya dipinjamkan, tetapi sebelumnya juga hanya kain sarung dari kulit kayu beringin yang dibuat sedemikian rupa sebagai selembar kain. Kemudian penusuk sanggul (tonto = baliasa Dampelas) yang dibuat dari kayu cempaka dan diberi jumbai-jumbai dari untaian daun pohon yang dililit dengan warna-warni kain sehingga tampak indah.

Jumbainya diikatkan bentukan-bentukan kecil dari perak misalnya bentuk segitigga, segiempat, bulat, trapesium dengan perbandingan jumlah sembarangan dan yang terpenting bahwa setiap susun jumbai berjumlah delapan sebanyak dua susun dan susun ketiga berjumlah tiga jumbai.

Dengan adanya jumbai, maka tampaknya tonto tersebut makin indah dan sedap dipandang mata kepada orang yang menyaksikan upacara tersebut. Sedangkan perlengkapan pacar adalah dari daun sirih (olontibi landoro = bahasa Dampelas), daun patu hutan (tonipito = bahasa Dampelas) kulit batang kayu pohon waru (lambagu = bahasa Danipelas), mayang pinang dipergunakan untuk mandi dan air secukupnya untuk mandi yang diupacarakan, dan kain pengikat kepala yang berwarna hitam.

Jalannya Upacara Menurut Tahapannya

Setelah selesai upacara penggosokan gigi pada siang hari, maka yang diupacarakan sudah dapat bekerja bersama temannya, tetapi setelah malam hari yang diupacarakan tidak boleh lagi keluar kamar atau kena cahaya sinar lampu mulai jam 18.00 petang. Selama waktu upacara pacar (moolontibi = bahasa Dampelas) belum tiba, maka yang diupacarakan belum dapat keluar kamar. Biasanya waktu upacara pacar dilaksanakan jam 20.00 malam paling lambat. Kalau waktu dan perlengkapan upacara serta pelaksana upacara sudah siap, maka dimulailah dilaksanakan upacara pacar yang disaksikan oleh seluruh keluarga.

Selama dalam kamar yang diupacarakan dengan ditemani beberapa orang teman sang gadis, telah berpakaian yang baik yaitu pakai kebaya atau blus saja. tetapi harus memaka sarung dan bukan pakaian adat sambil tidur-tiduran menunggu waktu upacara dilaksanakan. Bila seluruh persiapan sudah lengkap, maka mulai dilaksanakan upacara dengan mulai memanggil yang diupacarakan dalam kamar dan keluar untuk diupacarakan. Yang mengupacarai duduk di atas sebuah tikar dengan duduk bersila dengan perlengkapan alat pacarnya dan yang diupacarakan duduk pula bersimpuh di hadapannya dengan menjulurkan tangan di atas pahanya. Bagian-bagian tangan dan kaki yang diberi pacar adalah kuku dan tapak tangan, sedangkan pada bagian kaki hanya kuku dan samping tapak. Motif dari bagian tapak tangan dan samping tapak kaki yang diberi pacar tadi adalah sembarang saja, tetapi terlihat indah dipandang dan tidak menggambarkan magis kulturaInya daerah yang bersangkutan untuk membedakan dengan daerah lainnya.

Yang dilaksanakan pertama-tama ialah tangan bagian kanan yang dimulai dari kuku ibu jari dan seterusnya dengan pelaksanaannya setiap kuku sebagai berikut: yaitu tangan ditelungkupkan dan ibu jari dipegang dan diberi pacar seluruh bagian kuku oleh yang mengupacarakan lalu dibungkus dengan daun palam yang masih muda dan diikatkan dengan tali dari kulit batang kayu pohon waru. Begitulah seterusnya sampai kelingking Ialu tangan kiri dimulai pula dari ibu jari dan sampai seterusnya. Sesudah itu baru pemberian motif pada tapak tangan semau yang diupacarakan dan dimulai dari sekehendaknya pula. Yang penting tidak membuat motif di luar kebiasaan adat yang berlaku dan pula pelaksanaannya dimulai dari bagian tangan kanan pula dan seterusnya. Setelah selesai pada bagian tangan Ialu pada bagian kaki di mana kaki dijulurkan ke muka yang mengupacarakan dan mulai dipasang diberi pacar seluruh bagian kuku seperti dilaksanakan pada bagian tangan yang juga dimulai pada bagian kanan. Setelah selesai bagian kuku kaki Ialu samping tapaknya dengan motif yang indah. Pada bagian tapak tangan dan samping tapak kaki ini di mana pacar itu hanya dilekatkan sedemikian rupa sampai benar-benar melekat dan benar-benar yang diupacarakan berhati-hati sekali gerakannya (menggerakan tangan dan kaki). Bila telah selesai, maka yang diupacarakan Ialu disuruh masuk kamar tidur untuk beristirahat/tidur dan dapat ditemani oleh beberapa temannya. Pacar ini nanti atau hanya dapat dikeluarkan oleh yang mengupacarakan tadi malam kecuali bila yang mengupacarakan sakit atau berhalangan datang, maka dapat dikeluarkan oleh orang tua yang diupacarakan pada pagi harinya. Kebiasaan berlaku bahwa sisa pacar yang dipakai oleh yang diupacarakan diperebutkan teman-temannya dan dipergunakan juga seperti yang diupacarakan, hanya saja pelaksanannya dilakukan sendiri. Hal ini dibenarkan dalam adat istiadat dengan pengertian bahwa mereka cepat-cepat dilaksanakan upacaranya sebagai pertanda bahwa mereka telah dewasa pula.

Selesai upacara pacar ini, maka upacara dianggap selesai dan disuguhkan minuman alakadarnya serta sang dukun (yang mengupacarakan) boleh pulang ke rumahnya atau dapat juga tidur di rumah yang diupacarakan sebab upacara belum selesai yang mama akan diadakan lagi pada pagi harinya, dan pada malam harinya tidak upacara.

Setelah malam telah lewat dan pagi telah tiba serta waktu upacara telah datang begitu pula persiapan dan perlengkapannya sudah siap, maka upacara dilanjutkan. Yang pertama dukun bersama orang tua yang diupacarakan memasuki kamar tidur untuk melepaskan seluruh atribut (alat) upacara pacar malam tadi karena yang diupacarakan tidak boleh melepaskan sendiri kecuali bila terlepas sendiri pada waktu tidur. Bila dilepaskan dengan sengaja akan mengakibatkan yang diupacarakan tidak mendapatkan jodoh yang serasi bahkan bila perlu tidak mendapatkan jodoh sama sekali. Jadi, yang diupacarakan berhati-liati sekali dengan segala atribut perlengkapan pacarnya sewaktu tidur dan segala gerak-geriknya diatur dengan baik sehingga sebagaimana letak semula pada waktu dilepaskan oleh dukun bersama orang tuanya. Sebelum dilepaskan oleh dukun pada pagi hari, maka yang diupacarakan tidak boleh keluar kamar tidur.

Bila telah selesai pelepasan pacar dan memperlihatkan bekas-bekas yang indah serta warna merah tua dianggap upacara pacara berlangsung baik, dengan pengertian bahwa gadis ini benar-benar dalam kebidupannya dapat mempertahankan sifat pribadi keibuannya.

Kemudian bersama-sama (yang diupacarakan, dukun, dan kedua orang tuanya) keluar kamar lalu ke tempat yang telah dipersiapkan untuk dimandikan. Jadi, tempat mandi ini dalam rumah, boleh di dapur dan boleh pula dalam rumah, yang penting tidak mengganggu ketertiban. Air yang dipergunakan untuk mandi adalah air yang diambil dari sungai (air yang mengalir) dan alat timbanya adalah tempurung (bagian atas dari tempurung biji kelapa) dengan pengertian bahwa benar-benar yang diupacarakan dapat mempergunakan matanya dalam menempuh hidupnya, artinya bukan saja matanya tetapi pikiran dan akalnya.

Ketentuan mandi yang diupacarakan ialah dengan memakai sarung yang dibungkus pada badan dengan duduk menjongkok dan menghadap ke arah Timur di mana matahari terbit dengan anggapan bahwa mudah-mudahan kehidupan anak terang dan secerah matahari terbit yang semuanya disenangi oleh umat manusia dan sikap yang mengupacarakan berdiri di belakang yang diupacarakan.

Sebelum diadakan penyiraman, maka terlebih dahulu yang mengupacarakan mengambil mayang pinang yang telah dipersiapkan serta masih dalam keadaan utuh bersatu, tetapi seludangnya sudah dibukakan. Kemudian mayang pinang tadi ditepuk di atas kepala yang diupacarakan sebanyak 3 (tiga) kali sehingga mayang tadi berkembang dan terjurai di atas kepala yang diupacarakan dengan anggapan bahwa yang diupacarakan sekarang laksana bunga sedang berkembang menunggu serangga yang datang mengisap madunya. Setelah itu baru disirami oleh yang mengupacarakan sebanyak tiga kali melalui (di atas) mayang pinang yang sementara berada di atas kepala yang diupacarakan dengan mempergunakan tempurung yang telah disebutkan di atas. Tiga kali adalah anggapan perhitungan kekuatan sehingga dalam pelaksanaan selalu dengan perhitungan tiga. Pelaksanaan mandi selanjutnya dilaksanakan oleh yang diupacarakan sampai menurutnya sudah bersih. Selesai, mandi, yang diupacarakan masuk ke dalam kamar semula untuk mengganti (berpakaian adat Dampelas). Keadaant rambut dibentuk satu merupakan angka delapan pada bagian belakang kepala dan diikatkan dengan kain hitam. Pengikatan kain hitam itu pada kepala dengan ukuran kira-kira 5 cm. Pada bagian belakang kepala tadi ditancapkan tonto yang berjubai sehingga setelah selesai pemasangan pakaian adat Dampelas, maka yang diupacarakan maka semakin cantik dan manis. Pemasangan pakaian adat dan perlengkapannya dilaksanakan oleh yang mengupacarakan dengan disaksikan oleh orang tuanya di dalam kamar.

Selesai pemasangan pakaian adat, maka oleh yang mengupacara kan diantar serta diiring oleh orang tuanya ke luar kamar ke muka pintu rumah. Di muka pintu diadakan upacara terakhir, di mana pada pintu telah digantungkan pucuk daun kelapa yang muda dengan keadaan daunnya masih bersatu dan terjurai ke bawah. Daun kelapa inilah yang dipegang oleh yang diupacarakan dengan tangan kanan dalam keadaan berdiri dan dukun memegang bahu kirinya. Dalam keadaan begini, dukun membacakan manteranya (gane = bahasa Dampelas). Pelaksanaan ini disaksikan oleh orang dalam rumah ataupun di halaman, dan sering kali pada ulangan kedua kalinya mantera tersebut sudah diiring bersama oleh seluruh hadirin, sehingga menambah ramai suasana tersebut. Sesudah itu maka yang diupacarakan di antar ke tempat duduk yang telah dipersiapkan (sama-sama duduk di lantai) untuk disaksikan oleh para undangan, kemudian yang diupacarakan dituntun ke dapur untuk memegang seluruh perlengkapan dapur (liu sao) dengan pengertian bahwa yang diupacarakan sudah dapat atau diharuskan menolong orang-orang bila bekerja di dapur, terutama di rumahnya sendiri dengan anggapan dia sudah dewasa.

Sesudah itu, dia (yang diupacarakan) Ialu masuk lagi ke dalam kamar untuk mengganti pakaian adat tadi dengan pakaian biasa dan bekerja sama dengan teman-teman dalam upacara tersebut.

Bila yang diupacarakan telah selesai mengganti pakaiannya, maka dilaksanakan makan bersama sebagai ucapan syukur kepada Tuhan bahwa upacara menonto telah selesai. Kemudian seluruh perlengkapan upacara, misalnya mayang pinang dan pucuk kelapa digantungkan di muka pintu sampai kapan saja sebagai pertanda bahwa dalam rumah itu ada gadis yang sudah dewasa. Demikianlah jalannya upacara molead dan menonto, yang merupakan rangkaian yang tidak terpisahkan menurut tahapannya.

Pantangan yang Harus Dihindari

Jelasnya tujuan penyelenggara upacara tradisional yaitu untuk mencari keselamatan dan menghindarkan segala malapetaka. Upacara ini mempunyai pantangan-pantangan yang sifatnya magis sakral. Pantangan tersebut hanya berlaku pada puncak upacara bahwa selama upacara berlangsung yang diupacarakan tidak dapat meninggalkan rumah demi keselamatan dan berjalannya upacara dengan baik.

Selama pacar dipasang, tidak boleh dikeluarkan sendiri oleh yang diupacarakan sebab anggapannya dapat memutuskan nasib jodoh yang diupacarakan sendiri. Selain yang tersebut di atas bahwa baik yang diupacarakan maupun yang mengupacarakan serta orang tua yang diupacarakan tidak ada lagi pantangan-pantangannya dalam hal tindak perbuatan dan sifat-sifatnya.

Lambang atau Makna yang Terkandung dalam Unsur Upacara

Upacara adat istiadat suku Dampleas pada upacara masa dewasa terdapat unsur-unsur yang berupa lambang yang bersifat magis sakral. Unsur yang berupa lambang ini berdasarkan atas anggapan masyarakat di daerah suku Dampleas sebagai pendukung sejak lama tradisi adat istiadat turun temurun, yaitu berupa pengadaan materi-materi yang dipersiapkan sebagai perlengkapan upacara molead dan mononto, sebab kedua upacara ini merupakan serangkaian upacara yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Karena itu, lambang dari unsur upacara pada kesempatan ini diuraikan dari upacara molead dan upacara mononto, satu, karena perlengkapannya merupakan kesatuan dari kedua upacara.

Materi sebagai unsur yang dijadikan lambang turun temurun itu adalah batu sebagai penggosok atau dasar pemilihan keadaannya keras supaya dapat meratakan gigi yang dijadikan lambang kekuatan dan memiliki daya magis yang berpengaruh terhadap kehidupan yang diupacarakan.

Ayam jago (jantan) yang diambil darahnya atas dasar pemilihan sifatnya yang dijadikan lambang kekuatan, sedangkan dulang dan tempat ludah dan sarung panjang hanya merupakan perlengkapan yang lebih baik (terhormat) dan tidak berpengaruh terhadap kehidupan yang diupacarakan.

Pakaian adat Dampelas yang herwarna-warni dijadikan lambang turun temurun atas dasar pemilihan kepercayaan kekuatan nenek moyang dan warna atas dasar keindahan.

Penusukan sanggul (tonto) dijadikan lambang turun temurun atas dasar pemilihan pada baunya yang wangi dan kuat karena terbuat dari kayu cendana yang diberi jambul sebagai lambang atau simbol semata, sedangkan perlengkapan alat pacar yang juga dijadikan lambang keindahan karena pemilihan warnanya dapat menjadikan kulit atau kuku berubah warnanya.

Demikianlah lambang atau makna yang terkandung dalam unsur unsur upacara molead dan mononto pada upacara tradisional adat istiadat suku bangsa Dampelas pada masa dewasa ini.

Sumber: Perpustakaan Daerah Propinsi
Jl. Banteng No. 6 Palu Telp. (0451) 482490

Thony Irawanto

Assalamu'alaikum Wr, Wb. Terimakasih atas kunjungan Anda. Trimakasih pula atas kritik dan saran yang telah disampaikan, mohon maaf bila masukan dari Anda belum bisa saya wujudkan semua dalam situs ini. Wassalam, Wr, Wb.

You may also like...