Molead/Menggosok Gigi dengan Batu

Maksud dan tujuan upacara tersebut adalah menyatakan bahwa sang gadis tersebut sudah masuk ke tingkat (alam) masa dewasa, sehingga segala tingkah laku kekanak-kanakan sudah harus ditinggalkan dan sesudah upacara sudah (harus) dapat bertingkah sebagai orang dewasa dalam seluruh aspek hidupnya. Selain itu pernyataan lain dari upacara ini adalah memberikan suatu bukti pada orang lain bahwa gadis yang demikian sudah dapat bersuami kalau ada yang mempersuntingnya. Serta sesudah upacara ini, maka gigi sang gadis bertambah indah sehingga menambah cantik paras muka dengan adanya gigi yang sudah diratakan tersebut.

Pelaksanaan atau Tempat Upacara

Pelaksanaan atau tempat upacara ini pada dasarnya tidak ada ketentuan-ketentuan yang mengingkat akan dilaksanakan pada tempat-tempat tertentu, tetapi sesuai tradisi daerah yang mengikat, cukuplah di rumah orang tua gadis yang diupacarakan dengan tidak dibentuk atau diwarnai dalam suatu keadaan baik di luar rumah sebagai pernyataan diadakannya suatu upacara yang sedang berlangsung.

Waktu Pelaksanaan Upacara

Waktu pelaksanaan upacara sama dengan perhitungan waktu upacara-upacara terdahulu, yaitu pada upacara molongkung (naik ayunan) dan pada upacara mengkulung (potong rambut), tetapi yang penting sekah adalah kemampuan keluarga menyediakan seluruh keperluan pelaksanaan upacara sebab seluruh pembiayaan benar-benar ditanggung sendiri oleh orang tua yang diupacarakan. Juga perlu diketahui bahwa waktu pelaksanaan dilaksanakan pada siang hari dan malam sebelum upacara tidak dilaksanakan upacara-upacara yang menopang upacara puncak tersebut.

Penyelenggara Teknis Upacara

Sebagai penyelenggara teknis upacara tersebut hanya seorang saja yang telah dimufakati orang tua beserta keluarga dan yang dapat melaksanakan upacara molead (menggosok gigi). Karena banyak orang yang melaksanakan pekerjaan ini, maka dipilih seseorang penyelenggara teknis ini dengan penilaian seluruh keluarga bahwa yang mengupacarakan pekerjaannya baik, rapi, dan tidak menyusahkan yang diupacarakan atau orang tua dan keluarga yang diupacarakan. Selain penilaian tersebut adalah juga dia (yang mengupacarai) mempunyai karakteristik hidup yang cukup dapat diteladani dalam masyarakat sejak turun temurunnya.

Pihak-pihak yang Terlibat dalam Upacara

Selain penyelenggara teknis upacara adalah orang-orang yang membantunya pada upacara puncak waktu penggosokan gigi dilaksanakan. Pembantu-pembantu tersebut yaitu topogintidi bai (orang yang memegang kepala), topogintidi pa (orang yang memegang kaki) sebanyak dua orang serta topogintidi lima (orang yang memegang tangan) sebanyak dua orang pula. Pembantu-pembantu ini semua dari pihak keluarga yang telah dimufakati oleh penyelengaara teknis dan orang tua yang diupacarakan, baik ia berstatus masih gadis ataupun orang tua (sudah kawin). Selain pembantu-pembantu tersebut yang diharuskan untuk hadir dalam pelaksanaan upacara tersebut adalah orang-orang tua adat dengan status sebagai saksi semata-mata bahwa telah dilaksanakan upacara penggosokan gigi terhadap yang diupacarakan.

Persiapan dan Perlengkapan Upacara

Yang perlu dipersiapkan dalam upacara ini adalah batu penggosok, dan sekarang ini karena perkembangan teknologi sudah dipergunakan kikir besi, air dingin yang diletakkan dalam tempurung dipakai untuk berkumur bila telah selesai digosok, tempat ludah, dan dipersiapkan pula satu ekor ayam jantan (jago) yang sembarang bulunya yang sebentar diambil darah dan balungnya sebelum diadakan penggosokan gigi, yaitu pada dahi yang diupacarakan. Hal lain (materi) yang dipersiapkan dalam upacara ini tidak ada, hanya sehari sesudah upacara banyak lagi persiapan dan perlengkapan yang disediakan sebagai kelanjutan upacara ini pada upacara menonto.

Jalannya Upacara Menurut Tahapannya

Jalannya upacara menurut tahapannya adalah bila waktu upacara telah tiba pada pagi hari dan seluruh persiapan perlengkapan upacara telah siap semuanya, maka upacara puncak pun dilaksanakan.

Pada pagi harinya anak dimandikan oleh yang mengupacarainya di sungai, dan perlengkapan mandi baik yang diupacarakan maupun yang mengupacarakan tidak ada simbol-simbol tertentu yang dipakaikan, bahkan pada perjalanan pulang pergi dari dan ke sungai ini pun tidak ada upacara resmi. Hanya upacara mandi ini harus disertai orang tua dan sanak keluarga tanpa ada ketentuan perjalanan ataupun mandi. Bila telah sampai di sungai, maka anak yang diupacarakan disuruh mandi sebersihnya dan baik yang mengupacarakan mau pun orang tua serta sanak keluarga hanya sebagai saksi semata bahwa yang diupacarakan telah mandi.

Setelah selesai mandi dan berpakaian, yang diupacarakan tadi pulang ke rumah bersama-sama yang diupacarakan berjalan di muka Ialu diiringi seluruh yang ikut serta tadi. Bila telah tiba di rumali, maka yang diupacarakan berganti pakaian, yaitu dengan memakai baju kebaya dengan sarung panjang (awi) dan rambut dibiarkan terurai, Ialu duduk bersama-sama dengan tua-tua adat dan para undangan lainnya. Sebelum pelaksanaan penggosokan gigi dimulai terlebih dahulu diadakan upacara penggoresan darah ayam (cera) pada dahi yang diupacarakan yang juga disaksikan para hadirin. Pelaksanaannya pada tempat di mana akan dilaksanakan upacara puncak (gosok gigi) dengan tata cara, yaitu penyelenggara teknis duduk di atas tikar dengan duduk bersila dan yang diupacarakan duduk bersimpuh di hadapannya. Ayam telah dipersiapan sebelumnya dipegang oleh seorang pembantu (boleh dari pihak keluarga) dan yang diupacarakannya memotong sedikit balung ayam tersebut dengan pisau, sehingga mengeluarkan darah. Darah tersebut diambil dengan ibu jari kanan dari yang menyelenggarakan kemudian digoreskan pada dahi diantara kening ke arah atas sebanyak satu kali gores saja. Ayam dan pisau tadi sesudah itu disimpan baik-baik, tetapi ayam ini diperuntukkan bagi yang mengupacarai di bawa pulang. Setelah selesai penggoresan darah ayam pada yang diupacarakan maka yang diupacarakan tidur terlentang pada tikar yang telah dipersiapkan. Arah kepala dari yang diupacarakan pada waktu tidur tersebut tidak ada ketentuan khusus misaInya harus arah kepala ke utara atau lainnya, tetapi bagaimana baiknya dalam ruangan tersebut sehingga dapat disaksikan oleh para hadirin. Keadaan tidur ini adalah terlentang dengan kepala pakai bantal dan kaki dilipat ke atas. Kemudian dipanggilah ibu atau para remaja putri untuk mendanipingi dan memegang kaki kiri-kanan dua orang, tangan kiri-kanan dua orang, dan pada bagian kepala satu orang. Pada bagian kaki dan tangan hanya sekedar memegang dan menekan apabila yang diupacarakan meronta kalau ia merasa geli atau sakit kalau dijorok, tetapi pada bagian-bagian kepala selain memegang kepala juga membuka bibir dan rahang yang diupacarakan, sehingga penjorok tadi dapat melaksanakan penggosokan dengan baik.

Apabila pembantu sudah siap semua, maka dimulailah upacara penggosokan gigi dengan mengambil batu gosok yang telah dipersiapkan. Penggosokan gigi yang telah dilaksanakan oleh penyelenggara teknis sampai jelas terlihat rata, yaitu gigi atas dan bawah. Kalaupun model gigi tidak rata, maka akan digosok pada bagian gigi yang mencuat sehingga nampak berbekas penggosokan itu. Sesudah dianggap penyelenggara teknis bahwa penggosokannya sudah rata atau berbekas, maka disurulah yang diupacarakan duduk dan berkumur-kumur dengan air yang telah disiapkan sampai dianggap yang diupacarakan bahwa mulutnya sudah bersih dari sisa-sisa hasil penggosokan batu dan giginya. Sesudah habis berkumur, maka sang gadis yang diupacarakan mengambil tempat duduk yang telah dipersiapkan untuk disaksikan seluruh undangan dan sanak keluarga. Kemudian para undangan disajikan minuman alakadarnya dan selesai makan serta para undangan sudah pulang baru yang diupacarakan dapat menggantikan pakaiannya.

Setelah selesai upacara penggosokan ini, maka para hadirin diberi minuman alakadarnya sebagai tanda kesyukuran, atau kegembiraan orang tua yang diupacarakan bahwa upacara telah selesai, tetapi pada keesokan harinya puncak upacara adalah upacara pemasangan pakaian kedewasaan (tonto = bahasa Dampelas). Pada keesokan harinya inilah para orang tua yang diupacarakan dan seluruh keluarga mengadakan pesta sesuai dengan kemampuannya di mana diundang seluruh keluarga dari tua-desa bahkan seluruh tetangga yang dianggap dekat.

Undangan tersebut sebenarnya bukan semata-mata sebagai tanda kesyukuran dan kegembiraan orang tua yang diupacarakan tetapi datang menyaksikan pelaksanaan puncak upacara yaitu pemasangan pakaian pertanda gadis tersebut sudah dewasa.

Sumber: Perpustakaan Daerah Propinsi
Jl. Banteng No. 6 Palu Telp. (0451) 482490

Thony Irawanto

Assalamu'alaikum Wr, Wb. Terimakasih atas kunjungan Anda. Trimakasih pula atas kritik dan saran yang telah disampaikan, mohon maaf bila masukan dari Anda belum bisa saya wujudkan semua dalam situs ini. Wassalam, Wr, Wb.

You may also like...