Upacara Tahlil dan Takzia

Tahlil ialah pengesahan pada Tuhan dan Permohonan doa, dan Takzia ialah Ceramah Agama. Maksud Penyelenggaraan Upacara : Maksud diselenggarakan upacara ini untuk memohon doa kepada Tuhan semoga arwah jenazah ini diberikan tempat yang lapang, diberi ampunan terhadap dosa-dosanya. Sedangkan takzia dimaksudkan untuk menghibur keluarga yang berduka dengan ceramah-ceramah agama sehingga dapat terobati hatinya setelah ditinggalkan keluarga tercinta.

Waktu Penyelenggaraan Upacara. Penyelenggaraan upacara ini sangat terikat dengan waktu atau hari setelah jenazah dikebumikan sebagai misal ialah pada malam 1, 2, 3 sedangkan pada siang hari dilaksanakan pada hari ke 7, 14, 20, 40 sampai ke 100. Waktu ini didasarkan suatu kasta dalam agama Islam yang disebarkan dan dianut oleh masyarakat suku Dampelas yang bernama kasta Kurule.

Tempat Penyelenggaraan Upacara. Adapun tempat penyelenggaraan upacara ini adalah tempat keluarga yang berduka cita di dalam rumah yang telah dipersiapkan di mana orang-orang dapat berkumpul bersama dengan duduk bersila mengadakan tahlilan dan takzia.

Penyelenggara Teknis Upacara. Karena umumnya masyarakat suku Dampelas beragama Islam maka penyelenggara teknis upacara ini adalah pegawai syara mesjid (agama Islam) yang ada di daerah tersebut. Tetapi dapat pula diundang dari daerah lain atas mufakat antara keluarga dan para sahabat.

Pihak-Pihak Yang Terlibat Dalam Upacara. Pihak-pihak yang terlibat dalam upacara yaitu seluruh keluarga dalam menerima dan melayani tamu-tamu yang datang sebagai tanda turut berduka cita. Demikian pula halnya adalah penceramah yang ada di daerah itu atau dapat pula diundang dari daerah lain yang dianggap berbobot menguraikan isi ceramahnya berhubungan dengan kematian.

Persiapan dan Perlengkapan Upacara. Persiapan dan perlengkapan upacara dapat dibedakan atas.hari-hari pelaksanaannya. Misal pada malam 1, 2 dan 3 merupakan persiapan ruangan tempat orang berkumpul untuk bertahlil dan perangkat dupaan. Pada hari ke 7, 14, dan 20 kebiasaan bahwa tamu-tamu yang datang turut berduka cita tersebut diberi makan ala kadarnya.

Pada hari ke 40 kebiasaan diadakan pemotongan seekor kambing atau domba, persiapan batu nisan yang permanen ditambah penghamparan batu kerikil di atas pusara. Pada hari ke 100 kebiasaan sama dengan pelaksanaan hari-hari sebelumnya.

Jalannya Upacara. Bila malam telah tiba selesai sembahyang Isya maka tamu yang turut berbelasungkawa datang untuk bertahlil dan mendengarkan ceramah agama (Takzia) yang sifatnya telah disebutkan di atas. Jika penyelenggara teknis telah datang dalam hal ini pegawai syara mesjid maupun penceramah maka acara tahlilan pun dilaksanakan. Jika sudah ada mufakat maka penyelenggara teknis memintakan perangkat pedupaan dan setelah tiba di hadapannya maka mulailah ia membakarkan kemenyan atau sebangsanya sehingga menimbulkan bau harum. Sesudah itu mulailah penyelenggara teknis membacakan beberapa surat dalam kitab suci Al Qur’an dan diikuti seluruh hadirin sampai selesai. Setelah selesai maka diakhiri dengan pembacaan doa yang pula dilakukan oleh penyelenggara teknis yang sifatnya bermohon kepada Tuhan Yang Maha Esa semoga arwah jenazah ditempatkan pada tempat yang layak dan diberi keringanan atas segala kesalahan, dosa dan noda yang ia perbuat selama hidupnya.

Manakala acara tahlilan telah selesai, dilanjutkan dengan acara takziah oleh penceramah yang menyangkut dengan kematian sebagai peringatan kepada hadirin dan memberi kata-kata hiburan dan ketabahan hati yang dihadapi keluarga ditinggalkan serta segala sesuatu yang berkaitan erat dengan agama. Takzia ini diikuti oleh hadirin dengan penuh perhatian sehingga dilarang keras kalau ada yang ribut apalagi kalau penceramahnya berbobot menguraikan isi ceramahnya. Andaikata takzia ini sudah selesai maka acara tahlilan dan takzia pada malamn pertama dianggap selesai.

Acara tahlil dan takzia ini dilaksanakan 3 (tiga) malam berturut-turut hanya apabila kedua acara ini sudah selesai, disambung.dengan suatu permainan mongkaus (permainan gelasan) dengan memindahkan batu-batu kecil di atas (dalam) piring. Lubang (piring) yang digunakan sebelah menyebelah paling kurang 4 (empat) dan makin banyak makin baik dengan memakai kepala sebelah menyebelah pula. Tiap piring diisi dengan batu sebanyak piring yang dihadapi masing-masing pemain. Dalam pengangkatan batu pertama juga diadakan undi siapa yang dahulu memulainya sehingga apabila batu dalam piring di hadapannya sudah habis maka dinyatakan kalah. Apabila yang kalah itu 3 (tiga) kali berturut-turut maka dinyatakan tidak dapat melanjutkan set (pertandingan) berikutnya.

Permainan ini bukan hanya dilakukan oleh sepasang saja tetapi banyak pasang dan siapa saja boleh bertanding tetapi tidak membuat keributan. Ukuran batu yang dipergunakan yaitu dari sebesar biji jagung sampai sebesar biji kelereng dan dibawa masing-masing dari rumah serta diusahakan biji-biji batu yang menurut si pembawanya paling bagus, indah dan menarik. Setiap selesai bermain, batu-batu tadi dikumpulkan oleh tuan rumah dan disimpan baik-baik karena bila telah selesai bermain, batu-batu ini tidak boleh hilang atau dibawa pulang tetapi harus ditinggalkan saja di atas piring pertandingan serta kalau mau bertanding pada esok malamnya maka membawa batu kembali. Hal ini dilakukan selama 7 (tujuh) malam berturut-turut sehingga batu yang terkumpulkan cukup banyak. Batu yang berjumlah banyak ini pada acara selesai peletakkan batu nisan yang permanen akan dihamparkan di bagian atas kuburan yang diupacarakan.

Bersama dengan pertandingan (permainan) keterampilan yang disebutkan di atas, juga diikut sertakan suatu permainan motatae (berteka-teki). Teka-teki ini dilaksanakan (dalam bentuk) kelompok-kelompok kecil yangg harus bersifat atau bermakna kejurusan agama sebab permainan ini ada wasit (juri) yang menangani seluruh permasalahan yang kabur atau keliru. Bila ada satu teka-teki yang menurut wasit bukan bermakna agama maka, kelompok yang mengajukan dianggap kalah atau kelompok yang tidak dapat menjawab dinyatakan kalah. Kalah dan menang dalam motatae (teka-teki) ini tidak ada hadiah dan sanksinya sebab semata-mata hanya pembuka akal dan menghibur keluarga yang berduka. Diusahakan kelompok-kelompok yang berteka-teki ini tidak diketahui oleh keluarga yang berduka sebab bila di mana ada keluarga yang duduk maka berkumpullah kelompok-kelompok kecil motatae (teka-teki) tadi memulai teka-tekinya sehingga dengan demikian kalau ada yang lucu dapatlah tersenyum dan tertawa bersama-sama dengan pihak keluarga yang berduka. Jadi sifat dan makna motatae dalam acara ini semata mata untuk menghibur keluarga yang ditimpa musibah.

Acara yang dilaksanakan pada hari ke 7, 14, 20, 40 dan 100 sesudah jenazah dikebumikan akan dilaksanakan pada siang hari dan hanya acara tahlil sedangkan takzia tidak. Kebiasaan bahwa undangan dan tamu sesudah tahlil akan disuguhkan makanan oleh keluarga yang berduka sebagai tanda terima kasih dengan anggapan bahwa hadirin turut belasungkawa bersama keluarga. Tetapi hari ke 40 (empat puluh) ada perbedaan dengan hari-hari di mana acara dilaksanakan yaitu diadakan pemotongan seekor kambing atau domba (biribiri) yang dimaksudkan sebagai akeka pertanda ketulusan, kesucian hati melepaskan jenazah menghadap (keni bali) pada yang Maha Besar Tuhan. Keadaan ternak ini benar-benar dianggap paling bagus, baik, sehat, kuat, sudah dewasa, tidak cacat dan tidak boleh dihutang. Acara penyembelihannya biasa saja dan dilaksanakan oleh penyelenggara teknis upacara serta dagingnya untuk dimakan bersama sesudah acara tahlil. Bila santap bersama selesai maka sesudah itu dilaksanakan lagi suatu acara yaitu penanaman batu nisan yang permanen dan penghamparan batu di atas pusara yang telah dikumpulkan pada permainan mengkaus, disertai pembacaan doa dan perlakuan ini dilaksanakan oleh penyelenggara tiknis bersama keluarga.

Pada hari ke 7 (tujuh) sesudah acara tahilan dan santap bersama diadakan perlakuan yaitu penurunan bendera yang dipasangkan pada halaman rumah oleh 4 (empat) sahabat yaitu kapitalau (keamanan). Pada hari ke 100 (seratus) sesudah acara tahlil dan santap bersama dilakukan pembongakaran rumah kecil di atas pusara yang dilakukan oleh pihak keluarga dan kerangka serta perabotnya tidak boleh dibawa pulang oleh pihak keluarga tetapi dibiarkan begitu saja atau dapat diambil oleh orang lain. Bila acara pada hari ke 100 (seratus) ini selesai maka seluruh upacara kematian raja atau suku Dampelas dianggap selesai dan keluarga memulai suatu situasi dan keadaan hidup dan kehidupan yang baru.

Pantangan-pantangan yang dihindari. Adapun pantangan yang dihindari adalah tidak dibenarkan melakukan upacara hidup sebagai contoh upacara selamatan, perkawinan dan sejenisnya oleh keluarga maupun oleh anggota masyarakat, sebelumacara upacara sesudah kematian selesai. Di samping itu adalah di rumah tempat kedukaan bahwa keluarga atau anggota masyarakat, dilarang keras melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan jahit-menjahit.

Lambang dan Makna yang Terkandung dalam Unsur-unsur Upacara. Adapun lambang dan makna yang terkandung dalam persiapan dan perlengkapan upacara yang disebutkan di atas berdasarkan pada sifat dan keadaan benda yang dipergunakan, seperti;

  1. Perangkat pedupaan dan pelaksanaannya merupakan adanya hubungan antara manusia dan khaliknya melalui asap pembakaran kemenyan atau sejenisnya sehingga permohonan doa dapat diterima
  2. Ternak yang disembelih yang keadaannya telah disebutkan di atas sebagai pertanda ketulusan (ikhlas) hati memilih sebaik-baiknya hewan semoga Tuhan memberikan ketulusan (keikhlasan) untuk menerima almarhum/almarhumah di sisiNya melalui permohonan doa oleh seluruh keluarga dan anggota masyarakat
  3. Batu nisan dan batu kerikil dari sebaik-baiknya batu sebagai pertanda sebaik-baiknya hati atau sekuat-kuatnya iman dari keluarga dan anggota masyarakat yang ditinggalkan

Sumber: Perpustakaan Daerah Propinsi
Jl. Banteng No. 6 Palu Telp. (0451) 482490

Thony Irawanto

Assalamu'alaikum Wr, Wb. Terimakasih atas kunjungan Anda. Trimakasih pula atas kritik dan saran yang telah disampaikan, mohon maaf bila masukan dari Anda belum bisa saya wujudkan semua dalam situs ini. Wassalam, Wr, Wb.

You may also like...