Motana Tomate

Maksud dan tujuan Upacara: Agar arwah jenazah tersebut dapat beristirahat untuk selama-lamanya, sebab kubur dianggap sebagai tempat peristirahatan roh yang abadi karena kehidupan di dalam kubur dianggap sama dengan kehidupan di dunia ini, maka ia perlu ditemani oleh satu orang atau lebih; kepala manusia yang dikuburkan bersama dia, simbol suatu kehidupan bersama di alam kubur Melepaskan jenazah kembali ke asalnya, yaitu tanah karena asal usul kejadian manusia berasal dari tanah Agar tidak menyimpan bau busuk dalam kampung (rai mompaka vau ngapa) Menunjukkan. rasa kebesaran dan kecintaan rakyat kepada raja atau bangsawan atau orang tua adat yang meninggal dunia.

Tahap-tahap kegiatan upacara penguburan ini terdiri atas:

  1. persiapan penguburan
  2. mengantar jenazah ke kuburan
  3. penguburan jenazah

Masa Persiapan Penguburan

Bila saat penguburan sudah ditetapkan oleh musyawarah orang tua hadat kerajaan (libu tobia nungapa), maka persiapan-persiapan penguburan segera ditaksanakan. Menjelang saat upacara penguburan kegiatan dalam upacara molumu semakin intensif, seperti Motinti gabara (memukul gendang), semakin menyemarakkan situasi semakin tinggi frekuensi pergantian orang-orang dalam tugas Movara. Demikian pula acara Mantangisi (menangis karena meninggalnya raja), orang-orang yang dipandang memiliki keahlian menangis dan kemampuan mengungkapkan kata-kata yang mengandung kesedihan dan keharuan semakin sering melakukan tugas tersebut.

Menjelang saat-saat mengantar jetazah ke kuburan, gendang dipukul bertalu-talu dan saling bersahut-sabutan dari ketiga tempat yang ditentukan. Suara orang-orang yang menangisi mayat terdengar semakin ramai, dan suasana berkabung mewarnai seluruh masyarakat dan sibuk membantu segala sesuatu apa yang dapat dan harus mereka kerjakan.

Perlengkapan Upacara

  1. Membuat tempat usungan yang disebut bego-bego yang cukup besar dan dapat memuat 14 orang Topovara, seorang kayu mpayu, dan seorang pemimpin di samping mayat
  2. Membuat dan mempersiapkan tempat tempayan air yang digunakan untuk menyiram kubur, yang disebut Lera-lera. Lera-lera ini berbentuk meja, yang juga diusung ke kubur oleh 4 orang, yang berisi tempayan dan cerek yang diisi air
  3. Membuat dan mempersiapkan Kuburu, yaitu alat penutup bagian atas usungan, yang dibuat dari gaba-gaba, berbentuk setengah bundaran. Kuburu ini ditutup dengan Vuya Bomba (sarung Donggala), dihiasi dengan janur dan bunga daun kemboja
  4. Menggali kuburan umumnya semua orang merasa berkewajiban untuk menggali kubur, termasuk keluarga yang datang dari luar desa. Penggalian kubur dimulai sejak seorang meninggal. Tidak heran kuburan raja-raja/bangsawan itu sangat dalam sampai 10 meter. Karena itu, dalamnya kubur sering dijadikan ukuran besar kecilnya simpati dan rasa pengabdian anggota masyarakat/ keluarga terhadap orang yang meninggal, bahkan dijadikan ukuran pembanding kebesaran raja yang satu dengan yang lain pada zaman dulu
  5. Mempersiapkan tali yang digunakan untuk menurunkan jenazah/lumu di liang lahat. Pada akhir-akhir ini, kuburan tidak lagi sedalam seperti dahulu. Dalamnya kubur sama dengan kubur umum, dan petugas penggali kubur dilakukan oleh petugas-petugas tertentu saja. Karena itu, perlengkapan ini sudah tidak disiapkan lagi dewasa ini
  6. Membuat tangga (Lanjara), sebagai tangga khusus bagi penurunan jenazah dari rumah, dan membongkar sebidang dinding rumah, tempat tangga tersebut dipasang. Maksudnya ialah agar roh dari jenazah yang diturunkan tidak akan kembali mengganggu keluarga yang berduka. Karena itu, begitu jenazah diturunkan, tanggal dirusakkan dan dinding rumah segera dipasang kembali

Penyelenggaraan Teknis Upacara

  1. Orang-orang yang mengusung mayat, dari kalangan masyarakat luar (Topokova bego-bego)
  2. Topovara, yaitu orang yang melakukan upacara (novara pengipasan jenazah) di atas usungan 14 orang
  3. Kayumpayu, orang-orang yang diberi tugas/menjaga memegang payung di atas bego-bego (usungan) yang turut dipikul bersama jenazah
  4. Topodu tomate (orang yang memandikan jenazah)
  5. Toposompu tomate (orang yang mengafankan jenazah)
  6. Toposambayaki, yaitu orang yang menyembayangkan mayat. Ketiga upacara point 4, 5, 6 umumnya dilaksanakan oleh guru-guru (agama) dan yang bersedia untuk itu
  7. Topotalaki, orang yang membaca talkin di atas kubur sesudah pemakaman
  8. Topokova lera-lera (tempat tempayan dan cerek yang berisi air) yang digunakan menyiram kubur, setelah kubur selesai ditimbuni dengan tanah yang agak tinggi
  9. Toposilele doi, orang yang diberi tugas menghamburkan sejumlah uang logam (doi manu), sepanjang jalan mengantar jenazah dari rumah ke pekuburan. Sekarang kegiatan ini sudah tidak ada
  10. Topokomando, orang yang bertugas memimpin acara pengusungan jenazah dari rumah ke pekuburan dan berada di atas usungan, biasanya dari Tadulako.
  11. Orang tua hadat (Totua nungapa), yang bertugas meminpin penyelenggaraan teknis upacara adat, sejak masa molumu sampai upacara adat kematian dianggap, selesai
  12. Raja-raja atau bangsawan bertugas membetulkan jalannya upacara memberi nasihat dan sebagainya

Upacara-upacara yang berlangsung dalam masa persiapan menjelang jenazah diantarkan ke kuburan ialah:

  1. Upacara memandikan mayat (moriu tomate)
  2. Upacara mengkafankan mayat (mosompu tomate) dengan kain putih
  3. Menyembayangkan (shalat) jenazah (nosambyaki tomate).

Dahulu jenazah yang disemayamkan dalam peti sudah dimandikan dan dikafankan, hanya saja belum disembahyangkan. Sehingga menjelang jenazah diantar ke kuburan diadakan upacara shalat jenazah. Dewasa ini, keluarga bangsawan yang meninggal dunia tidak lagi molumu (disemayamkan dalam peti) dalam waktu yang cukup lama, tapi paling lama 1 (satu) hari 1 (satu) malam saja.

Upacara memandikan jenazah (Modu Tomate)

Memandikan jenazah ialah suatu upacara membersihkan badan jenazah dari berbagai kotoran dan najis. Maksud dan tujuannya agar jenazah selama disemayamkan tidak mengeluarkan bau yang busuk, dan dalam rangka memenuhi perintah agama.

Penyelenggara teknis upacara tersebut pada umumnya adalah pegawai syara, atau anggota keluarga yang terdekat, yang bersedia bertugas untuk itu. Yang dianggap ahli dalam seluk beluk dan syarat-syarat memandikan jenazah. Dahulu para budak-budak yang ingin dibebaskan dari perbudakan, diwajibkan mandi dengan air sisa yang jatuh dari rumah tempat jenazah dimandikan. Meteka langsung mandi dengan air yang jatuh di bawah kolong rumah.

Pihak-pihak yang terlibat dalam upacara tersebut ialah seluruh anggota keluarga, ketua-ketua adat, para anggota masyarakat, walaupun mereka hanya ikut hadir di saat upacara tersebut. Dan waktu upacara memandikan jenazah tersebut umumnya dilakukan pada saat-saat menjelang jenazah tersebut diantar ke kuburan. Walaupun sebelumnya sudah dibersihkan dari segala kotoran dan najis yang biasa disebut niriu sala. Tempat upacara memandikan jenazah tersebut ialah di dalam rumah atau bagian beranda rumah, yang memungkinkan air mandi dapat jatuh ke tanah. Di tempat pemandian tersebut ditutup dengan sampiran, sehingga yang berhak masuk hanyalah petugas-petugas khusus yang telah ditetapkan sebelumnya.

Dalam upacara ini perlengkapan-perlengkapan yang disiapkan ialah air mandi, berbagai kembang bunga dan daun yang wangi dicampurkan pada air mandi (ue vongi), atau sabun mandi, tempayan (Gumba), loyang (Sempe) dibuat dari tanah, ember, cerek (sere) dan alat pengangkat air mandi, pobasa (kain mandi yang digunakan menutup jenazah).

Jalan upacara memandikan jenazah

  1. Sesudah para petugas dan perlengkapan sudah siap seluruhnya, maka jenazah diangkat ke tempat pemandian
  2. Tiga atau empat orang dari anggota keluarga nipolangga (menjadi alas jenazah saat dimandikan). Mereka duduk dalam satu arah dan meluruskan kedua kaki ke depan untuk tempat meletakkan jenazah sebagai alas, mulai dari kepala sampai pada bagian kaki. Jenazah diletakkan di atas kaki dalam keadaan terlentang dan ditutup dengan kain mandi putih (kae pobasa). Mereka bertugas membersihkan badan dan seluruh anggota tubuh jenazah pada bagian yang dihadapkan masing-masing. Posisi orang-orang nipolonggu, juga berdasarkan strata sosial, orang yang duduk bagian kepala, atau orang-orang keluarga bangsawan, dan orang yang duduk pada bagian pinggul adalah orang-orang yang biasa yang terpandang dalam masyarakat. Disamping itu ada pula petugas (guru) yang khusus menyiram bagian tubuh, dan memberi bimbingan teknis cara membolak-balik badan jenazah pada saat dimandikan. Umumnya mereka itu dari kalangan orang tua hadat baik laki-laki atau perempuan. Dan sekarang ini dilakukan oleh pegawai syara, bila jenazah itu laki-laki. Selama memandikan mayat, kain penutup jenazah tersebut tidak boleh dibuka. Tangan mereka tetap menyentuh jenazah di bawah lapisan kain penutup tersebut pada saat menggosok-gosok atau membersihkan tubuh jenazah tersebut. Guru pada umumnya dianggap memiliki pengetahuan untuk memandikan mayat agar tidak cepat busuk, atau menghilangkan bau busuk.
  3. Bila upacaea memandikan jenazah tersebut selesai, jenazah diangkat kembali ke tempat tidurnya, untuk siap dikafankan dengan kain putih.

Pantangan-pantangan selama upacara mamandikan jenazah tersebut ialah:

  1. Bagi petugas dilarang bicara, mulai saat memandikan sampai selesai, khususnya yang menyangkut keadaan cacat tubuh atau kelainan-kelainan yang mereka rasakan atau alami selama memandikan jenazah
  2. Pantang membuka kain mandi (pobasa) pada saat memandikan jenazah, kecuali bagian kepala dan kaki.

Mengkafankan jenazah (Mosompu Tomate)

Mosompu Tomate (membungkus jenazah) adalah salah satu kewajiban keluarga, untuk memberi pakaian jenazah dengan kain putih yang dibuat dari katun sebanyak 5 sampai 7 lapis. Maksud dan tujuannya ialah (1) Agar si mayat yang berpakaian putih tersebut dapat diterima oleh Yang Maha Kuasa, karena pakaian putih adalah simbol kesucian dan kebersihan, (2) Matundu riparenta nuagama (patuh terhadap perintah agama).

Penyelenggaraan teknis dilakukan oleh pegawai syara (bila jenazah tersebut laki-laki dan bila yang meninggal adalah perempuan, maka petugas teknisnya juga dari kalangan perempuan yang dianggap pantas dan ahli tentang cara memandikan jenazah). Dan piliak-pihak yang terlibat dalam upacara tersebut terbatas pada petugas dan disaksikan oleh orang tua hadat dan keluarga yang terdekat. Namun yang hadir pada saat itu, datang dalam berbagai lapisan masyarakat yang menunggu saat-saat mengantar jenazah ke kuburan.

Waktu upacara tersebut umumnya dilaksanakan pada saat matahari sudah mulai condong ke Barat (Natelibieo) atau di atas pukul 12.00 sampai 15.00 siang hari. Tempat upacara tersebut diadakan dalam rumah atau Baruga pada satu tempat yang tertutup. Kain penutup atau sampiran yang digunakan ialah kain adat yang disebut mesa (kain adat yang diwariskan dari nenek moyang mereka).

Persiapan dan perlengkapan upacara pengkafanan jenazah terbut selain kain putih, juga diadakan dulang 1 buah yang berisi sebagian pakaian Mesa (kain adat) sanggayu (Kae gandisi) ± 3 meter. Dulang ini gunanya untuk menyimpan Kain Mesa (kain adat) dan Sanggayu gandisi yang digunakan dalam upacara pengkafanan jenazah yaitu dengan 1 lapis kain putih terbuat dari kotton (sanggayu gansisi) yang dipotong-potong untuk kain kafan. Adapun Mesa (kain adat) sebagai salah satu isi baki adalah simbol dari kebangsawanan dan bergfungsi sebagai penawar dari segala sesuatu yang memberikan gangguan-gangguan bagi kehidupan.

Jalannya upacara pengkafanan jenazah ialah pertama kain putih (kain kafan) tersehut dipotong-potong sesuai panjangnya jenazah, ditambah 10 – 20 meter di bagian ujung kaki dan kepala, untuk tempat pengikat. Kedua pembungkus jenazah tersebut dengan kain putih yang telah dipotong-potong tersebut, sampai 7 lapis. Tali pengikat juga dibuat dari kain kafan tersebut. Setelah selesai dikafankan jenazah diletakkan kembali di atas kasur, atau disimpan dalam Lumu (peti) jenazah. Dahulu jenazah tersebut disemayamkan sampai 40 hari dalam peti tersebut. Sekarang jenazah tersebut begitu selesai dimandikan dan dikafankan langsung dishalatkan diantar ke kuburan. Upacara mengipas jenazah sejumlah 2 x 7 = 14 orang seperti upacara movara yang kita uraikan di atas. Jenazah ditutup dengan sarung Donggala (Vuya Bomba). Hanya saja waktu upacara movara tersebut lebih singkat yaitu saat setelah menghembuskan napas sampai saat sesudah dimandikan dan dikafankan.

Pantangan-pantangan pada upacara tersebut ialah:

  1. Pantang mengikat kain kafan yang dililitkan pada jenazah tersebut dengan ikatan mati (noboke mate), karena ikatan mati tersebut dinilai sebagai simbol akan banyak kematian yang menyusul
  2. Pantlangan bagi petugas berbicara atau ketawa, karena dinilai merendahkan derajat keluarga jenazah
  3. Pantang menangisi mayat dengan suara yang keras pada saat itu, sebab saat itu dibutuhkan ketenangan dan tidak mengganggu roh jenazah

Nosambayaki Tomate (Menshalatkan Jenazah)

Mensyalatkan jenazah ialah suatu upacara keagamaan (Islam), di mana jenazah tersebut diletakkan di depan para petugas yang menshalatkannya, dengan cara-cara tertentu yang ditentukan oleh agama Islam, baik jenazah laki-laki atau perempuan.

Tujuannya ialah :

  1. Agar arwah jenazah diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa, dan menerima segala amal kebaikannya
  2. Agar jenazah tersebut diakui ke Islamannya oleh masyarakat luas
  3. Menyerahkan roh dan jazad kembali ke hadapan Tuhan dengan ikhlas, sesuai perintah agama

Penyelenggaraan teknis upacara tersebut ialah para pegawai syara, tokoh-tokoh agama dan dewan hadat, serta mereka yang bersedia dan tahu cara-cara menshalatkan jenazah. Dan umumnya adalah pihak laki-laki, sekalipun jenazah tersebut adalah perempuan. Sedang pihak-pihak yang terlibat dalam upacara hampir seluruh anggota keluarga, untuk mempersiapkan segala keperluan upacara tersebut.

Waktu upacara shalat jenazah tersebut dilakukan pada saat sesudah jenazah dikafankan, menjelang saat-saat jenazah siap diantarkan ke pemakaman yang terakhir. Begitu jenazah selesai dishalatkan sementara kembali nivara untuk beberapa saat menunggu komando untuk siap dipindahkan ke usungan (bego-bego). Tempat upacara shalat tergantung dari libu (musyawarah) atau sintuvu totua nungapa (persepakatan bersama Ketua Dewan Hadat kerajaan), umumnya dilaksanakan dalam rumah dan ada pula yang dilaksanakan di Mesjid.

Persiapan dan perlengkapan upacara shalat jenazah tersebut hanyalah air untuk berwudhu bagi orang-orang yang menshalatkannnya serta ruangan khusus, yang perlu dikosongkan dari peserta yang hadir.

Jalannya acara sesuai dengan tuntutan agama yaitu:

  1. Jenazah yang sudah dikafankan dan telah ditempatkan di atas kasur dan ditutupi dengan sarung Donggala (Vuya Bomba) tersebut diletakkan dalam posisi melintang dengan menempatkan bagian kepala pada sebelah Utara.
  2. Orang-orang yang menshalatkan berdiri menghadap ke arah Kiblat di mana jenazah diletakkan di depan mereka.
  3. Shalat tersebut dipimpin oleh seorang imam shalat, yang berdiri terdepan, sedangkan jenazah berdiri bershaf di belakang imam, dalam jumlah yang tidak ditetapkan tergantung partisipasi orang-orang yang hadir.
  4. Shalat itu terdiri dari 4 kali takbir, dan di antara 4 takbir tersebut diiringi dengan bacaan-bacaan doa-doa tertentu, serta ditutup dengan salam.

Menurunkan jenazab dari rumah

Bila mayat sudah siap diturunkan ke tanah, maka sebidang dinding rumah dibuka untuk dilalui jenazah tersebut. Tangga khusus untuk tempat turun telah disiapkan sebelumnya oleh para tukang yang disebut Lanjara.

Mangantara Tomate (Mengantar Jenazah)

Mengantar jenazah dari rumah kediaman ke pemakaman, adalah satu tahap kegiatan yang diselimuti dengan berbagai upacara tradisional yang patut dicatat di sini yaitu pada saat: mokova bego-bego dan lera-lera (memikul usungan jenazah dan tempat tempayan air), yaitu upacara:

  1. Mekaiaka (upacara meminipin pengusungan jenazah), dan
  2. Nosikatovenaka (upacara saling menyatakan kasih sayang)

Kedua upacara tersebut di atas pada hakikatnya mempunyai dua tujuan yang berlawanan yaitu :

  1. Menghendaki. agar jenazah segera dikuburkan, sebagai wakil dari keluarga pihak yang tidak ditimpa musibah kematian, karena merasa sebagai suatu keharusan
  2. Pihak kedua yaitu keluarga si mati, yang seakan-akan tidak menghendaki jenazah tersebut dikuburkan

Hal tersebut tergambar dalam jalan acara mengantar jenazah, sejak usungan mulai diangkat sampai di pekuburan. Pihak pertama mekaika, memberi komando dan memimpin acara pengusungan, sedang pihak kedua nosikatovenaka, menyatakan rasa saling sayang untuk melepaskan jenazah ke pemakaman.

Penyelenggara teknis acara pengusungan ini dipimpin oleh seorang bangsawan yang berpengaruh yaitu petugas yang memberi komando pengusungan (topokomando), dengan teriakan-teriakan yang membakar semangat,. yang kadang-kadang memukul arang-orang yang melanggar tata cara tertentu, atau seorang budak sahaya yang disiapkan ikut mengantar jenazah tersebut. Topokomando tersebut berdiri di atas usungan. Pihak kedua tukang pikul (topokova) yang telah ditetapkan, atau dengan sukarela ikut serta mengambil jasa-jasa baik dalam tugas tersebut secara bergantian sepanjang jalan. Jumlahnya cukup besar, sebab selain usungan tersebut cukup besar dan berat, sebab yang ikut diusungkan bersama jenazah, sejumlah orang antara lain 2 orang kayumpayu (pemegang payung) yang berada pada bagian kepala dan kaki jenazah, dan topovara yang berada di samping kiri kanan jenazah sebanyak 14 orang dan topokomando.

Pihak-pihak yang terlibat, Meliputi seluruh lapisan masyarakat, mulai dari raja-raja, Ketua Dewan Adat, sampai budak-budak, baik laki-laki atau perempuan. Waktu upacara pengantar jenazah, umumnya pada saat matahari mulai condong ke Barat (natebantueo). Tempat upacara ialah sepanjang jalan dari rumah kediaman sampai ke pekuburan.

Perlengkapan upacara seperti biasa ialah 3 buah gendang yang terus menerus dipukul dengan nada dan irama yang menimbulkan rasa ketakutan dari 3 buah/tempat gendang yang saling bersahutan satu dengan yang lain yang membahana dan menciptakan situasi berduka pada saat itu.

Jalannya upacara mengantar jenazah tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

Pertama, Mantanginjaka – menangisi mayat pada saat-saat jenazah siap diangkat/diusung oleh seorang ibu yang diberi tugas untuk, seperti yang telah diuraikan terdahulu. Maksudnya mengundang dan menggugah rasa keharuan kepada para peserta upacara pada saat itu

Kedua, Mengangkat dan mengusung mayat ke pekuburan. Bila jenazah telah siap dalam usungan, maka komando pengusungan dimulai. Sebelum usungan diletakkan di bahu, usungan tersebut diangkat/di pundak, dipindah ditempatkan selama 3 hari. Setelah usungan yang berat ini berada di bahu para pemikul terjadilah acara Nosikatovenaka dan acara Nekaiaka yaitu acara saling menarik dari 4 sisi (depan belakang), (kiri dan kanan) usungan yang lain menarik maju, menarik mundur, ke kiri atau ke kanan, sehingga usungan bergerak tak menentu diiringi dengan sorak sorai. Pemimpin acara tersebut berteriak dengan pekikan nada yang menumbuhkan bulu roma, memberi komando untuk jalan terus. Dalam saat seperti ini Topokomando mulai melakukan pukulan kepada budak sahaya, yang memang disiapkan/direncanakan untuk itu sebagai anggota pemikul usungan. Keadaan seperti itu berlaku terus sampai ke pekuburan, diiringi dengan suara gendang yang semakin keras, sehingga sering antara pemukul usungan tersebut jatuh tersungkur, setiap melalui jalan-jalan yang sukar. Maksudnya menunjukkan rasa kesayangan kepada raja mereka yang meninggal, karena mereka percaya bahwa roh si mayat senang diperlakukan demikian, sebagai simbol dari rasa cinta rakyat kepadanya.

Ketiga, sepanjang jalan dari ke kuburan oleh raja atau Ketua Dewan Hadat yang ditugaskan untuk itu, menghamburkan uang logam lam (doi manu) atau uang logam lainnya seperti uang benggol dan sebagainya. Acara ini sudah hilang sejak zaman kemerdekaan.

Upacara Pemakaman/Penguburan

Setelah jenazah sampai di tempat penguburan, maka diadakanlah upacara penguburan (motana tomate). Tahap-tahap jalan upacara tersebut ialah:

  1. Menetapkan orang-orang yang bertugas turun pertama ke dalam kubur (topokanavu riulu ridayo), biasanya dari kalangan hamba sahaya dari raja yang meninggal atau budak dari kerajaan lain. Karena ada sesuatu rahasia yang tidak boleh diketahui orang banyak, yaitu membawa kepala manusia. Mereka sudah berada dalam kubur sebelum jenazah tiba.
  2. Mouluraka lumu (menurunkan peti jenazah) dengan tali, melalui suatu perintah komando Tadulako. Hal ini justru karena dalamnya kubur berkisar 5 sampai 10 meter dengan lebar 2 sampai 3 meter.
  3. Modungga limu (membuka peti jenazah). Apabila peti jenazah sudah disambut dan diletakkan dalam posisi yang benar, maka peti tersebut segera dibuka, disambut dengan suara azan di atas kubur oleh bilal (Topobaa).
  4. Mosunju Tomate (membalikkan tubuh dan muka jenazah kearah Kiblat di liang lahat). Tugas ini dianggap yang paling berat, karena jenazah tersebut umumnya sudah hancur dan busuk.
  5. Mempopaeki leantana (menciumkan jenazah dengan liang pada bagian tanah kuburan), yaitu dilakukan oleh budak-budak, yang juga dipimpin oleh seorang Tadulako dari atas kubur.
  6. Mopalinga yang berarti membuat kita lupa/melupakan orang yang mati tersebut. Upacara ini dilakukan sebelum kuburan ditimbuni oleh Ketua Adat yaitu meletakkan sebuali boneka/orang-orangan yang dibuat dari batang pisang yang biasa disebut siolo, yang telah disiapkan sebelumnya diisi mayat. Maksudnya agar si mayat tidak lagi mengingat anak cucu yang ditinggalkannya. Karena bila tidak dilakukan maka roh si mayat akan selalu datang mengganggu anak cucunya di rumah. Sebaliknya bila hari-hari atau minggu-minggu pertama anak cucunya ada yang rindu mereka membuat siolo, dan mengantarnya ke kubur. Siolo tersebut diletakkan di atas kuburan orang tua/ neneknya tersebut.
  7. Molunuki dayo (menyiram kuburan) dengan air yang sudah disiapkan dari rumah dan dipikul bersama jenazah ke pemakaman. Acara ini dilakukan selama 3 atau 7 hari pada waktu pagi dan sore hari, sebagai simbol untuk menciptakan suasana yang dingin, dan tenang di dalam kubur. Pelaksana teknis ialah pegawai syara dan pandeleka. Pandeleka adalah 2 orang gadis pilihan yang diberi tugas membawa air di cerek, dengan berpakaian adat, yaitu memakai 2 sarung Donggala (Vuya Bomba), dan selama pedalanan ia menutup seluruh tubuhnya kecuali yang terbuka adalah bagian mata.
  8. Upacara motalaki (membaca Talkin) di atas kuburan tersebut yang biasanya dilakukan oleh pegawai syara. Talkin bersumber dari buku Kerukunan yang merupakan kumpulan ayat-ayat AI Qur’an dan Hadits.
  9. Meletakkan Kuburu (sebuah alat penutup jenazah sesaat diusungan) diletakkan di atas kuburan sesudah ditimbun, sebagai simbol bahwa kuburan tersebut masih baru.
  10. Mengambur bunga-bunggaan di atas kuburan dari seluruh anggota keluarga, pertanda penghormatan terakhir.

Maksud dan tujuan upacara motalaki tersebut agar bila malaikat Munkar dan Nakir bartanya tentang sesuatu kepada si mayat, maka ia dapat menjawab dengan benar dan fasih, sehingga dapat selamat dan hidup tenang di alam kubur. Bila upacara motalaki ini selesai, maka selesailah seluruh upacara pemakaman, dan seluruh pengantar jenazab pulang ke rumah keluarga si mati untuk makan bersama dan seterusnya siap melakukan upacara-upacara sesudah penguburan tersebut di rumah kediaman si mayat. Perlengkapan pengantar jenazah seperti bego-bego, lera-lera, kuburu ditinggalkan di pekuburan.

Pantangan-pantangan selamna upacara penguburan ini ialah dilarang makan siang bagi seluruh anggota keluarga dan seluruh anggota masyarakat di desa di mana raja/bangsawan tersebut meninggal dunia.

Sumber: Perpustakaan Daerah Propinsi
Jl. Banteng No. 6 Palu Telp. (0451) 482490

Thony Irawanto

Assalamu'alaikum Wr, Wb. Terimakasih atas kunjungan Anda. Trimakasih pula atas kritik dan saran yang telah disampaikan, mohon maaf bila masukan dari Anda belum bisa saya wujudkan semua dalam situs ini. Wassalam, Wr, Wb.

You may also like...