Nantauraka Ngana

Pasa masa kelahiran dan masa bayi dijumpai beberapa upacara adat yang cukup sederhana, dalam arti pelaksanaan dan keanekaragaman perlengkapan. Pada masa ini upacara adat yang dilaksanakan ialah (1) Nompudu valaa mpuse, (2) Nanta Uraka ngana, (3) Nosaviraka ritora, dan (4)Nokoto/Nosombe bulua.

Upacara ini dilaksanakan setelah selesai upacara penanaman tembuni, yang dihadiri oleh keluarga-keluarga terdekat dan tetangga.

Maksud dan tujuan upacara

Upacara ini bertujuan agar sang bayi sudah dapat dengan bebas dibawa ke luar rumah oleh orang tua dan keluarga lainnya, serta jauh dari gangguan makluk halus, sebagai suatu langkah prefentif.

Waktu Pelaksaman Upacara

Upacara diadakan pada siang hari saat-saat matahari naik, mulai pagi sampai dengan sebelum matahari condong ke barat, maksudnya sebagai suatu isyarat (simbol) bahwa hidup masih terus meningkat dan merupakan suatu puncak kehidupan.

Tempat Pelaksanaan Upacara

Tempat dan pusat kegiatan dilakukan dalam rumah, halaman rumah, dan di rumah para tetangga sebagai suatu rangkaian upacara.

Penyelenggara Teknis Upacara

Upacara tersebut tetap diperankan oleh sando mpoana (dukun) dan sejumlah anggota keluarga yang khusus datang untuk upacara tersebut baik dipanggil maupun dengan sukarela.

Jalannya Upacara

Jalannya upacara ini ada 2 (dua) tahap, yaitu sebelum turun tanah dan turun tanah.

  • Nompesuvuki. Sebelum turun tanah ada pula vati mengadakan upacara nompesuvuki (membelah biji kelapa). Biji kelapa tersebut diambil langsung di atas pohon kelapa secara utuh, dan tidak boleh dijatuhkan ke tanah, tetapi diikat dengan cinde, yaitu sarung adat sebagai tali pengikat kelapa tersebut. Untuk menurunkannya dari atas pohon tersebut ditampung dengan satu alat yang disebut poloroa (suatu keranjang penyimpanan air/bobo) yang dibuat dari tempurung kelapa. Kemudian kelapa tersebut dihilangkan sabutnya dengan rapi agar dapat disatukan kembali seperti asalnya semula dan bijinya dijadikan bahan upacara tersebut.

    Pada waktu upacara bayi ditidurkan dalam keadaan telanjang di atas kedua belah kaki sang dukun, dan biji kelapa tersebut kemudian dibelah dan airnya membasahi sebagian tubuh sang bayi sambil diiringi dengan gane (mantera).

    • Aku mempesoki yodi (kalau yang di upacarakan bayi perempuan), yojo (kalau bayi laki-laki), ala rai madoyo, rai mambongo, mantaraka. Jarita ribanua loku ritana, nemo mantauraka jarita ri banua ritana, nemo mosikenika jarita”.
    • Aku belah biji kelapa agar sang bayi kelak tidak menjadi penjahat, tidak tuli, membawa ceritera dari rumah ke rumah, dari tanah ke rumah, dan tidak membawa ceritera yang mengadu domba.

Selesai mantera dibacakan, dukun menghitung: sangu, randua, tatalu — lalu membuang kelapa yang sudah terbelah dua itu ke belakang. Bila salah satu belahan kelapa tersebut tertutup, maka kedua belaban tersebut diambil lagi sampai kedua belahan kelapa tersebut terbuka. Hal ini merupakan simbol agar rezeki sang bayi kelak di kemudian hari selalu terbuka, hati selalu jujur, dan pikiran selalu terbuka untuk mencari kebahagian hidup. Kemudian isi kelapa tersebut dipisahkan dengan tempurungnya, lalu dikunyah dijadikan posobo (sampo) untuk bagian kepala sang bayi. Tempurungnya dibungkus kembali dengan sabutnya yang dibuat begitu rupa seperti kembali menjadi sebuah kelapa, diikat dan digantung di depan pintu rumah. Maksudnya agar terpelihara, jangan sampai terbakar, sebab kalau terbakar dapat mengakibatkan hal yang negatif bagi sang bayi seperti sakit-sakitan, kudisan, dan sebagainya.

Jalannya Upacara Turun Tanah

Upacara ini dilakukan setelah selesai upacara sebelum turun tanah, di mana kemudian bayi tersebut diberi pakaian (ni bado) untuk siap di bawa ke tanah oleh dukun. Di bawah tangga diletakkan sebuah kapak (vase) dan sehelai daun kamonji, pamanu, dan silaguri (bahasa daerah) yang akan diinjak oleh dukun yang membawa anak tersebut, dengan didampingi oleh orang-orang tua (nenek) dan keluarga lainnya sebagai pendukung upacara tersebut, Nenek-nenek itu membawa bahan makanan sirih (kapur, gambir dan sirih) di atas baki adat. Selesai upacara tersebut di halaman, bayi tersebut diantar dari rumah ke rumah sebanyak 7 rumah tangga sampai di muka tangga.

Di depan tangga tersebut, dukun berteriak memanggil tuan rumah dan terjadilah dialog: “Eee tupu mbanua, seimo yojo (kalau anak laki-laki) atau yodi (kalau anak perempuan). Bayi dijemput oleh tuan rumah lalu makan sirih yang sudah tersedia, dan memberikan uang kepada sang bayi sesuai keihlasan.

Maksudnya ialah rai maboli vayona (agar semangat jiwa anak tersebut tidak tertinggal). Tuan rumah membuang uang di atas loyang sambil berkata: ” Ituma vayomu, makoo balenggamu, mandate umurumu, masempo dalemu“. Itulah semangat (kekuatan rohmu), keras kepalamu (sukar menjadi sakit), panjang umurmu, dan mudah rezekimu”.

Dukun kemudian meninggalkan tempat itu menuju rumah tetangga yang lainnya sampai rumah yang ketujuh dengan cara yang sama. Setelah itu dukun dan rombongan kembali ke rumah dan dengan demikian selesailah upacara tersebut dan dilanjutkan dengan upacara Nosaviraka ritoya (naik ayunan).

Sumber: Perpustakaan Daerah Propinsi
Jl. Banteng No. 6 Palu Telp. (0451) 482490 

Thony Irawanto

Assalamu'alaikum Wr, Wb. Terimakasih atas kunjungan Anda. Trimakasih pula atas kritik dan saran yang telah disampaikan, mohon maaf bila masukan dari Anda belum bisa saya wujudkan semua dalam situs ini. Wassalam, Wr, Wb.

You may also like...