Nobau/Penebusan

Upacara Nobau adalah suatu upacara yang dilaksanakan oleh orang dewasa, khususnya orang tua manakala anak-anak dari suatu keluarga ada yang mengalami gangguan penyakit atau kurang sehat seperti nabaka-baka (banyak tumbuh luka pada bagian anggota badan), nange’e / nakeru keru (hidup kerdil dan kurus sebagai akibat pertumbuhan tubuh kurang normal seperti berkudis, termasuk penyakit tuli, bisu, dan sebagainya.

Menurut kepercayaan masyarakat bahwa keadaan yang kurang sehat yang dialami oleh anak-anak dalam keluarga itu adalah akibat nakaratea (gangguan roh nenek moyang) sebagai akibat kelalaian orang tuanya mengadakan adat atau telah melupakannya. Bila segala upaya pengobatan telah dilakukan, ternyata anak-anak belum sembuh, berarti ada nengoimo (upacara adat sudah harus dilaksanakan). Tetapi upacara ini tetap dilaksanakan oleh semua anggota keluarga walaupun belum ada yang mengalami berbagai macam penyakit, sebagai upaya preventif.

Nama lain upacara ini ialah nogimba (memukul gendang) khususnya bagi raja, dan pada desa (kecamatan Tawaeli) adat ini disebut no govu, sedangkan di lembah Palu disebut no tompo asu (memotong anjing). Umumnya upacara adat ini hanya berlaku di kalangan para bangsawan dan atau mereka yang merasa berdarah bangsawan, atau merasa mewarisi adat tersebut dari nenek moyangnya. Nama daripada upacara nobau seperti itu, menggambarkan stratifikasi sosial pelaksana upacara tersebut.

Nogimba adalah dipakai oleh para raja/bangsawan, sedangkan notompo asu bagi orang biasa sebagai upacara adat penyembuhan orang sakit yang tidak bisa sembuh dengan pengobatan biasa, tetapi sifatnya tidak menjadi tuntutan mutlak.

Ketuarga bangsawan suku Kaili pada komunitas kecil lainnya dikenal upacara yang mempunyai tujuan sama dengan nama lain, seperti nogovu di Kecamatan Tawaeli, noloso / ndoso di kecamatan Biromaru.

Nobau adalah suatu istilah yang mengandung arti penebusan karena setiap orang yang merasa terikat dengan darah kebangsawan selalu merasa berutang adat dalam arti mereka dituntut agar upacara adat ini harus dilaksanakan. Khususnya bagi keluarga yang memiliki dan rnewarisi adat tersebut disebut topavaya artinya orang yang terhimpun dalam rumpun keluarga wajib melaksanakannya. Karena itu bila dalam rumpun keluarga tersebut belum mengadakan upacara, maka mereka mengambil prakarsa untuk melaksanakannya secara bersama-sarna dengan gotong-royong. Upacara ini mereka sebut pompakaporo ada (penutup dan pelengkap seluruh upacara adat daur hidup) bagi seseorang yang telah kawin dan berketerunan. Dan yang diupacarakan adalah seluruh anggota keluarga, baik orang tua maupun anak-anaknya, apabila kedua orang tuanya belum pernah diupacarakan sejak kecil. Karena itu sering seorang ibu yang tidak mendapat keturunan dari perkawinannya, kemudian melaksanakan melaksanakan nobau ini dengan maksud mendapat keturunan. Kemandulan juga dianggap oleh masyarakat sebagai akibat mengabaikan upacara adat nobau ini.

Maksud dan Tujuan Upacara

Maksud dan tujuan upacara adat ini ialah menyembuhkan atau mencegah dari berbagai macam penyakit yang diderita oleh seseorang dan atau keturunannya dalam Iingkungan keluarga, baik penyakit cacat jasmani dan rohani maupun kelainan-kelainan, dan dapat mengantarkan putra-putrinya ke gerbang kedewasaan dengan sehat sempurna tanpa cacat atau kelainan-kelainan. Hidup sehat sempurna dan bahagia, berketurunan, merupakan cita-cita dan harapan orang tua yang perlu diantar melalui upacara adat nobou ini.

Waktu penyelenggaraan Upacara

Waktu penyelenggaraan upacara ini adalah pada saat anak-anak dalam keluarga ada yang mengalami macam penyakit atau cacat jasmani dan rohani, yang dengan upaya pengobatan telah gagal dilakukan oleh dukun atau dokter.

Dalam keadaan normal (tanpa ada anggota keluarga yang sakit-sakitan), upacara ini sering dilakukan pada usia anak tertua 11 — 13 tahun, atau telah memiliki putra-putri sampai 5 – 7 orang. Atau karena rnerasa tidak mendapat keturunan tambalian lagi walaupun hanya satu atau dua orang saja. Tetapi yang paling menentulcan ialah faktor ekononii dan atau kesempatan yang baik yang merupakan hasil kesepakatan antara dua atau keluarga serumpun, yang merasa terikat dengan adat tersebut, baik sebagai pemerkasa atau ikut serta melibatkan diri dalam kelornpok keluarga besar (extendet family). Bila upacara ini sudah dilaksanakan dan ternyata ada kelahiran putra-putri di kemudian hari, maka anak ini tergolong sudah diupacarakan (risambaliku nuada). Pelaksanaan upacara ini ada yang berlangsung 1 (satu) hari, 3 (tiga) hari, dan ada pula 7 hari 7 malam bergantung stratifikasi sosial dan kemampuan ekonorni para peserta.

Dalam penghematan biaya, sering upacara ini dikaitkan dengan pesta upacara adat lain, misaInya pesta perkawinan, nokeso, dan noloso. Bagi yang mampu sering diadakan tersendiri dengan mengumpulkan beberapa keluarga dengan menanggung biaya bersama, sesuai kemampuan masing-masing keluarga. Sedangkan bagi pesta raja umumnya ditanah Kaili, penentuan hari pelaksanaannya selalu ditetapkan oleh Dewan Adat (Togura nungapa) berdasarkan palakia (petunjuk yang menentukan hari baik dari hari naas).

Tempat Penyelenggaraan Upacara

Nobou diadakan di salah satu rumah anggota keluarga yang disepakati oleh keluarga, sebab pada dasarnya pesta adat ini adalah pesta besar yang diikuti oleh sejumlah putra-putri dari beberapa keluarga yang terlibat dalam upacara tersebut, dan termasuk anggota keluarga yang merasa rnemiliki adat tersebut setelah secara resmi menyatakan diri dan dengan persyaratan-persyaratan tertentu.

Penyelenggara Teknis Upacara

Penyelenggara teknis upacara adat nobau ini ialah Madika atau Togura nuada atau Ketua nuada dan Magau (Madika). Peranan Madika atau togura nuada ialah menentukan sistem pembagian beban dari setiap anggota keluarga yang ikut serta bersama-sama mengikuti upacara tersebut. Persyaratannya itu ialah bahwa setiap anggota keluarga peserta tanpa memandang jumlah anak-anaknya yang harus diupacarai yang akan ikut membonceng dalam pesta upacara adat tersebut kepada keluarga yang memprakarsainya. Atas dasar pilihannya itu ia wajib membayar sepuluh real untuk penebusan harga darah dan jantung seekor sapi yang disembelih, atau 80 real penebusan harga paha, atau 6 real penebusan tangan bagian kaki sapi sembelihan. Nilai real tersebut sekarang ini disesuaikan dengan kondisi harga seekor sapi di pasaran. Seluruh jalannya upacara diatur dan dipimpin oleh ketua adat dan para anggotanya, sejak awal sampai akhir.

Pihak-pihak yang Terlibat dalam Upacara

Orang-orang yang terlibat dalam upacara tersehut ialah seluruh keluarga yang melakukan dan terlibat dalam pesta tersebut. Bila pesta ini dilakukan oleh raja, maka sebagian beban pesta seperti beras, sayur-sayuran, kayu api, kecuali hewan (kerbau/sapi) harus ditanggung oleh raja dan para pembonceng atau peserta yang menyatakan sebagai anggota yang ikut terlibat sebagai orang-orang yang diupacarai. Berapa banyaknya kerbau/sapi yang disembelih, bergantung dari pengakuan/kesediaan atau kemampuan peserta yang menyelenggarakan upacara tersebut, dengan gotong-royong yang diputuskan bersama dalam suatu libu (musyawarah) keluarga. Libu ini selalu dipimpin atau dihadiri oleh ketua adat.

Tiga unsur pokok yang dihormati dalam upacara tersebut dan sangat diharapkan kehadirannya ialah: ketua adat dan rombongannya sebagai permmpin penyelenggaraan upacara adat tersebut, orang tua kampung bersama imamnya, yang ikut mengatur persiapan-persiapan upacara, dan magau atau madika sebagai raja yang dihormati dan didengar nasihatnya, serta tuan/penyelenggara pesta tersebut sendiri yang tidak lain keluarga-keluarga bangsawan juga.

Tahap-tahap Pelaksanaan Upacara

Dalam masa persiapan kegiatan yang dilakukan menurut tahap-tahapnya itu ialah Nolibu, mengadakan pertemuan/musyawarah antar keluarga untuk membicarakan waktu pelaksanaan dan teknis penyelenggaraan, anggota-anggota keluarga yang berhasrat ikut serta dalam upacara tersebut yang dihadiri oleh katua nuada nungapa Mo ovo (menentukan waktu, hari, bulan yang tepat dan dianggap baik). Hal ini ditetapkan oleh, ketua nuada; Neala yaitu mengundang tetangga-tetangga/sanak famili seluruhnya (satu keluarga) = meonggotaka sambanua, dari sekian keluarga terdekat sebagai tuan rumah, dan megaga mengundang keluarga yang agak jauh sebagai tamu yang ikut dalam pesta tersebut. Umumnya 7-3 hari sebelum upacara ini dilakukan, seluruh keluarga terdekat sudah berkumpul di rumah pesta untuk membantu menyelesakan tugas-tugas/persiapan-persiapan seperlunya, seperti yang disebutkan di atas. Puncak upacara penyelenggaraannya setelah waktu yang ditetapkan tiba, dan seluruh anggota peserta sudah berkumpul seluruhnya clan perlengkapan-perlengkapan upacara sudah tersedia.

Selain persiapan-persiapan tersebut di atas untuk upacara nobau juga harus disiapkan novia bantaya, yaitu membuat bangunan khusus penyelenggaraan upacara, yang merupakan pusat aktivitas katua nuada, magau nuada mengatur dan memimpin upacara tersebut dan dilarang orang lain masuk di dalamnya. Noumpa sapo (menyambung rumah), yaitu menambah bahagian muka atau belakang rumah untuk daya tampung ruangan rumah bila para undangan datang, juga dikerjakan dengan gotong royong; membuat dekorasi di dalam dan di luar rumah dengan janur atau daun kelapa muda, dan umumnya cukup dengan memasang/menutup loteng rumah dengan kain putih karena rata-rata perumahan di desa tanpa loteng dan sebagainya.

Selanjutnya mempersiapkan perlengkapan-perlengkapan upacara sehari sebelum upacara puncak berlangsung, dan sudah tersimpan dengan aman dalam bantaya yang meliputi: Pingga nggo’o, yaitu piring makan yang digunakan dalam upacara adat tersebut, tubu (mangkok), mata bengga, dula tanggu, dan mesa maburi (kain hitam) tenunan Galumpang dari Sulawesi Selatan yang terkenal berkualitas pada zaman dahulu 300 – 400 tahun yang Ialu; sejumlah perlengkapan pakaian/alat bela diri seperti sadipa palo, sara sinde, leve-angi, guma, doke, taiganja, dan kamagi disiapkan dan disimpan bantaya untuk disaksikan oleh Magau dan Katua Nuada; sejumlah bahan-bahan dari tumbuh-tumbuhan yang disebut kayu sampinokio, lanu (daun silar yang muda ), daun kayu nggo’o tamabali, simpeliu (nama daun), kayu vatu, kayu vou, dan kayu nggo’o. Kayu sampinokio tersebut diikat di bagian atas bantaya, dan lanu (daun silar) setelah lidinya dibuang, digantung sebagai dekorasi; mempersiapkan sejumlah hewan (sapi/kerbau/kambing) yang akan disembelih dalam pesta adat tersebut; mempersiapkan 3 buah gendang adat yang juga digantung di bantaya; dan mempersiapkan sejumlah jenis buah-buahan dan makanan seperti pisang satu sisir, 7 buah ketupat, kemudian nasi, kelapa yang sudah dikukur, rica (marisa) garam, masing-masing satu piring.

Bila segala sesuatu ini sudah siap seluruhnya, hewan sudah disembelih, seluruh orang yang akan diupacarakan sudah terkumpul, yang kemudian seluruh peserta tersebut dipanggil oleh ketua adat dan dikumpulkan di bantaya untuk diketahui beberapa anggota peserta seluruhnya, maka upacara adat dimulai dan seluruh anggota Dewan Adat yang ada Nosisuromo (saling menyuruh untuk melakukan tugas sesuai fungsi dan peranannya masing-masing).

Gendang upacara nobau dipukul sebagai isyarat mengumpulkan toniasa di bantaya, maka seluruh peserta upacara berkumpul yang kemudian makan makanan dan buah-buahan yang telah disiapkan. Mesa yang sudah disiapkan dibuka di atas kepala peserta, sebagai satu isyarat upacara dimulai.

Kepada Magau nuada telah disiapkan pula makanannya dengan segala perlengkapan piring-piring adat dan berbagai bahan-bahan upacara dari tumbuh-tumbuhan dan seluruh pakaian serta senjata-senjata tajam sebagai pelengkap yang mengelilingi hidangan makanan.

Selesai makan, para peserta upacara masuk ruangan Magau dan memberi salam “Assalamualaikum”, dan sesudah dijawab “Waalaikum salam”, mereka berkata “nosisuromo kita pua” (kita sudah saling rnelaksanakan tugas-tugas upacara) semacam laporan dan memperkenalkan diri. Kemudian mereka kembali ke tempat tanpa diperkenankan bersuara.

Pemlukulan gendang hitam sebagai salah satu dari gendang adat yang disiapkan adalah pemberi isyarat bahwa makan pagi, siang, atau malam telah dimulai. Sesudah selesai makan pagi, siang atau malam, baki dan dula nuada belum dapat diangkat sebelum diadakan upacara nosede. Upacara nosede ini dilakukan pagi, siang, dan malam hari oleh anggota dewan adat dan para orang tua lainnya yang pandai menyanyikan lagu-lagu sede, selama 3 hari 3 malam dan atau 7 hari 7 malam. Hal ini bergantung dari kebesaran dan kemampuan persiapan pesta upacara tersebut.

Pada saat upacara ini akan berakhir, masing-inasing peserta dari sejumlah keluarga tersebut diwajibkan makan makanan yang disiapkan, yaitu pisang rebus dicampur dengan kelapa yang sudah kukur, ketupat, garam, nasi biasa, dan nasi ketan.

Kegiatan berikutnya ialah notompokotu yang diikuti oleh seluruh peserta (memotong lidi dari enau), dan telah disiapkan oleh sejumlah peserta upacara.

Pada suatu upacara makan siang diadakan acara nosikoni konisa (saling makan makanan dari setiap anak yang lainnya). Maksudnya agar anak sama kebal dari serangan penyakit dan mengikat rasa kekeluargaan serta saling menolong satu dengan lainnya kelak bila telah dewasa. Selesai makan orang tua masing-masing anak yang diupacarakan mengantar anak-anak mereka menginjak kepala kerbau yang sudah disembelih/dipotong. Satu per satu mereka naik dan oleh Ketua Adat, darah kerbau vang sebelumnya ditampung di suatu tempat tertentu, dilekatkan sedikit pada bagian ubun-ubun dari anak-anak tersebut. Maksudnya agar anak memiliki keberanian dan bebas dari gangguan penyakit.

Seluruh perlengkapan upacara lainnya seperti kadombuku, siranindi, kayu vou, kayu nggolo dibuka di atas kepala para peserta tersebut. Hal ini mengandung makna tertentu sebagai suatu lambang-lambang yang bersifat magis religius.

Menjelang sebelum seluruh upacara ini ditutup, dan melepaskan gendang dari gantungannya dan membangun bantaya, diadakan lagi upacara nosede. Suatu lagu dan syair yang memuja rate. Sede adalah syair-syair yang dilagukan untuk mengajukan sesembahan (sesajian), pernyataan rasa syukur, dan juga penuh ungkapan-ungkapan harapan dan doa agar putra/putri yang diupacarakan tidak lagi diberi segala macam penyakit karena upacara adat sebagai tanda hormat dan apa yang diminta oleh rate (arwah nenek moyang) seluruhnya telah dilaksanakan.

Dengan selesainya upacara nosede sebagai persembahan lagu terakhir dan penutup upacara ini, maka selesailah upacara tersebut.

Segala lambang/simbol yang dipasang dalam ruimah/bantaya. berangsur-angsur dibuka dan gendangpun telah dilepaskan dari gantungannya. Para putra-putri yang diupacarakan pulang ke rumah masing-masing. Togura nuada / Katua nuada dan rombongan diantar kembali ke rumahnya. Setiap keluarga yang melibatkan anak-anaknya memberi sumbangan kepada seluruh anggota penyelenggara. teknis upacara tersebut (rombongan Katua nuada) yang telah ditetapkan sebelumnya.

Pantangan-pantangan

Pantangan yang harus dihindari dalam Upacara nobou ini ialah sebagai berikut:

  1. Seluruh para undangan dilarang masuk ke dalam bantaya (pusat kegiatan Ketua dan anggota dewan adat) yang memimpin teknis penyelenggaraan upacara tersebut sejak upacara adat dimulai (pemukulan gendang pertama). Bagi mereka yang melanggar pantangan, akan diberi sanksi (nigivu) sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Alasan dasar pelarangan tersebut karena dalam bantaya tersimpan sejumlah henda-benda magis religius yang perlu dihormati dan hanya dapat disentuh oleh para Ketua adat.
  2. Peserta upacara setelah melampor medika/magau. dilarang- bersuara karena suatu pertanda penghormatan para peserta upacara terhadap rajanya.
  3. Peserta upacara dilarang makan sebelum gendang dipukul oleh anggota dewan adat sebagai isyarat waktu makan. Alasannya selain merupakan disiplin juga suatu tanda penghormatan kepada pimpinan penyelenggara teknis upacara adat tersebut, yang dipandang memegang kunci keberhasilan tercapainya tujuan penyelenggaraan upacara adat tersebut.

Lambang-lambang yang mengandung makna magis religius banyak dijumpai dalam upacara ini, yaitu:

  1. Adanya berbagai macam buah dan daun seperti daun kelapa dan daun pisang, satu piring nasi dan kelapa kukur, rica dan garam adalah sesajian kepada rate, yang dengan itu para peserta dapat bebas dan tidak mengalami berbagai penyakit yang disebabkan nakaratea (gangguan-gangguan rate)
  2. Nogimba (upacara menggunakan gendang) adalah simbol kebangsawan dari para peserta orang-orang yang diupacarakan
  3. Sejumlah perlengkapan seperti piring adat (pingga nggo’o, mata bengga, tubu, dula tanggu, dan mesa) adalah benda-benda adat yang dianggap sebagai benda magis yang memiliki daya tolak/ tangkel terhadap penyakit-penyakit karena gangguan rate
  4. Perlengkapan dalam bentuk senjata seperti guma, doke, taiganya, dan sarasinde adalah simbol-simbol kekuatan dan kekebalan. Dengan tersedianya benda-benda itu para peserta memiliki kekuatan rohani (nompaka ko’o vayo)
  5. Seluruh jenis tumbuhan yang diikat dalam bantaya dan dedaunan yang menjadi dekorasinya adalah simbol dari kesucian dan sifat-sifat perlawanan terhadap penyakit sebagai ciri dari sifat-sifat atau nama benda itu sendiri. Daun tambali (tidak berubah), simbol bahwa sekali sehat tetap sehat dan tidak akan berubah menjadi sakit. Kaya vatu (batu) adalah simbol kekerasan (daya tahan dari gangguan penyakit dan sebagainya)
  6. Simbol angka 7 menunjukkan bahwa mereka yang diupacarakan adalah turunan tomanuru yang datang dari kayangan.

Sumber: Perpustakaan Daerah Propinsi
Jl. Banteng No. 6 Palu Telp. (0451) 482490 

Thony Irawanto

Assalamu'alaikum Wr, Wb. Terimakasih atas kunjungan Anda. Trimakasih pula atas kritik dan saran yang telah disampaikan, mohon maaf bila masukan dari Anda belum bisa saya wujudkan semua dalam situs ini. Wassalam, Wr, Wb.

You may also like...