Nokeso/Upacara Menggosok Gigi

Salah satu upacara pada usia menjelang usia baligh dewasa ini ialah upacara nokeso, yaitu upacara menggosok gigi bagian depan sampai rata, baik bagian atas maupun bagian bawah bagi seorang anak perempuan menjelang baligh (nabalego). Teknis upacara nokeso ini ditentukan oleh vati sesuai status sosial dan atau warisan yang pernah diterimanya dari orang tua atau nenek moyangnya. Bagi keturunan raja/bangsawan vati, ditentukan oleh ketua dewan adat.

Tujuan Upacara

Tujuan upacara ini adalah mengantar anak perempuan memasuki masa gadis (karandaa) agar dapat bahagia tanpa gangguan mental dan phisik, serta harapan memasuki pintu perkawinan dengan baik, panjang umur, murah rezeki, ataupun menjaga dirinya, tutur katanya serta adat istiadat leluhurnya. Sesungguhnya upacara ini adalah suatu upacara peresmian/pernyataan orang tua bahwa putrinya telah mengakhiri masa kanak-kanaknya dan memasuki alam kedewasaan.

Waktu Upacara

Upacara ini biasanya dilaksanakan pada masa sebelum anak perempuan mengalami menarche (masa haid pertama). Bila anak gadis telah mengalami haid pertama orang tua sudah merasa malu untuk mengupacarakannya, akan tetapi karena tuntutan adat, maka harus dilaksanakan. Namun pelaksanaannya sudah kurang sempuma karena toniasa dinilai sudah cukup gadis (randalamo).

Umumnya upacara ini dilaksanakan pada siang hari dan dipentaskan oleh Ketua Dewan Adat Kerajaan. Bagi para bangsawan berlangsung sampai 7 hari 7 malam. Suatu tanda kebesaran pada raja dan merupakan pesta seluruh rakyat desa. Biaya pesta pada umumnya mendapat bantuan dari rakyat yang disebut pekasuvia (sumbangan sukarela rakyat dalam lingkungan kekuasaan raja) dalam berbagai bentuk jenis bantuan seperti hewan ternak, beras, sayur-mayur, dan sebagainya. Penentuan dan perhitungan hari berdasarkan perhitungan-perhitungan seperti yang disebut di atas.

Tempat Upacara

Tempat upacara dilaksanakan di rumah adat (baruga), sekarang dilaksanakan di tempat kediaman raja,/bangsawan dan di lapangan terbuka. Upacara ini adalah upacara terbesar yang dilakukan oleh raja dalam upacara daur hidup di luar upacara pesta perkawinan.

Penyelenggara Teknis Upacara

Upacara ini terdiri atas togura nungapa (tokoh-tokoh/pemimpin dewan adat) yang bertugas menentukan waktu pesta adat tersebut, menentukan jenis sumbangan waktu pesta adat tersebut, menentukan jenis sumbangan rakyat (pekasuvia) untuk masing-masing kampung, memimpin upacara pelaksanaan penyelenggaraan upacara adat tersebut, dan mempersiapkan segala perlengkapan upacara adat. Di samping itu juga toposede (penyanyi lagu suci) dari kelompok ahli syair dan lagu dan menguasai lagu-1agu sakral magis tersebut.

Dahulu pelaksana teknis selain diatur/dipimpin oleh ketua dewan adat, akan datang pula penawaran jasa-jasa baik dari segala lapisan masyarakat yang ikut mengambil bagian dalam pesta tersebut, sesuai dengan status sosial masing-masing.

Pihak-pihak yang Terlibat dalam Upacara

Pihak-pihak yang terlibat dalam upacara tersebut ialah hampir seluruh rakyat yang berada di bawah kekuasaaii raja karena mereka memberi bantuan sesuai dengan kemampuan yang mereka punyai, baik materil maupun tenaga, suatu bantuan sukarela tanda kesetiaan rakyat dengan rajanya. Di beberapa kerajaan lain (Sigi/Pantoloan) pada zaman dahulu, upacara nokeso ini dikaitkan dengan upacara noloso. Noloso adalah upacara adat religi yang hanya dilakukan oleh raja atau bangsawan saja. Bagi keluarga masyarakat biasa nokeso dilakukan cukup sederhana saja, selesai dalam satu hari.

Persiapan dan Perlengkapan Upacara

Sebelum upacara puncak dilaksanakan, banyak hal yang telah disiapkan termasuk perlengkapan-perlengkapan pesta. Melalui ketua dewan adat setempat diumumkan secara luas kepada masyarakat bahwa raja akan mengadakan pesta adat nokeso, maka seluruh warga desa di bawah pemerintahan kerajaan, dengan dikoordinator oleh ketua-ketua dewan adat kampung mengajak rakyatnya ikut membantu mensukseskan pesta raja tersebut, dengan apa yang mereka sebut pekasuvia. Karena itu, pegaga undangan (berita pesta) sudah dilaksanakan jauh-jauh sebelum upacara puncak dilaksanakan, sekaligus bersifat maklumat.

Persiapan yang diperlukan meliputi persiapan keperluan konsumi, seperti kerbau sampai 7 ekor, 7 tandan pisang, beras seperlunya. Di samping keperluan perlengkapan isi dapur yang diperoleh dengan cara gotong-royong. Persiapan pelebaran rumah dan tempat-tempat tertentu yang diperlukan untuk mempertinggi daya tampung undangan dari berbagai lapisan undangan dari masyarakat luas, misalnya, noumpu sampo (menyambung rumah bila rumah kecil), manginda pakakasa (meminjam peralatan pesta upacara). Membuat songgi (tempat khusus toniasa), dan paga / savira (tempat menyimpan sembelihan).

Perlengkapan-perlengkapan khusus upacara 7 lembar mesa, 7 buah piring adat (tava kelo), 7 piring pinokaso, 7 busung sagu, dan 7 batang kayu tikala. Di samping itu perlengkapan pakaian dan perhiasan seperti anting-anting, kavari, gelang tangan, dan sebagainya.

Di halaman rumah dipancangkan 2 tiang ula-ula (kain berbentuk orang-orangan) yang berwarna kuning dan merah, serta hiasan dan dekokrasi dari dalam rumah sampai bagian halaman rumah dengan daun kelapa muda, khususnya menjelang hari-hari upacara puncak.

Jalannya Upacara

Jalannya upacara nokeso ini, di kalangan para bangsawan pada dasarnya adalah sama kecuali kualitas dan kuantitas perlengkapan seperti yang disebutkan di atas. Bila pesta upacara telah ditetapkan, maka 3 hari 3 malam sebelum upacara puncak dilaksanakan, gadis-gadis cilik menjelang remaja ini mulai dipingit. Mereka yang diupacarakan ini disebut toniasa (to = orang; niasa = singkatan dari nipakasa = orang yang diresmikan atau disahkan sebagai orang yang masuk dewasa). Tempat pingitan tersebut disebut songgi yang dibuat di dalam rumah diberi kelambu (boco) dan diberi sampiran dari 7 lapis kain mesa (tenunan kain galumpang dari Sulawesi Selatan). Selama 3 hari 3 malam mereka pantang ke luar songgi. Mereka makan dan minum dan buang air di tempat itu dengan segala perlengkapan setiap kali mereka makan, selalu diiring oleh pukulan gong/gendang, dan berakhir setelah mereka selesai makan. Mereka merawat tubuhnya dengan bedak khusus yang diberi bermacam-macam campuran dari tumbuhan yang wangi, yang dibuat dari beras ketan, maksudnya agar toniasa lebih cantik, lebih bersih, dan wajah lebih berseri-seri. Mereka memberi warna merah pada kuku mereka dengan daun pacar (no katute) menjelang dilaksanakan upacara.

Menyongsong upacara nosungge boco (membuka kelambu) esok paginya, maka di pagi subuh buta sebelum fajar terbit toposede (para penyanyi) melagukan lagu dan syair suci yang terdiri atas 7 orang tua laki mengelilingi songgi, sampai matahari terbit di pagi hari.

Pada saat matahari terbit memancarkan sinarnya, diadakan upacara nosungge boco yang dilakukan oleh anggota toposede, dengan membuka seluruh tempat (songgi) tersebut, yang dilanjutkan dengan memberi makan. Selesai makan para toniasa dibawa ke sungai oleh keluarga dengan cara niponde (dipikul di atas bahu dengan kedua kakinya bergantung di bagian dada), dan diiringi dengan bunyi-bunyian instrumen dari bambu, gong, dan gendang.

Di sungai mereka nijunu (dimandikan dengan membasahi seluruh badannya) dan noisu (membersihkan rambut). Selanjutnya toniasa diantar kembali ke rumah dengan berjalan kaki. Di sepanjang jalan toniasa tidak diperkenankan menginjak tanah. Setiap langkah harus menginjak 7 tongkam daun pinang yang disiapkan secara bergantian sampai tiba di rumah. Sebelum naik rumah toniasa rnengeliling rumah tiga kali dengan diiringi irama bunyi yang terus bertalu-talu sampai menginjak tangga adat naik (lanjara). Lanjara adalah tangga yang dibuat khusus dari bambu emas sebanyak dua buah, masing-masing tangga naik dan tangga turun khusus bagi para toniasa.

Setelah berada dalam rumah toniasa diberi pakaian adat oleh inonuvelo, dengan diiringi oleh gane-gane (mantera) yang berisi harapan dan doa agar dengan pelaksanaan upacara tersebut toniasa terhindar dari berbagai gangguan mental dan phisik, panjang umur, murah rezeki, dan bila kawin mendapat keturunan yang baik-baik.

Pakaian adat yang dipakai toniasa tersebut terdiri atas baju dari kulit kayu (ivo), sarung dari kain mesa, hiasan kepala terdiri atas tandu emas/gala, velo (hiasan dibuat dari bulu ayam jantan), gongga (manik-manik yang berwarna-warni), dan bagian ujung paling bawah diberi kida-kida (emas/perak dalam bentuk kecil/tipis), anting-anting (tai ganja) dari emas, ikat pikat diberi banggula (giring-giring), dipinggangnya terdapat sebuah guma (parang adat), kalungnya disebut loigi (manik-manik), kamagi terbuat dari emas, geno dan kawari yang bergantung pada bagian dada, dan pada bagian kedua lengan terdapat pawala, ponto, ajima, valu, ajima ntaroe-roe (cincin), semua dari emas, dan pada bagian kaki di pasang gelang kaki emas.

Selanjutnya adalah manjaku (menombak kerbau). Para Toniasa dibawa turun ke tanah melalui lanjara mpanau (tangga turun). Di tengah-tengah tangga, toniasa diberi tombak (tavala) dan terus menombak kerbau yang sudah siap diikat di dekat tangga yang akan disembelih dalam pesta tersebut. Setelah selesai manjaku dilanjutkan dengan nosede di halaman rumah. Dengan demikian pakaian kebesarannya mereka dikelilingi oleh toposede, melagukan syair-syair dan lagu yang isinya melukiskan tujuan dan jalannya acara yang telah dan sedang dilakukan selama ini. Isinya penuh harapan dan doa, kiranya toniasa bebas dari gangguan rohani dan jasmani, panjang umur, mudah dan selamat mendapatkan jodoh dan keturunan yang baik-baik. Juga penuh nasihat dan itibar akan sang toniasa jangan membuat orang tua malu, dan hendaknya selalu patuh dan setia kepada orang tua. Setelah selesai, maka toniasa naik ke rumah, dan acara pesta makan pun dimulai.

Dahulu gigi bagian muka digosok sampai rata dengan sebuah batu asa, namun pada akhirnya diadakan secara simbolis saja, yaitu batu asah tidak lagi digosokkan, tetapi digigit, kemudian digosok dengan cincin emas dan telur.

Dengan selesainya acara ini, selesailah pula upacara nokeso ini secara resmi. Namun bagi beberapa keluarga bangsawan lainnya di tanah Kaili ditemukan pula vati, yang merupakan tindak lanjut dari upacara ini beberapa tahap lagi, yang diselenggarakan dalam keluarga terbatas, yaitu acara berpantang dan mosunggu tovu, nomata voki.

Acara berpantang ini adalah masa pembinaan disiplin yang ketat, yang berlangsung selama 3 bulan. Sang gadis dipingit dan dibatasi ruang geraknya, hanya pada halaman rumah saja.

Selama 3 bulan tersebut toniasa tidak diperkenankan makan dan minum pada malam hari. Jam makan ditentukan pada sore hari menjelang sebelum matahari terbenam. Pada setiap kali makan selalu diiringi dengan bunyi gendang. Dalam kegiatan-kegiatan di luar rumah, toniasa wajib memakai toru (topi yang berdaun lebar) dan memakai baju masaripi (baju hitam yang berbintik-bintik kecil putih), maksudnya agar kepala toniasa terlindung dari terik panas matahari. Gadis cilik tersebut diwajibkan memakai bedak hitam yang dibuat dari tepung beras yang digoreng, untuk bagian dahi dan bagian pipi diberi bedak berwarna putih. Selama masa berpantang ini sang gadis tersebut dilarang makan loka dano (pisang raja) dan makan ikan bakar, kecuali ikan panggang. Maksudnya agar kesehatan kulit lebih terpelihara dan berisi padat tidak lembek seperti pisang dan sebagainya.

Selesai masa pantang 3 bulan, dilanjutkan dengan upacara santai ke tepi pantai. Acara ini adalah acara muda-mudi. Toniasa dibawa ke pantai oleh keluarga untuk bersantai, diikuti oleh teman-temannya muda-mudi, dan toniasa tetap dalam pantang dan masih wajib memakai toru. Di sepanjang pantai toniasa diantar menginjak air laut yang menghempas di tepi pantai, dan menginjak lubang-lubang kepiting dengan teman-teman wanita sebayanya. Suatu simbol melepaskan kesunyian dan rasa menciptakan keakraban dengan gadis seusianya, dan pemuda-pemuda dari lingkungan keluarganya. Dan yang paling penting ialah menemukan dirinya sebagai seorang yang sudah gadis dan sudah lepas dari masa kanak-kanak.

Mereka kembali ke rumah, setelah beberapa jam mereka bersantai mengikuti acara di bawah pimpinan seorang ibu atau keluarga dari kedua pihak. Di halaman rumah diadakan upacara nosungge toru (membuka topi yang berdaun lebar) yang selama 3 bulan ini selalu dipakainya bila berada di luar rumah (risaliku) sebagai isyarat bahwa ia telah bebas dari masa berpantang.

Penyelenggara teknis upacara ini dipimpin oleh ibu yang telah berusia lanjut. Dan didahului dengan pembacaan gane-gane (mantera) yang berisi nasihat, harapan, dan doa sang ibu memotong tali toru tersebut. Mantera tersebut berisi sastra suci yang berbunyi:

” Naporomo adamu nipovia ntogura kampu nuada. Mandate umurumu , maria rasimu, malompe suranikamu, malompe raramu melolo, maole rasungge toru mariamo topeduta “, sangu, randua, tatalu – lalu toru dibuka dari atas kepala.

Artinya:

Selesailah sudah upacara adat untukmu dilaksanakan orang tua, penutup adat, semoga umurmu panjang, murah rezeki, mendapatkan jodoh yang baik-baik, hatimu terbuka mencari rezeki, semoga toru terbuka, jodoh pun datang, sambil berhitung satu, dua-tiga toru dibuka.

Pisau pemotong tali toru tadi lalu ditekan di atas kepala sang toniasa, dan bagian persendian lainnya sambil mengucapkan ungkapan-ungkapan:

“Meko’o tananamu, mako’o vukumu, raimo maraya mbulu, raimo raimo malente vuku”.

Artinya:

Keras kepalamu (kebal penyakit), kuat tenagamu, tidak lagi mudah dihinggapi penyakit, dan tidak lagi lemah badan”.

Selesai upacara nosugge toru, maka kegiatan lanjutan yang masih mengikat toniasa tadi ialah nomatasoki selama 3 hari. Di sini kegiatan toniasa niasili diikat di bawali disiplin dan pengawasan keItiarga. seperti llaliiya beberapa acara yang disebutkan di atas. MakSUdriya adalah untuk nielatili toniasa agar selalu bersih dan pandai nicrawat dirinya dengan baik .

Dengan selesainya upacara nomatasoki (Nomatasoki adalah memakai bedak berwarna merah pada bagian sekitar mata dengan bedak-bedak yang telah dicampur dengan ramuan-ramuan tertentu, agar kelak kulit muka tampak lebih berseri, menampakkan daya tarik dan kecantikan alamiah), maka seluruli upacara nokeso ini sudah selesai baik secara formal dalam upacara resmi dan acara khusus dalam keluarga, sebagai bagian lanjutan dari adat yang telah melembaga dalam keluarga bangsawan di tanah Kaili.

Pantangan – pantangan

Selama upacara nokeso berlangsung ada pantangan-pantangan yang berlaku bagi toniasa. Namun perlu pula dilihat latar belakang adanya pantangan-pantangan tersebut, yaitu:

  1. Pantangan bagi toniasa yang dipingit makan nasi, kecuali gurenta (nasi bubur dengan telur rebus). Hal ini disebabkan karena selain tidak sering buang air, tetapi juga ialah mereka dapat berpuasa, menahan diri dari nafsu makan yang berlebih-lebihan. Tujuannya yang lebih jauh ialah mendidik sifat sabar, mampu menahan diri, dan patuh serta disiplin.
  2. Pantang selama dipingit menginjak tanah, agar tidak menjadi perhatian orang atau mendapat bahaya atau kecelakaan. Tetapi motivasinya ialah mendidik kepatuhan dan rasa hormat kepada orang tua. Dan membesar-besarkan toniasa karena turunan raja.
  3. Masa berpantang khusus tiga bulan adalah puncak pendidikan disiplin diri sendiri di bawah pengawasan orang tua dalam rumah, setelah selesai upacara menggosok gigi
  4. Pantangan-pantangan selama tiga bulan tersebut seperti pantang makan malam hari adalah untuk memelihara kesehatan jasmani, mempercepat pertumbuhan badan, dan agar dapat tidur lebih cepat dan bangun lebih pagi.

Upacara ini banyak menggunakan lambang-lambang yang terkandung dalam unsur-unsur upacara yang bersifat magis sakral. Dari uraian-uraian sebelumnya dapat disebutkan beberapa benda yang digunakan sebagai lambang-lambang dalam upacara ini yang mengandung makna tertentu.

Bambu kuning — (volo mbulava) adalah simbol kebesaran keturunan raja, yang konon nenek moyangnya nebete (menjelma) dari bambu emas. Menggosok gigi dengan batu melambangkan kekuatan dan ketabahan. Emas rnelambangkan kemuliaam dan kehormatan, dan telur melambangkan kesuburan, serta sifat wanita yaitu perlu dipelihara dengan baik agar tidak mudah pecah sebelum dia bermanfaat atau menetes (Mendatangkan keturunan). Guma (parang adat) dan tombak adalah lambang kesatriaan dan keperwiraan. Senjata hidup utama dalam membela kehormatan. Pohon silaguri adalah lambang kehidupan yang kukuh dan tahan, berakar kuat, serta panjang umur. Ula-ula melambangkan suatu upacara dari seorang keturunan raja; sedangkan angka/bilangan tujuh dari perlengkapan upacara adalah simbol turunan dewa/dewi dari kayangan atau keturunan tomanuru. Berbagai ragam tumbuhan lain seperti dedaunan yang berbau wangi adalah simbol kehormatan dan kehalusan jiwa para toniasa, yang kelak kemudian menjadi orang terpandang dan membawa keharuman nama keluarga.

Sumber: Perpustakaan Daerah Propinsi
Jl. Banteng No. 6 Palu Telp. (0451) 482490 

Thony Irawanto

Assalamu'alaikum Wr, Wb. Terimakasih atas kunjungan Anda. Trimakasih pula atas kritik dan saran yang telah disampaikan, mohon maaf bila masukan dari Anda belum bisa saya wujudkan semua dalam situs ini. Wassalam, Wr, Wb.

You may also like...