Nokoto/Nosombe Bulua Nungana

(Upacara Pengguntingan Rambut – Suku Kaili) Upacara ini bertujuan agar anak terlindung dari berbagai penyakit. Pada sebagian masyarakat masih ada yang beranggapan bahwa upacara ini adalah bagian dari pada upacara ibadah/perintah agama, sebagai tanda syukur. Penyelenggaraannya sering berdiri sendiri dan dilakukan sesudah upacara menginjak tanah pada hari ke 7 seperti yang telah diuraikan di atas. Upacara ini dilaksanakan pada siang hari menjelang tengah hari.

Tempat Pelaksanaan Upacara

Upacara ini berlangsung dalam rumah dan mengundang sejumlah keluarga, tetangga terdekat karena ada upacara makan dengan pemotongan satu atau dua ekor domba.

Jalannya Upacara

Pengguntingan rambut bagi sang bayi adalah pengaruh dari agama Islam yang umumnya dilakukan pada hari ke 7 bila orang tua yang bersangkutan telah mampu. Upacara ini diadakan dalam suatu upacara keagamaan dengan pembacaan Kitab Berzani, yaitu sebuali kitab yang isinya antara lain sejarah Nabi Muhammad SAW, sejak ibunya mengidam (hamil) sampai beliau meninggal, yang seluruhnya ditulis dalam bahasa Arab.

Selesai pembacaan pada bagian tertentu dari isi bacaan tersebut, maka seluruh peserta upacara berdiri dan melagukan syair “asyrakal badrun alaina, wachtafat minhul buduri” dan seterusnya, yang juga diambil dari kitab tersebut dan dihafalkan dengan baik. Saraka (bahasa daerah), artinya membaca asyarakal badrun alaina dan seterusnya. Kata syaraka tersebut berasal dari kata asyarakal.

Dalam keadaan berdiri dan melagukan saraka tersebut sang bayi diantar ke tengah-tengah upacara tersebut untuk pengguntingan rambut, diiringi dengan perlengkapan alat yang diletakkan di atas baki seperti sebuah gunting, gelas berisi air dan daun-daunan, dan semangkok beras. Rambut bayi tersebut digunting secara bergilir oleh 7 orang tua peserta upacara tersebut yang umumnya pemuka-pemuka agama.

Alat Perlengkapan Upacara

Alat perlengkapan upacara yang harus disiapkan adalah sebuah gunting dan jaka. Jaka tersebut terdiri atas beras, sebuah telur, satu biji siri, satu sisir pisang, satu biji gula merah yang disimpan di atas sebuah baki. Baki tersebut diisi pula dengan poindo taru (lampu lilin), dengan sebuah gelas yang berisi air dan dedaunan (sirinindi, kadombuku, dan pamangu). Sering pula tidak memakai jaka, tetapi dibuat dari kelapa emas muda, yang diambil langsung dari atas pohonnya, dengan menjatuhkannya dengan tali (cinde). Kelapa tersebut diukir (ni popo ike-ike) dan bagian mulutnya dapat terbuka. Kelapa tersebut dihiasi dengan kalung emas, sebagai pengganti (jaka) gelas yang berisi air seperti disebutkan di atas. Contoh ini adalah satu vati dari orang tertentu yang membedakannya dengan orang lain. Selesai penguntingan rambut, bayi di bawa ke kamar dan disambut oleh dukun yang kemudian dicukurnya kembali rambut bayi tersebut.

Pantangan-pantangan dari Upacara Tersebut

Dari seluruh rangkaian upacara masa bayi tersebut ada beberapa pantangan yang tidak dapat dilakukan. Sebelum upacara turun tanah, sang bayi tidak boleh dibawa ke tanah karena mudah diganggu oleh mahluk-mahluk halus yang membuat anak panas (demam, mata tinggi, dan sebagainya), tope ule(orang-orang yang dipercaya memakan manusia), dan berbagai roh jahat lainnya.

Lambang-lambang dan Makna yang Terkandung dalam Unsur-unsur Seluruh Upacara Tersebut

Lambang-lambang dan makna yang terkandung dalam Unsur-unsur seluruh upacara yang diuraikan di atas, banyak bersifat magis sakral. Setiap pemilihan benda sebagai unsur upacara didasarkan pada nama, warna, sifat, dan keadaan benda tersebut seperti yang telah diuraikan sebagian pada uraian-uraian sebelumnya.

Lambang-lambang lainnya yang perlu disebutkan di sini adalah sebagai berikut:

  1. Pemilihan warna kain kuning, selain sebagai lambang kebesaran adat bagi para keturunan bangsawan, juga warna yang tidak disukai oleh mahbluk halus
  2. Mengambil biji kelapa di atas pohon, yang dijatuhkan dengan tali cinde mengandung makna sifat keaslian dari rasa kebesaran/ ketinggian jiwa, dan sukar jatuh merana dalam kehidupannya, dan dipengaruhi oleh roh-roh jahat dari pohon-pohon/kayu besar.

Sumber: Perpustakaan Daerah Propinsi
Jl. Banteng No. 6 Palu Telp. (0451) 482490 

Thony Irawanto

Assalamu'alaikum Wr, Wb. Terimakasih atas kunjungan Anda. Trimakasih pula atas kritik dan saran yang telah disampaikan, mohon maaf bila masukan dari Anda belum bisa saya wujudkan semua dalam situs ini. Wassalam, Wr, Wb.

You may also like...