Nosuna / khitan

Upacara ini sudah menjadi adat dan tradisi di kalangan masyarakat Kaili sejak masuknya Islam hingga dewasa ini, secara turun temurun. Upacara nosuna (khitan) dilaksanakan pada anak laki-laki dan perempuan. Namun pada bahagian ini hanya diuraikan khusus pada upacara nosuna bagi anak laki-laki yang dilakukan menjelang anak berumur sekitar 7 sampai 8 tahun, yaitu pada anak-anak yang belum memasuki puber atau balig (nabalego).

Maksud dan Tujuan Upacara

Upacara ini dilaksanakan karena mempunyai maksud dan tujuan tertentu menurut adat dan kepercayaan masyarakat setempat, yaitu :

  • Mentaati perintah agama (sunah Nabi) yang disebut Noinpataati Parenta Nabita (mengikuti perintah Nabi Muhammad SAW).
  • Nompakavoe koro (mensucikan diri) .
  • Nompataati ada (mematuhi adat kebiasaan masyarakat agar sang anak tersebut (yang disunat) terlepas dari dosa, di samping anak itu terhindar dari berbagai penyakit (perkembangan yang tidak normal baik psikhis maupun phisik).

Waktu Penyelenggaraan Upacara

Upacara ini memerlukan persiapan-persiapan yang cukup selain bahan yang dibutuhkan untuk upacara juga menentukan pula adanya kesiapan waktu yang baik untuk diselenggarakannya upacara ini, karena soal waktu adalah faktor menentukan suksesnya kelangsungan hidup anak yang disunat; keadaan waktu yang tidak baik merupakan pantangan timbulnya suatu kecelakaan pada diri sang anak. Menurut kepercayaan adat setempat bahwa pelaksanaan upacara ini hendaknya jatuh pada bulan ke 1, 4, 7, 10, 13, 16, 19, 22, 25, serta ke 28 bulan di langit (Nopalakia) telapak tangan, yakni diawali dari telapak tangan bagian dalam, jari kelingking, jari manis, jari tengah kemudian jari telunjuk lalu ibu jari. Setiap bulan yang jatuh pada bagian dalam telapak tangan dan jatuh pada jari tengah bagian dalam akan mempunyai arti yang baik, serta mendapatkan keselamatan, rezeki bagi anak dan semua keluarganya.

Adapun hari-hari yang baik dalam melaksanakan upacara ini menurut palakia (buku perhitungan bulan), yaitu hendaknya jatuh pada hari Senin, Minggu, dan hari Jum’at yang sedianya dilaksanakan pada siang hari jam 2 sampai jam 4, dengan alasan bahwa pada saat itu merupakan waktu yang menguntungkan untuk menuju keselamatan.

Tempat Penyelenggaraan Upacara

Pelaksanaan/penyelenggaraan upacara ini diadakan di rumah orang tua di mana siposuna diundang untuk datang ke tempat itu. Alasan diadakan upacara ini di tempat rumah orang tua adalah didorong oleh rasa kasih sayang dan keinginan untuk menghormati orang tua pihak perempuan (nenek toniasa) tersebut.

Persiapan dan Teknis Perlengkapan Upacara

Adapun yang dimaksud dengan persiapan di sini adalah kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan sebelum acara puncak. Kegiatan-kegiatan tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Menyediakan 1 (satu) ekor kerbau dan 2 (dua) karung beras dan bahan-bahan lainnya. Kepala kerbau tersebut digunakan sebagai tempat duduk toniasa pada saat disunat (khitan) dan ekor kerbau tersebut digunakan sebagai gelang kaki pada jalannya upacara, kemudian dagingnya untuk dimakan oleh semua anggota keluarga dan undangan yang hadir. Adapun pemotongan kerbau ini nanti pada hari pelaksanaan upacara.
  2. Noumpu Sapo (menyambung rumah) biasanya bagi rumah yang kecil yang memungkinkan tidak dapat menampung dari semua anggota keluarga dan undangan yang hadir, maka biasanya dilaksanakan penyambungan rumah yang disebut noumpu sapo. Noumpu sapo ini biasanya dilaksanakan sehari atau dua hari sebelum acara puncak yang dikerjakan secara gotong-royong oleh keluarga yang hadir
  3. Neinda pakakasa (meminjam peralatan pesta upacara) untuk melengkapi alat-alat dapur dan alat rumah yang tidak mencukupi, biasanya anggota keluarga melaksanakan peminjaman berupa piring, gelas, tikar, dan sebagainya. Peminjanian ini dilakukan dua hari atau tiga hari sebelumnya.
  4. Membuat songi (tempat khusu anak-anak yang diupacarakan). Yang dimaksud dengan songi ialah tempat toniasa untuk bermalam selama tiga hari tiga malam di mana toniasa tidak diperkenankan keluar. Songi ini dibuat dalam bentuk rumah yang berukuran 2 x 2 meter. Songi ini terbuat dari balaroa (kayu waru) yang digunakan sebagai tiangnya, mesa 7 lembar sebagai kelambunya, ira ngaluku sebagai hiasan pinggir dari songi, tikar digunakan sebagai tempat tidur toniasa. Kaluku ngura (kelapa muda), dan banja mpangana (mayang pinang) sebagai pelengkap adat. Adapun kegiatan toniasa selama 3 hari 3 malam ialah sebagai berikut:
    • Nobada (memakai bedak) dengan maksud membersihkan kulit serta menyegarkan perasaan dalam ketiduran, karena selama itu mereka tidak pernah mandi.
    • Nokolontigi (membuat kuku merah dengan daun pacar) dengan: Noparamalunu = membuat bintang lunu di telapak tangan. Kadantokura = membuat bintik-bintik merah di pinggir telapak tangan.

    Adapun tinsur-unsur yang terkandung menurut adat pada ke giatan toniasa selama 3 hari 3 malam di songi ialah agar toniasa tidak dipenggaruhi oleh setan atau roh-roh yang jahat di samping toniasa itu mendapat umur panjang, mudah mendapat rezeki, pikiran tajam, dan sebagainya. Makanan toniasa dalam songi ini ialah nasi atau daging ayam, dan bila toniasa hendak makan maka dibunyikan gong dan gendang sebagai tanda/isya rat bahwa mereka diperkenankan makan.s

  5. Membuat paga (kamar kecil), Paga ialah ruang khusus tempat toniasa makan setelah selesai disunat. Paga ini digunakan sebagai tempat makan selama 3 bulan atau 30 hari saja, dalam satu sudut ruangan dalam rumah. Paga ini dibuat dalam bentuk persegi empat yang terdiri atas kain putih sebagai dindingnya dan volowan (bambu) sebagai tiangnya, di tempat inilah penyimpanan daging kerbau yang sudah dipotong.
  6. Membuat engga, yaitu seperangkat perlengkapan upacara yang terdiri atas 7 macam pisang dan 7 busung sagu. Engga ini dimaksudkan sebagai syarat dalam adat dan merupakan bahan perlengkapan upacara yang dibuat pada hari pelaksanaan upacara .Engga ini akan dilompati satu per satu disaat toniasa turun dari rumah yang lengkap berpakaian adat.
  7. Mengumpulkan Jajaka. Jajaka ialah kumpulan dari 7 jenis bahan yang terdiri atas dula 1 biji, beras 1 liter, baulu 1 potong, pinang 1 biji, pita dan jarum masing-masing 1 biji, pisang 1 sisir, daun kelapa 1 biji. Dari ke 7 bahan ini akan disimpan pada bagian pusat rumah (ruang tengah) yang gunanya sebagai syarat dalam melaksanakan upacara adat. Apabila ke 7 jenis bahan ini tidak diikutkan dalam suatu upacara berupa nosuna akan merupakan pantangan atau setidak-tidaknya keselamatan anak akan terganggu misalnya cacat atau istilah Kaili dalam adat ialah Nasalavati.
  8. Menyediakan Tavumbuli, merupakan kumpulan dari bahan jenis ladi (pisau), kadombuku, siranindi (dalun si tawar dingin), salisi (rambut kepala), susu koli (sepotong kayu yang kecil dan bulat), kaca (gelas), uwe (air). Tumunbuli ini dimaksudkan sebagai simbol dari upacara yang memiliki nilai maggis religius.
  9. menyiapkan makanan kainonuvelo. Gurenta terbuat dari kenari adalah jenis makanan sampingan dari toniasa. Jenis makanan yang dimaksud ialah jalaja, sisuru, kiskis, dan sebagainya. Jenis makanan tersebut (gurenta) disimpan di rumah dan dimakan setelah saat upacara nosuna dilaksanakan.
  10. Menyiapkan makanan kainonuvule vang disebut papasa. Papasa ialah makanan inonuvelo (perempuan yang memimpin upacara adat) yang terdiri atas nasi 1 piring, sayulr ayam, kkatupa (ketupat), kalopa (semacam ketupat tetapi berbentuk panjang). Papasa atau keempat jenis makanan yang dimaksud di atas dipersiapkan untuk inovunelo dan merupakan pemberian dari ke luarga toniasa.
  11. Lanjara. Lanjara ini dimaksudkan adalah satu tangga khusus tempat turunnya toniasa pada saat turun dari rumah. Ada dua lanjara, yaitu lanjara untuk naik dan lanjara untuk turun. Lanjara ini terbuat dari bahan-bahan seperti volombulava (bambu emas) dan iranggaluku (daun kelapa).

Penyelenggaran Teknis dan Pihak-pihak yang Terlibat dalam Upacara

Adapun pihak-pihak yang terlibat di dalam pelaksanaan upacara nonusa ini, yaitu orang tua adat/inonuvelo dari seorang perempuan (ibu), yang berperan sebagai pemimpin upacara adat tersebut; keluarga yang melaksanakan upacara sebagai pendukung upacara tersebut. Sebelum memasuki acara ini pertama-tama disiapkan lebih dahulu alat-alat vati atau adat, yaitu pakakasa toposuna (alat tukang sunat), yaitu ladi (pisau) gunanya sebagai alat pemotong dan poupi (penjepit) untuk menjepit ujung/kulit kelamin (poupi tompo nulasu).

Perlengkapan Untuk Toniasa

Perlengkapan untuk toniasa adalah sebagai berikut:

  • Mundu iramputi (ujung daun pisang) gunanya untuk mendinginkan
  • Kepala kerbau (sekarang kelapa) gunanya untuk tempat duduk toniasa
  • Tubu (mangkok) gunanya untuk tempat menampung darah luka khitan
  • Ntalu (tekur) gunanya untuk menyegarkan perasaan toniasa agar tidak terasa sakit setelah dikhitan
  • Irampangana (daun pinang) gunanya untuk alas kaki dalam perjalanan toniasa
  • Pebelati (alat perhiasan toniasa), yaitu kawari, pawala, ponto, lola, sareva, sinara, kono, sopa, songkok, nuya.
  • Gong dan gendang
  • Kelapa (selesai dikupas), gunanya untulc alat peposoki menyiram dengan membelah kelapa
  • Vase, pamanu, silaguri, dan iranggamonji gunanya untuk tempat alas kaki pada waktu turun pertama

Perlengkapan Tadulako yang terdiri atas kaliavo (perisai) guna nya untuk menangkis, tampi (parang) gunanya sebagai pemotong, dan tandu (tanduk) sebagai perhiasan.

Jalannya Upacara Nostina

Setelah bahan tersebut di atas telah lengkap disediakan, maka dimulailah upacara nosuna. Upacara ini dimulai dengan nosungge songi, dengan alatnya kalopa. Suatu isyarat bahwa toniasa (anak-anak yang diupacarakan) dalam songi akan diberangkatkan ke air bersama-sama dengan orang tua adat, ino nuvelo dan keluarga toniasa. Kemudian toniasa turun dari rumah melalui lanjara (Lanjara adalah tangga yang dibuat khusus dari bambu emas sebanyak 2 (dua) buah, masing-masing tangga naik dan tangga turun khusus bagi para toniasa) pertama dan sesampai di tanah dipersilahkan berdiri di atas vase (kapak), pamanu (sejenis rumput), silaguri, dan daun sukun (ira kamonji). Keempat macam ini diinjak oleh toniasa kemudian inonuvelo nompa ganeka toniasa (mengucapkan harapan dan doa) sebagai berikut:

  • Sanggani rai madoyo – satu kali tidak melakukan kenakalan
  • Ruanggani rai madoyo – kedua kali tidak melakukan kenakalan
  • Talunggani rai madoyo – ketiga kali tidak melakukan kenakalan
  • Patanggani napatoraka doyo – keempat kali hilang semua kekanakalannya
  • Alima melinja ntanina – kelima sudah berpindah ke tempat yang lain
  • Aono maondo sule – keenam sudah menyenangkan hati
  • Papitu malampeo – ketuju, sudah menjadi orang baik

Gane (mantera) tersebut di atas merupakan doa keselamatan yang diucapkan pada toniasa agar tidak mengalami cacat. Bila toniasa telah mobonggo (merendam dalam air selama setengah hari) dan orang tua adat serta inonuvelo beserta keluarga datang mengambilnya di sungai maka pertama-tama yang dilakukan oleli orang tua adat ialah nopeposoki kaluku di atas kepala toniasa sambil nogane (membaca sastra suci) yang berbunyi:

  • rai yaku mpeposoki umurumu rasaina kuposoki doyo (aku tidak membela/memotong umurmu, tetapi memotong kejahatan-kejahatan)
  • raimo makakata (tidak akan berpenyakit kulit/kudis)
  • raimo mabongo (tidak akan menjadi tuli)
  • raimo mageri (tidak akan berpenyakit banyak tai mata)
  • raimo makaba (tidak lagi kena penyakit infeksi kulit)
  • raimo marungga (tidak lagi banyak luka-luka di kepala)
  • raimo pakamata (tidak lagi sakit mata)

Setelah selesai nigane (membaca ungkapan-ungkapan tersebut di atas), maka toniasa nipasaka vuya palaeka (diberi pakaian sarung) dan baju biasa serta songko. Toniasa diberangkatkan ke rumah dengan cara niponda (diusung). Sepanjang jalan yang akan dilalui toniasa dilemparkan daun pinang sebanyak 7 pelepah sebagai alas kaki agar tidak menginjak tanah bagi orang yang memikulnya. Dalam perjalanan ini toniasa diiringi dengan bunyi gong dan gendang yang dijemput pula oleh tadulako atau kabasara dengan membawa persiapan-persiapan seperti yang tertera pada bagian ketiga perlengkapan.

Sesampainya di halaman rumah toniasa sementara niponda mengelilingi rumah selama tiga putaran. Menurut adat kepercayaan masyarakat, maksud dari mengelilingi rumah ialah menghargai orang tua yang ada dalam rumah atau semua keluarga yang turut berpartisipasi dalam mensukseskan jalannya upacara nosuna tersebut. Kemudian setelah toniasa turun dari bahu, maka toniasa diajak naik ke rumah dengan melalui lanjara ke 2 yang telah disediakan sebelumnya.

Setelah sampai dalam rumah toniasa dipersilalikan duduk dan inoizuvelo nopaswigge (membuka) papasa dengan pisau (ladi) dan aluta (potong kayti bakar), kemudian toniasa nibeloti (dihiasai) oleli iizonuvelo dengan alat-alat perhiasan seperti sinara, lola, kawari, velo komo, dan sopa serta ekor kerbau .

Apabila telah siap toniasa dipersilahkan turun ke tanah dengan melalui lanjara yang pertama. Sesampainya di tanah, toniasa harus melompati engga secara satu per satu, yang sudah dijajarkan sebelum turun toniasa dari rumah. Kemudian toposesde (pemimpin nyanyian suci) memerintahkan toniasa memegang rabinjoke lalu toposede menusuk dengan pisau sedikit untuk itu digosokkan bagian kepala (dahi) dengan maksud agar kesehatan toniasa tetap sehat dan tajam pemikirannya serta mempunyai kesadaran dan ketabahan. Setelah itu toposede melanjutkan acara nosede (melagukan nyanyian adat) dengan lagu dumpa gorigi dumpa balolugi, sampai dengan lagu tersebut selesai. Setelah itu toniasa dipersilahkan naik ke rumah melalui lanjara (tangga adat) kedua yang dipersiapkan khusus untuk toniasa tersebut.

Kemudian yang merupakan acara puncak pelaksanaari upacara nosuna, sebelum nosuna, toniasa dipersilakan membuka sebagian pakaian, kecuali lola, kavari, toporame (ketua adat penyelenggara khitan) bersiap-siap untuk berdiri sambil menggigit pisau dengan memakai susukoli sebagai tongkatnya. Sebelum toporame memgikat pita di leher toniasa yang akan disunat tersebut.

Setelah sampai pada acara puncak, maka toniasa mengambil tempat duduk penyutan yaitu duduk di atas kepala kerbau yang sudah disembelih (sekarang memakai kelapa muda karena sukarnya menemukan dan mencari kepala kerbau) yang dilapisi dengan daun pisang. Apabila toniasa telah duduk, berarti tanda akan dimulainya upacara ini. Selanjutnya toposuna (penyunat) mengambil alatnya yaitu poupi (penjepit) dan ladi (pisau) dan menempatkan tubu dalam posisi yang terletak di bagian bawah anak, maka dimulailah pemotongan kulit (kulit depan kelamin laki-laki), setelah penjepit dibuka maka telur yang disediakan diteteskan pada kelamin atau bagiannya yang telah dipotong untuk digunakan sebagai obat.

Setelah nosuna selesai, toporame yang berdiri dengan menggigit pisau tadi meletakkan.pisau di atas kepala sambil menekannya dengan maksud agar pemikiran anak tajam dan cerdas, menguatkan semangat dan bergairah serta tidak mudah dihinggapi suatu penyakit. Setelah acara norame selesai toniasa diangkat ke tempat tidur yang telah disediakan untuk beristirahat dengan memakai sarung panjang yang berwarna kuning. Bagian tengah kain, diikat dengan tali dan digantung agar sarung tersebut tidak menyentuh luka khitan.

Pantangan-pantangan dan Alasannya

Setelah selesai pelakasanaan upacara nosuna orang tua atau siposede menuturkan beberapa pantangan-pantangan, yaitu:

  • Bagi kaum wanita atau gadis yang bekerja dalam pelaksanaan upacara tidak diperkenakan melihat alat kelamin toniasa yang disunat dengan alasan agar pendarahan dapat berkurang
  • Anak yang disunat belum diperkenankan memakai celana, alasannya menjaga pendarahan yang timbul
  • Anak atau toniasa tidak diperkenankan memakan pisang yang disediakan pada acara engga yang dilompati oleh toniasa tadi karena apabila anak tersebut memakan pisang yang dimaksud dapat mengakibatkan infeksi, pendarahan cukup banyak, dan sebagainya.

Lambang-lambang atau Simbol-simbol dan Makna yang Terkandung di dalamnya

Selama pelaksanaan upacara berlangsung, keluarga toniasa telah menggunakan lambang-lambang pada hampir semua jalannya upacara nosuna. Lambang-lambang atau simbol-simbol tersebut adalah berupa:

  1. Ula-ula atau kain yang dibuat berupa manusia sebanyak dua macam, yaitu masing-masing berwarna putih dan kuning. Adapun makna yang terkandung pada simbol-simbol tersebut ialah bahwa dengan memakai simbol yang berwarna putih menggambarkan tentang kesucian daripada anggota keluarga toniasa, sedangkan simbol warna kuning melambangkan keemasan dan kebangsawan bagi pelaksana upacara tersebut.
  2. Beras adalah simbol kebutuhan manusia, yang mengandung arti toniasa dapat memberi manfaat sebesar-besarnya dalam kehidupannya kelak di kemudian hari
  3. Gula merah adalah lambang kemanisan hidup, yang berarti agar toniasa menjadi orang beragama yang tulus dengan hati yang suci dan kemanusiaan jiwa dan tingkah laku
  4. Lilin adalah simbol penerangan yang berarti suatu harapan agar toniasa di kemudian liari terang hatinya dan dapat menerangi kehidupan masyarakat sekitarnya
  5. Benang adalah lambang tali pengikat hubungan orang tua dengan anak
  6. Warna kuning yang menjadi bahan pakaian/sarung dan sebagainya suatu tanda kebesaran dan tanda bahwa toniasa adalah keturunan madika (raja).

Sumber: Perpustakaan Daerah Propinsi
Jl. Banteng No. 6 Palu Telp. (0451) 482490 

Thony Irawanto

Assalamu'alaikum Wr, Wb. Terimakasih atas kunjungan Anda. Trimakasih pula atas kritik dan saran yang telah disampaikan, mohon maaf bila masukan dari Anda belum bisa saya wujudkan semua dalam situs ini. Wassalam, Wr, Wb.

You may also like...