Novero

Upacara novero (upacara pengobatan apabila sang ibu yang hamil kurang sehat) atau moragi ose adalah suatu upacara pengobatan yang bila ibu hamil kurang sehat dan lemah, yang dianggap sebagai gangguan mahluk halus yang jahat. Upacara ini dapat juga dilaksanakan bagi ibu yang tidak hamil, namun ada perbedaan-perbedaan yang tidak berarti.

Maksud Penyelenggaraan Upacara

Novero (mengobati penyakit) atau moragi ose (memberi warna warni beras) bertujuan untuk menyembuhkan ibu hamil dari penyakit yang dideritanya karena nilindo nuviata (diganggu mahluk halus).

Waktu Penyelenggaraan Upacara

Upacara ini sering dilaksanakan serentak dengan upacara nolama, yaitu bila ibu hamil kelihatannya kurang sehat. Perbedaannya ialah nolama lebih dekat kepada pemujaan arwah nenek moyang, sedangkan novero lebih berorientasi kepada mahluk-mahluk halus yang dianggap jahat.

Tempat Penyelenggaraan Upacara

Tempat upacara diadakan di luar rumah, di tempat yang dipercayai sebagai tempat hunian mahluk halus, seperti di tepi sungai, tepi pantai, di pohon-polion besar, dan sebagainya. Dan di sini pula dibuat suampela, sebuah tempat penyimpangan sesajian yang dibuat dari kayu bertiang tiga. Pada bagian atas dibuat sebuah anyaman dari ranting kayu atau bambu tempat sesajian itu disimpan, dan kulili (kayu yang dibuat seperti model parang, yang diberi warna belang hitam putih). Ketiganya (suampela, kulili, dan berbagai jenis makanan) merupakan perlengkapan upacara novero tersebut termasuk ose ragi (beras yang telah diberi warna-warni) seperti disebutkan di atas.

Penyelenggara Teknis Upacara

Yang berperan dalam upacara ini ialah seorang dukun wanita sejak awal sampai dengan upacara ini selesai. Pihak-pihak lain yang terlibat terbatas dalam lingkungan keluarga terdekat saja, yang mempersiapkan perlengkapan upacara adat lainnya.

Persiapan dan Perlengkapan Upacara

Perlengkapan-perlengkapan selain yang telah disebutkan di atas ialah membuat pekaolu nuvayo (tempat berlindungnya bayangan), maksudnya tempat roh kita berlindung bila mendapat gangguan mahluk halus. Juga perlengkapan yang disebut toge, yang dibuat semacam janur dari daun kelapa seperti bentuk tombak, kepala kuda yang berkepala dua dan berkepala sebelah dan lain-lain. Pada bagian bawah janur tersebut bersusun 4-5 dan yang terakhir inilah yang disebut pekaolu nuvayo. Perlengkapan lainnya ialah tuvu mbuli seperti yang telah disebutkan terdahulu.

Di dalam rumah disiapkan mbara-mbara (barang perhiasan/pakaian adat) yaitu vuya (sarung), baju, dan bulava (emas). Ketiganya disimpan di atas dula palangga (dulang berkaki).

Jalannya Upacara

  • Membuat persiapan-persiapan seperti yang telah disebutkan di atas, yang dilaksanakan bersama dukun dan keluarga di rumah ibu yang hamil, termasuk moragi ose (memberi macam warna beras sesajian).
  • Mengambil banja mpangana (mayang pinang) lalu direndam dalam air 3 malam dicampur dengan daun-daun yang wangi seperti bunga mbalu, daun pandang, tamadi, tulasi, dan sebagainya. Baru ose ragi tersebut dibungkus dengan kain putih, disimpan di tiang tengah rumah di mana ibu hamil itu akan tidur di dekat barang-barang tersebut.
  • Tiap bangun pagi selama tiga hari ibu hamil makan makanan yang disiapkan dalam bambu dengan sebiji telur rebus dan mencuci muka dengan air yang disiapkan dan diberi bahan-bahan yang wangi tersebut.
  • Kegiatan selanjutnya ialah membuat suampela tempat sesajian itu disimpan, melalui suatu cara-cara tertentu dan dengan gane-gane (mantera). Pada ketiga diadakan upacara mandi bagi ibu hamil tersebut dengan air wangi yang direndam dengan daun-daun wangi tersebut di atas. Seusai mandi sebatang mayang pinang yang belum berkembang, dipecahkan di atas kepala. Benda tersebut dianggap memberikan kekuatan untuk tubuh, sambil memecahkan sebatang mayang pinang yang masih belum berkembang tersebut, dukun berkata : “niratamo sumangana dako ripue ngayu, ripue ntana” (sudah diketemukan kembali semangatnya dari penghuni pohon kayu dan penghuni bumi).
  • Selanjutnya adalah nantau (membawa turun) seluruh bahan-bahan perlengkapan tersebut di atas ke tanah dan ke tempat upacara di mana suampela tersebut dibuat. Di tempat sesajian itu dukun nogane memanggil arwah dan roh-roh halus dan berkata : “Seimo konisa miu, tavala miu, toge ante kalili miu. Aku mompatolo yanu (si anu), bekaka maimo vayona, rapakalompemo yanu” (Telah kupersembahkan kepadamu makanan, tombak, toge, kulili. Aku menolong si Anu (menyebut nama). Berikan kepadanya kembali sumber kekuatan hidup, sembuhkanlah ia dari penyakit).

Selanjutnya diadakan acara noronde (dialog dukun dengan orang-orang yang ada dalam rumah). Dialog tersebut terjadi sebagai berikut:

Dukun : “Nolompemo yanu!!” (Si Anu sudah sembuh).

Orang di rumah menjawab : “Yo nalompemo” (Ya sudah), eva apu nitulaka uve (seperti api kena air), eva kuni niboli toila (seperti kunyit diberi kapur).

Dukun naik ke rumah sambil berkata kepada ibu hamil: “niratakumo vayo miu, naialaku riviata, rikarampua, rirate njae, rirate vou” (saya sudah menemukan sumber kekuatan hidup yang hilang dari viata (setan/jembalang) dari para dewa dan roh-roh nenek moyang yang telah lama dan baru meninggal).

Acara terahir ialah noave ose niragi, bila ibu telah melahirkan dengan selamat, maka ose niragi (beras 4 warna) yang disebutkan di atas valas suji (semacam rakit kecil). Noave (mengalirkan) barang tersebut mengandung arti nompakatu (mengirimkan sesajian) tersebut kepada pue ntasi (penghuni laut) diiringi pula dengan mantera-mantera yang isinya minta segera ibu hamil yang sakit segera sembuh, dan karena penyakit sudah terbawa ke laut, pergi bersama penyakit.

Dengan selesainya acara ini, selesailah upacara novero tersebut bagi seorang ibu hamil yang kurang sehat.

Pantangan-pantangan yang Dihindari

Dalam upacara adat nolama, hampir tidak ada pantangan yang berarti, tetapi selama ibu hamil dijumpai sejumlah pantangan-pantangan. Pantangan tersebut tidak saja berlaku untuk sang ibu yang hamil, tetapi juga berlaku bagi sang suami. Pantangan-pantangan bagi ibu hamil tersebut antara lain:

  1. Duduk di muka pintu atau pada anak tangga (mungkin suatu upaya preventif).
  2. Pantang minum air terlalu banyak karena bila melahirkan terlalu banyak air dan atau beranak kembar.
  3. Pantang makan gula merah atau tebu serta nenas karena dapat membuat perut sakit.
  4. Pantang mencela, mengejek orang-orang yang cacat jasmani karena dapat melahirkan bayi yang cacat.
  5. Pantang mengurai rambut pada sore hari karena dapat di ganggu mahluk halus.
  6. Pantang makan ikan cumi-eumi karena dapat melahirkan bayi dalam bentuk cumi-cumi dan sebagainya.
  7. Pantang duduk di sembarang tempat.
  8. Tidak boleh kikir (nemo masina), agar sifat/watak anaknya tidak seperti itu.
  9. Tidak boleh menggulung handuk di leher (moveve handuri tambolo), agar bayi bakal lahir tidak tercekik pada bagian lehernya.
  10. Tidak boleh melicinkan tempurung (mo gau bobo/banga), agar rambut anak tidak akan botak.
  11. Pantang mandi pada sore hari, dapat membuat kelamin bengkok karena ilirasi pue nu tive (disetubuli oleh hantu penghuni air) atau mandi dipagi buta karena bayi kedinginan dan lahir dalam keadaan lemah

Pantangan bagi sang suami adalah:

  1. Menyembelih atau membunuh binatang karena dapat mengakibatkan bayi nantolu moro (kemarahan)
  2. Pantang memakai celana bila istri dalam keadaan melahirkan
  3. Pantang menginjak papan penutup liang lahat (dindi ngari) sebab dapat membuat bayi lahir dalam keadaan lemah.

Lambang-Lambang atau Makna yang Terkandung dalam Unsur-unsur Upacara

Dari uraian-uraian terdahulu telah disebut kan beberapa jenis perlengkapan upacara adat yang merupakan simbol tertentu dalam upacara tersebut, baik dalam bentuk nama, sifat, ataupun keadaan benda itu.

Tuvu mbuli adalah tumbuh-tumbuhan yang melambangkan sifat dan keadaan benda yang diidentifikasikan dengan kebabahagiaan rumpun keluarga, yaitu siranindi (daun si tawar dingin), sebagai simbol agar anak yang bakal lahir tetap tenang dan berpikiran dingin serta jernih sekalipun dalam suasana penuh tantangan. Sifat tumbuh-tumbuhan tersebut tahan hidup dalam keadaan musim kemarau. Suatu lambang dari suatu kehidupan yang tidak pernah susah. Kadombuku adalah semacam tumbuh-tumbuhan yang selain tahan musim kemarau juga berkembang biak melalui akar. Suatu simbol perkembangbiakan yang begitu cepat tanpa mengalami kesulitan.

Tinggora dan doke adalah simbol dari kekuatan/keberanian sebagai sifat dari sebuah besi dan senjata (tombak) melambangkan agar anak keras kemauan, kuat, dan berani. Piring adat adalah simbol kesejahteraan dan kecukupan pangan. Kain mesa adalah kain adat tenunan dari Sulawesi Selatan adalah simbol kebangsawanan seseorang yang diupacarakan.

Dula palangga (dulang berkaki) adalah salah satu perlengkapan upacara di mana benda-benda tersebut di atas diletakkan, adalah lambang dari simbol status seseorang bangsawan.

Sumber: Perpustakaan Daerah Propinsi
Jl. Banteng No. 6 Palu Telp. (0451) 482490 

Thony Irawanto

Assalamu'alaikum Wr, Wb. Terimakasih atas kunjungan Anda. Trimakasih pula atas kritik dan saran yang telah disampaikan, mohon maaf bila masukan dari Anda belum bisa saya wujudkan semua dalam situs ini. Wassalam, Wr, Wb.

You may also like...