Mompolomoasi Tau Malua Nokoasa

Upacara tradisional yang dilakukan pada saat seseorang menjelang masa kematiannya disebut Mompolomoasi Tau Malua Nokoasa (menyelamatkan orang sakit menjelang saat kematiannya). Upacara ini merupakan awal pelaksanaan upacara kematian bagi seseorang yang menghadapi sakaratul maut di mana orang tersebut didoakan atau diobati agar roh atau jiwa si sakit yang dalam sekarat dapat dikembalikan ke dalam tubuhnya, atau kembali ke alam baka dengan tenang.

Maksud dan Tujuan Upacara

Maksud utama daripada penyelenggaraan upacara Mompolomoasi Tau Malua Mokoasa adalah agar orang yang dalam keadaan sakaratul maut atau saat menghadapi ajal, didoakan atau diobati menurut tata cara atau kepercayaan masyarakat yang berlaku dalam masyarakat.

Tujuan daripada penyelenggaraan upacara ini adalah tertuju kepada keselamatan si sakit dengan berbagai cara yang dilakukan termasuk menyembuhkan penyakit yang bersumber dari orang lain (= black magic). Untuk mengusir penyakit yang ada dalam tubuh si sakit terutama adalah mengusir roh-roh jahat yang ada dalam tubuh, maka si sakit diobati melalui doa-doa atau jampi-jampi atau mantra-mantra atau pengobatan secara tradisional yang diambil dari berbagai jenis tumbuh-tumbuhan, dengan harapan dapat melepaskan rohnya dengan tenang ke alam baka.

Penyelenggaraan Teknis Upacara

Untuk melaksanakan upacara ini, maka dibutuhkan seseorang yang ahli di bidang pengobatan yang sering disebut sando (= dukun). Bagi suku bangsa Pamona gelar yang diberikan bagi orang yang ahli di bidang pengobatan disebut Vurake, yaitu orang yang memimpin upacara pengobatan yang sering dilakukan oleh seorang perempuan yang sudah ahli di bidang pengobatan yang mampu berhubungan dengan dunia roh-roh halus yang berada di ruang angkasa antara bumi dan langit. Roh-roh Vurake mempunyai kehidupan yang serupa dengan kehidupan manusia di bumi (J. Kruyt 41 : 1977).

Tugas Vurake dalam upacara ini adalah meminta atau memohon kepada “llah” (= Pueng Lamoa), agar orang yang sakit itu dapat diperpanjang umumya, dan kalau memang ajal tiba, rohnya dapat ke luar dari tubuhnya dengan tenang, dan selamat dari segala gangguan mahluk halus dan penderitaan di waktu sakit.

Piliak-pihak yang Terlibat dalam Upacara

Adaptin orang-orang yang terlibat dalam upacara ini selain. daripada “Vurake,” yaitu tokoh-tokoh adat, sanak keluarga terdekat, baik karena keturunan maupun famfli yang mempunyai hubungan terdekat, baik yang bertempat tinggal dekat matiptin jauh, dan juga orang tua-tua adat. Kalau yang sakit adalah Kabose (bangsawan), maka Ketua Adat bersama aparatnya atau pembantunya mutlak hartis hadir, demikian pula bangsawan lainnya yang berasal dari suku-siiku tetangganya. Masing-masing yang terlibat dalam upacara ini mempunyai tugas dan peranan tersendiri, dalam hal ini disesuaikan dengan fungsi mereka masing-masing menurut tata cara atau kepercayaan yang berlaku dalam masyarakat.

Seperti, suami / isteri / tokoh adat menjadi pendamping tetap dari Vurake dalam miengobatl si sakit dan mereka turut terlibat memberikan bantuan kalau ada hal-hal yang diperlukan dalam pengobatan di samping yang lainnya turut berdoa, agar pengobatan yang dilakukan oleh Vurake dapat diterima mengusir penyakit yang ada dalam tubuh si sakit.

Waktu Pelaksanaan Upacara

Bagi suku bangsa Pamona di dalam perjalanan hidupnya memang masih mengenal waktu-waktu yang baik dan waktu yang tidak baik, tetapi dalam upacaraMompolomoasi Tau Malua Nokoasa seolah-olah perhitungan waktu yang baik dan buruk tidak mungkin dilaksanakan, karena hal ini tergantung dari penyakit si sakit itu sendiri, sehingga Vurake menggunakan hampir semua waktu itu dalam melakukan usahanya untuk menyembuhkan atau menyelamatkan si sakit dari sakaratul maut, kecuali waktu malam digunakan oleh Vurake mengusir roh-roh jahat, karena waktu itulah yang dianggap terbaik dalam melakukan pengobatan, terutama untuk mengusir roh-roh jahat. Pada umumnya Vurake dalam melakukan pengobatan untuk mengatakan roh Vurake sebagai pembantu, yaitu pada waktu malam hari (semalam suntuk), dimulai pada saat matahari tenggelam atau menjelang magrib, dan diakhiri pada saat matahari terbit di ufuk timur.

Tempat Penyelenggaraan Upacara

Adapun tempat penyelenggaraan upacara Mompolomoasi Tau Malua Nokoasa adalah di rumah orang sakit itu sendiri, kecuali bagi golongan Kabose adakalanya upacara ini dilaksanakan di rumah adat, dengan kata lain bahwa upacara ini menunjukkan kebangsawanannya, sehingga semua yang hadir dalam upacara itu turut berpartisipasi untuk memberikan bantuan terutama ketika dilangsungkan pengobatan.

Di samping itu suku bangsa Pamona mengenal pantangan-pantangan atau larangan yang tidak boleh dilanggar, karena dapat berakibat yang lebih jelek seperti, bagi seseorang yang dalam keadaan sakaratul maut, maka pantang mereka dikeluarkan dari rumah untuk diobati, karena menurut kepercayaan mereka bahwa angin adalah sumber datangnya penyakit terutama angin jahat yang berupa ilmu hitam.

Persiapan dan Perlengkapan Upacara

Persiapan dan perlengkapan upacara yang harus disediakan sebelum upacara dimulai berupa alatalat upacara seperti benda-benda yang dianggap keramat atau yang mengandung nilai magis, dan alat perlengkapan rumah tangga yang sering dipakai sehari-hari, antara lain piring adat (tabo), penai (pedang), tombak (tawala), renko (pakaian adat), palangka (tempat ludah), bingka (bakul) yang terbuat dari bahan bambu, boru (tikar yang terbuat dari daun pandan), dan pombajumamango (tempat menumbuk sirih), dan lain-lain.

Masing-masing perlengkapan tersebut mempunyai maksud dan tujuan sebagai berikut :

  • Piring adat berfungsi sebagai tempat penyimpanan obat-obatan dari bahan tumbuh-tumbuhan, di samping sebagai tempat penyimpanan seperangkat sirih pinang (tembakau, sirih, kapur dan gambir).
  • Pedang berfungsi sebagai alat untuk mengusir syetan, dengan maksud agar si sakit dapat terhindar dari pengaruh atau gangguan roh-roh jahat.
  • Tombak berfungsi sebagai alat untuk mengusir iblis, dengan maksud agar Vurake dalam mengobati si sakit dapat berkonsentrasi untuk bisa berkomunikasi dengan roh-roh atau kepada “Pueng Lamoa.”
  • Pakaian adat berfungsi sebagai lambang kebangsawanan, dengan maksud bahwa yang sakit itu adalah Kabosenya.

Persiapan dan perlengkapan upacara lainnya yaitu, diambil dari jenis tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan, yang pada umumnya digunakan ketika upacara pengobatan berlangsung seperti, daun sirih (laumbe), buah pinang (mamongo). Sirih pinang bagi stiku bangsa Pamona merupakan lambang kesucian, dan mempererat silaturrahmi. Karena itu setiap upacara tradisional terutama upacara kematian jenis tumbuh-tumbuhan ini selalu dipersiapkan karena berfungsi majemuk, dan di samping kegunaannya berfungsi sebagai bahan obat-obatan. Adapun dari jenis-jenis hewan me-rupakan perlengkapan yang selalu dipersiapkan dalam upacara-upacara sebagai tebusan kepada dewa-dewa.

Selain daripada perlengkapan-perlengkapan tersebut di atas, maka perlengkapan-perlengkapan lainnya yang harus dipersiapkan dalam upacara ini antara lain: tikar (ali), puya (kain yang terbuat dari bahan kayu), kain tabir, dan dekorasi lainnya. Masing-masing perlengkapan ini berfungsi sebagai;

  • Tikar, yang terbuat dari daun nyiru dipakai sebagai tempat membaringkan si sakit, ketika diobati oleh Vurake
  • Puya, yang terbuat dari bahan kayu dipakai sebagai alas dan kelambu
  • Kain (tabir), dipakai sebagai tempat bilik atau kamar sebagai pemisah dengan ruangan lainnya yang ada di dalam rumah
  • Dan buah pinang dipakai sebagai bahan dekorasi yang digantungkan dalam bilik atau kamar.

Adapun perlengkapan tainnya terutama perlengkapan yang dipakai di luar rumah yaitu tangga-tangga yang terbuat dari bahan bambu bersilang empat, dan di tengah-tengahnya digantung hiasan-hiasan berupa daun kelapa, buah pinang, piring dan makanan lainnya, berfungsi sebagai pengusir syetan-syetan dengan maksud agar syetan-syetan itu jangan sampai naik ke atas rumah, karena menurut kepercayaan mereka bahwa syetan-syetan atau roh-roh jahat naik ke atas rumah melalui rumah, oleh karena itu tangga-tangga ini diletakkan persis di depan pintu rumah. Di samping itu masih ada perlengkapan lainnya yang harus dipersiapan lainnya yang harus dipersiapkan seperti, peti jenazah, dan rumah adat tempat penyimpanan mayat.

Pendamping-pendamping dalam Upacara

Pelaksana teknis upacara adalah “Vurake” di samping itu Ketua Adat dan keluarga terdekat yang hadir dalam upacara, masing-masing bertugas sebagai pendamping Vurake dalam memberikan pelayanan dan bantuan yang diperlukan oleh Vurake ketika memulai mengadakan pengobatan dan ketika berhubungan dengan roh-roh atau Pueng Lamoa. Bantuan yang diberikan oleh para pendamping seperti, menyiapkan bahan obat-obatan, membakar kemenyan, mengipas si sakit, dan lain sebagainya. Tugas ini diberikan dengan maksud agar jalannya pengobatan berlangsung dengan lancar tanpa ada suatu halangan tertentu, sehingga pengobatan ini dapat berhasil dan si sakit dapat diselamatkan dari kematian.

Jalannya Upacara

Apabila seluruh persiapan dan perlengkapan upacara telab- tersedia, maka upacara Mompolomoasi Tau Malua Nokoasa dimulai,

  • Si sakit yang dalam keadaan sakaratul maut, ditempatkan dalam satu bilik tertentu yang diletakkan di atas lantai yang beralaskan tikar di atas anyaman bambu didampingi oleh suami / isteri, Ketua Adat dan keluarga yang terdekat (saudara/paman/nenek), baik dari pihak suami maupun pihak isteri. Vurake yang akan mengobati si sakit Ialu masuk ke dalam Puya (bilik berbentuk kelambu), untuk bersemedi atau memohon doa kepada Pueng Lamoa sambil membaca mantra-mantra atau jampi-jampi yang diucapkan dengan irama tertentu dengan bahasa yang dapat dimengerti oleh Vurake sendiri, agar diberikan bantuan dan petunjuk dalam mengobati si sakit terutama mengembalikan Tanoana (jiwa kehidupan) yang ada dalam manusia (si sakit). Apabila dalam melakukan tugasnya itu tidak mendapatkan petunjuk atau sesuatu yang diharapkan, maka Vurake lalu ke luar dari Fluya, maka pihak keluarga yang mendampingi si sakit telah mengerti bahwa ini suatu tanda bagi si sakit masih memerlukan pengobatan selanjutnya, atau Vurake masih berusaha untuk melakukan pengobatan dengan cara lain.
  • Apabila usaha pertama yang dilakukan oleh Vurake tidak dapat menolotig si sakit (yang diupacarai), maka usaha yang kedua yaitu dengan cara Mompagere, asal kata dari Gere (sapu), yaitu mengobati badan si sakit dengan memakai sejenis tumbuhan (daun, sowi), yang disimpan dalam pundi-pundi atau kantung kain, kemudian daun sowi yang dipakai untuk mengobati si sakit, disapukan di bagian anggota badan yang dirasakan sakit, adakalanya dimulai dari kepala sampai di ujung kaki.
  • Pengobatan atau cara lain yarig dilakukan oleh Vurake yaitu memakai jenis tumbuh-tumbuhan lainnya berupa daun sirih, buah pinang, gambir dan lain-lain, tumbuh-tumbuhan ini dikunyah lalu disemburkan kepada seluruh anggota badan terutama bagian anggota badan yang dirasakan sakit. Kalau ternyata pengobatan ini belum berhasil, maka jalan lain yang harus ditempuh oleh Vurake yaitu mengeluarkan penyakit itu dari dalam tubuh si sakit, terutama penyakit yang berasal dari black magic (ilmu sihir), dengan membaca mantra-mantra atau jampi-jampi.

Apabila usaha-usaha di atas telah dilakukan oleh Vurake tetapi ternyata belum ada tanda-tanda kesembuhan atau si sakit semakin parah penyakitnya, maka pengobatan terakhir adalah Vurake turun ke tanah lalu mencari roh-roh di tempat-tempat yang keramat, menurut kepercayaan masyarakat bahwa roh-roh itu bertempat tinggal di hutan, pohon beringin dan batu. Vurake dalam melakukan pencarian roh disertai dengan perangkat upacara berupa bingka yang berisi makanan dan minuman (saguer), dan perangkat ini dibawa menuju ke Lobo. Menurut J. Kruyt, Lobo ialah rumah yang bertiang tinggi berada di luar desa dan merupakan pusat peribadatan kepada roh-roh yang disebut kuil desa (Hal. 52 : 1977).

Kalaupun usaha terakhir yang dilakukan oleh Vurake temyata belum ada tanda-tanda keberhasilan menyembuhkan si sakit terutama mengembalikan Tanoana berarti si sakit sudah dekat ajaInya. Pada saat itu keluarga sudah berkumpul dan menjaga saat-saat orang tersebut menghembuskan napas yang terakhir. Bila telah lepas terdengarlah suara tangis keluarga. Kemudian Vurake memerintahkan salah seorang anggota keluarga mempersiapkan peti jenazah. Bersamaan itu pula Vurake menyanyikan lagu-lagu yang isinya menceriterakan riwayat hidup dan hal ihwal si sakit, terutama kebaikan-kebaikannya, usaha-usaha yang pernah dilakukannya, dengan maksud agar keluarga yang ditinggalkan dapat mengambil contoh atau melanjutkan segala usaha kebaikan yang pernah dilakukan oleh ayah ibunya.

Pantangan-pantangan yang Dihindari

Pantangan-pantangan yang harus dihindari selama berlangsungnya upacara adalah tidak boleh melakukan pembicaraan yang dapat mengganggu konsentrasi orang yang sementara melakukan pengobatan (Vurake), seperti : berteriak, marah dan lain-lain; si sakit dalam keadaan mendekati ajalnya, tidak boleh dibawa ke luar rumah atau ke tempat tertentu, karena mudah mengganggu orang sakit, dan membuat si sakit mengalami saat sekarat itu sangat menderita.

Apabila pantangan-pantangan tersebut di atas dilanggar, maka dapat menyebabkan atau menimbulkan akibat-akibat yang jelek, baik kepada si sakit maupun kepada keluarganya. Dan Vang paling parah adalah si sakit itu sendiri, karena penyakit yang dideritanya tidak mungkin dapat disembuhkan, terutama untuk mengembalikan tanoananya, sehingga si sakit dapat menemui ajaInya dengan sangat tersiksa.

Adapun pantangan yang paling penting diperhatikan oleh pihak keluarga ialah pada saat Vurake melakukan pengobatan, maka pihak keluarga sebagai pendamping si sakit selama semalam suntuk tidak diperkenankan untuk tidur, karena Vurake selama itu berusaha menghubungi roh-roh Vurake sebagai pembantunya dalam rangka mengembalikan jiwa yang telah hilang. Dalam pada itu pihak keluarga harus menunggu sampai tugas Vurake selesai, sedang waktu untuk mengembalikan jiwa itu setelah terbitnya matahari atau pada saat matahari telah mulai naik. Jadi selama Vurake mengobati si sakit, maka pantang pihak keluarga untuk tidur pada malam hari sampai selesai pengobatan atau sampai si sakit itu sembuh kembali dari penyakit yang dideritanya, atau melepaskan rohnya dengan tenang ke alam baka.

Sumber: Perpustakaan Daerah Propinsi
Jl. Banteng No. 6 Palu Telp. (0451) 482490

 

Copyright © 2014 TelukPalu.Com All rights reserved. Powered by Wordpress