Bai Mpole (Upacara Masa Kehamilan)

Upacara ini mempunyai maksud dan tujuan terutama bagi perkawinan ini dapat rukun dan damai selama penghidupannya di samping itu supaya baik bagi ibunya (yang hamil) maupun bagi si bayi selama menjalankan masa hamil sampai tidak terganggu keselamatannya dan selamat pada waktu melahirkan. Di samping itu utamanya permintaan pada Tuhan bahwa bayi yang dikandungnya dengan kejadiannya sempurna (tidak cacat) serta letaknya dalam kandungan normal.

Tempat Upacara

Penentuan tempat penyelenggaraan upacara pada dasarnya tidak ada tempat-tempat khusus yang berdasarkan tradisi di daerah ini, tetapi tempat penyelenggaraan upacara cukup di rumah sendiri orang yang diupacarakan kalau mereka sudah mempunyai rumah setelah menikah, dan kalau tidak di rumah mertua kedua belah pihak yang diinginkan. Bentuk, keadaan, dan suasana tempat penyelenggaraan upacara yang sederhana itu, biasa saja hanya karena ada beberapa undangan, maka ramailah suasana rumah tempat penyelenggaraan upacara tersebut sebagai pertanda ada upacara. Bentuk, keadaan dan suasana tempat penyelenggaraan upacara agak berubah sedikit, yaitu dalam kamar sebagai tempat tidur kedua pengantin (keluarga) baru karena karena adanya persiapan dan perlengkapan upacara yang harus diletakkan di atas tempat tidur yang diupacarakan.

Waktu Penyelenggaraan Upacara

Penentuan waktu upacara tidak ditentukan oleh perhitungan menurut tradisi adat istiadat pada daerah ini, tetapi bilamana sang ibu sudah hamil di mana perutnya sudah kentara (nampak) mencuat ke depan. Waktu upacara dilaksanakan bila sudah mempunyai kemampuan dalam melaksanakan upacara. Yang penting pelaksanaan bukan pada saat-saat sudah akan melahirkan. Hal ini biasanya dilaksanakan sesudah selesai masa panen, misalnya persawahan atau perkebunan (kelapa) karena hampir seluruh masyarakat hidupnya dari hasil produksi tanah pertanian.

Penyelenggara Teknis Upacara

Penyelenggara teknis upacara bai mpole menurut adat istiadat tradisional suku bangsa Dampelas adalah orang tua laki-laki atau mertua perempuan karena dia (orang tua laki-laki) yang mempersiapkan seluruh perlengkapan upacara. Di samping itu dukun kampung (sando ngapa = bahasa Dampelas) yang mengatur persiapan dan perlengkapan upacara.

Pihak-pihak yang Terlibat dalam Upacara

Selain penyelenggara teknis upacara, masih ada lagi orang lain yang diperlukan kehadirannya dengan tugas khusus ataupun hanya sekedar menjadi saksi upacara. Orang-orang tersebut adalah sang suami, orang-orang tua adat, dan sanak keluarga yang semuanya menjadi saksi dalam upacara, sedangkan orang-orang tua adat sebagai saksi bahwa upacara telah dilaksanakan berdasarkan tata urutan yang sebenarnya menurut adat istiadat.

Persiapan dan Perlengkapan Upacara

Materi-materi yang dipersiapkan dalam upacara adalah: 1 (satu) buah tikar (ompa lambori = bahasa Dampelas) yang terbuat dari pandan hutan yang banyak terdapat di pinggir pantai; Dulang berkaki 2 (dua) buah yang pertama berisi tempat air ludah sebanyak dua buah yang terbuat dari kuningan (pompen uang = bahasa Dampelas) tempat sirih pinang lengkap (salapa bahasa Dampelas), mangkok putih (tubung = bahasa Dampelas), mayang pinang dan mayang pinang hutan (vongu) yang masih kuncup, masih muda dan dulang yang kedua berisi : Pakaian adat satu pasang (celana payama = bahasa Dampelas) dan bajunya, pakaian perempuan satu stel (baju, sarung, dan selendang), sigar, keris, sarung adat, kain putih dua meter, pisau serta satu ekor ayam jago sembarang yang tidak kurang sifat-sifatnya. Materi-niateri tersebut dipersiapkan oleh pihak keluarga laki-laki.

Jalannya Upacara Menurut Tahap-tahapnya

Setiap upacara biasanya mengikuti tahap-tahap yang tertentu menurut adat istiadat daerah di mana dilaksanakan upacara tersebut. Adat istiadat daerah ini dalam pelaksanaan upacara mengikuti pula aturan-aturan sendiri sebagaimana yang diturun-temurunkan nenek moyang (Ieluhurnya). Adapun tahapan upacara masa hamil (bai mpole) di daerah ini menurut adat istiadatnya adalah sebagai berikut:

Pada malam sebelum puncak upacara dilaksanakan besok harinya telah dipanggil dukun ke rumah di mana upacara dilaksanakan untuk mempersiapkan perlengkapan upacara. Persiapan perlengkapan upacara tersebut adalah 2 (dua) buah dulang beserta isinya menurut ketentuan adat istiadat. Pelaksanaan perlengkapan ini di dalam kamar keluarga yang diupacarakan. Tidak satu pun perlengkapan upacara harus dilupakan, dan bila telah siap semuanya lalu diletakkan di atas tempat tidur pada bagian kepala di mana keluarga itu tidur. Mula pertama di dalam kamar dekat tempat tidur dibentangkan tikar yang telah dipersiapkan terlebih dahulu dan dukun duduk bersila mempersiapkan perlengkapan upacara suami isteri di hadapan yang dukun yang diantara perlengkapan upacara, sedangkan keluarga duduk mengelilinginya sebagai saksi. Bila telah selesai persiapan tersebut, maka sang dukun membacakan mantera dengan meletakkan tangannya dan tangan kedua suami istri di atas perlengkapan tadi dalam keadaan tangan tertelungkup sebagai berikut

Nanimo adaitohiulu ita, ndoumo melolo ngana amu bija-bija mu ipuhinya“.

Artinya: ” Sudah ini adat orang tua kita dahulu dan kalau ada turunannya, tidak mencari-cari lagi”

Sesudah itu perlengkapan diletakkan di atas tempat tidur yang telah ditetapkan tadi oleh dukun, maka dukun dan keluarga yang menyaksikan tadi Ialu meninggalkan suami istri di kamar, serta keduanya tidak boleh keluar selama dalam itu.

Dulang-dulang yang telah diletakkan tadi bersama-sama kedua suami istri selama malam itu dan menanti upacara selanjutnya pada besok harinya sebagai upacara puncak. Dukun sudah harus tidur di rumah yang diupacarakan dan pada malam itu tidak ada upacara lagi. Nanti pada pagi harinya dukun memasuki kamar tidur yang diupacarakan bila mereka sudah bangup dan duduk bersimpuh kembali di atas tempat tidur bersama yang diupacarakan sambil membakar perapian dengan kemenyan Ialu membaca manteranya kembali sama seperti yang dibacakan tadi malam. Sesudah itu mereka keluar kamar dan langsung ke sungi untuk dimandikan oleh dukun yang hamil tersebut, dan kalau pada tempat itu jauh dari sungai maka mandilah di rumah, tetapi air yang dipergunakan harus diambil dari sungai.

Setibanya di tempat mandi, maka yang diupacarakan memakai pakaian (sarung) untuk mandi dan duduk menghadap arahnya matahari timbul (sebelah timur) dan dukun berdiri di belakangnya dan telah siap untuk menyiramkan air. Sebelum disiram, maka sang dukun meletakkan mayang pinang dan menepuknya sebanyak tiga kali di atas-kepala yang diupacarakan, Ialu menyiramnya sebanyak tiga kali pula dengan mangkok (tubung = bahasa Dampelas). Sesudah itu diambilnya lagi mayang pinang hutan (vungu = bahasa Dampelas) dan diperlakukan sama dengan mayang pinang pertama. Mayang-mayang pinang itu adalah yang telah dipersiapkan dalam perlengkapan upacara. Dengan menepukkan mayang pinang yang dilakukan oleh sang dukun, maka mengembanglah mayang tadi dan mengapa mayang pinang dipergunakan dalam upacara ini dengan alasan bahwa mudah-mudahan keluarga ini diberi Tuhan rezeki dan anak yang banyak seperti buah pinang yang dipergunakan.

Sesudah disiram sebanyak tiga kali berturut-turut melalui mayang pinang tadi, maka mandilah sepuas-puasnya, dan mayang pinang yang dipergunakan tadi digantungkan di muka tangga rumah yang diupacarakan sebagai pertanda ada yang hamil di rumah tersebut.

Setelah selesai mandi dan berpakaian yang baik, maka suami istri duduk lagi pada tempat yang telah ditentukan untuk disaksikan seluruh keluarga dan para undangan. Kemudian datang lagi sang dukun dengan ayam yang telah dipersiapkan duduk bersimpuh di muka yang diupacarakan, Ialu memotong sedikit balung ayam dengan pisau yang juga telah dipersiapkan. Darah ayam yang keluar setelah dipotong balungnya tadi diambil dengan ibu jari sang dukun Ialu digoreskan (cera = bahasa Dampelas) di atas kening kedua suami istri sambil membacakan manteranya, yaitu:

siopung masalai-nata tohopea ngana, tahanga tomea ngana

Artinya : “Dimohonkan kepada Tuhan supaya anak yang dilahirkan selamat, juga ibunya (yang melahirkan)”.

Sesudah selesai di cera, maka dibacalah doa selamatan upacara (kedua suami istri) Ialu disuguhkan (disajikan) makanan dan minuman alakadarnya dan berakhir pulalah upacara bai mpola ini.

Pantangan-pantangan yang Harus Dihindari

Setiap penyelenggara upacara tradisional pada umumnya mencari keselamatan dan menghindari segala malapetaka. Oleh sebab itu dalam setiap penyeIenggaraan upacara ada hal-hal yang harus dihindari supaya yang diupacarakan terhindar dari segala bala bencana dan diberikan kesehatan, kekuatan serta rezeki yang banyak dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Tetapi dalam upacara ini tidak terdapat pantangan yang terIalu prinsipil baik dalam penggunaan benda-henda tertentu maupun seluruh tingkah laku perbuatan yang dilakukan oleh yang diupacarakan. Jadi, upacara ini dapat berlangsung dengan mengikuti segala tata tertib adat istiadat yang berlaku di daerah suku Dampelas.

Lambang atau Makna Yang Terkandung dalam Unsur-unsur Upacara

Upacara tradisional suku Dampelas pada upacara masa hiamil (bai mpole) terdapat unsur-unsur yang berupa lambang yang bersifat magis sakral. Unsur yang berupa lambang ini berdasarkan pada anggapan masyarakat pendukungnya yang merupakan tradisi adat istiadat turun temurun yaitu materi-materi yang dipersiapkan sebagai perlengkapan upacara.

Dulang berkaki bersama isinya sebagai lambang penghargaan dan penghormatan kepada sang pencipta (Tuhan) serta dulang tanpa kaki dengan isinya merupakan penghormatan kepada yang diupacarakan terutama arwah nenek moyang yang menurunkan secara turun temurun (adat). Mayang pinang sebagai lambang keberhasilan hidup di masa mendatang (rezeki yang banyak) dan ayam jantan sebagai lambang kesehatan dan kekuatan yang dipunyai oleh yang diupacarakan selama hidup.

Unsur-unsur dalam upacara ini semuanya merupakan permintaan kepada Tuhan supaya yang diupacarakan dapat selamat dan terhindar dari segala malapetaka.

Sumber: Perpustakaan Daerah Propinsi
Jl. Banteng No. 6 Palu Telp. (0451) 482490

Thony Irawanto

Assalamu'alaikum Wr, Wb. Terimakasih atas kunjungan Anda. Trimakasih pula atas kritik dan saran yang telah disampaikan, mohon maaf bila masukan dari Anda belum bisa saya wujudkan semua dalam situs ini. Wassalam, Wr, Wb.

You may also like...