Baratudang (Pemotongan Tali Pusat)

Maksud dan Tujuan Upacara ini adalah supaya selamat, sehat, dan panjang umur. Tempat upacara dilaksanakan di rumah di mana bayi lahir ketika itu tanpa diberi simbol-simbol sebagai pertanda bahwa ada kelahiran bayi. Waktu upacara dilaksanakan sesudah bayi lahir beberapa saat kemudian bila persiapan dan perlengkapan upacara menurut kebiasaan adat istiadat telah disiapkan sebelumnya.

Penyelenggara Teknis Upacara. Penyelenggara teknis upacara, sebagai pemotong tali pusar adalah sando topengana (dukun beranak) yang telah menolong sang ibu yang melahirkan tadi.

Pihak-pihak yang Terlibat dalam Upacara adalah sebagai pembantu penyelengara teknis upacara, orang yang membantu menyiapkan persiapan perlengkapan upacara.

Persiapan dan Perlengkapan Upacara. Persiapan dan perlengkapan upacara yang menyangkut kegiatan dan pengadaan materi yang digunakan dalam upacara tersebut adalah 1 (satu) buah dulang dengan isinya, yaitu beras 1 (satu) gantang (4 liter) yang dihamparkan pada dulang. Di atas beras di diletakkan satu buah kelapa yang tua, telur mentah satu buah, sebuah pisang, satu batang sirih, satu sisir pisang, sepatu yang berjumlah ganjit, dan satu batang lampu yang terbuat dari sarang lebah yang dipilin bersama sobekan kain yang diletakkan berdiri di atas beras tersebut. Kemudian benang putih, yang dilingkarkan sebanyak tiga lingkaran (3x) pada bagian atas kelapa dan sembilu sebagai pemotong tali pusar. Persiapan perlengkapan ini dipersiapkan oleh orang tua bayi yang diupacarakan tersebut dan kalau tidak, maka boleh dipersiapkan oleh keluarga utamanya kedua mertua atau nenek dari bayi tersebut.

Jalanya upacara Menurut Tahapannya

Bila bayi telah lahir maka seluruh persiapan persiapan itu mulai diatur sedemikian rupa dan setelah siap diantar dan diletakkan dekat pelaksanaan upacara. Bayi bersama plasentanya diletakkan pada sebuah kaki (dahulunya pada sebuah dulang) kemudian dukun mengikat tali pusar dekat pusat bayi sebanyak tiga ikatan dengan benang yang dililitkan pada kelapa tadi. Sesudah selesai pengikatan lalu lampu yang terbuat dari sobekan kain yangtelah dipilin dan digosok dengan sarang lebah (taru) dinyalakan. Dengan pengertian bahwa kehidupai bayi di kemudian hari hidup bahagia. Setelah itu baru diadakan pemotongan tali pusar yang dilandasi dengan buah pinang don dipotong dengan sembilu. Bagian tali pusar yang dipotong tadi di antara ikatan di mana satu ikatan yang tertinggal pada tali pusat yang tinggal dan satu ikatan pada tali pusat bersama plasenta. Bila telah selesai pemotongan, maka bayi dibersihkan dari kotorannya dan pusatnya diobati dengan obat tradisional, Ialu dibadong (bungkus ) dengan kain Ialu diletakkan dekat ibunya, sedangkan pareras (sembibilu) ditusukkan pada buah pinang yang dipergunakan sebagai pengalas pemotongan tali pusat tadi, yang kemudian diletakkan (tusukan) pada tempat-tempat yang tertinggi d rumah atau padi atap rumah di muka pintu dengan pengertian supaya pusat sang bayi cepat kering (sembuh). Plasenta disuci (dibersihkan) oleh ayah bayi dan bila sudah bersih diletakkan dalam tempurung Ialu dibungkus dengan kain putih dan ditanam di halaman rumah pada tempat yang agak tinggi tanahnya. Isi dulang yang dipersiapkan tadi diperuntukkan bagi dukun sebagai penyelenggara teknis upacara, yang diberikan pada waktu upacara molongkung (naik ayunan), dan sesudah ini maka selesailah upacara baratudang.

Pantangan-pantangan yang Harus Dihindari

Pantangan yang harus dihindari, baik sebelum ataupun sedang berlangsung upacara baratudang dapat dikatakan tidak ada, selama mengganggu pelaksanaan upacara tersebut.

Lambang-lambang/Simbol yang Terkandung dalam Upacara

Lambang/simbol yang terkandung dalam upacara tersebut adalah beras sebagai kesuksesan hidup yang diupacarai dan sebagai tanda kesyukuran pada yang menjadikan kehiduoa ini (Tuhan Yang Maha Esa), keIapa sebagai simbol kekuatan, telur sebagai simbol kebulatan hati dalam menerima kedatangan sang bayi oleh orang tuanya, pinang sebagai simbol kebersihan dan kesehatan, sirih sebagai simbol banyak rezeki dan pisang sebagai lambang kehidupan (makanan) sang bayi yang pertama-tama. Lampu toru (lampu yang terbuat dari sarang lebah) yaitu sebagai simbol terangnya kehidupan bayi di kemudian hari dan sembilu (pareras) sebagai simbol kekuatan dan kebersihan.

Sumber: Perpustakaan Daerah Propinsi
Jl. Banteng No. 6 Palu Telp. (0451) 482490

Thony Irawanto

Assalamu'alaikum Wr, Wb. Terimakasih atas kunjungan Anda. Trimakasih pula atas kritik dan saran yang telah disampaikan, mohon maaf bila masukan dari Anda belum bisa saya wujudkan semua dalam situs ini. Wassalam, Wr, Wb.

You may also like...