Melongkung

Maksud dan Tujuan Upacara : Di samping untuk keselamatan anak dari gangguan serangga (misalnya semut, lipan, dan lain-lain), juga untuk memberikan kesempatan pada orang tua dan anak untuk dapat berbuat (bekerja) dalam tugas sehari-hari di dalam rumah tangga ataupun di luar rumah.

Tempat Upacara

Sebagai tempat pelaksanaan upacara, yaitu di rumah di mana bayi lahir (kamar atau ruangan) dengan pengertian bahwa tempat itu lebih aman bagi keluarga utamanya bagi bayi sendiri.

Waktu Upacara

Waktu pelaksanaan upacara berdasarkan perhitungan bulan di langit misalnya bulan ketiga di langit dengan alasan dalam perhitungan bahwa satu, dua, tiga adalah pusat segala tenaga atau kekuatan dalam melaksanakan seuatu.

Buaian yang dipasang oleh orang tua (ayah) anak atau orarig yang dianggap dingin tangannya dalam arti kata dapat membuat anak itu tidur nyenyak; orang tersebut tidak mutlak bahwa memang tugasnya untuk memasang buaian pada setiap upacara molongkung, hanya melihat bahwa sifat-sifat orang tersebut dan orang-orang tersebut adalah keluarga yang terdekat .

Setelah pemasangan buaian dan perlengkapannya, maka bayi dimandikan terlebih dahulu oleh dukun (sando topeangana) dengan air kelapa dicampur dengan air suam-suam kuku. Air kelapa tersebut yang dipersiapkan pada upacara, sebelumnya yaitu upacara baratudang. Sebelum dimandikan belahan kelapa tadi ditepukkan tiga kali keliling bayi dimulai dari kelapa kemudian ke kiri dan ke kanan bayi yang terlentang. Setelah itu belahan kelapa tadi dilemparkan ke belakang oleh dukun yang memberi mandi si bayi untuk ditafsirkan kehidupan si bayi di kemudian hari. Bila tempurung kelapa tadi terbuka atau menghadap semua ke atas kedua belahannya sebagai pertanda kehidupannya si bayi di kemudian hari akan mendapat rezeki atau kehidupannya baik. Kalau keduanya tertutup adalah sebagai pertanda kehidupan si bayi di kemudian hari agak sulit atau kurang mendapat rezeki, tetapi kalau hanya sebelah saja menurut keadaan kelapa yaitu pada bagian atas tetap tertutup dan pada bagian bawahnya letap terbuka yang berarti sama saja kalau keduanya terbuka. Kalau sebaliknya maka sama artinya kalau tertutup dua belahannya.

Sesudah bayi dimandikan Ialu dibungkus (badong = bahasa Dampelas) dengan kain. Sebelum bayi dinaikkan dalam ayunan, dimana ayunan tadi digoreskan dahulu dengan darah ayam pada empat sudutnya. Darah ayam tersebut diambil dari balungnya yang dipotong sedikit, dengan sembilu (pareras = bahasa Dampelas) yang dilaksanakan oleh si dukun.

Sewaktu setelah ada mufakat bersama antara dukun dan orang tua si bayi, maka dilaksanakanlah menaikkan bayi dalam ayunan. Pada waktu itu diharuskan dalam rumah tersebut harus tenang dan tidak ada kegaduhan bahkan cuaca pun turut menentukan, misaInya rintik-rinfik hujan, guntur/petir tidak dapat dilaksanakan hal itu. Sebab hal tersebut dapat mengagetkan si bayi yang akibatnya dapat mengganggu setiap tidur bahkan dapat sakit-sakitan. Kalau hal tersebut telah terpenuhi semua, maka dilaksanakan naik ayunan yang dilaksanakan oleh si dukun bersama ibunya. Hal ini dilakukan pada samping kanan ayunan di mana dukun pada waktu meletakkan dalam ayunan. Sebelum sampai ditidurkan (dalam ayunan) si ibu seakan-akan telah menerima si bayi dengan memegang kepalanya dan meletakkan pada bantal dalam ayunan bersama-sama si dukun dengan mantera (gane = bahasa Dampelas) dalam hati keduanya bahwa bayi ini setelah dalam ayunan dapat tidur nyenyak dan senang yang mengakibatkan orang tuanya dapat melaksanakan tugasnya sehari hari.

Sesudah itu dibacakanlah doa selamatan yang dilaksanakan oleh orang yang tahu atau pegawai syarah masjid, dan selesailah upacara molongkung (naik ayunan) sersebut.

Setelah selesai upacara tersebut maka kulit (sabut kelapa) diikat kembali serupa kelapa semula dan digantung pada atap di muka tangga, dan isi kelapa tersebut dapat dipakai dalam upacara tersebut, sedangkan persiapan dan perlengkapan upacara Baratudang tadi diberikan pada si dukun dan dibawa pulang beserta ayam yang diambil darahnya tadi.

Pantangan-pantangan yang Harus Dihindari

Penyelenggara upacara tradisional umumnya untuk mencari keselamatan dan menghindarkan segala malapetaka. Karena itu, pantangan yang harus dihindari selama upacara itu adalah pada waktu anak naik dalam ayunan situasi keadaan sekeliling harus tenang, baik orang tua ataupun anak-anak mahluk-mahluk lain bahkan alam pun tidak boleh dalam keadaan mendung, hujan, guntur serta kilat yang mengakibatkan bayi tersebut kaget. Jadi, benar-benar keadaan harus tenang, tentram pada berlangsungnya upacara naik ayunan ini.

Lambang-lambang atau Makna Terkandung dalam Unsur-unsur Upacara

Pemilihan benda sebagai unsur upacara digunakan sebagai lambang berdasarkan pada satu ekor ayam jantan yang berarti anak (bayi) laksana kehidupan ayam jantan yang selalu dikerumuni betina-betinanya dalam keadaan damai. Lambang dan simbol yang lain berdasarkan warna dan sifatnya benda itu tidak ada.

Sumber: Perpustakaan Daerah Propinsi
Jl. Banteng No. 6 Palu Telp. (0451) 482490

Thony Irawanto

Assalamu'alaikum Wr, Wb. Terimakasih atas kunjungan Anda. Trimakasih pula atas kritik dan saran yang telah disampaikan, mohon maaf bila masukan dari Anda belum bisa saya wujudkan semua dalam situs ini. Wassalam, Wr, Wb.

You may also like...