Upacara Sebelum Kematian

Upacam sebelum kematian atau upacara menjelang sakarat bagi masyarakat suku Dampelas beranggapan bahwa kematian seseorang sebagai kepergian untuk selama-lamanya. Oleh karena itu hanya diadakan perlakuan yang merupakan kasih sayang dari ketuarga pada si sakit bila dianggap tidak bisa sembuh lagi dari penyakitnya, sehingga seluruh keluarga secara bergantian untuk menjaga bila sekarat itu akan tiba.

Jadi keluarga yang menjaganya tidak boleh tidur dan selalu melihat-lihat keadaan atau menolong si sakit bila perlu kalau dianggap kurang enak dirasakan si sakit. Bila keadaan telah gawat sekali maka seluruh keluarga dipanggil untuk melihat keadaan si sakit dalam menghembuskan napas terakhir. Panggilan terhadap keluarga dan kaum kerabat si sakit, tidak melihat keadaan waktu dan situasi alam, asalkan masih dapat dijangkau oleh yang memberitahu bahwa si sakit sudah dalam keadaan sekarat. Keluarga yang ada di sekitar tempat tidur si sakit itu ada yang mengusap-usap dahi, dada, meremas-remas tangan dan kaki sebagai perlakuan kasih sayang bagi si sakit sehingga si sakit dalam menghembuskan napas terakhir itu dapat merasakan senang dan nikmat sedangkan yang lainnya hanya melihat-lihat sambil mengucap tasbih, tahmid, sampai hembusan napas terakhir si sakit.

UPACARA SAAT SESUDAH PENGEMBUSAN NAPAS TERAKHIR (Suku Dampelas)

Demikian pula halnya pada saat sesudah menghembuskan napas terakhir tidak ada upacaranya bagi suku Dampelas. Hanya saja sebagai kelanjutan dari keadaan menjelang sakarat tadi di mana si sakit yang telah menjadi jenazah tadi dibaringkan. Sesudah itu ada seorang keluarga yang dianggap tertua menutupkan mata si mayat bila keadaan dalam menghembuskan napas terbuka dan menutupkan mulut bila keadaannya terbuka bahkan bila perlu diikat dagu si mayat dengan kepala bagian unbun-unbunnya dengan sehelai kain sembarang. Selain tersebut di atas maka jenazah diluruskan dan merubah keadaannya sehingga kepalanya berada sebelah Utara serta dalam keadaan tertelentang dengan tangan berpelukan di atas dada. Pakaian yang dipakainya masih pakaian yang dipakai saat sakarat tadi dan dibuka pada saat akan dimandikan. Dalam keadaan tidur tertelentang tadi ditutupi sehelai sarung panjang dan di atasnya ditutupi kembali oleh sarung-sarung yang pernah dipakainya. (disayanginya) selama masih hidup (sehatnya) sebanyak seberapa telah dapat menutupi badan si jenazah. Sesaat atau bersamaan dengan sesudah menghembuskan napas terakhir maka dipukulkan taragonggo (bahasa Dampelas) yaitu bambu betung 1 ruang berupa tong-tong yang telah tersedia sebagai budaya daerah yang disimpan oleh keluarga bangsawan.

Apabila ada keluarga bangsawan/raja yang meninggal maka taragonggo ini dipukulkan sebagai pertanda ada kematian. Pemukulan taragonggo, dilakukan oleh orang-orang yang biasa memukulkan yang telah diturunkan kepada turunannya dan bila perlu keluarga yang meninggal dapat memukulnya dengan irama pukulan mulai perlahan-lahan dan lambat sampai keras dan cepat. Pemukulan ini dilakukan berulang-ulang dan bila raja dalam sakarat ini telah meninggal atau menghembuskan napas terakhir, selama 1/2 (setengah) jam sehingga dengan mendengarkannya maka seluruh kaum kerabat dan tetangga sekitarnya berdatangan ke rumah jenazah sebagai pertanda turut belasungkawa atas kepergian untuk selama-lamanya. Keadaan seperti ini disebut moporimung (berkumpul) atau datang melihat dan turut berduka cita bersama keluarga yang ditinggalkan.

Bersamaan dengan itu dimulai pemasangan bendera sebanyak 2 (dua) buah yaitu 1 (satu) bendera kerajaan yang terbuat dari kain, sebagai dasar berwarna merah dan bergambarkan ular naga berwarna putih sedangkan bagian pinggiran dibis (les) dengan kain warna putih dan panjangnya 4 (empat) meter (dilampirkan). Bendara yang satu adalah bendera yang berupa orang-orangan berwarna kuning (dilampirkan) yang keduanya panjang sekitar 3 (tiga) meter dan lebar 1 (satu) meter.

Tiang bendera itu terbuat dari bambu kuning yang dipancangkan pada bagian depan pagar (halaman) yang tingginya sampai 7 (tujuh) meter di atas tanah. Upacara saat sesudah menghembuskan napas terakhir juga hanya perlakuan-perlakuan bagi jenazah dan tanda yang dibunyikan dan keadaan simbol yang dipasangkan sebagaimana yang telah diuraikan di atas.

Sumber: Perpustakaan Daerah Propinsi
Jl. Banteng No. 6 Palu Telp. (0451) 482490 

Thony Irawanto

Assalamu'alaikum Wr, Wb. Terimakasih atas kunjungan Anda. Trimakasih pula atas kritik dan saran yang telah disampaikan, mohon maaf bila masukan dari Anda belum bisa saya wujudkan semua dalam situs ini. Wassalam, Wr, Wb.

You may also like...