Pencorea

Pengertian upacara Pencorea bagi tradisi setempat adalah sebagai suatu tanda ucapan syukur bagi ibu dan bayi sejak ibu itu hamil sampai saat melahirkan bayinya dengan keadaan selamat. Di mana tahap-tahap upacaranya telah dilaksanakan dengan baik dan berjalan lancar tanpa adanya hambatan-hambatan yang dialaminya.

Maksud dan Tujuan Upacara

Maksud upacara adalah mencari keselamatan bagi yang diupacarakan, sehingga motivasi dari penyelenggaraan upacara sebelumnya mewarnai upacara ini. Maksud utamanya adalah sudah sampai di mana kaitan upacari sebelumnya, dengan upacara Pencorea yang merupakan penutup daripada upacara sebelumnya, sedangkan tujuannya adalah selain sebagai upacara syukur kepada Tuhan YME yang telah menyelamatkan ibu dan bayi sejak masa hamil sampai melahirkan.

Di dalam upacara ini terkandung pengertian bahwa secara tradisi mancore ini adalah membersihkan atau mensucikan ibu dan bayi dari semua gangguan roh jahat dan sekaligus menanggalkan peralatan dan perlengkapan yang mengandung nilai-nilai yang bersifat sakral seperti pantangan-pantangan yang tidak boleh dilakukan oleh ibu si bayi sejak masa hamil sampai pada upacara Pencorea tersebut.

Waktu Penyelenggaraan Upacara

Upacara Pencorea diadakan pada pagi hari setelah genap tujuh malam umur bayi sesudah lahir. Perhitungan waktu pelaksanaan upacara berdasarkan pada tradisi yang berlaku setempat yakni bahwa hari ke tujuh adalah waktu paling baik serta mengandung makna yang berlatar belakang kepercayaan masyarakat bahwa keadaan bulan di langit sudah sempurna, sehingga semua kegiatan apapun akan mendapat suasana yang penuh keberhasilan.

Tempat Penyelenggaraan Upacara

Dalam pelaksanaan upacara tidak berdasarkan kepada sesuatu pertimbangan ataupun penentuan tertentu mengenai bentuk, keadam, ataupun suasana, tetapi upacara ini cukup dilaksanakan di tempat bayi dilahirkan (di rumah tempat tinggal orang tuanya).

Penyelenggaraan Teknis Upacara

Pada pelaksanaan upacara Pencorea (ucapan syukur) hanya ada seorang penyelenggara teknis upacara yakni topogane (pemantera) ataupun orang lain yang sudah banyak mengetahui hal ihwal upacara ini dan mempunyai sifat yang baik dan keturunan serta dingin tangan.

Pihak-pihak yang Terlibat dalam Upacara

Di samping topogane sebagai penyelenggara teknis upacara maka pihak-pihak yang juga terlibat saat upacara adalah totua ngata (orang tua kampung), sando mpoana (dukun beranak) serta seluruh sanak keluarga yang diupacarakan. Masing-masing adalah sebagai motiroi (saksi) dan mobago (pembantu) dalam upacara tersebut.

Persiapan dan Perlengkapan Upacara

Persiapan dan perlengkapan upacara pencorea ini masing-masing yang harus dipersiapkan adalah bengga (kerbau) bagi golongan bangsawan (maradika), sedangkan bagi golongan ntodea (orang kebanyakan) adalah ayam. Nasi ketan (pae pulu), taveka (daun pisang), dula palangka (dulang berkaki), ohe (beras), dan konia (nasi biasa).

Dalam hal ini dulang berkaki sebelum disajikan dalam upacara, terlebih dahulu ditaburi beras biasa, kemudian diberi lapisan daun pisang dan di atas daun diletakkan paha ayam bagian kanan, nasi biasa, nasi ketan yang kesemuanya sudah dimasak. Seperangkat dulang ini beserta isinya diperuntukkan kepada pemantera.

Jalannya Upacara Menurut Tahap-Tahapannya

Pencorea dilaksanakan mengikuti tahap-tahap tertentu, seperti pada saat yang telah ditentukan tiba, pemantera dan yang diupacarakan duduk pada tempat yang sudah dipersiapkan dalam rumah. Setelah masing-masing yang hadir duduk seluruhnyat, maka salah seorang keluarga yang terdekat mengangkat dulang yang sudah diisi ke depan pemantera dengan disaksikan oleh pihak keluarga yang diupacarakan. Penyajian dulang kepada pemantera adalah sebagai pertanda saat dimulainya upacara ini dan sebagai ucapan syukur itu pun dimulai.

Setelah dulang dan isinya diterima si pemantera, maka sambil berdiri dan diikuti oleh sang ibu yang masih memakai halili bulai (blus putih) melangkah turun ke bawah halaman rumah diiringi keluarganya bersama-sama menuju ke sungai untuk mencore (dimandikan).

Setelah seluruh peserta upacara tersebut, dukun (si pemantera), sang ibu, dan anggota keluarga berada di halaman rumah, mereka berjalan menuju sungai secara beriringan. Berjalan paling depan adalah topogane (dukun) yang disusul oleh ibu sang bayi, suami, dan lainnya. Dalam 1)er.ial~tilztii tidak diadakan upacara-upacara tertentu.

Sesudah mereka tiba di sungai, topogane dan ibu bayi turun ke air, di mana sang ibu berdiri menghadap ke hulu sungai dan di hadapan berdiri pula topogane.

Sebelum ibu sang bayi mandi untuk membersihkan diri, maka topogane terlebih dahulu mengambil air sungai itu dengan menggunakan tangan kanannya untuk membasahi/mengusapi ubun-ubun sang ibu sebanyak tiga kali berturut-turut.

Sesudah topogane melakukan hal ini, disuruhnya sang ibu untuk mandi, Ialu topogane naik ke darat bersama-sama keluarga yang mengiringinya tadi untuk menunggu selesainya mandi. Setelah selesai mandi, ibu lalu menaggalkan pakaiannya yang dipakai mandi termasuk halili bulai kkemudian menggantikannya dengan pakaian biasa yang dibawa bersamadari rumah.

Selanjutnya setelah selesai berpakaian maka si ibu kembali ke rumah dengan susunan perjalanan sama seperti semula dilakukan dari rumah ke sungai dan tidak ada upacara-upacara tertentu, seperti juga di rumall tidak ada upacara penjemputan terhadap yang diupacarakan dan langsung saja masuk ke dalam rumah serta duduk kembali pada tempat sebelumnya.

Pada saat yang diupacarakan duduk didampingi topogane dan suaminya kemudian salah seorang keluarga memberikan bayinya untuk ditidurkan. Setelah selesai menyerahkan bayi kepada ibunya, maka mulailah disajikan makanan yang telah dipersiapkan kepada yang hadir menyaksikan upacara tersebut untuk bersantap bersama.

Dalam penyajian makanan kepada topogane berbeda dengan yang disajikan kepada yang hadir. Dengan dulang serta isinya seperti ayam, ketan, dan lain-lain untuk topogane sebagai tanda terima kasih dan rasa syukur pihak keluarga atas terlaksananya upacara dengan baik dan selamat.

Pantangan-pantangan yang Harus Dihindari

Beberapa pantangan tertentu yang harus dihindari bagi yang diupacarakan berupa perbuatan-perbuatan seperti bahwa halili bulai tidak boleh ditinggalkan sebelum upacara mencore dilaksanakan. Akibat yang timbul oleh si pelanggar ini ialah gangguan penyakit yang mengancam keselamatan ibu dan bayi.

Pantangan lain adalah sebelum upacara ini dilaksanakan sang ibu tidak boleh mencuci kepala dengan santan kelapa (moboka, sebagai akibat apabila pantangan ini dilanggar dapat memberi gangguan dari roh-roh halus karena sang ibu yang diupacarakan belum dimandikan (mencore). Demikian pula ibu tidak boleb makan buah yang bergantung atau jenis tumbuhan yang menjalar seperti ubi jalar, labu, dan sebagainya. Akibatnya adalah kepada bayi dapat mengalami penyakit yang berat dan mengalami penyakit kulit (gatal gatal).

Lambang-lambang atau Makna yang Terkandung dalam Unsur-unsur Upacara

Unsur-unsur yang berupa lambang dalam upacara pencorea .dan memiliki daya magis yang berpengaruh terhadap hidup manusia. Sebagai lambang keakraban menurut tradisi setempat dilambangkan dengan dula palangka (dulang berkaki) yang melambangkan rasa penghargaan dan penghormatan kepada yang mengupacarakan; sedangkan beras, nasi putih, nasi ketan, dan ayam putih adalah merupakan kesucian dan keihlasan hati keluarga yang melaksanakan upacara dan rasa syukur kepada Tuhan yang telah memberikan perlindunganNYA sehingga upacara tersebut dapat berjalan dengan baik.

Makna lain daripada lambang ini adalah lambang kehidupan yang cerah bagi anak kelak di kemudian hari. Paha ayam (piri) putih sebelah kanan adalah lambang kekuatan dan kesehatan bagi ibu dan anak.

Sumber: Perpustakaan Daerah Propinsi
Jl. Banteng No. 6 Palu Telp. (0451) 482490

Thony Irawanto

Assalamu'alaikum Wr, Wb. Terimakasih atas kunjungan Anda. Trimakasih pula atas kritik dan saran yang telah disampaikan, mohon maaf bila masukan dari Anda belum bisa saya wujudkan semua dalam situs ini. Wassalam, Wr, Wb.

You may also like...