Popanaung (Upacara Turun Tanah)

Pengertian yang terkandung dalam upacara Popanaung (turun tanah) tidak berbeda dengan upacara naik ayunan. Secara tradisi setempat upacara ini merupakan sebagai rasa syukur orang tua dalam menerima kehadiran bayi dalam keluarga. Selain daripada itu Popanaung adalah salah satu jalan memperkenalkan bayi kepada kehidupan dunia luar sesudah berada dalam rahim ibunya.

Maksud dan Tujuan Upacara

Agar bayi dapat mengenal dan menerima kenyataan hidup dan tempat di mana ia dilahirkan. Pengertian ini berdasarkan kepada anggapan bahwa selamna ini bayi dalam rahim ibu merupakan dunia yang gelap dan diperkenalkan kepada dunia luar (fana).

Waktu Upacara

Penyelenggaraan upacara Popanaung (turtin tanah) mengikuti waktu sejak bayi itu lahir sampai pada hari kelima di mana upacaranya dilaksanakan pada waktu pagi hari.

Upacara Popanaung bagi bayi mengandung pula gambaran bahwa waktu pelaksanaannya pada pagi hari akan memberikan masa depan yang cerah bagi bayi dalam kehidupannya kelak.

Tempat Penyelenggaraan Upacara

Mengenai tempat penyelenggaraan upacara tidak ada ketentuan mengenai tempat upacara. Kebiasaan bahwa tempat penyelenggaraan adalah di rumah orang tua bayi. Kecuali apabila keadaan rumah orang tua yang diupacarakan tidak mengizinkan (dalam keadaan rusak), maka upacara ini dilaksanakan di rumah salah satu pihak orang tua dari keluarga yang diupacarakan (ayah, mertua).

Penyelenggaraan Teknis Upacara

Sebagai penyelenggara teknis upacara sama haInya dengan upacara Ratoe (naik ayunan) dimana penyelenggara teknis adalah sando mpoana (dukun beranak), sehingga peranan dukun beranak sangat besar artinya baik dalam membantu ibu dalam melahirkan maupun dalam melakukan upacara Popanaung ini.

Pihak-pihak yang Terlibat dalam Upacara.

Di samping sando (dukun) sebagai penyelenggara teknis upacara, masih ada mobago (pembantu) yakni seorang yang membantu dukun dalam upacara ini apabila upacara puncak dilaksanakan. Selain pihak keluarga yang terdekat dengan yang diupacarakan, yang semuanya adalah motivoi (saksi) dalam upacara tersebut.

Persiapan-persiapan dan Perlengkapan Upacara

Sebelum tiba pada pelaksanaan upacara telah disiapkan perlengkapan upacara agar dapat terlaksana dengan baik sesuai tradisi setempat. Dalam upacara nopanaung memerlukan persiapan dan perlengkapan upacara seperti kain nunu (kain kulit kayu beringin), ide (tikar), tavala (tombak), guma (parang), kaliavo (perisai), kawipi (bakul) tempat beras, karar (bakul kecil), vatu pengaha (batu asa).

Dari pelbagai persiapan dan perlengkapan tersebut dapat dibagi dua bagian menurut keperluannya masing-masing. Untuk perlengkapan di dalam rumah berupa kain nunu, tikar, baku, sedangkan untuk di luar rumah adalah tombak, parang, kain pengikat kepala (halili), dan perisai.

Jalannya Upacara Menurut Tahap-tahapnya

Dalam upacara nompanaung tahap-tahapnya dapat dilihat perbedaannya pada perlengkapan upacara dan merupakan simbol yang membedakan antara bayi laki-laki dan perempuan yang diupacarakan.

Sebelum puncak upacara dilaksanakan pada pagi hari, biasanya di rumah yang akan mengadakan upacara, pada sore hari menjelang keesokan harinya upacara itu dilaksanakan, maka pihak keluarga sudah memasangkan simbol-simbol upacara di muka tangga rumah atau pada halaman rumah. Maksudnya adalah untuk membedakan jenis kelamin bayi yang akan diupacarakan di rumah tertentu. Bagi bayi perempuan simboInya adalah di depan rumah yang diupacarakan sudah digantungkan pada kayu ujung atas atap rumah, yaitu tavala (tombak) dengan cara melintang serta bagian tengah tombak diikatkan higa (mahkota) yang biasa dipakai sebagai mahkota di kepala wanita dalam pakaian adat masyarakat Kulawi.

Perlengkapan tombak dan mahkota tersebut digantung oleh orang tua yang diupacarakan dan harus nampak terlihat bagi orang yang lewat di depan rumah tersebut, sehingga orang pun dapat mengetahui bahwa di rumah tersebut akan dilaksanakan upacara turun tanah.

Di samping menggantung perlengkapan tersebut sekaligus pemasangan vatu pengaha (batu asa) di depan tangga rumah yang akan diinjak oleh bayi pada upacara turun tanah. Sesudah semua perlengkapan ini dipasang semuanya maka tangga depan rumah tersebut tidak dapat lagi digunakan untuk naik turun rumah sebelum upacara nopanaung ini selesai. Jadi, keluarga yang biasanya menggunakan tangga itu untuk Ialu-Ialang harus melalui tangga rumah bagian dapur.

Ketika saatnya telah tiba dimana dukun telah datang ke rumah yang di upacarakan Ialu mempersiapkan seluruh perlengkapan upacara di tempat yang telah tersedia, sambil menunggu bayi dimandikan oleh ibunya, semua alat perlengkapan upacara sudah disiapkan.

Sesudah bayi dimandikan Ialu diselimuti/dibungkus dengan kain nunu dan ditidurkan di atas tikar yang khususkan untuk upacara turun tanah, didekatkan bayi itu pada dukun. Dukun pun Ialu mengambil bakul beras dan dengan hati-hati sekali dukun mengangkat bayi Ialu dimasukkan ke dalam bakul.

Hal ini hanya berlaku bagi bayi perempuan, setelah bayi sudah berada di dalam bakul, maka dukun berdiri disertai mobago (pembantunya) sambil membopong bayi dalam bakul dan diiringi keluarga yang masing-masing membawa sube (pacul kecil), kararo (bakul kecil) masing-masing berjalan, di depan sekali adalah dukun kemudian pembantu dukun dan keluarga yang diupacarakan menuju ke depan pintu. Setelah tiba di depan pintu dan berhenti sejenak, maka dukun pun Ialu turun melalui tangga sampai anak tangga terakhir, sedangkan pembantu dukun yang membopong bayi dan masing-masing keluarga yang diupacarakan yang membawa perlengkapan lainnya tetap berada di atas rumah berdiri di depan pintu.

Dengan isyarat dari dukun yang sudah berada pada anak tangga terakhir maka pembantu dukun mulai menurunkan bayi dalam bakul secara turun naik sebanyak tujuh kali berturut-turut. Setelah sampai pada hitungan yang ketujuh sesudah turun, maka dukun pun mengeluarkan bayi dari bakul dan dengan memegang kedua kaki bayi Ialu diinjakkan pada batu asa, dukun mulai nogane (membaca manteranya) sebagai berikut:

matua pa tanuana na ngana ei mai pade vatu “, Artinya: “kepala anak ini hendaknya lebih keras dari batu”.

Sesudah bayi diinjakkan kedua kakinya pada batu, maka dukun dengan menggendong bayi naik kembali ke dalam rumah, sambil diiringi pembantunya dan keluarga yang diupacarakan untuk menyimpan kembali perlengkapan upacara pada tempat semula dan bayi langsung dinaikkan kembali ke ayunannya.

Sesudah upacara turun tanah selesai, maka upacara ini pun telah selesai bagi bayi perempuan.

Bagi upacara Popanaung untuk bayi laki-laki agak berbeda sedikit mengenai pelaksanaan upacaranya. Mengenai sebelum waktu upacara turun tanah untuk bayi perempuan sama pelaksanaannya dengan bayi laki-laki, kecuali perlengkapan yang digunakan untuk bayi laki-laki berbeda dengan bayi perempuan.

Sebelum upacara puncak keesokan harinya, maka pada sore hari di muka tangga rumah yang diupacarakan dipancangkan tovala (tombak), guma (parang), dan perisai (kaliavo). Pemancangan perlengkapan tersebut di atas di depan tangga rumah yang diupacarakan sebagai simbol bahwa di rumah tersebut berlangsung upacara turun tanah. Tentang tata upacaranya pun sama yang melaksanakan teknis upacaranya sama pula, kecuali bahwa bagi bayi laki-laki pada saat turun tanah tidak menggunakan lagi bakul untuk tempat bayi perempuan bila diturunkan ke tanah. Susunan upacara pada saat turun adalah sama yakni bahwa pada hitungan yang ke tujuh setelah turun kemudian dukun menginjakkan kedua kainya pada batu asah yang telah disediakan di halaman rumah yang diupacarakan. Sesudah upacara turun tanah ini dilaksanakan bagi bayi laki-laki, maka upacara ini pun dinyatakan berakhir, kemudian dilanjutkan dengan upacara makan bersama di antara keluarga yang hadir dan dukun.

Pantangan-pantangan yang Harus Dihindari

Tujuan penyelenggaman upacara menurut tradisi setempat adalah mencari keselamatan bagi keluarga yang terlibat dalam upacara ini, terutama sekali bagi bayi yang diupacarakan.

Dalam pelaksanaan upacara ini didapati pantangan-pantangan yang harus dihindari berupa perbuatan-perbuatan terhadap bayi. Sejak memakaikan halili bulai pada saat kehamilan sampai pada upacara turun tanah, halili ini tidak boleh ditanggalkan sebelum upacara mencore (memandikan) sang ibu selesai dilaksanakan. Akibat yang ditimbulkan bila pantangan ini dilanggar adalah baik ibu maupun bayi selalu mengalami keadaan tidak sehat (mengalami sakit-sakitan) yang sering dapat menimbulkan kematian bagi bayi. Bagi ibu pada saat upacara nupanaung tidak boleh moboka (mencuci kepala dengan santan kelapa), akibatnya adalah bagi ibu muda mendapat gangguan dari roh-roh jahat karena bau santan kelapa atau ampas kelapa paling disukai oleh roh-roh yang jahat tersebut. Demikian beberapa pantangan yang harus dihindari.

Lambang-lambang atau Makna yang Terkandung dalam Unsur-unsur Upacara.

Daya magis yang berpengaruh berupa lambang dalam upacara nupanaung terhadap kehidupan bayi adalah seperti kain nunu sebagai perlambang bagi yang diupacarakan, sedangkan tikar, bakul, cangkul kecil bagi bayi perempuan sebagai lambang bilamana kelak sesudah ia dewasa dan telah memasuki masa perkawinannya sampai mempunyai keturunan hingga tiba saat ditinggal mati oleh suaminya, maka satu-satunya teman dalam membina hidup dan kehidupannya adalah cangkul kecil untuk membersihkan ladang dan bekerja di sawah, sedangkan bakul adalah merupakan tempat menyimpan hasil panen.

Bagi bayi laki-laki dengan tombak, parang, dan perisai merupakan lambang yang mengandung arti babwa satu-satunya teman di dalam menjaga keselamatan dirinya dan mempertahankan harta bendanya kelak adalah alat-alat tersebut. Selain alat tersebut, juga merupakan lambang keberanian dan kepahlawan bagi yang diupacarakan kelak.

Sumber: Perpustakaan Daerah Propinsi
Jl. Banteng No. 6 Palu Telp. (0451) 482490

Thony Irawanto

Assalamu'alaikum Wr, Wb. Terimakasih atas kunjungan Anda. Trimakasih pula atas kritik dan saran yang telah disampaikan, mohon maaf bila masukan dari Anda belum bisa saya wujudkan semua dalam situs ini. Wassalam, Wr, Wb.

You may also like...