< Browse > Home / Suku Kulawi / Blog article: Rakeho – Mancumani Rakeho

| Mobile | RSS

Rakeho – Mancumani Rakeho

November 10th, 2007 18:48 | No Comments | Posted in Suku Kulawi

Rakeho adalah salah satu upacara masa peralihan dari masa remaja ke masa dewasa, bagi seorang laki-laki, di mana upacara ini tidak berlaku bagi anak perempuan. Rakeho mempunyai pengertian meratakan gigi bagian depan atas dan bawah serata dengan gusi. Makna yang terkandung dalam upacara ini adalah merupakan salah satu upacara adat istiadat dalam kehidupan individu dalam masyarakat yang menunjukkan seseorang telah mulai menjelang dewasa. Berbeda dengan upacara ratompo di kalangan golongah bangsawan khusus perempuan yang sudah menjelang dewasa, di mana upacaranya berdasarkan pengaruh kuasa dan izin adat istiadat dan raja-raja yang berkuasa pada masanya; sedangkan rakeho adalah berdasarkan pada suatu tuntutan keadaan seseorang yang telah tumbuh dewasa bagi laki-laki serta kebanyakan dilaksanakan oleh ntodea (orang kebanyakan).

Maksud Penyelenggaraan Upacara

Maksud upacara rakeho tidak hanya untuk mencari keselamatan, akan tetapi juga berdasarkan atas motivasi tradisi setempat bila seseorang pria benar-benar telah menjelang dewasa sehingga mendorong penyelenggaraan upacara ini. Di samping mencegah terjadinya hal-hal yang tidak dikehendaki hal yang dapat menimbulkan kasus pertengkaran suami isteri yang dapat berbahaya bagi kedua belah pihak seperti haInya yang terjadi kasus yang telah dikemukakan pada upacara ratompo.

Waktu Penyelenggaraan Upacara

Dalam waktu penyelenggaraan upacara ini tidak terikat kepada suatu perhitungan waktu, hari ataupun bulan. Hanya waktu pelaksanaan upacara biasanya dipilih waktu siang hari. Di samping waktu pelaksanaan upacara biasanya dikaitkan dengan ada atau tidaknya kesempatan atau kemampuan orang tua yang diupacarakan. Menurut tradisi setempat waktu pelaksanaan upacara ini dikaitkan dengan berhasilnya panen atau sesudah panen, dengan pertimbangan bahwa sesudah panen orang tua yang diupacarakan sudah mempunyai kemampuan untuk mengupacarakan anaknya.

Tempat Penyelenggaraan Upacara

Mengenai tempat penyelenggaman upacara ini tidak berbeda dengan tempat penyelenggaraan upacara ratompo yakni dipilih tempat-tempat tertentu, seperti di bawah pohon yang besar yang jauh dari keramaian orang ataupun tempat Ialu lalang orang. Sering pula mengenai tempat upacara ini telah disiapkan oleh orang tua pihak yang diupacarakan seperti sebuah rumah yang sudah dikosongkan dan letaknya agak terpencil dan jauh dari keramaian.

Penyelenggaraan Teknis Upacara

Dalam upacara rakeho hanya ada seorang penyelenggara teknis upacara, yaitu topekeho (dukun) yang sudah mempunyai keahlian khusus dalam menggosok gigi (pengikir gigi).

Penyelenggara teknis upacara ini dipilih berdasarkan keahlian yang sudah diturunkan atau telah dimiliki seseorang secara turun temurun. Menurut beberapa informan yang sempat peneliti wawancarai bahwa satu-satunya orang yang biasa melakukan rakeho masih hidup dalam keadaan phisik yang sudah tidak mengizinkan lagi karena ketuaan.

Pihak-pihak yang Terlibat dalam Upacara

Selain penyelenggara teknis upacara, masih ada orang lain yang terlibat dalam upacara ini antara lain empat orang yang disebut tadulako-tadulako yang bertugas mobago (membantu) topokeho dalam melaksanakan upacara rakeho ini, di samping keluarga daripada yang diupacarakan seperti toama (orang tua), ompi-ompi (paman), tumpu (nenek), dan tina lolo (bibi). Tadulako yang dimaksud adalah sebagai orang yang mempunyai kekuatan berdasarkan ilmu sakti (berdasarkan tenaga dalam).

Persiapan dan Perlengkapan Upacara

Penyediaan/pengadaan materi dalam kegiatan upacara rakeho meliputi: lide – (tikar), luna (bantal), baju dan puruka (baju dan celana), cawat dari kulit kayu bagi yang diupacarakan, pengoaha (kikir besi), air hangat, ketan putih, dan satu biji telur.

Jalannya Upacara Menurut Tahap-tahapnya

Pada upacara ratompo tidak banyak perbedaannya dengan upacara rakeho ini. Dalam tahap-tahap upacara rakeho pun tidak jauh berbeda. Setelah upacara rakeho ini tiba, maka pada saat yang telah ditentukan di rumah orang tua yang diupacarakan telah berkumpul sanak keluarga, topekeho (dukun), dan tadulako-tadulako yang membantu topekeho semua telah hadir. Sebelum anak yang diupacarakan diantar ke tempat pelaksanaan upacara yang sudah dipersiapkan sebelumnya, maka di rumah yang diupacarakan dilaksanakan, terlebih dahulu upacara sekedarnya seperti memakaikan pakaian yang terdiri dari baju biasa dan puruka (celana pendek atau kalau dahulu dengan cawat).

Sudah berpakaian maka oleh topekeho mulai dengan menyuapi yang diupacarakan dengan ketan putili dan telur. Selanjutnya pada waktu anak yang diupacarakan sudah siap melakukan upacara di rumah, maka topekeho juga telah menyiapkan segala perlengkapan upacara. Sambil berpamitan kepada keluarga yang diupacarakan keempat orang tadulako (pembantu topekeho) diiringi oleh ibu bapak dan sanak keluarga yang diupacarakan bersama-sama berdiri sambil berjalan turun ke halaman rumah. Setelah tiba di halaman rumah, maka topekeho, anak yang diupacarakan, dan empat orang tadulako mobago (tadulako pembantu) mulai berjalan menuju tempat upacara rakeho dilaksanakan, sedangkan keluarga yang diupacarakan kembali ke dalam rumah untuk menunggu selesainya upacara rakeho ini dilaksanakan.

Selama dalam perjalanan ke tempat upacara tidak diadakan lagi upacara tertentu. Sesudah tiba di tempat upacara yang sudah ditentukan seperti di bawah sebuah pohon yang besar serta jauh dari keramaian ataupun di sebuah rumah yang telah dikosongkan, maka para tadulako mulai menghamparkan tikar dan meletakkan bantal di atasnya untuk tempat tidur yang diupacarakan. Selanjutnya sudah pemasangan tempat tidur selesai, maka kemudian anak yang diupacarakan mulai diikatkan kain nunu ke bagian muka anak yang diupacarakan, yaitu bagian kedua matanya, Ialu ditidurkan. Sesudah anak yang diupacarakan ditidurkan dalam keadaan terlentang, maka topekeho sudah mengambil kikir dan tadulako pun sudah mengambil tempat masing-masing, yakni dua orang di samping bahu kiri kanan anak dan dua orang masing-masing di bagian kaki kiri dan kanan yang diupacarakan. Keempat tadulako tersebut bertugas memegang yang diupacarakan jangan sampai pada saat rakeho dilaksanakan sempat menggoyangkan tubuhnya (bergerak).

Beberapa informan yang sempat peneliti wawancarai dan telah pernah mengalami sendiri upacara norakeho ini mengatakan bahwa dari semua upacara masa dewasa menurut tradisi setempat sudah upacara rakeho inilah yang paling sakit yang dialami oleh yang diupacarakan. Demikian pula proses kesembuhannya cukup lama.

Sesudah masing-masing tadulako sudah siap pada posisinya masing-masing, maka topekeho sambil di tangan kanannya sudah memegang kikir (pongaha) di mana topekeho dalam posisi jongkok di samping yang diupacarakan, maka mulai dengan gane (membacakan mantera) sebagai berikut “Ane motomoleko potumpako, ane motumpako patumoleko, Bona nemo madea ra mehuko tiroi daka kami“.

Artinya: Bila tidur tengadah dan tengkurap, bila tidur tengkurap dan tengadah, jangan sampai banyak darah, maka lihatlah kami.

Setelah itu, topekeho mulai memasukkan pangaha (kikir) di antara seluruh bagian gigi atas dan bagian gigi bawah. Bersamaan dengan itu para tadulako mulai memegang erat tubuh dan bagian kaki yang diupacarakan. Mulailah topekeho mengayunkan kikirnya pada bagian gigi atas sampai benar-benar hampir serata dengan gusi, demikian seterusnya sampai selesai, kemudian pindah pada bagian gigi bawah juga dengan hal yang serupa. Menurut perhitungan waktu dahulu biasanya pelaksanaan rakeho ini mulai dari pagi hari sampai sore hari.

Sesudah rakeho dilaksanakan, maka yang diupacarakan diberi pengobatan berupa air hangat untuk dikumur-kumur dan diberi parania mavau (scienis rumput-rumputan) yang baunya sangat busuk untuk digigit-gigit oleh yang diupacarakan sesudah rakeho.

Pada akhirnya sesudah pelaksanaan rakeho ini, di mana yang diupacarakan sudah siuman kembali, sambil dibopong oleh tadulako-tadulako dan topekeho berjalan kembali ke rumah mengantarkan anak yang diupacarakan dan diserahkan kembali kepada orang tuanya. Begitu anak yang diupacarakan sampai lalu ditidurkan di tempat tidur yang sudah disediakan dan selama perawatannya dilakukan oleh ibu bapaknya, sedangkan pengobatannya dilakukan oleh topekeho sampai sembuh.

Pantangan-pantangan yang Harus Dihindarkan

Dalam upacara rakeho ini, pantangan yang harus dihindarkan hanya bersifat tingkah laku dan perbuatan yang sama haInya dengan pantangan yang terdapat dalam upacara mopatini dan ratompo. Dalam upacara rakeho bahwa pantangan bagi orang yang diupacarakan antara lain tidak boleh makan makanan yang keras dan tidak boleh minum air selama tiga hari sesudah rakeho, pelanggaran atas pantangan ini mempunyai akibat akan bertambah membengkaknya mulut yang diupacarakan atau proses kesembuhannya akan lebih lama lagi, sehingga keluarga yang diupacarakan harus benar-benar mengawasi gerak-gerik dan tingkah laku daripada yang diupacarakan, terutama sekali mengenai makannya di mana yang diupacarakan harus makan bubur.

Lambang-lambang atau Makna yang Terkandung dalam Unsur-unsur Upacara

Salah satu lambang dalam upacara rakeho adalah baju putih dan puruka (celana) yang juga berwarna putih sebagai lambang yang diupacarakan yang mengandung makna penyerahan diri yang diupacarakan dan keluarga yang diupacarakan berdasarkan atas keihlasan hati yang putih bersih dalam merelakan anak yang diupacarakan untuk dirakeho.

Disamping itu juga seperti nasi ketan putih dan telur juga mengandung makna selain sebagai permohonan kepada Tuhan atas keselamatan anak yang diupacarakan, juga merupakan simbol keihlasan dan kebulatan hati yang putih bersih dari keluarga yang diupacarakan dalam metaksanakan upacara ini. Sesuai sifat dari upacara rakeho menurut tradisi setempat adalah suatu upacara dalam keadaan setengah berkabung.

Sumber: Perpustakaan Daerah Propinsi
Jl. Banteng No. 6 Palu Telp. (0451) 482490

Leave a Reply 87 views, 1 so far today |

Artikel Terkait:

  • No Related Post

Leave a Reply


perahu_diving3perahu_diving2ru_000056ru_000016