Ratoe

Pengertian upacara ratoe ini adalah menaikkan bayi ke dalam ayunan, sejak bayi telah berumur tiga hari sesudah lahir. Upacara ini hanya berlaku bagi anak yang pertama. Dalam penyelenggaraan upacara masa bayi mempunyai beberapa tahap lagi sesudah upacara ratoe. Seperti tahap upacara mupanuang (injak tanah), tahap upacara pencorea (memandikan).

Maksud dan Tujuan Upacara

Upacara ratoe (naik ayunan) mempunyai maksud dan tujuan yakni agar bentuk badan terutama kepala dari bayi mempunyai bentuk yang baik artinya tidak Ionjong (benjol). Di samping anak telah naik ayunan, kepada orang tuanya terutama ibunya sudah berkesempatan melakukan pekerjaan-pekerjaan serta tugas-tugas sehari-hari baik dalam rumah maupun di luar rumah. Selain itu untuk menjaga keselamatan bayi dari gangguan-gangguan serangga misalnya semut, lipan, dan sebagainya.

Waktu Upacara

Adapun pelaksanaan upacara adalah sesudah tiga hari waktu kelahiran bayi dan diadakan pada pagi hari. Di mana dalam waktu ini tidak dapat ditunda lagi. Dengan pertimbangan bahwa pada hari ketujuh masih ada upacara-upacara lainnya, sehingga waktu yang dipilih dalam penentuan upacara ini tidak semata-mata berdasarkan pada perhitungan bulan di langit ataupun waktu-waktu lain, tetapi harus terlaksana tiga hari sesudah kelahiran.

Tempat Penyelenggaraan Upacara

Upacara traidisi ini sangat sederhana, maka penentuan tempat upacara tidak berdasarkan pada tempat-tempat tertentu tetapi cukup dilaksanakan di rumah tempat tinggal kedua orang tua. Dan tidak dibuatkan simbol-simbol maupun lambang-lambang tertentu sebagai bukti upacara. Penyelenggaraan teknis upacara adalah seseorang dukun yang biasanya sando mpoana (dukun melahirkan) itu sendiri, terkadang juga sebagai orang yang menaikkan bayi ke atas ayunan, kecuali bila dukun tersebut hanya khusus membantu melahirkan saja dan tidak dapat merangkap sebagai orang yang dapat menaikkan bayi ke atas ayunan, maka barulah dicari kepada orang yang dituakan dalam kampung dan di kalangan keluarga orang yang diupacarakan. Biasanya orang ini mempunyai sifat-sifat pribadi yang baik dan bertangan dingin yang diharapkan nantinya bayi dalam ayunan dapat tenang.

Pihak-pihak yang Terlibat dalam Upacara

Selain penyelenggara teknis upacara, juga yang telah membantu membuatkan perlengkapan ayunan atau sekedar sebagai saksi dalam upacara seperti totua nungata (orang tua kampung), sando mpoana (dukun beranak), tupu (nenek), dan sebagainya.

Persiapan-persiapan dan Perlengkapan Upacara

Persiapan dan pelaksanaan ratoe cukup sederhana sekali sesuai dengan kemampuan keluarga. Yang terpenting ialah persiapan perlengkapan upacara seperti toe (ayunan) dengan segala perlengkapannya. Ayunan terbuat dari balovatu (bambu besar) atau volo (bambu kecil) yang dibuat sedemikian rupa, serupa ayunan dengan masing-masing pertemuan ujung-ujung bambu diikat dengan valo vake (tali pohon waru), dan setiap sudut pertemuan bambu yang sudah terikat diberi buntoyo (tali gantung) dari valo vake (kulit pohon waru) yang sudah dipilih. Kayu tempat menggantungkan ayunan adalah dari pohon langsat yang sifatnya langara (lentur) dan elastis.

Adapun perlengkapan ayunan itu sendiri adalah kelambu yang terbuat dari kain nunu (kulit pohon beringin), luna (bantal) dari kain nunu dijahit dan diisi avu (avu dapur) maksudnya agar kepala bayi tidak lonjong, dulang yang tidak berkaki yang diletakkan di bawah punggul bayi tempat menampung kotoran; ambe (pelepah enau) sebagai tempat menyalurkan kotoran bayi ke dalam dulang yang diletakkan pada bagian bawah lantai ayunan.

Jalannya Upacara Menurut Tahap-tahap

Jalannya upacara naik ayunan sebagai berikut: Pertama-tama adalah pemasangan atau menggantungkan toe (ayunan). Sebelum menggantungkan ayunan terlebih dahulu dipilih tempat memasangkan langora dalam rumah yang memberikan ketenangan bagi bayi bila sudah di atas ayunan serta tidurnya nyenyak.

Memilih tempat ayunan ini adalah berdasarkan hasil pertimbangan dan musyawarah di antara sando mpoana (dukun) dengan orang tua kedua pihak bersama orang tua bayi. Setelah mereka sepakat, dengan petunjuk dukun maka ayunan pun mulai digantung dengan jalan menghindari pantangan dalam pemasangan ayunan di mana letak ayunan tidak boleh berada tepat di bawah sambungan atap rumah. Seperti diketahui bahwa rumah-rumah mereka belum ada yang mempunyai loteng, sehingga jelas kelihatan sambungan-sambungan atap itu dalam ruangan tempat menggantungkan ayunan. Akibat dari penempatan ayunan yang salah adalah merupakan akibat bagi bayi yaitu bahwa bila ayunan itu bergantung di bawah sambungan atap rumah akan mendapat beban berat sehingga berpengaruli pada longora, yang dapat merupakan juga beban bagi bayi sehingga bayi merasa tertindis dan tidak dapat tidur nyenyak. Dalam hal pemasangan ayunan ini menurut tradisi setempat adalah digantunglcan sendiri oleh dukun atau oleh topotoe (orang lain yang ditunjuk untuk menaikkan bayi ke ayunan).

Sesudah penggantungan ayunan dan seluruh perlengkapan ayunan telah siap terpasang, maka bayi pun langsung di mandikan oleh dukun dengan air yang diambil dari sungai, dengan menggunakan air sungai dimaksudkan agar kelak di kemudian hari bayi setelah dewasa dapat hidup dengan baik sejernih air sungai dan menjadi orang yang perkasa. Setelah dimandikan, kemudian diselimuti mbesa (kain kulit kayu). Selanjutnya bayi diangkat oleh dukun dengan cara kepala bayi berada di tangan kiri dan badannya di atas tangan kanan dengan sangat hati-hati serta situasi sekeliling rumah harus tenang, jangan gaduh dan sedapat mungkin jangan menangis pada saat diletakkan di atas ayunan.

Sambil berjalan, dukun dan kedua orang tua bayi menuju ke tempat ayunan, sebelum bayi dimasukkan ke dalam ayunan maka dukun mulai dengan nogane (membaca mantera) yang isinya sebagai berikut:

Kupopehuako rigana ri toe, moa mahata nipohaviraka ilolo taena, maraha paletana“, Artinya “”Kunaikkan anak ini di ayunan, dengan hati-hati ke dalam ayunannya agar tidurnya dapat tenang”.

Kemudian bayi mulai diletakkan di atas ayunan (toe). Dengan selesainya ratoe ini maka upacara ini berakhir. Kemudian dilanjutkan dengan makan dan minum alakadarnya sebagai tanda syukur kepada Tuhan bahwa upacara ini telah berjalan dengan baik dan selamat.

Pantangan-pantangan yang harus dihindari

Pantangan-pantangan yang harus dihindari hanya berlaku pada saat puncak upacara ratoe diadakan yang mana dimaksudkan pada waktu naik ayunan keadaan cuaca di luar rumah harus bersih dengan pengertian agar kehidupan dan penghidupan bayi setelah dewasa akan secerah cuaca pada saat dia naik ayunan. Keadaan sekitar rumah harus tenang dan jangan gaduh agar bayi jangan kaget dan menangis karena apabila pada saat naik ayunan bayi menangis berarti bayi tersebut belum siap dinaikkan ke ayunan.

Letak dan tempat menggantungkan ayunan tidak boleh berada di bawah sambungan atap rumah adalah agar hidup dan kehidupan sang bayi untuk selanjutnya jangan terputus rejekinya.

Lambang-lambang atau Makna yang Terkandung Dalam Unsur-unsur Upacara.

Untuk upacara Ratoe unsur-unsur yang berupa lambang-lambang yang digunakan yang memiliki daya magis yang berpengaruh baik terhadap kehidupan bayi tidak ada. Demikian pula pemilihan benda-benda yang berdasarkan kepada nama, warna, dan sifatnya juga tidak ada. Toe (ayunan) yang digunakan oleh bayi hanya merupakan alat semata-mata yang dapat memberikan pengaruh terhadap keselamatan, ketenteraman, dan kesempatan bekerja bagi bayi dan orang tuanya.

Sumber: Perpustakaan Daerah Propinsi
Jl. Banteng No. 6 Palu Telp. (0451) 482490

 

Copyright © 2012 TelukPalu.Com All rights reserved. Powered by Wordpress