Gasi

Arti kata gasi dalam bahasa Kaili ialah cepat. Mungkin karena alat gasi ini apabila diputar dengan tali sangat cepat dan kadang-kadang kelihatan seperti diam dengan bunyi yang indah, sehingga dinamakan gasi.

Nogasi = bermain gasi.

Alat permainan gasi ini dibuat dari bahan berupa : teras kayu asam, atau bonati, atau tumpujono, atau sebangsanya yaitu kayu yang kuat lagi pula berat, yang tidak gampang pecah atau retak. Bentuk alat permainan ini mirip seperti guci, ada yangh pendek dan ada agak tinggi. Alat permainan gasi mempunyai makna gambaran kejantanan. Warnanya sama seperti warna kayunya, dapat pula di hitamkan seperti warna teras asam. Adapun sebagai alat bantunya disiapkan tali yang panjangnya kurang lebih satu meter, yang berumbi di ujungnya.

Cara membuatnya

Untuk membuat gasi ini diperlukan pemilihan bahan dari kayu yang kuat dan berat, akan tetapi pada umumnya yang dipakai ialah tras kayu asam dan kayu bonati (Bahasa Kaili). Ukuran besarnya tergantung dari kehendak yang membuatnya atau disesuaikan dengan umur pemakai. Apabila alat itu dibuat dari tunas kayu asam yang hitam, sepanjang teras kayu itu dibentuk bulat dan dilicinkan, kemudian dipotong-potong sesuai dengan perkiraan tinggi gasi yang akan dibuat. Kemudian, dengan menggunakan barang yang tajam dibentuk/ dibuatlah gasi itu (lihat gambar). Bilamana gasi telah jadi dibentuk perlu dilicinkan lagi agar lebih bagus lagi, alat yang dipakai melicinkan terbanyak dipakai pecahan-pecahan botol yang pinggir atau sisinya yang tajam. Ada dua macam nama kayu yang dibuat gasi ini, yakni yang berwarna hitam dari teras kayu asam, dan warna yang coklat kekuning-kuningan, dan kayu bonati, tumpujono. Teras kayu sama yang warna hitam dianggap yang paling kuat dan berat. Oleh karena itu, gasi yang dibuat dari bonati, tumpjono dan sebangsanya dihitamkan, dengan cara; gasi yang dibentuk jadi direndam dalam lumpur selama kurang lebih tiga hari. Dengan demikian warnanya jadi hitam dan beratnya bertambah, dan lebih bertambah kuat. Dahan tali yang dipakai dalam permainan gasi diolah dari bermacam jenis, dan berbeda pula cara pengolahannya. Misalnya dari kulit kayu taruntu. Dahan kayu taruntu dipotong kurang lebih 1 1/2 meter lalu direndam dalam air selama lebih kurang tiga hari. Kulit bagian luarnya hancur, dan kulit bagian dalam yang halus dan berserat-serat dengan gampang dapat dikeluarkan, kemudian dijemur sampai kering. Kemudian dipilih dan diatur dengan cara, mulai dari ujung yang satu agak tebal dan ujung lainnya agk tipis, sehingga tali itu kelihatannya, mulai agak tebal/ besar dan akhirnya pada ujung lainnya mengecil. Pada ujung besar yang disimpul diberi berumbai. Cara membuat tali ini dengan memilih diatas paha, dan salah satu tapak tangan memutarnya. Selanjutnya dapat pula menggunakan daun silar. Daun silar yang masih muda, dikeluarkan/ dikuras bagian luarnya dengan pisau yang tajam, sehingga yang tinggal bagian halus dan berserat-serat. Serat-serat itu dibuat tali, yang prosesnya sama dengan membuat tali dari taruntu.

Fungsinya

Permainan gasi ini berfungsi sebagai permainan anak-anak dan orang dewasa, untuk kesenangan sambil mengadu ketangkasan dan keterampilan, yang hanya dimainkan pria saja. Cara memainkannya. Permainan gasi lakasanakan dalam bentuk pertandingan, sehingga di dalamnya ada unsur kompotitif, yang dapat dilaksanakan satu orang lawan satu orang dan dapat juga dengan cara bersama-sama memutar gasing (cukup hanya dua gasing), yang dalam Bahasa Kaili disebut nosinggale. Untuk memutar gasi ini digunakan tali yang dililitkan pada leher gasi, lalu dengan ayunan dan tarikan tangan yang memegang ujung tali, sambil menggenggam pinggang gasi dengan tarikan putar itu dilepas. Gasi yang putarannya lebih lama dinyatakan menang, dan sebelum permainan dimulai secara resmi, diadakan dulu percobaan sebagai perkenalan yang dalam bahasa Kaili disebut metodi. Selanjutnya yang menang lebih dahulu memutar gasinya. Pada waktu pelemparan dilaksanakan dan mengena dengan tepat lalu gasi yang dilempar terbuang dan berhenti berputar, maka ia dianggap kalah. Begitu pula apabila tidak mengena, yang melempar dinyatakan kalah, atau apabila lemparannya mengena, namun kedua gasi itu masih berputar, dan yang lebih dahulu berhenti berputar dinyatakan kalah. namun kadang-kadang putaran gasi itu dapat dibantu dengan cara memukulkan ujung tali yang diberi jumbai, menurut arah gasi berputar. Begitu mereka ganti berganti memperlihatkan keterampilan ketangkasan mereka sampai puas. Tempat permainan dilakukan dilapangan tanpa rumput dan dipilih tanah yang gak keras tanpa batas dan dilaksanakan pada petang hari. Dalam permaianan ini nilai sportivitas terpelihara, yang saling menghargai keunggulan, karena gasi yang dipakai besarnya dan bentuknya sama.

Persebarannya

Permainan gasi ini dahulu sangat digemari sehingga persebarannya meluas di Daerah Kaili. Hal ini dikarenakan bahan untuk membuat masih gampang ditemukan, dan orang-orang yang membuat khususnya laki-laki merata mengetahui membuatnya. Tapi sekarang hampir tak dikenal lagi oleh anak remaja khususnya yang berumur + 20 tahun kebawah, baik di kota maupun didesa. Hal ini karena masuknya permainan baru; akan tetapi tidaklah berarti bahwa tak ada lagi yang dapat membuat gasi tersebut.

Sumber: Perpustakaan Daerah Propinsi
Jl. Banteng No. 6 Palu Telp. (0451) 482490
 

Batik Bomba tandamata dari Palu
Ahdin, seorang pengrajin batik Bomba khas Kota Palu, hampir tidak pernah ketinggalan ikut meramaikan setiap pameran yang dilaksanakan di ibu kota provinsi Sulawesi Tengah dan luar daerah. Setiap momen pameran, Ahdin ...
Baca Selengkapnya...
Tenun Donggala
Banyak tokoh nasional hingga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pernah mengenakan kemeja terbuat kain tenun Donggala saat berkunjung ke Sulawesi Tengah. Itu membuktikan bahwa kain tradisional dari Kabupaten Donggala itu telah ...
Baca Selengkapnya...
Nelayan Tradisional
Siluet perahu nelayan di Tolitoli. Dalam foto sangat indah dilihat, tapi sebenarnya kondisi kehidupan nelayan di Tolitoli dan sebagian besar wilayah Sulteng merupakan ironi di balik citra Sulteng sebagai daerah ...
Baca Selengkapnya...
Raja Haji Awaluddin
Foto ini merupakan koleksi khusus yang saya dapatkan dari Mr. D.P Tick, beliau adalah pemerhati budaya nusantara yang berkewarganegaraan Belanda. Beliau juga pendiri lembaga Pusat Dokumentasi Kerajaan-Kerajaan di Indonesia “PUSAKA” ...
Baca Selengkapnya...
Beragam perlatan tari tradidional yang ada di Sulawesi tengah, lebih detail dalam uraian sebagai berikut:..... 14. Tali Bonto (pengikat) Bahan: Pelepah sagu atau pelepah enau dan kain serta manik-manik. Bentuk: Pipih dibentuk ...
Baca Selengkapnya...
Beragam perlatan tari tradidional yang ada di Sulawesi tengah, lebih detail dalam uraian sebagai berikut: 1. Vidu Bahan: Kelopak bambu yang berbuluh dan mengkilat yang dalam bahasa Kaili disebut Sayapu nuavo, batang ...
Baca Selengkapnya...
Bahan: Kulit pelepah enau. Tali yang dibuat dari kulit kayu. Bentuk: Pipih dan ada lubang yang berbentuk garpu tala ditengahnya. Ukurannya, panjang ± 15 cm, lebar ± 2 cm. Warna ...
Baca Selengkapnya...
Bahan: Bulu tuli dan rotan Bentuk: Berbentuk jepitan atau garpu tala sama seperti Paree. Warna: Coklat kekuning-kuningan (sama dengan warna bulu yang sudah tua). Cara pembuatan: Untuk membuat alat kesenian ini diperlukan buluh ...
Baca Selengkapnya...
Bahan: Bambu, kayu dan rotan. Bentuk: Bulat panjang. Warna: Sama seperti bambu yang kering (kekuning-kuningan). Tidak diketahui secara pasti, mengapa alat ini disebut tadilo, karena beberapa warga tidak mampu menjelaskan ...
Baca Selengkapnya...
Bahan: Bambu kayu dan rotan. Bentuk: Bulat panjang (bentuk bambu). Warna: Sama dengan warna bambu yang kering. Cara pembuatannya: Sebelum alat kesenian Santu ini dibuat terlebih dahulu memilih bambu yang berkualitas ...
Baca Selengkapnya...
Batik Bomba tandamata dari Palu
Tenun Donggala
Nelayan Tradisional
Raja Haji Awaluddin
Peralatan Tari Tradisional 2
Peralatan Tari Tradisional
Yori
Tulalo
T a d i l o
Santu

Copyright © 2012 TelukPalu.Com All rights reserved. Powered by Wordpress