Nobangan

Nobangan terdiri dari kata no dan banga. No sebagai kata awalan yang menunjukan kata kerja, sedangkan banga berarti (dalam bentukan kata nobanga) atau melakukan sesuatu pada permainan ini adalah, apabila melempar mengena pada benda (kemiri) sebagai yang dilempar (petaa) dan langsung keluar garis lingkaran, maka hal tersebut dinamakan banga (mobanga) sebagai suatu hasil pekerjana. Sedangkan arti kata lainnya banga adalah tempurung kelapa. Data tehnis. Alat permainan nobangan, terdiri dari 2 (dua) macam, masing-masing :

Potaa = yang dipasang untuk dilempar (kemiri) dengan jumlah yang banyak, paling kurang 10 biji kalau pemainnya hanya 2 (dua) orang. Kalau permainan empat sampai lima orang, biasanya 1 (satu) orang, masing-masing lima biji. Pataba = alat pelempar (kemiri) yang agak besar yang dihiasi dengan bulu ekor ayam jantan yang panjang dan beberapa helai bulu lainnya yang kecil dan pendek. Bahan-bahannya terdiri dari kemiri pataba, kemiri petaa bulu ayam, tima, sebangsa perekat (tarung njanese bahasa Kaili). Alat permainan ini berbentuk sama dengan biji kemiri yang dihiasi (dipasang) dengan bulu ayam jantan (lihat foto). Permainan nobanga ini, gambaran dari lambang kejantanan, khuusnya kemiri yang diberi umbai dengan bulu ekor ayam jantan, dan diberi nama pataba.

Cara membuatnya

Bahan yang dipakai dalam permainan ini, terlebih dahulu memilih kemiri-kemiri yang sedang kuat dan kelihatannya sudah kehitam-hitaman. khususnya pada pataba dipilih kemiri yang besar, urat-uratnya timbul, tebal kulitnya dan sudah tua, Bulu ayam yang bagus warna-warnanya, serta satu atau dua bulu ekor ayam jantan, yang berwarna-warna, panjang dan bagus pula lengkungnya serta agak lebar. Memilih taru njanense yang warnanya hitam yang baik dan kalau dipakai untuk membalut bulu ayam pada biji kemiri. Tima yang dipakai yakni tima putih dalam bentuk batangan yang dicairkan.

Cara pembuatan alat permaian ini disebut pataba. Mula-mula kemiri yang telah dipilih untuk pataba, dilubangi pada bagian atanya dengan pisau atau bor, diusahakan lubangnya agar tidak terlalu besar, kira-kira ujung tangkai bulu ekor ayam dan jantan dapat masuk. Seluruh isi kemiri dikeluarkan, sehingga ada rongga pada buah kemiri. Melalui lubang dimasukan bagian bawah bulu ekor ayam jantan, lalu ditereskan atau di masukan tima putih yang cair. Dengan demikianbuah kemiri menjadi bulat, disekitar bulu ayam jantan yang panjang itu, dipasang lagi bulu yang diambil pada bagian leher atau bagian punggung ayam. Bulu-Bulu ayam yang pendek itu, dibalut dengan tarujanese, sehingga untuk kemiri pataba, nampak indah sekali.

Pengrajin alat permainan ini sudah langka, karena tak pernah dibuat lagi, justru permainan ini hampir tak pernah lagi dijamah oleh anak-anak sekarang. Namun demikian bagi orang yang pernah terlibat dalam ingatannya cara membuat dan cara memainkannya. Permainan ini bertujuan hanya untuk mengisi waktu senggang sambil mengadu keterampilan. Dalam permainan ini, anak-anak dapat melatih dirinya baik perorangan maupun secara berkelompok untuk bersifat sportif, jujur terhadap teman-temanya. Memupuk perkembangan sosial anak untuk saling, mengenal dan menghargai keunggulan teman serta dapat menimbulkan rasa kebersamaan dalam kelompok. Tidak kalah pula fungsinya, adalah untuk melatih/ mendidik anak supaya trampil melempar atau mendidik sasaran dengan penuh perhitungan.

Cara memainkan

Sebelum dimulai, terlebih dahulu dibuat lapangan permainnya,(lihat gambar).
A. = Tempat membuang/ melempar pataba
B. = Tempat kemiri Pataa
C. – B. = + 6 – 10 , meter

Permainan ini adalah membuang pataba 6 (enam) orang, yang berusia 7 – 14 tahun, yang pada umunya diikuti oleh anak laki-laki, dan hanya sebagian kecil saja anak perempuan.

Tahap pertama permainan ini adalah membuang pataba sambil berdiri pada garis batas (A) menuju pada lingkaran yang berisi kemiri pataa (B). Laporan pertama adalah untuk menentukan titik batas, ketika akan melakukan lemparan selanjutnya.

Tahap kedua mengkur jarak pataba dengan garis pinggir lingkaran (B) yang diukur dengan sejengkal-jengkal, satu peserta tiap permainan. Siapa yang lebih jauh dari garis pinggir lingkaran maka dialah yang lebih dulu melempar kemiri potaa, dan seterusnya saling berganti.

Tahap ketiga, apabila orang pertama, melemparnya pengena dan potaa keluar dari lingkaran, maka yang keluar itu menjadi haknya, dan ia masih ada kesempatan untuk melempar lagi dari titik/ batas yang baru. sebaliknya pula, walaupun lemparannya mengena, tetapi tidak keluar dari lingkaran, maka ia diganti oleh pelempar berikutnya. Biasanya permainan habis satu putaran sebelum permainan mendapat giliran melempar, sebab ada anak yang sangat jitu lemparannya, dan potaa selalu keluar, sehingga ia berhak terus untuk melempar. Satu hal yang kusus dalam permainan ini yang dapat terjadi permainan berakhir dalam waktu yang sangat singkat sekali. hal tersebut dapat menjadi, apabila seorang anak melemparkan patabanya langsung mengena potaa dan keluar lingkaran, maka semua kemiri yang ada dalam lingkaran menjadi miliknya, permainan pun berakhir. Kejadian seperti itu disebut nobanga.

Persebarannya

Perkembangan dan perseberan permainan ini merata diseluruh Tanah Kaili, dan latar belakang sejarahnya tidak banyak diketahui. Hanya yang pasti, apabila musim kemiri berbuah maka permainan akan muncul. namun sampai sekarang, walau ada buah kemiri tidak ada lagi hasrat anak-anak untuk bermain, apalagi anak-anak yang telah mencapai umur 17 tahun sekarang ini tak mengenal lagi permainan tersebut.

Sumber: Perpustakaan Daerah Propinsi
Jl. Banteng No. 6 Palu Telp. (0451) 482490

Thony Irawanto

Assalamu'alaikum Wr, Wb. Terimakasih atas kunjungan Anda. Trimakasih pula atas kritik dan saran yang telah disampaikan, mohon maaf bila masukan dari Anda belum bisa saya wujudkan semua dalam situs ini. Wassalam, Wr, Wb.

You may also like...