Gimba

Alat kesenian gimba ini, pada Kecamatan lain di Kabupaten Donggala disebut pula gimba dan ada juga menamakan ganda-ganda tapi bentuknya lebih kecil. Tidak ada keterangan yang jelas karena tidak diketahui secara pasti apa arti sebenarnya dari gimba tersebut. Orang hanya mengetahui bahwa kebenaran nama itu, sejak mulanya bernama gimba. Jenis gimba bermacam-macam ada yang besar dan ada yang kecil masing-masing mempunyai fungsi tertentu.

Gimba : Gendang

Bahan: Kayu, kulit Anoa atau kulit sapi atau kulit kerbau dan rotan. Bentuk: Bulat panjang. Warna: Kekuning-kuningan.

Cara membuatnya

Terlebih dahulu memilih bahan-bahannya seperti memilih kayu uru atau kayu vonje (Bahasa Kaili) yang sudah tua dan lurus. Memilih kulit Anoa, atau sapi atau kulit kerbau yang baik, dan rotan bulat yang besarnya sedang serta rotan pipih. Apabila mengambil kayu uru atau vonje untuk alat ini, yang dipakai untuk gimba guna kepentingan upacaraatau untuk fungsi yang khusus, sebelumnya harus dibuatkan upacara. Dalam Upacara harus dibuatkan sesajen dan dibawah ke pohon kayu yang akan ditebang. Disamping sesajen yang telah disiapkan, juga dibacakan mantera-mantera (gane bahasa Kaili). Sesajen dimaksudkan untuk para penghuni hutan atau pemilik pohon tersebut, dan mantera itu sebagai permohonan izin untuk menebang kayu, yang diawali dengan salam selamat ketemu dan diakhiri dengan kata harapan agar penebang kayu dan seluruh pemakai tidak diganggu oleh pemiliknya.

Keadaan pengrajin alat kesenian gimba ini sudah kurang, dan pengrajinnya dapat membuat kalau ada pesanan. Jadi jelas alat ini tidak dipasarkan oleh pengrajinnya, dan dengan demikian pula akan dikhwatirkan cara pembuatan gimba ini akan punah, dan juga karena banyaknya gendang buatan baru sekarang ini. Kayu uru atau vonje yang telah dipotong dengan ukuran panjang ± 75 cm dan garis tengah ± 30 cm (ukuran sesuai pada gambar, gimba yang sudah tua), dikeluarkan kulitnya. Pada bagian tengahnya (terasnya) dilubangi dengan alat dari besi (parang, kapak, pahat) sehingga berlubang. Tebal pinggir keliling dari kayu yang tidak dilubangi ± 2 cm. Selesai dilubang, dijemur dipanas matahari, dan didalam lubangnya dipasang beberapa potong kayu sebagai penyangga agar tidak berlekuk-lekuk, bila kena panas. Kulit anoa, atau kulit sapi dan sebagainya dijemur sampai kering, lalu dibentuk sesuai dengan lubang kayunya, dan agak lebar, sehingga pinggirnya dapat digulung dengan rotan bulat dan diikat dengan rotan. Tetapi ada pula cara lain, yakni kulit anoa atau sapi yang masih dalam keadaan mentah, langsung dipasang pada mulut lubang, diikat dengan rotan sampai kering kulitnya.

Bulu-bulu hewan banyak dikemas sampai habis. Rotan bulat, rotan pipih dan kayu untuk pasak dan kulit yang telah kering serta kayu sudah kering dan yang telah licin, maka pembuatan dapat dimulai. Kulit anoa atau sapi yang telah dibentuk dipasang pada lubang dan pinggirnya terkulai pada sisi kayunya. Pada pinggir bagian atas dilihat dengan rotan pipih (dianyam), sehingga kulit menjadi tegang. Bagian ujung kulit itu digulung dengan rotan bulat, dan sekeliling gulungan itu diikat dengan rotan lalu ujung rotan diikat pada rotan bulat yang dilingkarkan pada sekeliling kayu. Ikatan tersebut dimaksudkan untuk lebih menguatkan dan menegangkan kulit. Apabila kulit masih belum tegang maka rotan bulat bagian bawah dipasangkan pasak dengan arah atas kebawah, dan bentuk pasak yang kecil ujungnya kebawah. Rotan pengikat dari pinggir kulit ke rotan bulat yang besar pada bagian bawah dianyam seperti tali. Kemudian tali (rotan) pada kedua kulit ditiap ujung itu tidak berlubang (lihat gambar).

Fungsinya

Pada awal alat ini, dikenal dengan beberapa fungsinya gimba yang difoto pada penelitian ini adalah gimba yang disimpan pada Baruga didesa Rogo Kecamatan Dolo, Kabupaten Donggala.

Fungsi gimba pada umumnya adalah bila dipukul (dibunyikan) untuk menyatakansebagai pemberitahuan atau sebagai berita perang, duka, kebakaran dan lain-lain, sehingga tidak sembarang dipukul, dan dianggap keramat. Gimba yang lebih kecil biasa disebut ganda-ganda biasa dipakai 2 (dua) buah bersama dengan alat kesenian lainnya seperti lalove.

Singkatnya alat ini dipakai untuk mengiringi tari-tarian pada Upacara Balia, dan sering pula alat kesenian ini dipakai kalau ada pertandingan atau latihan pencak silat. Bersama lalove alat dibunyikan sebelum orang menari, dan dalam waktu singkat maka para penari akan kemasukan roh. Apabila alat ini dibunyikan bersama alat lalove, orang-orang yang biasa kemasukan roh, seperti tertarik untuk menari dan secara tidak sengaja orang itu akan kemasukan dengan sendirinya, dan khususnya untuk para pesilat ganda-ganda ini dibunyikan bersama gong, dan para pesilat bila berada ditempat itu secara spontan akan turut bermain. Disamping ganda-ganda ini dimainkan bersama alat gong, lalove, maka alat ini berfungsi pula mengiringi alat kesenian kakula, yang biasa dipakai pada pesta perkawinan.

Cara Memainkan

Alat kesenian ini dimainkan dalam posisi duduk, dan kedua belah tangan memukul pada kedua bagian sisinya. Kadang-kadang pula dipukul dengan menggunakan kayu atau rotan bulat kecil yang dilengkungkan sedikit yang memainkannya cukup hanya satu orang, dan dimainkan dalam upacara balia, pengantin dan pencak silat. Kedua tangan yang memukul saling berbalasan dan berbalasan dan bervariasi yang menimbulkan suar berirama sesuai dengan irama tarian. Pukulan pada alat ini apabila dipakai pada Upacara Balia bermacam-macam antara lain: Kancara Dendem paku, Sarandayo.

Dengan demikian pemegang alat ini harus mampu memainkannya dengan beberapa macam pukulan dan dapat mengiringi alat lalove, sebab apabila salah pukul maka pemain akan salah langkah dan mengakibatkan penari yang sudah kemasukan menjadi marah, tidak jarang pula penarinya akan jatuh terkulai. Begitu pula halnya dengan gimba, masing-masing mempunyai arti pukulan (dipukul dengan kayu), misalnya memukul untuk memanggil orang, dan pukulan yang menandai adanya bahaya berbeda satu dengan yang lain.

Persebaran

Alat kesenian ini pada mulanya, dikenal oleh semua orang khususnya di pedesaan, karena alat ini tersebar dimana-mana untuk dipakai pada Upacara Balia, khususnya untuk pengobatan orang-orang yang sakit. Gima atau ganda-ganda masa kini masih tersebar sesuai perkembangan zaman, telah banyak dipakai pada tarian dikreasi, dan dipakai pada musik lainnya.

Sumber: Perpustakaan Daerah Propinsi
Jl. Banteng No. 6 Palu Telp. (0451) 482490

 

Copyright © 2014 TelukPalu.Com All rights reserved. Powered by Wordpress