-
451 views, 1 so far today
Kacapi
- Sunday, March 2, 2008, 19:51
- Alat Seni Tradisional
- Add a comment
Tujuan Upacara tersebut ialah:
Bahan : Kayu dan kawat baja yang kecil.
Bentuk : Seperti perahu
Warna : Sesuai nama kayunya, yang kelamaan berwarna hitam.
Cara pembuatannya
Sebelum pembuatan kacapi dibuat terlebih dahulu menentukan dan memilih bahannya. Bahan untuk alat kacapi ini dibuat dari kayu nangka dan dapat pula dari kayu lengaru (bahasa Kaili). Kayu atau bahannya terlebih dahulu dipilih bagian kayu yang telah tua lurus dan dipotong sepanjang ± 125 – 150 cm. Kayu yang masih bulat itu dibelah dan dibentuk setebal ± 15 cm, kemudian dikeringkan, dan cukup hanya dianginkan saja. Kayu yang setebal (tinggi) ± 15 cm dan lebar ± 20 cm, dibentuk lagi dengan cara: Kira-kira 75 cm dibentuk agak pipih dengan lebar pangkal + 13 cm dan kian ke ujung kian kecil sehingga lebar ujungnya ±7 cm. Bagian yang panjangnya + 75 cm, pada ujungnya dibuat seperti ekornya dengan ± 6 cm, dan bagian kiri kanan dikeluarkan dan bagian tengahnya dengan garis tengah ± 22 cm dari ekor kacapi, dan dibuat lubangditengah-tengah yang tembus ke bawah.
Pada jarak ±55 cm dari tiang bundar dibuat lagi sebanyak 5 tiang yang bergandengan dengan garis tengah ± 2 1/2 cm dengan jarak tiang masing-masing ± 5 cm. Dibagian belakang atau bawah dari badan kacapi yang berbentuk bundar telur dibuat rongga (digali) sepanjang badan kecapi tersebut. Selesai dibuat rongga, lalu ditutup lagi dengan papan tipis yang juga dibuat dari kayu nangka dengan cara dilem atau dipaku papan tipis penutup itu diberi lubang sebanyak 3 lubang. Pada bagian leher yang melengkung ke atas berbentuk tiang dibuat lubang tembus tempat masuknya tali yang dihubungkan dengan kayu pemutar.
Tiang bulat pada bagian badan kecapi diikat dengan kawat yang ditarik kebelakang agar tidak miring bila tali kecapi dikencangka. Dibagian ujung leher masih ada bagian papa tipis sepanjang ± 30 cm, dan pada sisi sebelah-menyebelah dipasang kayu pemutar tali, yang melekat pada lubang. Pemasangan tali kecapi dilakukan dengan cara mengikatkan ujung tali di dalam lubang pada tiang bulat, kemudian ditarik, dimasukkan pada lubang dibagian leher, ujungnya diputar/ dililitkan pada kayu pemutarnya (seperti mengencangkan tali gitar).
Fungsi
Alat kesenian kacapi ini berfungsi untuk mengiringi nyanyian, khususnya nyanyian yang bersyair panjang disebut Dadendate artinya nyanyian panjang yang mempunyai ciri khas. Kecapi ini adalah alat hiburan, baik untuk diri sendiri (petik sendiri dan nyanyi sendiri) maupun bersama teman-teman. Apabila seseorang memiliki/ menyimpan kecapi ini, itu berarti dia pandai bermain kecapi dan pandai membawakan lagu dadendate.
Cara memainkannya
Alat ini dimainkan oleh oarang tua dan dewasa laki-laki. Dimainkan pada waktu senggang sebagai pelipur lara, atau pada upacara selamatan penghibur orang dengan membawakan syair-syair dadendate, yang dapat membalas syair antara remaja pria wanita. Cara memainkannya sama dengan memainkan gambu atau hitar dalam posisi berdiri atau duduk diatas kursi. Sebelum syair-syair dilagukan, terlebih dahulu membunyikan alatini tidak memakai kuku ibu jari sebagai pemetiknya, tetapi menggunakan sepotong rotan yang digenggam oleh atau dijepit oleh ibu jari telunjuk. Jari-jari tangan kiri berfungsi menekan talinya berpindah-pindah pada tempat yang berbentuk tiang berjumlah 5 buah, yang dpat menghasilkan berbagai bunyi. Tidak kelihatah secara nyata pakaian yang harus dipakai oleh pemainnya, kecuali pakai kopiah hitam. Akhir-akhir ini alat kesenian dimainkan bersama-sama dengan alat lainnya seperti, gendang, banggula, mbasi-mbasi (sebangsa suling), dan tampido yang mengiringi lagu-lagu Daerah Tanah Kaili pada pergelaran-pergelaran.
Persebarannya
Persebarannya alat ini, nampaknya bersifat intra kelompok dan antar masyarakat ataupun dari komunitas yang satu kepada masyarakat lainya. Apabila ditinjau dari sisi geografi persebaran alat ini, dapat diambil suatu analisa singkat, bahwa awal persebarannya, pada sepanjang pantai. Pantai ditanah Kaili adalah sebagai tempat-tempat lalu lintas perdagangan, tempat orang dari luar bermukim sambil meluas ke daratan luas ke kaki gunung. Bilamana hal ini benar, berarti telah terjadi suatu difusi, atau proses persebaran unsur-unsur kebudayaan dari berbagai suku bangsa. Alat kesenian bila diinterprestasikan, diidentifikasikan bentuknya mirip sebagai perahu, sebagai perahu, sebagai salah satu alat komunikasi di air.
Sumber: Perpustakaan Daerah Propinsi
Jl. Banteng No. 6 Palu Telp. (0451) 482490
Inti upacara nopamada ialah mengajarkan/mengingatkan atau menuntun orang yang sekarat itu dengan suatu petunjuk atau isyarat tertentu, yang dipercayai sebagai suatu cara yang membuka jalan lempang, agar roh dapat ke luar dengan tenang dari dalam tubuh pada saat menghembuskan napas terakhir.
Ajaran tersebut biasa disebut “jalan nggamatea” (jalan menuju kematian), yang isinya mempelajari tanda-tanda akan datangnya ajal dan jalan yang ditempuh oleh roh seseorang, pada saat menghembuskan napas terakhir menuju alam baka. Ajaran ini diperoleh melalui tarikat dengan guru-guru agama, yang biasanya diajarkan kepada seseorang dalam kelambu, dengan sangat rahasia. Pengetahuan tersebut tidak diajarkan kepada sembarang orang melainkan hanya kepada orang-orang tertentu saja, karena mereka yang dianggap ahli dan bertugas mengajar orang-orang yang sedang dalam keadaan sakarat tersebut.
Waktu upacara
Upacara ini dilakukan pada waktu seseorang sedang sekarat (Rilara nuadanga) atau pada saat-saat seseorang sedang gelisah, atau menunjukkan gejala-gejala yang sangat menderita kesakitan, apalagi keadaan yang demikian itu diderita dalam waktu yang agak lama. Tanda-tanda seorang yang sakarat tersebut, disebut nantapasaka; Melepaskan kebiasaan-kebiasaan yang pernah dilaksanakannya selama hidupnya apakah itu yang baik atau yang buruk, sehingga memberikan tuntutan atau bimbingan dari anggota keluarga atau yang dianggap ahli dalam bidang itu secara bergantian. Acara ini disebut mopotuntuaka ritalinga (membisikkan sesuatu pengajaran dengan mendekatkan mulut di telinga orang yang sedang sakarat tersebut).Penyetenggara teknis. Pelaksana teknis upacara ini, dahulu di lakukan oleh dukun (sando) dengan membaca mantra (mogane), sambil meremaskan bagian kepala dengan air, yang telah diflup oleh dukun dengan mantra-mantra tertentu, clan anggota keluarga menyaksikan dengan tenang.
Dewasa ini upacara tersebut dilakukan oleh peranan agama. Dalam keadaan seseorang rilara nuadanga diadakan pengajian AI-Qur’an (surat Yasin) dari salah seorang anggota yang hadir, yang dianggap memiliki suara yang fasih dan lagu yang baik. Yang bertugas mengajarkan/membisikkan ajaran kepada orang yang sakarat tersebut adalah keluarga yang terdekat, yang dianggap guru atau pegawai syara yang diundang untuk itu.
Kalimat yang dibisikkan ke telinga (nipotuntuaka ritalinga) adalah kalimat Tauhid yaitu Laa ilaha illallah. Siapa yang mampu mengucapkan kalimat tauhid tersebut, dipercayai bahwa orang yang meninggal tersebut pasti masuk Surga.
Pihak-pihak yang terlibat
Pihak-pihak yang terlibat dalam upacara ini adalah seluruh anggota keluarga terdekat/tetangga. Tugas mereka selain datang saling minta maaf dan turut mendoakan, juga memanggil keluarga-keluarga yang agak jauh, yang memungkinkan dapat hadir menyaksikan situasi yang sedang gawat atau menanti saat-saat menghembuskan napas yang terakhir. Di samping mengundang ketua dewan adat/guru/pegawai syara dan sebagainya sebagai petugas teknis.
Jalannya Upacara
Jalannya upacara Nopamada, dapat dibagi dua yaitu:
- Pada saat sakaratul maut (rilara nuadanga).
- Pada saat setelah menghembuskan napas terakhir.
Pada tahap pertama, upacara yang berlangsung ialah:
- Nopotuntuaka ritalinga (membisik/menyampaikan kalimat Tauhid). Bila masa sakarat itu agak lama dan sulit mengucapkan, maka orang-orang secara bergilir atau bergantian melaksanakan tugas tersebut.
- Membaca AI-Qur’an Surat Yasin sepanjang saat/waktu seseorang dalam keadaan sakarat (rilara nuadanga).
Tahap kedua ialah saat seseorang telah menghembuskan napas terakhir, maka letak tubuhnya diperbaiki dalam keadaan terlentang, mulut yang terbuka dikatupkan, dan mata yang membelalak ditutup serta kedua tangannya diletakkan di atas dadanya. Bila anggota tubuhnya agak kaku/kejang diatur dalam posisi seperti tersebut, maka untuk itu dipakai minyak kelapa dicampur dengan sikuri-kuri (kencur) untuk melemaskan anggota tubuh si mati. Rasa kepuasan dan kebahagiaan anggota keluarga tergambar mewarnai ketenangan menghadapi musibah tersebut apabila orang yang meninggal sempat mengucapkan kalimat tauhid tersebut baik karena diberi tuntunan atau tidak, serta dalam keadaan posisi badan tertentang, mata terpejam dan kedua tangannya telah diletakkan di atas dadanya secara sempurna. Suatu kondisi ideal bagi seorang yang dianggap selamat menghadap Tuhannya. Suatu simbol dari pribadi orang-orang yang baik amainya dan menjadi kebanggan keluarganya.
Upacara nopamada hingga dewasa ini masih berlaku, baik bagi keluarga raja atau bangsawan maupun anggota masyarakat biasa. Pantangan-pantangan selama upacara nopamada tersebut ialah:
- Seluruh anggota keluarga yang hadir, dilarang menangis dan berbicara keras. Maksudnya agar tahu rilara nuadanga tidak terganggu, dan dapat menghembuskan napas terakhir dengan tenang tanpa merasa kesakitan.
- Dilarang berjalan menghentakkan kaki dalam rumah, karena mengganggu konsentrasi atau mempersulit seseorang menghembuskan napasnya yang terakhir. Hal tersebut dianggap sebagai suatu penyiksaan.
Sumber: Perpustakaan Daerah Propinsi
Jl. Banteng No. 6 Palu Telp. (0451) 482490
-
451 views, 1 so far today




