-
460 views, 1 so far today
Marawasi
- Sunday, March 2, 2008, 19:53
- Alat Seni Tradisional
- Add a comment
Bahan: Kayu, kulit kambing, rotan. Bentuk: Seperti gambar (bulat panjang). Warna: Kayunya agak abu-abu, kulit kambing kekuning-kuningan. Kata marawasi sebenarnya sebenarnya berasal dari marwas seperti yang dikenal oleh banyak orang, tetapi bahasa orang di Tanah Kaili yang sifatnya vokalis maka nama alat marwas, disebut menjadi marwasi.
Cara membuatnya
Terlebih dahulu memilih bahan, yaitu dicari kayu bulat yang tengahnya berlubang yakni kayu vanau (bahasa Kaili) atau kayu nangka yang dipotong dengan panjang dan lebarnya (garis tengahnya) ± 15 cm. Memilih kulit kambing yang telah dikeringkan dan rotan bulat dan pilih jenis rotan sogisi (lohiti). Kayu vanau yang telah dipotong tadi dilicinkan dengan parang pada bagia luar dan bagian dalamnya, dan pada bagian tengahnya dilubangi dengan garis tengah ± 1 cm, yang dapat mengatur suara. Kalau kayu nangka yang dipakai maka kayu nangka dipotong setelah dilicinkan kemudian dilubangi ditengahnya dengan parang atau pahat. Rotan yang bulat dilicinkan dengan ukuran panjang sama lingkaran kayunya, dan rotan yang pipih juga diraut dengan panjang sesuai kebutuhan. Pertama-tama kulit kambing yang telah dikeringkan dibentuk bundar dengan pisau yang ditukar lebih sedikit dari lingkaran bagian lubang kayu (ditutupkan pada bagian lubang kayu) sebelah menyebelah.
Bulu-bulu kambing pada bagian tengah dikuras habis. Pada pinggir keliling kulit kambing yang telah dibentuk tadi digulung pada rotan bulat dan dipasang pada ujung kayu yang berlubang. Untuk menguatkan gulungan kulit pada rotan bulat tadi maka sekelilingnya dilubang dan dimasukkan dan disimpul dengan rotan pipih yang sudah diraut tadi. Rotan pipih tadi diikat/ disimpul pada kulit dan rotan dengan ujung lainnya. Dengan demikian rotan yang pipih ditarik bersilang sehingga kedua kulit pada ujungnya aling tarik menarik mengencangkan kulit-kulitnya. Kemudian pada bagian tengah kayunya diantara ikatan rotan yang disilang itu dikatakan pula rotan yang telah diraut halus seperti tali yang berfungsi sebagai tempat pegangan (khuusnya untuk ibu jari).
Akhir-akhir ini telah berkembang pembuatannya, yakni rotan pipih yang dipakai untuk mengencangkan kulit, kini dipakai tali plastik. Untuk mengambil dan memilih bahan-bahan untuk alat kesenian, tidak ada dibuatkan upacara-upacara. Keadaan pengrajuinnya masih ada dan tetap masih membuatnya, tetapi pembuatannya dilaksanakan setelah ada pesanan. Dan dengan meningkatnya kegiatan tari jepeng maka ada pula peningkatan pameran kepada pengrajinnya. Dibalik itu ada satu hal menghambat, yakni dengan dikreasikannya tari jepeng yang dikenal dan dimainkan oleh orang lain, seperti gendang misalnya yang juga tetap menggunakan irama jepeng.
Fungsi
Alat kesenian marawasi ini berfungsi sebagai alat pengiring tari jepeng, bersama-sama dengan alat kesenian lainnya seperti gambus, dan biola (viol). Nama bunyi dari alat ini sangat menentukan bagi irama/ langkah dari para penari. Alat ini bila dimainkan sebagai pengiring 2 (dua) sampai 4 (empat) buah. Para pemegangnya harus pandai menyusuaikan dengan para pemain lainnya. Oleh karena itu pemain (pemegang alat) ini harus kompak antara mereka, dan juga dengan pemegang alat lainnya, serta pesan yang berhubungan syair agama islam.
Cara memainkan
Alat kesenian ini dimainkan dalam posisi duduk berila di atas kursi. pakaian para pemain ialah sarung kemeja lengan panjang (kadang pakai jas), dan kopiah hitam. Sebelum memainkannya tali yang dipasang pada bagian tengah dimasukkan ibu jari, lalu alat ini diputar-putar sehingga erat sekali pada ibu jari. Tangan lainnya (jari tangan) yang meukul-mukul pada bagian kulit yang direntangkan pada salah satu sisi, setelah syair diucapkan oleh pemegang gambus. Ibu jari tangan diputar pada tali dan tampaknya menadah (setengah menggenggam), dan biasanya digerakkan ke atas dan ke bawah, mengikuti irama pukulan. Lubang kecil yang berada di tengah berdekatan dengan tali pegangan berfungsi sebagai pengubah suara apabila tidak ditutup suaranya lembut dan apabila ditutup dengan ibu jari suaranya keras. Pukulan dengan ujung jari-jari tangah 4 (empat) jari suaranya keras, lubang ditutup, dan apabila dipukul hanya dengan 1 (satu) jari suaranya lembut karena lubangnya ditutup. Alat kesenian ini dipakai bersama dengan alat kesenian lainnya yakni gambus dan biola/viol, dan dimainkan untuk mengiringi tari jepeng, yang dilaksanakan pada malam hari bila pesta kawin atau pesta syukuran. Pemegang alat kesenian ialah para orang tua laki, tapi dalam perkembangannya sekarang ini telah banyak para remaja untuk memainkannya.
Persebaran
Menurut para informan bahwa tari jepeng yang diiringi oleh marawasi ini, pada mulanya berkembang seiring dengan perkembangan agama islam di Tanah Kaili, sebagai salah satu media syair agama islam. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan banyaknya syair tang dilagukan oleh pemain gambus berisikan nasehat-nasehat yang sesuai dengan ajaran agama islam. Pesebarannya meluas ke seluruh daerah Sulawesi Tengah, khususnya di Tanah Kaili, jauh menyusup ke desa-desa utamanya penduduknya banyak beraga Islam.
Sumber: Perpustakaan Daerah Propinsi
Jl. Banteng No. 6 Palu Telp. (0451) 482490
-
460 views, 1 so far today




