< Browse > Home / Alat Seni Tradisional / Blog article: Mbasi-Mbasi

| Mobile | RSS

Mbasi-Mbasi

March 2nd, 2008 19:53 | No Comments | Posted in Alat Seni Tradisional

Bahan: Buluh Tuli dan rotan. Bentuk: Bulat panjang seperti suling. Warna: Coklat kekuning-kuningan

Cara Pembuatan: Sebelum membuat alat kesenian ini, terlebih dahulu pemilihan bahannya, yakni buluh tui yang tua dan lurus. Dipotong-potong sepanjang ± 30 cm dengan garis tengah ± 1 – 1 1/2 cm. Tidak ada upacara waktu mengambil buluh. Buluh yang telah dipotong tadi, pada ujung yang ada bukunya disayat sehingga ada lubang sayatan yang tembus dengan rongga buluh. Pada ujung sayatan dibulat atau dililit dengan rotan yang dianyam, dan ujung rotan yang dianyam di lilit lagi pada bagian bawah dari lilitan pertama. Ssisi yang bertolak belakang dengan lubang sayatan, di buat lubang yang bersusun sejumlah 6 (enam) atau 5 (lima). Aturan sayatan dan lilitan rotan ada lubang sebagai saluran udara yang ditiupkan dari mulut. Jarak antara lubang yang enam ± 2 cm, dan jarak lubang-lubnag itu dari ujung peniupnya ± 15 cm. Keadaan pengrajinnya sudah kurang, mungkin karena peminatnya tidak banyak lagi, sehingga tidak ada pemasaran bagi alat kesenian tersebut.

Fungsi

Alat kesenian ini berfungsi sebagai alat hiburan yang dapat dimainkan bersama dengan alat kesenian lain seperti gendang, kecapi, paree dan lain-lain. Dikala berkumpul dan bergembira bersama bagi orang muda merupakan hal yang sangat menyenangkan karena dapat bertemu, bermain bersama dengan remaja lainnya. Alat ini bukan hanya dipakai bermain bersama-ama, tetapi dapat pula dimainkan sendiri, sebagai perintang waktu senggang, dan sebagai kesenangan terhadap diri yang memainkan dan orang lain yang mendengarkannya. Disamping itu dapat pula berfungsi untuk saling mempererat hubungan antara kelompok, keluarga dalam pergaulan sehari-hari dalam berkomunikasi dan saling memberi informasi. Apabila alat ini dimainkan bersama dengan kecapi yang mengiringi lagu yang disebut dadendate maka kesempatan ini digunakan para remaja untuk berbalas lagu yang mempererat hubungan, ataupun saling nasehati, dan saling berpesan satu dengan yang lain.

Cara memainkan

Cara memainkan alat ini sama seperti lalove yakni, pada ujung peniup diletakkan di binir dan jari tangan kanan dan kiri masing-masing jari telunjuk dan jari tengah serta jari manis menutup lubang-lubangnya, sedangkan kedua ibu jari berfungsi sebagai penahan pada bagian bawah. Udara dari mulut ditiup melalui lubang sayatan kecil, dan pada saat ini jari mulai memegang peranan untuk mengatur irama lagu. Alat ini dapat dimainkan dalam posisi duduk berdiri, sedang berjalan, dan bahkan dalam keadaan tidur-tiduran (berbaring) yang memainkan alat kesenian ini adalah orang tua, remaja, dan kadang-kadang mengiringi vokal yang dibawaka oleh remaja putra-putri khususnya mengiringi lagu dadendate bersama alat lainnya yakni kecapi dan lain-lain.

Persebaran

Sejak awal adanya alat kesenian ini persebarannya tidak terlalu menonjol, sebab bukan merupakan alat pelengkap pada suatu upacara. Berarti tidak mutlak harus ada pada salah satu kelompok sosial, tapi dimiliki oleh pribadi saja. Namun pada akhir-akhir ini kelihatan tanda-tanda akan berkembangnya alat kesenian ini di beberapa Kecamatan utamanya Kecamatan Sindue Kabupaten Donggala yang berusaha untuk melestarikannya. Usaha untuk melestarikan alat kesenian ini dibuktikan dengn terbentuknya beberapa organisasi atau grup musik tradisional. Hal ini memungkinkan timbulnya rasa cinta bagi remaja terhadap musik tradisional. Dengan demikian para pengrajin akan bangkit kembali menjamah keterampilan untuk membuat alat kesenin ini.

Sumber: Perpustakaan Daerah Propinsi
Jl. Banteng No. 6 Palu Telp. (0451) 482490

Leave a Reply 92 views, 1 so far today |

Artikel Terkait:

  • No Related Post

Leave a Reply


perahu_diving3perahu_diving2ru_000056ru_000016