Rabana

Bahan: Kayu, kulit, rotan bulat, paku. Warna: Coklat kekuning-kuningan. Rabana adalah sama dengan Rebana, sebab bila melihat bentuknya dan cara memainkannya sama. Vokal “e” pada kata rebana oleh orang di Tanah Kaili disuarakan/ dibunyikan dengan “a”, hal ini terjadi sebab walaupun bahasa Kaili bersifat Vokalis, namun bunyi “e” agak kurang digunakan, kecuali bunyi “e” pada kata ledo, nemo atau dalam bahasa Indonesia kata nenek Sepeda. Hal itulah yang menyebabkan kata rebana disebut oleh orang di Tanah Kaili menjadi rabana.

Cara Membuat

Awal pekerjaan dimulai dengan memilih bahan untuk pembuatannya, yakni, mencari kayu nangka (ganaga dalam bahasa kaili) atau kayu langaru (bahasa Kaili) yang bulat, dan sudah tua. Kulit kambing yang baik mutunya tidak terlalu tebal dan tidak pula terlalu tipis. Kemudian memilih rotan sogisi yang bulat kecil bergaris tengah 1/2 – 1 cm dan beberpa paku. Kayu nangka atai lengari yang telah dipilih dipotong-potong sesuai ukuran, panjang ± 10 cm dan garis tengahnya sesuai garis tengah kayunya ± 30 cm. Kayu yang telah dipotong itu dilicinkan dengan parang, lalu dibentuk (lihat foto) dan pada bagian tengah dilubang dengan pahat atau alat tajam lainnya. Tebal pinggiran kayu sekelilingnya (dindingnya) ± 2 cm – 3 cm. Lubang yang telah selesai tadi diperhalus lagi dengan ujung parang yang tajam sampai licin. Kayu yang telah dibentuk dikeringkan dibawah kolong rumah atau dugantung didalam rumah. Jelasnya kayu itu hanya di anginkan dan bukan dijemur dipanas matahari. Sebab baik dipanas matahari, kayunya akan pecah-pecah atau retak-retak.

Perbandingan kedua lubangnya ± 6 : 5. Pada bagian yang lebar dipasang kulit. Kulit kambing yang kering dan telah dikuras bulunya dibentuk dengan cara digunting atau diiris dengan pisau tajam sesuai bentuk lubang yang besar dari kayu yang telah dilicinkan. Kulit direntangkan, pada bagian lubang lalu ditarik-tarik dan pada bagian ujung kulit yang silipat, sekelilingnya dibalut dengan seng atau kulit lainnya, dan kemudian dipaku. Seng atau kulit (bahan lainnya) sebagai pembalut yang dipaku bersama pinggir kulit yang direntangkan, dimaksudkan agar kulitnya tidak sobek.

Apabila kulit itu kurang tegang, dan bunyinya kurang nyaring, maka dipasanglah rotan bundar dari bagian dalam yakni antara kulit dan pinggir kayunya. Memasukan rotan diantara kulit dan kayu, dengan cara menekan rotan itu dengan ibu jari tangan secara paksa. Dengan demikian rentangan kulit itu menjadi tegang, dan bilamana dipukul bunyinya lebih nyaring lagi. Pengrajin alat kesenian ini sampai sekarang masih tetap ada, namun pemasarannya masih sangat kurang. Hal ini disebabkan para pengrajinnya hampir ada disetiap desa, dan juga pemakaian alat ini hanya pada sewaktu-waktu saja.

Para pengrajinnya membuat alat ini, bilamana ada pesanan dari group-group rabana. Jelaslah bahwa para pengrajinnya tidak semata-mata mengharapkan hasil dari pembuatan alat tersebut. Jikalau mereka harus pasarkan, berarti akan ada persaingan dengan rabana yang kini banyak dijual di toko-toko untuk keperluan musik lainnya seperti seni sambra dan Kasidah, yang sangat banyak penggemarnya, utamanya anak-anak dan remaja perempuan. Sedangkan rabana pada tulisan ini hanya khusus dipakai pada pesta perkawinan (mengantar pengantin lelaki kerumah pengantin perempuan), dan dipakai para perayaan Maulid dirumah-rumah pribadi, yang kebanyakan dimainkan oleh orang tua.

Fungsi

Alat ini berfungsi sebagai hiburan musik pada waktu Maulid Nabi Muhammad SAW dan pada waktu mengantar pengantin lelaki bersama-sama dengan sanak saudara dan handai tolan, yang diiringi dengan syair-syair yang indah. Bilamana bunyi rabana terdengar, orang menafsirkan bahwa ditempat itu ada pengantin atau ada peringatan Maulid. Kalau pada pesta pengantin, dari jauh sudah kedengaran musiknya, orang-orang dirumah pengantin perempuan bersiap pula untuk menyambut kedatangan pengantin dengan membunyikan alat kesenian yang namanay kakula. Dan disaat-saat itulah pengantin perempuan menanti dengan hati berdebar-debar. Ada syair yang dipakai orang di Tanah Kaili tentang rabana ini yakni : “du du nurabana, radu-radu nubambara” terjemahnya Bunyi (du….du) rabana, dada berdebar-debar. Jadi ada hubungan antara bunyi rebana dan sang gadis si calon instri. Kalau didengar syair-syair yang dibawakan oleh para pemain kebanyakan dan bahkan hampir seluruhnya memakai Bahasa Arab, pada waktu Maulid misalnya di Sulawesi Tengah khususnya di Tanah Kaili agama Islam masuk pada abad ke 17, sehingga orang mengatakan bahwa seni rabana adalah seni untuk orang Islam.

Cara Memainkan

Para pemain adalah orang tua laki-laki dan dimainkan dalam satu group dengan anggota 9 – 10 orang, permainan rabana ini dimainkan pada kesempatan peringatan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW, dan pada saat mengantar pengantin lelaki menuju pengantin perempuan. Para pemain rabana ini memakai sarung Bomba (Sarung Donggala), kemeja lengan panjang dan memakai kopiah hitam. Permainan alat ini dimainkan dalam posisi berdiri, tetapi kalau sedang mengantar pengantin dilaksanakan berjalan. Pada waktu berjalan posisi bermain biasa menyamping atau sekali-sekali mundur menghadap pengantin. Sebelum memainkannya terlebih dahulu salah seorang pemain mengucapkan syair dan para permainan mulai memukul rebananya. Kadang-kadang pula dimainkan dalam posisi duduk dan membnetuk lingkaran.

Persebaran

Banyak orang berpendapat bahwa masuknya permainan musik rebana ini, dibawah oleh orang-orang, pengemban agama Islam. Sehingga pada waktu menyebarkan agama Islam, bersatu dan menyatulah permainan rebana dalam masyarakat. Pembawa syair agama Islam yang banyak mengajarkan permainan ini banyak dipengaruhi oleh unsur budaya dari sumber agama Islam. Pengaruh unsur budaya itu berupa syair-syair lagu yang berbahasa Arab dan berisikan nasehat, petuah, ajaran, yang banyak hubungannya dengan ajaran agama Islam. Dan kelompok pembawa syair agama Islam ini akhirnya menyebar kepada kelompok sosial lainnya, lewat orang yang pernah belajar, dan akhirnya mengajarkan lagi kepada anggota komunitasnya.

Demikianlah pesebaran itu terjadi diantara kelompok itu sendiri dan diantara kelompok atau desa yang sepaham kelompoknya. Sampai sekarang ini permainan rabana ini masih tetap digemari oleh orang-orang khususnya orang-orang tua dan oleh angkatan muda sekarang menganggap kesenian itu adalah kesenian tradisional. Beberapa narsumber mengatakan bahwa pernah suatu ketika permainan rabana ini mengalami masa pause, yakni sekitar tahun 1960 – tahun 1975. Hal tersebut mungkin karena banyaknya pengaruh alat kesenian mutahir yang sangat digemari oleh masyarakat. akan tetapi setelah tahun 1975 kembali lagi alat dimainkan dan awal-awal tahun 1986 kian digalakkan, malah pernah dilaksanakan secara masal pada waktu setiap pembukaan Musabbaqah Tilawatil Qur’an Tkt II Daerah Kabupaten Donggala.

Sumber: Perpustakaan Daerah Propinsi
Jl. Banteng No. 6 Palu Telp. (0451) 482490

Copyright © 2014 TelukPalu.Com All rights reserved. Powered by Wordpress