-
537 views, 1 so far today
T a d i l o
- Sunday, March 2, 2008, 19:56
- Alat Seni Tradisional
- Add a comment
Bahan: Bambu, kayu dan rotan. Bentuk: Bulat panjang. Warna: Sama seperti bambu yang kering (kekuning-kuningan). Tidak diketahui secara pasti, mengapa alat ini disebut tadilo, karena beberapa warga tidak mampu menjelaskan apa sebab alat itu disebut tadilo. Yang jelas mereka mampu membuatnya dan dapat memainkannya.
Cara pembuatan: Sebelum membuat alat ini, terlebih dahulu memilih bahan bambu (volo lau), yang lurus tua, dan ruasnya agak panjang. Bambu dipotong satu ruas dengan panjang ± 50 cm, dan garis menengahnya ± 8 cm, dan pada kedua ujung ruas bukunya tidak dikeluarkan, sehingga tidak tembus pandang. Bambu yang dipotong dengan ukuran tersebut diatas siap untuk dibulatkan alat tadilo tersebut. Dalam keadaan mentah bambu itu dicungkil dengan ukuran lebar ± 1/2 cm sebagai tali senar sebanyak 2 (dua) tali. Jarak antara tali senar yang dicungkil ± 1/2 cm.
Cara mencungkil kulit bambu luar tadi yakni menggunakan ujung pisau atau parang dengan at-hati sekali. Sebelum kulit bambu yang dicungkil padi diganjal pada kedua ujungnya, terlebih dahulu di lilitkan rotan yang dianyam sehingga apabila kedua kulit bambu yang terlepas dua ujungnya. Pada bagian tengah bambu, yakni dibawah rentangan kedua tali, dibuatkan lubang dengan ukuran ± 1 x 2 cm yang berfungsi sebagai penggema suara. Selesai pembuatan lubang, kedua tali tadi diangkat sedikit untuk dikencangkan, dan dipasang kayu persegi panjang kedua ujungnya sebagai pengganjal untuk lebih mengencangkan talinya. Tidak ada upacara untuk mengambil bahan bambu tersebut, oleh karena itu orang bebas membuat alat tersebut dengan alat tersebut dengan syarat bambu yang lurus dan sudah tua. Kalau bambu yang dimaksud tumbuh secara liar, maka orang yang mengambilnya harus mengucapkan tabe (permisi) sebelum memotongnya. Keadaan pengrajin akhir-akhir ini sudah langa, dan sudah jarang orang menggunakan atau memakainya.
Fungsi: Alat kesenian tadilo ini berfungsi sebagai alat kesenian sebagai penghibur, dan untuk membunuh kesunyian, dimalam hari atau sore hari. Dapat pula alat berfungsi tidak secara langsung yakni saling merasakan perasaan masing-masing, sambil berbicara dengan teman untuk mencurahkan segala isi hati atau sambil bergurau. Dengan demikian ada rasa persahabatan yang erat antar teman lewat penggunaan alat kesenian tadilo ini.
Cara memainkan: Alat kesenian tadilo tesrebut dipegang dengan salah tangan dalam posisi ditidurkan. Pemainnya dalam keadaan duduk bersila atau dengan cara lain, apakah dengan cara menjulurkan kedua kaki atau dengan cara melipat kaki sebelah. Yang penting alat tersebut dapat dimainkan. Bahkan dalam keadaan berdiripun dapat dimainkan.
Tangan yang satu memukul-mukul tali senar tadi dengan ukuran panjang ± 15 cm. Alat kesenian ini dapat mengiringi walau hanya sebagai senandung saja yang berupa pantun-pantun daerah. Semua umur dapat memainkannya, namun yang paling banyak menggunakan adalah kamu remaja lalaki dan perempuan, disamping para orang tua. Dimainkan pada malam hari atau sore hari dikala suasana hening dan aman dari gangguan bunyi-bunyi yang lain. Tempat bermain biasanya di pondok, dikebun, disawah, dan kadang-kadang pula di pelataran rumah.
Persebaran: Sampai sekarang alat kesenian ini sudah jarang dikenal karena persebarannya sudah sempit, karena digeser oleh alat kesenin modern. Hanya ada daerah yang masih mampu bertahan dan masih dikenal di desa-desa, ialah di Kecamatan Sindue. Kalau pada mulanya hampir semua desa di Tanah Kaili, mengenal persis akan alat ini, karena persebarannya hampir merata kepelosok desa.
Sumber: Perpustakaan Daerah Propinsi
Jl. Banteng No. 6 Palu Telp. (0451) 482490
-
537 views, 1 so far today

