T a d i l o

Bahan: Bambu, kayu dan rotan. Bentuk: Bulat panjang. Warna: Sama seperti bambu yang kering (kekuning-kuningan). Tidak diketahui secara pasti, mengapa alat ini disebut tadilo, karena beberapa warga tidak mampu menjelaskan apa sebab alat itu disebut tadilo. Yang jelas mereka mampu membuatnya dan dapat memainkannya.

Cara pembuatan: Sebelum membuat alat ini, terlebih dahulu memilih bahan bambu (volo lau), yang lurus tua, dan ruasnya agak panjang. Bambu dipotong satu ruas dengan panjang ± 50 cm, dan garis menengahnya ± 8 cm, dan pada kedua ujung ruas bukunya tidak dikeluarkan, sehingga tidak tembus pandang. Bambu yang dipotong dengan ukuran tersebut diatas siap untuk dibulatkan alat tadilo tersebut. Dalam keadaan mentah bambu itu dicungkil dengan ukuran lebar ± 1/2 cm sebagai tali senar sebanyak 2 (dua) tali. Jarak antara tali senar yang dicungkil ± 1/2 cm.

Cara mencungkil kulit bambu luar tadi yakni menggunakan ujung pisau atau parang dengan at-hati sekali. Sebelum kulit bambu yang dicungkil padi diganjal pada kedua ujungnya, terlebih dahulu di lilitkan rotan yang dianyam sehingga apabila kedua kulit bambu yang terlepas dua ujungnya. Pada bagian tengah bambu, yakni dibawah rentangan kedua tali, dibuatkan lubang dengan ukuran ± 1 x 2 cm yang berfungsi sebagai penggema suara. Selesai pembuatan lubang, kedua tali tadi diangkat sedikit untuk dikencangkan, dan dipasang kayu persegi panjang kedua ujungnya sebagai pengganjal untuk lebih mengencangkan talinya. Tidak ada upacara untuk mengambil bahan bambu tersebut, oleh karena itu orang bebas membuat alat tersebut dengan alat tersebut dengan syarat bambu yang lurus dan sudah tua. Kalau bambu yang dimaksud tumbuh secara liar, maka orang yang mengambilnya harus mengucapkan tabe (permisi) sebelum memotongnya. Keadaan pengrajin akhir-akhir ini sudah langa, dan sudah jarang orang menggunakan atau memakainya.

Fungsi: Alat kesenian tadilo ini berfungsi sebagai alat kesenian sebagai penghibur, dan untuk membunuh kesunyian, dimalam hari atau sore hari. Dapat pula alat berfungsi tidak secara langsung yakni saling merasakan perasaan masing-masing, sambil berbicara dengan teman untuk mencurahkan segala isi hati atau sambil bergurau. Dengan demikian ada rasa persahabatan yang erat antar teman lewat penggunaan alat kesenian tadilo ini.

Cara memainkan: Alat kesenian tadilo tesrebut dipegang dengan salah tangan dalam posisi ditidurkan. Pemainnya dalam keadaan duduk bersila atau dengan cara lain, apakah dengan cara menjulurkan kedua kaki atau dengan cara melipat kaki sebelah. Yang penting alat tersebut dapat dimainkan. Bahkan dalam keadaan berdiripun dapat dimainkan.

Tangan yang satu memukul-mukul tali senar tadi dengan ukuran panjang ± 15 cm. Alat kesenian ini dapat mengiringi walau hanya sebagai senandung saja yang berupa pantun-pantun daerah. Semua umur dapat memainkannya, namun yang paling banyak menggunakan adalah kamu remaja lalaki dan perempuan, disamping para orang tua. Dimainkan pada malam hari atau sore hari dikala suasana hening dan aman dari gangguan bunyi-bunyi yang lain. Tempat bermain biasanya di pondok, dikebun, disawah, dan kadang-kadang pula di pelataran rumah.

Persebaran: Sampai sekarang alat kesenian ini sudah jarang dikenal karena persebarannya sudah sempit, karena digeser oleh alat kesenin modern. Hanya ada daerah yang masih mampu bertahan dan masih dikenal di desa-desa, ialah di Kecamatan Sindue. Kalau pada mulanya hampir semua desa di Tanah Kaili, mengenal persis akan alat ini, karena persebarannya hampir merata kepelosok desa.

Sumber: Perpustakaan Daerah Propinsi
Jl. Banteng No. 6 Palu Telp. (0451) 482490 

Batik Bomba tandamata dari Palu
Ahdin, seorang pengrajin batik Bomba khas Kota Palu, hampir tidak pernah ketinggalan ikut meramaikan setiap pameran yang dilaksanakan di ibu kota provinsi Sulawesi Tengah dan luar daerah. Setiap momen pameran, Ahdin ...
Baca Selengkapnya...
Tenun Donggala
Banyak tokoh nasional hingga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pernah mengenakan kemeja terbuat kain tenun Donggala saat berkunjung ke Sulawesi Tengah. Itu membuktikan bahwa kain tradisional dari Kabupaten Donggala itu telah ...
Baca Selengkapnya...
Nelayan Tradisional
Siluet perahu nelayan di Tolitoli. Dalam foto sangat indah dilihat, tapi sebenarnya kondisi kehidupan nelayan di Tolitoli dan sebagian besar wilayah Sulteng merupakan ironi di balik citra Sulteng sebagai daerah ...
Baca Selengkapnya...
Raja Haji Awaluddin
Foto ini merupakan koleksi khusus yang saya dapatkan dari Mr. D.P Tick, beliau adalah pemerhati budaya nusantara yang berkewarganegaraan Belanda. Beliau juga pendiri lembaga Pusat Dokumentasi Kerajaan-Kerajaan di Indonesia “PUSAKA” ...
Baca Selengkapnya...
Beragam perlatan tari tradidional yang ada di Sulawesi tengah, lebih detail dalam uraian sebagai berikut:..... 14. Tali Bonto (pengikat) Bahan: Pelepah sagu atau pelepah enau dan kain serta manik-manik. Bentuk: Pipih dibentuk ...
Baca Selengkapnya...
Beragam perlatan tari tradidional yang ada di Sulawesi tengah, lebih detail dalam uraian sebagai berikut: 1. Vidu Bahan: Kelopak bambu yang berbuluh dan mengkilat yang dalam bahasa Kaili disebut Sayapu nuavo, batang ...
Baca Selengkapnya...
Bahan: Kulit pelepah enau. Tali yang dibuat dari kulit kayu. Bentuk: Pipih dan ada lubang yang berbentuk garpu tala ditengahnya. Ukurannya, panjang ± 15 cm, lebar ± 2 cm. Warna ...
Baca Selengkapnya...
Bahan: Bulu tuli dan rotan Bentuk: Berbentuk jepitan atau garpu tala sama seperti Paree. Warna: Coklat kekuning-kuningan (sama dengan warna bulu yang sudah tua). Cara pembuatan: Untuk membuat alat kesenian ini diperlukan buluh ...
Baca Selengkapnya...
Bahan: Bambu kayu dan rotan. Bentuk: Bulat panjang (bentuk bambu). Warna: Sama dengan warna bambu yang kering. Cara pembuatannya: Sebelum alat kesenian Santu ini dibuat terlebih dahulu memilih bambu yang berkualitas ...
Baca Selengkapnya...
Bahan: Kayu, kulit, rotan bulat, paku. Warna: Coklat kekuning-kuningan. Rabana adalah sama dengan Rebana, sebab bila melihat bentuknya dan cara memainkannya sama. Vokal "e" pada kata rebana oleh orang di ...
Baca Selengkapnya...
Batik Bomba tandamata dari Palu
Tenun Donggala
Nelayan Tradisional
Raja Haji Awaluddin
Peralatan Tari Tradisional 2
Peralatan Tari Tradisional
Yori
Tulalo
Santu
Rabana

Copyright © 2013 TelukPalu.Com All rights reserved. Powered by Wordpress