Tulalo

Bahan: Bulu tuli dan rotan
Bentuk: Berbentuk jepitan atau garpu tala sama seperti Paree.
Warna: Coklat kekuning-kuningan (sama dengan warna bulu yang sudah tua).

Cara pembuatan: Untuk membuat alat kesenian ini diperlukan buluh Tui yang tua lurus dan kualitet yang baik. Satu buah alat kesenian hanya diperlukan satu ruas saja. Bahan lain untuk pembuatan alat ini seutas rotan yang telah diraut. Sebelum dibuat, buluh terlebih dahulu dikeringkan dan disamping itu masih ada alat yang digunakan untuk membuat sayatan, yakni parang atau pisau yang tajam. Membuat alat kesenian ini sama seperti membuat paree. Buluh Tui yang digunakan adalah buluh tui yang salah satu ruasnya tidak dilubangi, sehingga tidak tembus pandang. Pada dua sisi yang bertolak belakang disayat kira-kira 2/3 bagian atau 3/5 dari arah bukunya langsung ke ujung buluh yang tak ada ruasnya, sehingga alat ini berbentuk seperti jepitan. Sejajar dengan bagian buluh yang tidak disayat dibuat satu lubang besarnya dapat ditutup dengan ibu jari. Pada pangkal buluh dekat bukunya dililitkan dengan rotan yang berfungsi sebagai cincin, sebagai penangkal agar buluhnya tidak mudah pecah atau terbelah. Keadaan pengrajin alat kesenian ini hampir-hampir tidak dapat ditemukan lagi, dan kalau ada yang membuatnya semata-mata hanya untuk kepentingan diri sendiri, atau berupa pesanan dari penggemar alat kesenian tradisional sebagai koleksi. Ungkapnya para pengrajin alat kesenian ini disebabkan kurangnya peminat, memerlukan waktu dan tenaga untuk memadukan dengan alat kesenian tradisional lainnya, dan karena didesak oleh alat kesenian mutakhir yang masuk menyusup sampai ke desa-desa.

Fungsi

Alat kesenian ini berfungsi hanyalah untuk hiburan saja. Pada mulanya, walaupun alat ini untuk hiburan tetapi juga sebagai komunikasi dalam kehidupan sehari-hari antar manusia, tetutama bagi remaja tempo dulu. Sebab dengan alat ini mereka saling kenal lewat syair lagu yang menyentuh perasaan. Dengan demikian mempererat hubungan dan persatuan dalam masyarakat dan kehidupanseni sehari-hari.

Cara memainkan

Memainkan alat kesenian ini cukup hanya digenggam dengan salah satu tangan, dan ibu jari menutup lubang, kemudian alat dipukul-pukulkan pada tapak tangan yang lain, sebagian kaki (paha atau lutut) dan bahkan ada yang memukul-mukulkan pada bagian kepala. Sambil memukul-mukulkan, diiringi pula dengan senandung yang berisikan syair-syair yang dapat mengubah perasaan pendengarnya. Pukulan-pukulan tersebut berganti-ganti, ke telapak tangan, ke bagian kaki atau kepala mengikuti irama lagu dan perasaan pemegangnya. Pukulan-pukulan itu tidak terlalu keras tetapi disesuaikan perasaan antara keras dan lembut. Untuk dapat mengubah-ubah bunyi, dapat diatu dengan cara membuka ibu jari dan menutupnya pada lubang. Alat ini dapat dimainkan oleh orang tua remaja perempuan dan laki-laki dan dimainkan pada sore hari utamanya pada malam hari, disaat-saat yang hening dan sunyi. Dimainkan dalam posisi duduk bersila dapat pula pada waktu duduk diatas kayu atau batu, juga dapat dimainkan pada waktu berjalan/ berdiri. Alat ini dimainkan tanpa alat lainnya.

Persebaran

Persebaran alat ini pada waktu dulu ditemukan hampir ada ditiap desa, tetapi dengan ilmu pengetahuan dan teknologi alat kesenian ini terdesak karena kebanyakan orang lebih suka dengan alat kesenian yang baru.

Sumber: Perpustakaan Daerah Propinsi
Jl. Banteng No. 6 Palu Telp. (0451) 482490 

Batik Bomba tandamata dari Palu
Ahdin, seorang pengrajin batik Bomba khas Kota Palu, hampir tidak pernah ketinggalan ikut meramaikan setiap pameran yang dilaksanakan di ibu kota provinsi Sulawesi Tengah dan luar daerah. Setiap momen pameran, Ahdin ...
Baca Selengkapnya...
Tenun Donggala
Banyak tokoh nasional hingga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pernah mengenakan kemeja terbuat kain tenun Donggala saat berkunjung ke Sulawesi Tengah. Itu membuktikan bahwa kain tradisional dari Kabupaten Donggala itu telah ...
Baca Selengkapnya...
Nelayan Tradisional
Siluet perahu nelayan di Tolitoli. Dalam foto sangat indah dilihat, tapi sebenarnya kondisi kehidupan nelayan di Tolitoli dan sebagian besar wilayah Sulteng merupakan ironi di balik citra Sulteng sebagai daerah ...
Baca Selengkapnya...
Raja Haji Awaluddin
Foto ini merupakan koleksi khusus yang saya dapatkan dari Mr. D.P Tick, beliau adalah pemerhati budaya nusantara yang berkewarganegaraan Belanda. Beliau juga pendiri lembaga Pusat Dokumentasi Kerajaan-Kerajaan di Indonesia “PUSAKA” ...
Baca Selengkapnya...
Beragam perlatan tari tradidional yang ada di Sulawesi tengah, lebih detail dalam uraian sebagai berikut:..... 14. Tali Bonto (pengikat) Bahan: Pelepah sagu atau pelepah enau dan kain serta manik-manik. Bentuk: Pipih dibentuk ...
Baca Selengkapnya...
Beragam perlatan tari tradidional yang ada di Sulawesi tengah, lebih detail dalam uraian sebagai berikut: 1. Vidu Bahan: Kelopak bambu yang berbuluh dan mengkilat yang dalam bahasa Kaili disebut Sayapu nuavo, batang ...
Baca Selengkapnya...
Bahan: Kulit pelepah enau. Tali yang dibuat dari kulit kayu. Bentuk: Pipih dan ada lubang yang berbentuk garpu tala ditengahnya. Ukurannya, panjang ± 15 cm, lebar ± 2 cm. Warna ...
Baca Selengkapnya...
Bahan: Bambu, kayu dan rotan. Bentuk: Bulat panjang. Warna: Sama seperti bambu yang kering (kekuning-kuningan). Tidak diketahui secara pasti, mengapa alat ini disebut tadilo, karena beberapa warga tidak mampu menjelaskan ...
Baca Selengkapnya...
Bahan: Bambu kayu dan rotan. Bentuk: Bulat panjang (bentuk bambu). Warna: Sama dengan warna bambu yang kering. Cara pembuatannya: Sebelum alat kesenian Santu ini dibuat terlebih dahulu memilih bambu yang berkualitas ...
Baca Selengkapnya...
Bahan: Kayu, kulit, rotan bulat, paku. Warna: Coklat kekuning-kuningan. Rabana adalah sama dengan Rebana, sebab bila melihat bentuknya dan cara memainkannya sama. Vokal "e" pada kata rebana oleh orang di ...
Baca Selengkapnya...
Batik Bomba tandamata dari Palu
Tenun Donggala
Nelayan Tradisional
Raja Haji Awaluddin
Peralatan Tari Tradisional 2
Peralatan Tari Tradisional
Yori
T a d i l o
Santu
Rabana

Copyright © 2012 TelukPalu.Com All rights reserved. Powered by Wordpress