< Browse > Home / Alat Seni Tradisional / Blog article: Tulalo

| Mobile | RSS

Tulalo

March 2nd, 2008 19:57 | No Comments | Posted in Alat Seni Tradisional

Bahan: Bulu tuli dan rotan
Bentuk: Berbentuk jepitan atau garpu tala sama seperti Paree.
Warna: Coklat kekuning-kuningan (sama dengan warna bulu yang sudah tua).

Cara pembuatan: Untuk membuat alat kesenian ini diperlukan buluh Tui yang tua lurus dan kualitet yang baik. Satu buah alat kesenian hanya diperlukan satu ruas saja. Bahan lain untuk pembuatan alat ini seutas rotan yang telah diraut. Sebelum dibuat, buluh terlebih dahulu dikeringkan dan disamping itu masih ada alat yang digunakan untuk membuat sayatan, yakni parang atau pisau yang tajam. Membuat alat kesenian ini sama seperti membuat paree. Buluh Tui yang digunakan adalah buluh tui yang salah satu ruasnya tidak dilubangi, sehingga tidak tembus pandang. Pada dua sisi yang bertolak belakang disayat kira-kira 2/3 bagian atau 3/5 dari arah bukunya langsung ke ujung buluh yang tak ada ruasnya, sehingga alat ini berbentuk seperti jepitan. Sejajar dengan bagian buluh yang tidak disayat dibuat satu lubang besarnya dapat ditutup dengan ibu jari. Pada pangkal buluh dekat bukunya dililitkan dengan rotan yang berfungsi sebagai cincin, sebagai penangkal agar buluhnya tidak mudah pecah atau terbelah. Keadaan pengrajin alat kesenian ini hampir-hampir tidak dapat ditemukan lagi, dan kalau ada yang membuatnya semata-mata hanya untuk kepentingan diri sendiri, atau berupa pesanan dari penggemar alat kesenian tradisional sebagai koleksi. Ungkapnya para pengrajin alat kesenian ini disebabkan kurangnya peminat, memerlukan waktu dan tenaga untuk memadukan dengan alat kesenian tradisional lainnya, dan karena didesak oleh alat kesenian mutakhir yang masuk menyusup sampai ke desa-desa.

Fungsi

Alat kesenian ini berfungsi hanyalah untuk hiburan saja. Pada mulanya, walaupun alat ini untuk hiburan tetapi juga sebagai komunikasi dalam kehidupan sehari-hari antar manusia, tetutama bagi remaja tempo dulu. Sebab dengan alat ini mereka saling kenal lewat syair lagu yang menyentuh perasaan. Dengan demikian mempererat hubungan dan persatuan dalam masyarakat dan kehidupanseni sehari-hari.

Cara memainkan

Memainkan alat kesenian ini cukup hanya digenggam dengan salah satu tangan, dan ibu jari menutup lubang, kemudian alat dipukul-pukulkan pada tapak tangan yang lain, sebagian kaki (paha atau lutut) dan bahkan ada yang memukul-mukulkan pada bagian kepala. Sambil memukul-mukulkan, diiringi pula dengan senandung yang berisikan syair-syair yang dapat mengubah perasaan pendengarnya. Pukulan-pukulan tersebut berganti-ganti, ke telapak tangan, ke bagian kaki atau kepala mengikuti irama lagu dan perasaan pemegangnya. Pukulan-pukulan itu tidak terlalu keras tetapi disesuaikan perasaan antara keras dan lembut. Untuk dapat mengubah-ubah bunyi, dapat diatu dengan cara membuka ibu jari dan menutupnya pada lubang. Alat ini dapat dimainkan oleh orang tua remaja perempuan dan laki-laki dan dimainkan pada sore hari utamanya pada malam hari, disaat-saat yang hening dan sunyi. Dimainkan dalam posisi duduk bersila dapat pula pada waktu duduk diatas kayu atau batu, juga dapat dimainkan pada waktu berjalan/ berdiri. Alat ini dimainkan tanpa alat lainnya.

Persebaran

Persebaran alat ini pada waktu dulu ditemukan hampir ada ditiap desa, tetapi dengan ilmu pengetahuan dan teknologi alat kesenian ini terdesak karena kebanyakan orang lebih suka dengan alat kesenian yang baru.

Sumber: Perpustakaan Daerah Propinsi
Jl. Banteng No. 6 Palu Telp. (0451) 482490

Leave a Reply 113 views, 1 so far today |
internet marketing

Artikel Terkait:

Leave a Reply