Yori

Bahan: Kulit pelepah enau. Tali yang dibuat dari kulit kayu. Bentuk: Pipih dan ada lubang yang berbentuk garpu tala ditengahnya. Ukurannya, panjang ± 15 cm, lebar ± 2 cm. Warna : Coklat seperti warna pelepah enau yang kering.

Cara pembuatan: Memilih bahannya, yakni pelepah enau yang bagus, dan tumbuhan sebangsa nenas (teruntu bahasa Kaili) untuk baha pembuat talinya. Pelepah enau yang telah dipilih tadi, dikeluarkan bagian dalamnya (gadingnya) dengan hati-hati agar tidak pecah (terbelah). Bagian dalamnya yang dikelurkan, disayat dengan pisau tajam. Pada bagian tengahnya disayat/ diiris dengan pisau tajam dan dibentuk seperti garpu tala. Kedua ujungnya dilubangi, dan diikatkan tali. Ujung kanan talinya berbentuk cicin (gelang) untuk tempat ibu jari, dan pada ujung kirinya diikatka pula tali sambil diikat sambung dengan sepotong bambu tui, untuk tempat memegang. Keadaan pengrajinnya sekarang ini sangat langkah dan hampir-hampir tidak ditemukan lagi.

Fungsi: Alat kesenian ini berfungsi sebagai alat hiburan pribadi, karena suaranya tidak terlalu keras. Sebagai penglipur lara, untuk menghalau rasa sunyi, atau sebagai pengisi waktu saja. Suaranya dapat didengar sekitar 3 – 10 meter, dimainkan dengan tidak alat lain. Alat kesenian pada mulanya sebagai alat komunikasi antara remaja, untuk menyampaikan perasaannya. Sebab dari bunyi dapat diartikan oleh orang lain lalu dibalas sesuai dengan maksudnya. Begitulah mereka sering berbalas bunyi seakan bercerita langsung.

Cara memainkan: Ibu jari tangan kanan dimasukan ketali yang berbentuk cincin (gelang) dan jari-jari tangan kiri memegang bambu/ bulu tui yang talinya agak panjang. Yori diangkat dan dimasukan kedalam mulut, ibu jari tangan kanan berfungsi sebagai penahan Yori agar tidak bergerak atau tidak bergoyang. Yori ditiup dalam mulut seperti halnya bermain harmonika. Pada waktu pemain meniup jari tangan kiri yang memegang bulu tui, menyentak-sentak tali untuk menggetarkan selaput penggetar yang berbentuk garpu tala dan ibu jari tangan kanan menahan yori, agar tidak tergeser dari mulut. Lidah diusahakan agar tidak menyentuh yori, dengan maksud supaya selaputnya tetap bergetar. Dalam permainan yori berfungsi nafas sangat menentukan sekali untuk mengatur nada, disamping fungsi tangan kiri juga menentukan getarannya. Alat ini dapat dimainkan oleh orang tua, dewasa anak-anak, laki-laki dan perempuan, pada waktu malam hari atau sore hari yang tenag. Dapat dimainkan pada posisi duduk, berdiri, berjalan atau berbaring,

Persebaran: Mungkin karena pembuatannya yang memerlukan ketekunan, kehati-hatian, dan alat kesenian yang mutahir semakin banyak, maka persebaran alat ini sudah punah, disamping pengrajinnya pun sudah langkah. Pada mulanya alat ini banyak tersebar ke desa-desa dimana banyak pohon enau atau sagu yang tumbuh.

Sumber: Perpustakaan Daerah Propinsi
Jl. Banteng No. 6 Palu Telp. (0451) 482490 

Batik Bomba tandamata dari Palu
Ahdin, seorang pengrajin batik Bomba khas Kota Palu, hampir tidak pernah ketinggalan ikut meramaikan setiap pameran yang dilaksanakan di ibu kota provinsi Sulawesi Tengah dan luar daerah. Setiap momen pameran, Ahdin ...
Baca Selengkapnya...
Tenun Donggala
Banyak tokoh nasional hingga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pernah mengenakan kemeja terbuat kain tenun Donggala saat berkunjung ke Sulawesi Tengah. Itu membuktikan bahwa kain tradisional dari Kabupaten Donggala itu telah ...
Baca Selengkapnya...
Nelayan Tradisional
Siluet perahu nelayan di Tolitoli. Dalam foto sangat indah dilihat, tapi sebenarnya kondisi kehidupan nelayan di Tolitoli dan sebagian besar wilayah Sulteng merupakan ironi di balik citra Sulteng sebagai daerah ...
Baca Selengkapnya...
Raja Haji Awaluddin
Foto ini merupakan koleksi khusus yang saya dapatkan dari Mr. D.P Tick, beliau adalah pemerhati budaya nusantara yang berkewarganegaraan Belanda. Beliau juga pendiri lembaga Pusat Dokumentasi Kerajaan-Kerajaan di Indonesia “PUSAKA” ...
Baca Selengkapnya...
Beragam perlatan tari tradidional yang ada di Sulawesi tengah, lebih detail dalam uraian sebagai berikut:..... 14. Tali Bonto (pengikat) Bahan: Pelepah sagu atau pelepah enau dan kain serta manik-manik. Bentuk: Pipih dibentuk ...
Baca Selengkapnya...
Beragam perlatan tari tradidional yang ada di Sulawesi tengah, lebih detail dalam uraian sebagai berikut: 1. Vidu Bahan: Kelopak bambu yang berbuluh dan mengkilat yang dalam bahasa Kaili disebut Sayapu nuavo, batang ...
Baca Selengkapnya...
Bahan: Bulu tuli dan rotan Bentuk: Berbentuk jepitan atau garpu tala sama seperti Paree. Warna: Coklat kekuning-kuningan (sama dengan warna bulu yang sudah tua). Cara pembuatan: Untuk membuat alat kesenian ini diperlukan buluh ...
Baca Selengkapnya...
Bahan: Bambu, kayu dan rotan. Bentuk: Bulat panjang. Warna: Sama seperti bambu yang kering (kekuning-kuningan). Tidak diketahui secara pasti, mengapa alat ini disebut tadilo, karena beberapa warga tidak mampu menjelaskan ...
Baca Selengkapnya...
Bahan: Bambu kayu dan rotan. Bentuk: Bulat panjang (bentuk bambu). Warna: Sama dengan warna bambu yang kering. Cara pembuatannya: Sebelum alat kesenian Santu ini dibuat terlebih dahulu memilih bambu yang berkualitas ...
Baca Selengkapnya...
Bahan: Kayu, kulit, rotan bulat, paku. Warna: Coklat kekuning-kuningan. Rabana adalah sama dengan Rebana, sebab bila melihat bentuknya dan cara memainkannya sama. Vokal "e" pada kata rebana oleh orang di ...
Baca Selengkapnya...
Batik Bomba tandamata dari Palu
Tenun Donggala
Nelayan Tradisional
Raja Haji Awaluddin
Peralatan Tari Tradisional 2
Peralatan Tari Tradisional
Tulalo
T a d i l o
Santu
Rabana

Copyright © 2012 TelukPalu.Com All rights reserved. Powered by Wordpress