Peralatan Tari Tradisional
Beragam perlatan tari tradidional yang ada di Sulawesi tengah, lebih detail dalam uraian sebagai berikut:
1. Vidu
Bahan: Kelopak bambu yang berbuluh dan mengkilat yang dalam bahasa Kaili disebut Sayapu nuavo, batang rumput alang-alang manik-manik dan caba, umbut kayu bakau. Bentuk: Menyerupai kepala manusia tetapi mempunyai ekor seperti ekor burung.
Cara membuatnya. Mula-mula mengambil kelopak bambu yang kemudian dibentuk seperti kepala mausia. Pada talinya digantungkan nida yakni hiasan yang dibuat dari manik-manik dan caba serta pada ekor digantungkan pula jombe yang dibuat dari baco dan pimpi. Baco dibuat dari umbut kayu bakau. Umbut tersebut dipotong-potong sepanjang 1 cm zat pewarna merah biru dan kuning. Kemudian pimpi dibuat dari batang pohon alang-alang sepanjang masing-masing 1/2 cm, kemudian baco dan pimpi dihubungkan dengan benang diselang seling sehingga terbentuk jombe masing-masing sepanjang 1 m untuk satu vidu digunakan 5 – 6 jombe dengan demikian terbentuklah vidu.
Cara memakainya. Vidu diikatkan diatas kepala penari Pajoge Maradika.
Fungsinya. Vidu menandakan kebesaran seperti halnya dengan mahkota. Selain menunjukkan kebesaran vidu juga merupakan suatu perhiasan. Dan pada waktu menari jombe yang berjumbai beberapa kali disentuh oleh penari.
Persebarannya. Memang perlengkapan tari ini tidak disebarkan pada tari lainnya mengingat fungsinya sebagai lambang kebesaran saja. Dan satu-satunya tari yang menggunakan vidu adalah tari Pajoge Maradika. Sedangkan cara membuat dan bahan yang digunakan sudah dapat dibuat dari gardus yang mengkilat. Kemudian jombe yang terdiri dari baco dan pimpi dapat dibuat dari kancing hias yang berwarna warni yang lebih menarik dan muda didapatkan.
2. Dalitaroe (anting menggantung)
Bahan: Logam, emas atau perak. Bentuknya: Kepingan-kepingan kecil berbentuk segi empat.
Cara membuatnya. Pertama-tama membuat dasar anting-anting dua bagian dicetak. Kemudian membuat kepingan-kepingan kecil berbentuk segi empat. Kepingan kecil dibuat sebanyak tiga puluh buah untuk sebelah anting-anting. Kemudian kepingan yang tiga puluh buah dirangkai dengan rantai menjadi lima untai yang digantungkan pada dasar anting-anting yang agak besar bagian tengah yang berbentuk segi tiga seperti daun. Kemudian dasar anting-anting tengah dirangkai lagi dengan rantai ke dasar atas yang berbentuk bulat seperti kembang yang pada bagian tengahnya diletakkan sebuah permata warna putih atau kuning. Dengan rangkaian-rangkaian tadi maka terbentuklah sebuah Dalitaroe.
Cara memainkannya. Dalitaroe dipakai sebagaimana memakai anting-anting pada umumnya.
Fungsinya. Dalitaroe berfungsi sebagai perhiasan penari. Tapi Dalitaroe yang dipergunakan oleh penari pajoge maradika adalah merupakan seperangkat peralatan tari yang tidak bisa dipisahkan dari peralatan lainnya seperti pawala, lola, pontondate, geno, pende yang menunjukkan kebesaran pemakainya.
Persebarannya. Dalitaroe dalam persebarannya selain digunakan pada tari-tari tradisional dan hampir semua tari daerah, maka dalitaroe sudah sangat memasyarakat sampai-sampai dipakai pada setiap tarian apakah tari muda-mudi (gembira) bahkan tari kerja yang disesuaikan dengan kebutuhan tari itu sendiri.
3. Geeno (Kalung panjang)
Bahan: Logam emas atau perak.
Cara membuatnya. Geno juga dibuat oleh pandai emas. Terdiri dari rantai dan piringan-piringan yang masing-masing berbentuk segi tiga. Piringan-piringan dicetak untuk sebuah geno diperlukan sepuluh buah piringan dengan ukuran dua sisi masing-masing 6 cm, dalam bentuk daun yang bergerigi. Pada bagian tengah piringan diberi batu permata berwarna putih atau kuning. Kemudian piringan-piringan dihubung-hubungkan dengan rantai sepanjang ± 5 cm sedangkan untuk piringan bagian tengah rantainya cukup 2 cm. Piringan paling bawah berukuran agak besar yakni dua sisi masing-masing 7 cm, karena hubungan antara rantai dan piringan-piringan terbentuklah geno.
Cara memakainya. Geno digantungkan pada leher penari selalu diatas pakaian atau baju supaya geno terlihat oleh orang lain (penonton).
Fungsinya. Geno dalam Tari Pajoge Maradika merupakan seperangkat pakaian puteri yang tidak boleh ditinggalkan karena tari Pajoge Maradika adalah tari tradisional yang hanya ditarikan ditempat raja-raja dan ditarikan oleh puteri raja atau bangsawan.
Persebarannya. Berhubung geno merupakan perhiasan maka geno dapat digunakan pada hampir semua tari daerah kecuali tari kerja.
4. Pende (Pending)
Bahan : Logam emas atau perak.
Cara membuatnya. Seperti pada umumnya perhiasan atau peralatan tari yang terbuat dari logam emas atau perak maka pende juga dibuat dengan jalan mencetak. Pada bagian dalam dibuat tempat untuk memasukkan tali pengikat. Tali pengikat sering dibuat dari kain yang berwarna kuning yang diberi hiasan.
Cara memakainya. Pende diikatkan pada pinggang penari puteri sebagai ban pinggang.
Fungsinya. Selain sebagai pengikat pinggang juga sebagai perhiasan. Namun fungsi yang paling menonjol adalah merupakan seperangkat perlengkapan tari yang tidak dapat dilepaskan mengingat tari yang dibawakan adalah tari tradisional yang ditarikan oleh puteri-puteri raja.
Persebarannya. Pende pada saat ini bukan saja dipakai pada tari-tari tradisional bahkan dapat digunakan pada hampir semua tari daerah. Seperti tari upacara tari gembira (muda-mudi) tari kerja hanya disesuaikan dengan kebutuhan tari itu sendiri. Tetapi pende yang digunakan pada umumnya tari terebut bukan lagi yang dibuat dari logam emas atau perak, tetapi tali pengikat yang dibuat sedemikian rupa sehingga nampak seperti pende aslinya.
5. Pawala (Gelang)
Bahan : Logam (Emas atau Perak)
Bentuk : Bulat-bulat mempunyai hiasan atau ukiran-ukiran kecil.
Cara membuatnya. Peralatan ini pada umumnya dibuat oleh pandai emas. Menurut pemilik peralata ini bahwa cara pandai emas membuatnya adalah dengan jalan mencetak. Jadi untuk membuat anak-anak pawala sudah siap memang cetakan sesudah emas atau perak dilarutkan kemudian dituangkan pada cetakan. Sesudah hasil cetakan sudah jadi atau sudah berbentuk kemudian dibulatkan setelah memanaskan lebih dahulu lalu disolder. Akhirnya terbentuklah pawala.
Cara memakainya. Seuntai pawala sering terdiri dari 10 sampai 12 biji pawala yang ditusuk dengan benang. Biasanya banyaknya disesuaikan dengan besarnya pergelangan tangan pemakainya. Pawala diikatkan pada pergelangan tangan kana dan kiri.
Fungsinya. Pawala merupakan perangkat perhiasan lainnya pada tari Pajoge Maradika. Mengingat tari tersebut adalah tari yang ditarikan oleh puteri raja dalam rumah kerajaan atau pesta-pesta kerajaan maka perlengkapan menari haruslah lengkap sehingga pawala dan perlengkapan lainnya hanya merupakan hiasan penambah agungnya penari.
Persebarannya. Pawala bukan seperti Dalitaroe atau Lola ataupun Geno, karena pawala tidak sesering perlengkapan lainnya itu digunakan. Sehingga pawala kebanyakan hanya digunakan pada upacara-upacara adat. Kecuali pada tari Pajoge Maradika.
6. Pontondate (Gelang panjang)
Bahan : Logam (Emas atau perak sepuhan). Bentuk : Bulat panjang berlubang. Bulatan bagian atas dengan garis menengah 7 cm sampai 8 cm. Bulatan bagian bawah batas pergelangan bergaris menengah 6 cm. Panjang gelang 15 cm sampai 18 cm.
Cara membuatnya. Pada umumnya peralatan ini dibuat oleh pandai emas. Pontondate dibuat dengan cara mencetak. Sebuah Pontondate terdiri dari dua bagian. Setelah cetakan kedua bagian tersebut jadi lalu sisi satu sama lain dihubungkan dengan jalan membuat lubang untuk memasukkan semacam kawat sebagai bahan penahan sehingga terbentuklah sebuah Pontondate.
Cara memakainya. Pontondate dimasukkan pada tangan sebagaimana biasanya menggunakan gelang. Hanya saja ini ukurannya dari atas pergelangan hingga sampai batas siku.
Fungsinya. Pontondate pada tarian pajoge maradika adalah semata-mata sebagai perhiasan. Tetapi bukan sembarang perhiasan melainkan melihat pula penari dan tari yang ditarikan sangat membutuhkan perhiasan tersebut. Biasanya Pontondate digubaka pada tari tradisional seperti tari Pajoge Maradika yang ditarikan oleh puteri-puteri raja atau bangsawan lainnya maka Pontondate merupakan suatu perhiasan kebesaran yang tidak dapat ditinggalkan.
Persebarannya. Pontondate sangat menarik rupanya sehigga akhir-akhir ini Pontondate bukan saja digunakan pada tari-tari tradisional, melainkan sudah digunakan pada hampir setiap tari daerah kecuali tari kerja.
7. Lola (Gelang)
Bahan : Logam Emas atau perak. Bentuk : Bulat, Garis menengahnya 15 cm hingga 20 cm
Cara membuatnya. Seperti juga Pontondate Lola juga dibuat oleh pandai emas. Dibuat dengan acara mencetak. Setelah dua bagian tercetak maka dibuat lubang pada sisi masing-masing bagian empat kawat halus sebagai penahan sehingga terbentuklah lola.
Cara memakainya. Lola digunakan diatas Pontondate atau dilengan hampir siku. Jadi menggunakan sesudah memakai lola kemudian Pontondate.
Fungsinya. Seperti juga Pontondate maka lola juga berfungsi sebagai hiasan tari. Perlengkapan tari ini kebanyakan digunakan pada tari-tari tradisional seperti tari upacara.
Persebaran. Kita telah melihat Pontondate yang merupakan perlengkapan tari tradisional, demikian pula dengan lola. Akhir-akhir ini lola bukan saja digunakan pada tari tradisional tetapi hampir semua tari daerah namun disesuaikan dengan kebutuhan tari itu sendiri.
8. Kaveba atau Tipasa (Kipas)
Bahan : Daun Silar dan kain serta manik-manik, atau dari bahan pelepah kayu. Bentuknya : Seperti kipas.
Cara membuatnya. Mula-mula mengambil pucuk daun silar kemudian dibersihkan dari lidinya. Lalu dibelah atau diiris selebar 1/2 cm kemudian jemur. Setelah kering dibersihkan kembali lau dianyam dibentuk seperti kipas dengan menggunakan rotan sebagai tulangnya. Kemudian dibungkus dengan kain warna kuning kemudian dihiasi dengan manik-maik yang di sesuaikan dengan selera pembuatnya. Kaveba diatas dipakai pada tari Pajoge Maradika dan tari Kaveba. Sedang kaveba atau yang lebih dikenal dengan Tipasa dapat dibuat dari pelepah sagu yang dibentuk seperti kipas yang berukuran agak kecil. Tipasa ini sering digunakan dalam tari Rego dan tari upacara penyembuhan.
Cara memakainya. Kipas kebanyakan dipegang dengan tangan kanan. Kecuali pada tari Rego dipegang dengan tangan kiri oleh penari pria.
Fungsinya. Kaveba pada tari Pajoge Maradika berfungsi untuk mengipas putera dan puteri raja yang sedang menari dan Kaveba ini dipegang oleh penari dayang-dayang. Pada tari Kaveba memang sebagai pada umumnya tari kipas maka kaveba yang menjadi permainan pada tarian tersebut. Atau keterampilan menggunakan Kaveba. Sedangkan pada tari Rego Tipasa berfungsi untuk mengipas pada pebari wanita yang selama menari berada dalam pelukan para penari pria. Sedangkan Tipasa pada tari upacara penyembuhan berfungsi sebagai penghalang roh-roh jahat bersama-sama dengan kita.
Persebarannya. Kaveba atau Tipasa tidak banyak digunakan pada tari daerah lain kecuali tari-tari yang diangkat dari tari upacara penyembuhan seperti Tari Salonde, Tomanuru dan sejenisnya.
9. Pasatimpo (Keris)
Bahan : Logam (tembaga atau kuningan). Bentuk : Panjang kurang lebih 40 cm.
Cara Membuatnya. Kersi yang sering digunakan atau dipakai oleh penari (Pajoge Maradika) adalah keris milik kerajaan atau keris pusaka. Jadi keris tersebut sudah ada sejak ratusan tahun. Gagang keris dibuat dari emas murni sedangkan sarungnya dibuat dari emas muda.
Cara Pemakainya. Kersi yang disertai dengan tali pengikat yang sering disebut Kambang keri yang disebut dari kain warna kuning, diikatkan pada pinggang dengan keris tepat disebelah kiri, ganggang menghadap ketas tepat diulu hati, sebab kadang-kadang penari pria memegang gagang keris sebagai pelambang kebesarannya.
Fungsinya. Menampakan sifat kesatriaan dan kewibawaan sang putera memberikan lambang kejantanan seorang putera saja. Jadi keris benar-benar hanya sebagai pembangkit semangat pemakainya bahwa dia adalah agung dan berwibawa.
Persebarannya. Pasa Timpo sering pula digunakan dalam tari-tari penyembuhan dengan fungsi untuk mengusir semua roh-roh jahat dan pasa timpo tersebut dipermainkan didepan muka ketas – kebawah dengan pengertian mengusir roh jahat. Namun kiri lebih sering digunakan pada tari-tari kepahlawanan hanya untuk membesarkan jiwa penarinya. Karena keris tidak digerakan tetapi cukup diikatkan saja pada pinggang penari sebagai hiasan.
10. Pangga (Sinjulo)
Bahan : Kulit kayu. Bentunya : Lihat gambar
Cara membuatnya. Mula-mula memilih kayu kemudian dengan jalan memberi makanan atau sesajen berupa ayam putih satu ekor, nasi ketan hitam, putih, kuning dan merah serta dukun membacakan mantra agar penghuni kayu tersebut (roh halus) tidak marah sebab merusak rumah mereka. Sesudah itu dipilih dahan yang cukup besarnya lalu dipotong-potong sepanjang 60 cm. Kayu tersebut lalu direndam disungai selama tiga hari tiga malam. Setelah kulit lepas dari batangnya lalu diangkat diletakan diatas papan tempat pembuatannya kemudian di pukul-pukul dengan kayu alat pemukul yang udah disiapkan. Setelah kulit luar keluar dari kulit tadi sudah melebar dan menipis, kembali direndam di sungai selama tiga hari tiga malam kemudian di angkat lagi. Kemudian dipukul kembali sehingga lebih lebar dan menipis. Selanjutnya di cuci lalu dijemur di para-para tempat jemuran khususnya pembuatan kulit kayu tersebut. Sesudah kering maka pangga atau sinculo dapat dibuat dengan jalan mengukur panjang yang dibutuhkan. Panjangnya 150 cm lebar 50 cm. Kemudian dilipat dua. Pada bagian atas digunting leter V tempat kepala masuk. Kemudian pada bagian benda dapat diberi warna merah yang diperoleh dari buah kayu atau air dari kayu lambagu. Setelah itu pangga siap dipakai.
Cara memakainya. Pangga dipakai paling atas atau diatas pakaian lainnya.
Fungsinya. Menunjukkan bahwa penari tersebut adalah laki-laki menari seperti perempuan (banci). Tetapi penari-penari tersebut bukan banci sebenarnya tetapi banci buatan yang di tandai dengan pangga atau sinjulo tersebut. Selain itu pangga atau sinjulo juga berfungsi sebagai pengetuk bagian depan penari laki-laki yang menjadi perempuan sehinga kita tidak kenal mereka sebagai penari laki-laki. Pakaian ini hanya digunakan pada tari-tari upacara penyembuhan utamanya Tari Balia Bone atau Jinja dan sejenisnya.
Persebarannya. Sampai saat ini pangga masih dipakai pada hampir semua tari tradisional penyembuhan malahan beberapa tari penyembuhan yang sudah diterima masih menggunakan pangga. Namun pangga tersebut bukan lagi dari kulit kayu melainkan dari kain yang warnanya disesuaikan dengan warna pakaian penari. Kemudian dapat diberi hiasan dari musik-musik supaya menjadi lebih indah. Tetapi apabila tari tersebut masih asli maka harus memakai kulit kayu walaupun pada hiasan sudah dapat menggunakan spidol.
11. Talimpuso (Tapi)
Bahan : Pelepah enau, kain, batu banggai, tali perak dan benang. Bentuk : Trapesium (segi empat tidak sama sisi)
Cara membuatnya. Mula-mula menyimpan pelepah enau. Kemudian membersihkan dan dipotong-potong dengan ukuran dua sisi kiri dan kanan 20 cm lebar dengan atas 30 cm dan lebar bagian bawah 24 cm. Untuk satu buah kalipus diperlukan bilah potongan pelepah enau. Kemudian dibungkus dengan kain berwarna merah. Setelah selesai dibungkus maka lapisan bagian muka diberi hiasan dengan jalan menjahitkan kain kuning yang berbentuk segi tiga pada perempat bagian talipuso dengan berbanjar banyak lima lembar dengan ukuran sisi 4 cm sampai 5 cm. Kemudian pada seluruh bagian yang masih kosong dijahitkan batu banggai atau batu mitra hingga separuh batas talimpuso. Sedangkan separuhnya diisi dengan menjahitkan benang emas berbanjar empat dua baris kebawah dengan motif bunga. Sedangkan bagian yang kosong dijahitkan pula batu banggai atau batu mitra. Setelah pekerjaan menghias selesai sekarang membungkam sisi-sisi kiri kanan. Dan pada bagian atas tersebut dibuat pula tiga buah lobang tempat memasukan hiasan dari buluh ayam berwarna putih dari ayam jantan. Pada sudut kiri kanan dipasang pula tali masing-masing sepanjang 50 cm. Maka terbentuklah talimpuso.
Cara memakainya. Talimpuso dimasukkan dikepala penari seperti halnya memakai topi tetapi sudutnta berada didekat telinga tetapi harus diikat karena bentuknya agak tinggi.
Fungsinya. Talimpuso seperti juga pangga atau sinjulo menunjukan atau menandakan bahwa penari tersebut adalah laki-laki yang disebut dengan kata bayasa atau banci. Hanya panggilan pada saat menari mereka disebut bayasa atau banci. Talimpuso dipakai pada tari-tari upacara penyembuhan seperti tari balia bone, balia jinja dan sebagainya.
Peresebarannya. Perlengkapan ini belum banyak digunakan pada tari-tari lain atau tari daerah, kecuali pada tari kreasi baru yang disingkat dari tari tradisional, khususnya tari upacara penyembuhan. Seperti tari Tomanuru kreasi baru, tari meaju kerasi baru. Tetapi pembuatannya sudah dikreasi pula. Bahan dapat dibuat dari karton yang dibugkus dengan kain warna bukan saja warna merah bahkan warna hitam yang dihiasi dengan manik-manik (pici-pici) dan pita emas.
12. Tampi = Toko = Tavala (tombak)
Bahan : Tembaga atau kuningan serta kayu dan rambut. Bentuk : Lihat gambar
Cara membuatnya. Membuat mata tampi dari tembaga atau kuningan, mula-mula logam dibakar (dipanaskan) lalu dipukul-pukul dengan palu-palu khusus membentuk mata tampi. Setelah itu maka pekerjaan berikut adalah menajamkan mata tampi dengan jalan mengasar. Kemudian membuat tangkai dari kayu hitam yang panjangnya natara 125 ampai 150 cm dengn garis menengah 4 cm sampai 5 cm. Pada ujung tangkai dibuat tempat untuk memasukan mata tampi. Kemudia diatas tempat mata tampi ± 10 cm dari tempat tersebut dibuat lobang. Lobang tersebut adalah tempat menanam (memasukkan) rambut manusia sekeliling batang batang tampi diatas mata tampi tadi. Sehingga rambut tersebut nampak sebagai hiasan tampi.
Cara pemakaiannya. Tampi dipegang pada tangan kanan dibagian tengah batang tampi.
Fungsinya. Tombak pada Tari Meaju berfungsi sebagai perlengkapan penambah habaran semangat para pahlawan baik yang akan kemedan perang maupun yang kembali dari medan perang atau semangat pengantin pria atau semangat putera-putera yang masih cukup kecil yang menghadapi upacara khitanan (Nosuna). Tampi dengan penari meaju mengeluk-elukan sambil berteriak.
Persebarannya. Tampi sampai saat ini masih digunakan pada tari meaju dan pada tari upacaera yang disertai persembahan hewan Kerbau dan Kambing. Tampi masih terbatas pemakaiannya, kecuali tari meaju dan tari upacara penyembuhan tradisional sudah dapat pula digunakan pada tari meaju kreasi baru dan upacara kreasi baru. Tampi yang dipakai bukan lagi tampi asli yang masih memakai rambut manusia yang konon bahwa rambut yang dipasang terebut adalah rambut orang dipotong kepalanya saat perang dahulu kala. Sebagai pengganti rambut biasanya benang berwarna merah atau hitam atau buluh binatang.
13. Tali Tandu (tali kepala berbentuk tanduk)
Bahan : Pelepah enau atau kulit gaba-gaba kain serta manik-manik
Bentuk : Seperti tandung sapi.
Cara membuatnya. Mula-mula mengambil pelepah enau atau kulit gaba-gaba. Kemudian di potong-potong masing-masing 25 cm. Kemudian dibersihkan lalu dipipihkan setebal 1/4 cm dengan lebar 5 cm. Kedua potong kulit gaba-gaba atau pelepah enau dibungkus dengan kain warna kuning atau merah. Untuk membentuk tanduk digunting pula kain warna kuning dua buah lalu dimasukan kapuk. Kemudian tanduk yang sudah terbentuk diletakan pada kedua ujung pelepah enau yang sudah dibungkus. Setelah pekerjaan itu selesai maka dilanjutkan dengan memberi hiasan dengan manik-manik atau pecahan batu banggai atau batu mitra dengan jalan menjahit atau diikat-ikat dengan benang jahitan tangan. Setelah itu tali tanduk siap dipakai.
Cara memakainya. Tali tandu diletakan diatas kepala persis seperti tanduk. Untuk menjaga agar tali tadu tidak mudah lepas maka sebelum tali tandu diletakan diatas kepala sudah diletakan dahulu seukurang kecil batas telinga.
Fungsinya. Fungsi utama adalah untuk mengokohkan membesarkan jiwa penari sebagai dukun penangkal penyakit. Sekarang ini nampaknya sebagai hiasan tetapi pemakaiannya disesuaikan dengan tari yang dibawakan. Pada umumnya digunakan pada tari upacara penyembuhan atau selamatan.
Persebarannya. Tali tandu udah digunakan oleh beberapa tari upacara lainnya yang masih erat hubungannya dengan selamatan. Juga cara membuat dan bahan sudah dapat dibuat dari gardus yang sudah dapat dibentuk seperti tanduk kemudian dibungkus dengan kain yang cocok dengan tarian yang dibawakan. Juga hiasan dapat dipasang perhiasan yang lebih menarik sebab selain cara membuat dan bahannya juga fungsinya dapat berkembang sebagai hiasan kepala walaupun tidak menghilangkan fungsi aslinya sebagai tanda keberanian.
Sumber: Perpustakaan Daerah Propinsi
Jl. Banteng No. 6 Palu Telp. (0451) 482490
Bahan: Kelopak bambu yang berbuluh dan mengkilat yang dalam bahasa Kaili disebut Sayapu nuavo, batang rumput alang-alang manik-manik dan caba, umbut kayu bakau. Bentuk: Menyerupai kepala manusia tetapi mempunyai ekor seperti ekor burung.
Cara membuatnya. Mula-mula mengambil kelopak bambu yang kemudian dibentuk seperti kepala mausia. Pada talinya digantungkan nida yakni hiasan yang dibuat dari manik-manik dan caba serta pada ekor digantungkan pula jombe yang dibuat dari baco dan pimpi. Baco dibuat dari umbut kayu bakau. Umbut tersebut dipotong-potong sepanjang 1 cm zat pewarna merah biru dan kuning. Kemudian pimpi dibuat dari batang pohon alang-alang sepanjang masing-masing 1/2 cm, kemudian baco dan pimpi dihubungkan dengan benang diselang seling sehingga terbentuk jombe masing-masing sepanjang 1 m untuk satu vidu digunakan 5 – 6 jombe dengan demikian terbentuklah vidu.
Cara memakainya. Vidu diikatkan diatas kepala penari Pajoge Maradika.
Fungsinya. Vidu menandakan kebesaran seperti halnya dengan mahkota. Selain menunjukkan kebesaran vidu juga merupakan suatu perhiasan. Dan pada waktu menari jombe yang berjumbai beberapa kali disentuh oleh penari.
Persebarannya. Memang perlengkapan tari ini tidak disebarkan pada tari lainnya mengingat fungsinya sebagai lambang kebesaran saja. Dan satu-satunya tari yang menggunakan vidu adalah tari Pajoge Maradika. Sedangkan cara membuat dan bahan yang digunakan sudah dapat dibuat dari gardus yang mengkilat. Kemudian jombe yang terdiri dari baco dan pimpi dapat dibuat dari kancing hias yang berwarna warni yang lebih menarik dan muda didapatkan.
2. Dalitaroe (anting menggantung)
Bahan: Logam, emas atau perak. Bentuknya: Kepingan-kepingan kecil berbentuk segi empat.
Cara membuatnya. Pertama-tama membuat dasar anting-anting dua bagian dicetak. Kemudian membuat kepingan-kepingan kecil berbentuk segi empat. Kepingan kecil dibuat sebanyak tiga puluh buah untuk sebelah anting-anting. Kemudian kepingan yang tiga puluh buah dirangkai dengan rantai menjadi lima untai yang digantungkan pada dasar anting-anting yang agak besar bagian tengah yang berbentuk segi tiga seperti daun. Kemudian dasar anting-anting tengah dirangkai lagi dengan rantai ke dasar atas yang berbentuk bulat seperti kembang yang pada bagian tengahnya diletakkan sebuah permata warna putih atau kuning. Dengan rangkaian-rangkaian tadi maka terbentuklah sebuah Dalitaroe.
Cara memainkannya. Dalitaroe dipakai sebagaimana memakai anting-anting pada umumnya.
Fungsinya. Dalitaroe berfungsi sebagai perhiasan penari. Tapi Dalitaroe yang dipergunakan oleh penari pajoge maradika adalah merupakan seperangkat peralatan tari yang tidak bisa dipisahkan dari peralatan lainnya seperti pawala, lola, pontondate, geno, pende yang menunjukkan kebesaran pemakainya.
Persebarannya. Dalitaroe dalam persebarannya selain digunakan pada tari-tari tradisional dan hampir semua tari daerah, maka dalitaroe sudah sangat memasyarakat sampai-sampai dipakai pada setiap tarian apakah tari muda-mudi (gembira) bahkan tari kerja yang disesuaikan dengan kebutuhan tari itu sendiri.
Bahan: Logam emas atau perak.
Cara membuatnya. Geno juga dibuat oleh pandai emas. Terdiri dari rantai dan piringan-piringan yang masing-masing berbentuk segi tiga. Piringan-piringan dicetak untuk sebuah geno diperlukan sepuluh buah piringan dengan ukuran dua sisi masing-masing 6 cm, dalam bentuk daun yang bergerigi. Pada bagian tengah piringan diberi batu permata berwarna putih atau kuning. Kemudian piringan-piringan dihubung-hubungkan dengan rantai sepanjang ± 5 cm sedangkan untuk piringan bagian tengah rantainya cukup 2 cm. Piringan paling bawah berukuran agak besar yakni dua sisi masing-masing 7 cm, karena hubungan antara rantai dan piringan-piringan terbentuklah geno.
Cara memakainya. Geno digantungkan pada leher penari selalu diatas pakaian atau baju supaya geno terlihat oleh orang lain (penonton).
Fungsinya. Geno dalam Tari Pajoge Maradika merupakan seperangkat pakaian puteri yang tidak boleh ditinggalkan karena tari Pajoge Maradika adalah tari tradisional yang hanya ditarikan ditempat raja-raja dan ditarikan oleh puteri raja atau bangsawan.
Persebarannya. Berhubung geno merupakan perhiasan maka geno dapat digunakan pada hampir semua tari daerah kecuali tari kerja.
Bahan : Logam emas atau perak.
Cara membuatnya. Seperti pada umumnya perhiasan atau peralatan tari yang terbuat dari logam emas atau perak maka pende juga dibuat dengan jalan mencetak. Pada bagian dalam dibuat tempat untuk memasukkan tali pengikat. Tali pengikat sering dibuat dari kain yang berwarna kuning yang diberi hiasan.
Cara memakainya. Pende diikatkan pada pinggang penari puteri sebagai ban pinggang.
Fungsinya. Selain sebagai pengikat pinggang juga sebagai perhiasan. Namun fungsi yang paling menonjol adalah merupakan seperangkat perlengkapan tari yang tidak dapat dilepaskan mengingat tari yang dibawakan adalah tari tradisional yang ditarikan oleh puteri-puteri raja.
Persebarannya. Pende pada saat ini bukan saja dipakai pada tari-tari tradisional bahkan dapat digunakan pada hampir semua tari daerah. Seperti tari upacara tari gembira (muda-mudi) tari kerja hanya disesuaikan dengan kebutuhan tari itu sendiri. Tetapi pende yang digunakan pada umumnya tari terebut bukan lagi yang dibuat dari logam emas atau perak, tetapi tali pengikat yang dibuat sedemikian rupa sehingga nampak seperti pende aslinya.
Bahan : Logam (Emas atau Perak)
Bentuk : Bulat-bulat mempunyai hiasan atau ukiran-ukiran kecil.
Cara membuatnya. Peralatan ini pada umumnya dibuat oleh pandai emas. Menurut pemilik peralata ini bahwa cara pandai emas membuatnya adalah dengan jalan mencetak. Jadi untuk membuat anak-anak pawala sudah siap memang cetakan sesudah emas atau perak dilarutkan kemudian dituangkan pada cetakan. Sesudah hasil cetakan sudah jadi atau sudah berbentuk kemudian dibulatkan setelah memanaskan lebih dahulu lalu disolder. Akhirnya terbentuklah pawala.
Cara memakainya. Seuntai pawala sering terdiri dari 10 sampai 12 biji pawala yang ditusuk dengan benang. Biasanya banyaknya disesuaikan dengan besarnya pergelangan tangan pemakainya. Pawala diikatkan pada pergelangan tangan kana dan kiri.
Fungsinya. Pawala merupakan perangkat perhiasan lainnya pada tari Pajoge Maradika. Mengingat tari tersebut adalah tari yang ditarikan oleh puteri raja dalam rumah kerajaan atau pesta-pesta kerajaan maka perlengkapan menari haruslah lengkap sehingga pawala dan perlengkapan lainnya hanya merupakan hiasan penambah agungnya penari.
Persebarannya. Pawala bukan seperti Dalitaroe atau Lola ataupun Geno, karena pawala tidak sesering perlengkapan lainnya itu digunakan. Sehingga pawala kebanyakan hanya digunakan pada upacara-upacara adat. Kecuali pada tari Pajoge Maradika.
6. Pontondate (Gelang panjang)
Bahan : Logam (Emas atau perak sepuhan). Bentuk : Bulat panjang berlubang. Bulatan bagian atas dengan garis menengah 7 cm sampai 8 cm. Bulatan bagian bawah batas pergelangan bergaris menengah 6 cm. Panjang gelang 15 cm sampai 18 cm.
Cara membuatnya. Pada umumnya peralatan ini dibuat oleh pandai emas. Pontondate dibuat dengan cara mencetak. Sebuah Pontondate terdiri dari dua bagian. Setelah cetakan kedua bagian tersebut jadi lalu sisi satu sama lain dihubungkan dengan jalan membuat lubang untuk memasukkan semacam kawat sebagai bahan penahan sehingga terbentuklah sebuah Pontondate.
Cara memakainya. Pontondate dimasukkan pada tangan sebagaimana biasanya menggunakan gelang. Hanya saja ini ukurannya dari atas pergelangan hingga sampai batas siku.
Fungsinya. Pontondate pada tarian pajoge maradika adalah semata-mata sebagai perhiasan. Tetapi bukan sembarang perhiasan melainkan melihat pula penari dan tari yang ditarikan sangat membutuhkan perhiasan tersebut. Biasanya Pontondate digubaka pada tari tradisional seperti tari Pajoge Maradika yang ditarikan oleh puteri-puteri raja atau bangsawan lainnya maka Pontondate merupakan suatu perhiasan kebesaran yang tidak dapat ditinggalkan.
Persebarannya. Pontondate sangat menarik rupanya sehigga akhir-akhir ini Pontondate bukan saja digunakan pada tari-tari tradisional, melainkan sudah digunakan pada hampir setiap tari daerah kecuali tari kerja.
Bahan : Logam Emas atau perak. Bentuk : Bulat, Garis menengahnya 15 cm hingga 20 cm
Cara membuatnya. Seperti juga Pontondate Lola juga dibuat oleh pandai emas. Dibuat dengan acara mencetak. Setelah dua bagian tercetak maka dibuat lubang pada sisi masing-masing bagian empat kawat halus sebagai penahan sehingga terbentuklah lola.
Cara memakainya. Lola digunakan diatas Pontondate atau dilengan hampir siku. Jadi menggunakan sesudah memakai lola kemudian Pontondate.
Fungsinya. Seperti juga Pontondate maka lola juga berfungsi sebagai hiasan tari. Perlengkapan tari ini kebanyakan digunakan pada tari-tari tradisional seperti tari upacara.
Persebaran. Kita telah melihat Pontondate yang merupakan perlengkapan tari tradisional, demikian pula dengan lola. Akhir-akhir ini lola bukan saja digunakan pada tari tradisional tetapi hampir semua tari daerah namun disesuaikan dengan kebutuhan tari itu sendiri.
Bahan : Daun Silar dan kain serta manik-manik, atau dari bahan pelepah kayu. Bentuknya : Seperti kipas.
Cara membuatnya. Mula-mula mengambil pucuk daun silar kemudian dibersihkan dari lidinya. Lalu dibelah atau diiris selebar 1/2 cm kemudian jemur. Setelah kering dibersihkan kembali lau dianyam dibentuk seperti kipas dengan menggunakan rotan sebagai tulangnya. Kemudian dibungkus dengan kain warna kuning kemudian dihiasi dengan manik-maik yang di sesuaikan dengan selera pembuatnya. Kaveba diatas dipakai pada tari Pajoge Maradika dan tari Kaveba. Sedang kaveba atau yang lebih dikenal dengan Tipasa dapat dibuat dari pelepah sagu yang dibentuk seperti kipas yang berukuran agak kecil. Tipasa ini sering digunakan dalam tari Rego dan tari upacara penyembuhan.
Cara memakainya. Kipas kebanyakan dipegang dengan tangan kanan. Kecuali pada tari Rego dipegang dengan tangan kiri oleh penari pria.
Fungsinya. Kaveba pada tari Pajoge Maradika berfungsi untuk mengipas putera dan puteri raja yang sedang menari dan Kaveba ini dipegang oleh penari dayang-dayang. Pada tari Kaveba memang sebagai pada umumnya tari kipas maka kaveba yang menjadi permainan pada tarian tersebut. Atau keterampilan menggunakan Kaveba. Sedangkan pada tari Rego Tipasa berfungsi untuk mengipas pada pebari wanita yang selama menari berada dalam pelukan para penari pria. Sedangkan Tipasa pada tari upacara penyembuhan berfungsi sebagai penghalang roh-roh jahat bersama-sama dengan kita.
Persebarannya. Kaveba atau Tipasa tidak banyak digunakan pada tari daerah lain kecuali tari-tari yang diangkat dari tari upacara penyembuhan seperti Tari Salonde, Tomanuru dan sejenisnya.
Bahan : Logam (tembaga atau kuningan). Bentuk : Panjang kurang lebih 40 cm.
Cara Membuatnya. Kersi yang sering digunakan atau dipakai oleh penari (Pajoge Maradika) adalah keris milik kerajaan atau keris pusaka. Jadi keris tersebut sudah ada sejak ratusan tahun. Gagang keris dibuat dari emas murni sedangkan sarungnya dibuat dari emas muda.
Cara Pemakainya. Kersi yang disertai dengan tali pengikat yang sering disebut Kambang keri yang disebut dari kain warna kuning, diikatkan pada pinggang dengan keris tepat disebelah kiri, ganggang menghadap ketas tepat diulu hati, sebab kadang-kadang penari pria memegang gagang keris sebagai pelambang kebesarannya.
Fungsinya. Menampakan sifat kesatriaan dan kewibawaan sang putera memberikan lambang kejantanan seorang putera saja. Jadi keris benar-benar hanya sebagai pembangkit semangat pemakainya bahwa dia adalah agung dan berwibawa.
Persebarannya. Pasa Timpo sering pula digunakan dalam tari-tari penyembuhan dengan fungsi untuk mengusir semua roh-roh jahat dan pasa timpo tersebut dipermainkan didepan muka ketas – kebawah dengan pengertian mengusir roh jahat. Namun kiri lebih sering digunakan pada tari-tari kepahlawanan hanya untuk membesarkan jiwa penarinya. Karena keris tidak digerakan tetapi cukup diikatkan saja pada pinggang penari sebagai hiasan.
Bahan : Kulit kayu. Bentunya : Lihat gambar
Cara membuatnya. Mula-mula memilih kayu kemudian dengan jalan memberi makanan atau sesajen berupa ayam putih satu ekor, nasi ketan hitam, putih, kuning dan merah serta dukun membacakan mantra agar penghuni kayu tersebut (roh halus) tidak marah sebab merusak rumah mereka. Sesudah itu dipilih dahan yang cukup besarnya lalu dipotong-potong sepanjang 60 cm. Kayu tersebut lalu direndam disungai selama tiga hari tiga malam. Setelah kulit lepas dari batangnya lalu diangkat diletakan diatas papan tempat pembuatannya kemudian di pukul-pukul dengan kayu alat pemukul yang udah disiapkan. Setelah kulit luar keluar dari kulit tadi sudah melebar dan menipis, kembali direndam di sungai selama tiga hari tiga malam kemudian di angkat lagi. Kemudian dipukul kembali sehingga lebih lebar dan menipis. Selanjutnya di cuci lalu dijemur di para-para tempat jemuran khususnya pembuatan kulit kayu tersebut. Sesudah kering maka pangga atau sinculo dapat dibuat dengan jalan mengukur panjang yang dibutuhkan. Panjangnya 150 cm lebar 50 cm. Kemudian dilipat dua. Pada bagian atas digunting leter V tempat kepala masuk. Kemudian pada bagian benda dapat diberi warna merah yang diperoleh dari buah kayu atau air dari kayu lambagu. Setelah itu pangga siap dipakai.
Cara memakainya. Pangga dipakai paling atas atau diatas pakaian lainnya.
Fungsinya. Menunjukkan bahwa penari tersebut adalah laki-laki menari seperti perempuan (banci). Tetapi penari-penari tersebut bukan banci sebenarnya tetapi banci buatan yang di tandai dengan pangga atau sinjulo tersebut. Selain itu pangga atau sinjulo juga berfungsi sebagai pengetuk bagian depan penari laki-laki yang menjadi perempuan sehinga kita tidak kenal mereka sebagai penari laki-laki. Pakaian ini hanya digunakan pada tari-tari upacara penyembuhan utamanya Tari Balia Bone atau Jinja dan sejenisnya.
Persebarannya. Sampai saat ini pangga masih dipakai pada hampir semua tari tradisional penyembuhan malahan beberapa tari penyembuhan yang sudah diterima masih menggunakan pangga. Namun pangga tersebut bukan lagi dari kulit kayu melainkan dari kain yang warnanya disesuaikan dengan warna pakaian penari. Kemudian dapat diberi hiasan dari musik-musik supaya menjadi lebih indah. Tetapi apabila tari tersebut masih asli maka harus memakai kulit kayu walaupun pada hiasan sudah dapat menggunakan spidol.
Bahan : Pelepah enau, kain, batu banggai, tali perak dan benang. Bentuk : Trapesium (segi empat tidak sama sisi)
Cara membuatnya. Mula-mula menyimpan pelepah enau. Kemudian membersihkan dan dipotong-potong dengan ukuran dua sisi kiri dan kanan 20 cm lebar dengan atas 30 cm dan lebar bagian bawah 24 cm. Untuk satu buah kalipus diperlukan bilah potongan pelepah enau. Kemudian dibungkus dengan kain berwarna merah. Setelah selesai dibungkus maka lapisan bagian muka diberi hiasan dengan jalan menjahitkan kain kuning yang berbentuk segi tiga pada perempat bagian talipuso dengan berbanjar banyak lima lembar dengan ukuran sisi 4 cm sampai 5 cm. Kemudian pada seluruh bagian yang masih kosong dijahitkan batu banggai atau batu mitra hingga separuh batas talimpuso. Sedangkan separuhnya diisi dengan menjahitkan benang emas berbanjar empat dua baris kebawah dengan motif bunga. Sedangkan bagian yang kosong dijahitkan pula batu banggai atau batu mitra. Setelah pekerjaan menghias selesai sekarang membungkam sisi-sisi kiri kanan. Dan pada bagian atas tersebut dibuat pula tiga buah lobang tempat memasukan hiasan dari buluh ayam berwarna putih dari ayam jantan. Pada sudut kiri kanan dipasang pula tali masing-masing sepanjang 50 cm. Maka terbentuklah talimpuso.
Cara memakainya. Talimpuso dimasukkan dikepala penari seperti halnya memakai topi tetapi sudutnta berada didekat telinga tetapi harus diikat karena bentuknya agak tinggi.
Fungsinya. Talimpuso seperti juga pangga atau sinjulo menunjukan atau menandakan bahwa penari tersebut adalah laki-laki yang disebut dengan kata bayasa atau banci. Hanya panggilan pada saat menari mereka disebut bayasa atau banci. Talimpuso dipakai pada tari-tari upacara penyembuhan seperti tari balia bone, balia jinja dan sebagainya.
Peresebarannya. Perlengkapan ini belum banyak digunakan pada tari-tari lain atau tari daerah, kecuali pada tari kreasi baru yang disingkat dari tari tradisional, khususnya tari upacara penyembuhan. Seperti tari Tomanuru kreasi baru, tari meaju kerasi baru. Tetapi pembuatannya sudah dikreasi pula. Bahan dapat dibuat dari karton yang dibugkus dengan kain warna bukan saja warna merah bahkan warna hitam yang dihiasi dengan manik-manik (pici-pici) dan pita emas.
12. Tampi = Toko = Tavala (tombak)
Bahan : Tembaga atau kuningan serta kayu dan rambut. Bentuk : Lihat gambar
Cara membuatnya. Membuat mata tampi dari tembaga atau kuningan, mula-mula logam dibakar (dipanaskan) lalu dipukul-pukul dengan palu-palu khusus membentuk mata tampi. Setelah itu maka pekerjaan berikut adalah menajamkan mata tampi dengan jalan mengasar. Kemudian membuat tangkai dari kayu hitam yang panjangnya natara 125 ampai 150 cm dengn garis menengah 4 cm sampai 5 cm. Pada ujung tangkai dibuat tempat untuk memasukan mata tampi. Kemudia diatas tempat mata tampi ± 10 cm dari tempat tersebut dibuat lobang. Lobang tersebut adalah tempat menanam (memasukkan) rambut manusia sekeliling batang batang tampi diatas mata tampi tadi. Sehingga rambut tersebut nampak sebagai hiasan tampi.
Cara pemakaiannya. Tampi dipegang pada tangan kanan dibagian tengah batang tampi.
Fungsinya. Tombak pada Tari Meaju berfungsi sebagai perlengkapan penambah habaran semangat para pahlawan baik yang akan kemedan perang maupun yang kembali dari medan perang atau semangat pengantin pria atau semangat putera-putera yang masih cukup kecil yang menghadapi upacara khitanan (Nosuna). Tampi dengan penari meaju mengeluk-elukan sambil berteriak.
Persebarannya. Tampi sampai saat ini masih digunakan pada tari meaju dan pada tari upacaera yang disertai persembahan hewan Kerbau dan Kambing. Tampi masih terbatas pemakaiannya, kecuali tari meaju dan tari upacara penyembuhan tradisional sudah dapat pula digunakan pada tari meaju kreasi baru dan upacara kreasi baru. Tampi yang dipakai bukan lagi tampi asli yang masih memakai rambut manusia yang konon bahwa rambut yang dipasang terebut adalah rambut orang dipotong kepalanya saat perang dahulu kala. Sebagai pengganti rambut biasanya benang berwarna merah atau hitam atau buluh binatang.
13. Tali Tandu (tali kepala berbentuk tanduk)
Bahan : Pelepah enau atau kulit gaba-gaba kain serta manik-manik
Bentuk : Seperti tandung sapi.
Cara membuatnya. Mula-mula mengambil pelepah enau atau kulit gaba-gaba. Kemudian di potong-potong masing-masing 25 cm. Kemudian dibersihkan lalu dipipihkan setebal 1/4 cm dengan lebar 5 cm. Kedua potong kulit gaba-gaba atau pelepah enau dibungkus dengan kain warna kuning atau merah. Untuk membentuk tanduk digunting pula kain warna kuning dua buah lalu dimasukan kapuk. Kemudian tanduk yang sudah terbentuk diletakan pada kedua ujung pelepah enau yang sudah dibungkus. Setelah pekerjaan itu selesai maka dilanjutkan dengan memberi hiasan dengan manik-manik atau pecahan batu banggai atau batu mitra dengan jalan menjahit atau diikat-ikat dengan benang jahitan tangan. Setelah itu tali tanduk siap dipakai.
Cara memakainya. Tali tandu diletakan diatas kepala persis seperti tanduk. Untuk menjaga agar tali tadu tidak mudah lepas maka sebelum tali tandu diletakan diatas kepala sudah diletakan dahulu seukurang kecil batas telinga.
Fungsinya. Fungsi utama adalah untuk mengokohkan membesarkan jiwa penari sebagai dukun penangkal penyakit. Sekarang ini nampaknya sebagai hiasan tetapi pemakaiannya disesuaikan dengan tari yang dibawakan. Pada umumnya digunakan pada tari upacara penyembuhan atau selamatan.
Persebarannya. Tali tandu udah digunakan oleh beberapa tari upacara lainnya yang masih erat hubungannya dengan selamatan. Juga cara membuat dan bahan sudah dapat dibuat dari gardus yang sudah dapat dibentuk seperti tanduk kemudian dibungkus dengan kain yang cocok dengan tarian yang dibawakan. Juga hiasan dapat dipasang perhiasan yang lebih menarik sebab selain cara membuat dan bahannya juga fungsinya dapat berkembang sebagai hiasan kepala walaupun tidak menghilangkan fungsi aslinya sebagai tanda keberanian.
Sumber: Perpustakaan Daerah Propinsi
Jl. Banteng No. 6 Palu Telp. (0451) 482490








