Selamatkan Kami dari Bahaya Merkuri

Kota Palu Mulai Tercemar Merkuri

Peneliti dari Balifokus, lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang lingkungan, Yuyun Ismawati, menyatakan Kota Palu, Sulawesi Tengah, mulai tercemari oleh limbah merkuri sehingga mengancam kesehatan penduduknya dalam jangka waktu yang panjang.

“Dari air hingga udara Kota Palu sudah tercemari merkuri yang berasal dari pembakaran sampah, asap kendaraan, dan merkuri itu sendiri,” kata Yuyun di Palu, Sabtu (25/6).

Yuyun dan sejumlah rekannya dari Balifokus telah melakukan penelitian di beberapa lokasi di Kota Palu selama dua hari. Mereka mendapatkan angka pencemaran merkuri di udara Ibu Kota Sulawesi Tengah itu mulai 20 hingga 5.900 nanogram/m3.

Penggunaan merkuri terbesar di Kota Palu sendiri terdapat di lokasi pertambangan emas tradisional Poboya. Proses pemisahan emas dari batuan halus secara tradisional di pertambangan Poboya dipastikan menggunakan merkuri. Kemudian para pekerja membuang sisa merkuri ke sembarang tempat sehingga menguap.

“Merkuri sangat mudah menguap bahkan di suhu kamar sekalipun (26 derajat Celsius),” kata Yuyun.

Dia mengatakan, di Indonesia hingga saat ini belum ada batasan minimal kandungan merkuri di udara. Bahkan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga tidak menyebutkan berapa batas aman kandungan merkuri di suatu daerah.

Namun dia mencontohkan, batasan kandungan merkuri udara di Jepang adalah 400 nanogram per m3. Sedangkan di Amerika Serikat mencapai 1.000 nanogram per m3. Jika suatu daerah di negara tersebut terdapat kandungan merkurinya melampaui ambang batas, maka penduduknya harus diungsikan ke daerah aman.

“Oleh karena itu seberapapun kandungan merkuri di Kota Palu perlu diwaspadai demi kelestarian alam dan kesehatan penduduknya,” kata Yuyun yang juga Direktur Balifokus ini.

Yuyun menuturkan, kandungan merkuri di udara tidak akan hilang dalam jangka waktu 1,5 tahun meski telah terkena hujan.

Kalaupun hilang, kandungan merkuri itu akan hanyut ke air, kemudian bisa termakan ikan dan akhirnya dikonsumsi manusia. “Itulah yang membahayakan,” kata Yuyun yang pernah mendapatkan penghargaan lingkungan bergengsi The Goldman Environtmental Prize pada 2009.

Olehnya, dia meminta pemerintah setempat untuk memperketat izin penjualan merkuri agar lingkungan dan generasi masa depan bangsa dapat diselamatkan.(Ant/BEY)

Sumber: Metrotvnews.com

 

Longki Cuekin Hasil Penelitian

Soal Merkuri Yang Sudah Mengancam Warga Palu

SIGI-Gubernur Drs H Longki Djanggola MSi, tetap berkukuh dengan pendiriannya. Walau ancaman penggunaan merkuri di lokasi tambang emas Poboya telah dinyatakan para peneliti telah melewati ambang batas dan mesti ada upaya konkret secepatnya, Longki tidak mau menerima begitu saja hasil penelitian.

Pihaknya, dalam hal ini Pemprov Sulteng, juga akan melakukan penelitian dan kajian sehubungan penggunaan bahan merkuri di Poboya. “Itu kan versi peneliti. Kami juga memiliki instansi terkait untuk melaksanakan hal serupa. Kami tetap pakai versi kami,’’ kata Longki dicegat Radar Sulteng usai menghadiri perayaan HUT ke-3 Kabupaten Sigi di Biromaru, kemarin (21/7).

Sikap Longki kali ini, sama seperti tanggapannya kepada wartawan beberapa waktu lalu. Saat itu, ia menyatakan segera menginstruksikan Badan Lingkungan Hidup (BLH) Sulteng untuk mengumpulkan data di lokasi tambang emas Poboya.

Penggunaan merkuri yang sudah mengancam kehidupan masyarakat Kota Teluk dan kerusakan lingkungan, menurut Longki tetap mendapat perhatian dari dia selaku gubernur. Bentuk respons Pemprov Sulteng punya jalur tersendiri. Ada mekanisme dan upaya-upaya tertentu yang akan diambil nantinya.

Fenomena yang terjadi di tambang Poboya harus disikapi secara hati-hati. Pemprov Sulteng tidak mau gegabah sebelum ada pertimbangan atau keputusan yang matang. “Kami punya lembaga pemerintah terkait dengan masalah itu (pengumpulan data soal bahaya merkuri),’’ katanya menambahkan.

Disinggung soal upaya Pemprov Sulteng dalam memproteksi distribusi merkuri maupun penggunaan merkuri di tambang Poboya, mantan Bupati Parigi Moutong ini menyatakan upaya itu pasti akan dilakukan. Terlebih lagi bahaya merkuri sudah mengancam kehidupan penduduk kota Palu dan makhluk hidup di sekitar lokasi tambang, Longki menjamin akan melakukan upaya konkret.

“Pasti akan kita utamakan kepentingan orang banyak, terhadap dampak penggunaan merkuri. Itu sudah pasti. Namun sebelum kita mengambil keputusan tersebut, lembaga atau instansi terkait di Pemprov Sulteng akan bekerja dulu. Seperti apa hasilnya, baru kita bertindak,’’ katanya.

Diberitakan kemarin (21/7), akademisi sekaligus peneliti PPLH (Pusat Penelitian Lingkungan Hidup) Universitas Tadulako, DR Irwan Said, menilai adalah hal yang wajar jika pemerintah, masih berniat untuk melakukan kajian lanjutan, guna memastikan validitas hasil temuan para ahli sebelumnya.

Hanya saja, jika hal tersebut dilakukan semata-mata hanya untuk memperkuat data, Irwan merasa hal tersebut hanya akan membuang-buang anggaran.

“Data apa lagi yang dibutuhkan. Jangan sampai kita mengatakan bahwa data masih kurang. Sejak 2009, kami sudah melakukan penelitian dan hasilnya ditemukan merkuri di dalam air di sepanjang muara sungai Poboya, di sepanjang aliran sungai Poboya, dalam sedimen juga ada, di dalam biota air yang ada di Teluk Palu juga sudah mengandung merkuri, padahal saat itu aktivitas masih proses pendulangan, merkuri masih ditetes-tetes. Sekarang merkuri malah sudah ditumpah dan dibuang ke alam,” paparnya.

WALHI

Terpisah, Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sulteng geram dengan pembelaan pemkot yang enggan disebut cuci tangan, terkait kebijakan mereka menganulir Perwali nomor 7 tahun 2010 tentang Pertambangan Rakyat. Walhi justru melihat ini sebagai sesuatu yang aneh karena apa yang terjadi sekarang tidak lain sebagai akibatpembiaran yang Pemkot selama beberapa tahun terakhir.

Namun, ditengah polemik pencemaran yang marak, tiba-tiba saja pemkot hadir dengan menyuguhkan konsep industri tambang dengan dalih untuk memperbaiki keadaaan lingkungan di Kota Palu. “Pemkot jangan jadi pahlawan kesiangan, semua juga tahu kalau dalang kerusakan adalah pemkot yang salah urus” tegas Wilianita, direktur eksekutif Walhi Sulteng kemarin (21/7).

Menurut Lita, sapaan Wilianita, hal lain yang dipandang aneh adalah adanya tren baru yang berindikasi pada ketidakkonsistenan para pendukung tambang rakyat Poboya. “Aneh yah tiba-tiba sekarang yang tadinya mendukung, yang melegalisasi, tiba-tiba sekarang mau menolak, alasannya peduli dengan lingkungan, nah kemana saja selama ini?” tandas Lita.

Lita membenarkan permasalahan lingkungan adalah tanggung jawab semua pihak. Namun, fakta yang tidak boleh dilupakan adalah pengambil kebijakan seharusnya berani mengambil kebijakan yang baik dan tepat, bukannya kebijakan yang merugikan masyarakatnya sendiri.

“Intinya, kami dari Walhi kecewa dengan sikap pemkot yang oportunitis, jangan memutarbalikkan fakta, apalagi untuk meloloskan CPM, siapa yang bisa menjamin kerusakan yang ditimbulkan oleh CPM jauh lebih sedikit dari yang ada sekarang, siapa yang menjamin itu,’’ tandas Lita.(fri/nhr)

Sumber :  http://www.kaltengpos.com/berita/detail/Rubrik/41/495

 

Indonesia Gagas Pertemuan Tingkat ASEAN Bahas Merkuri

Jakarta – TAMBANG. Penggunaan merkuri di Indonesia sudah dalam taraf yang mencemaskan. Untuk itu, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) telah menggagas pertemuan strategis se-ASEAN, guna membahas posisi merkuri di Asia Tenggara. Coordinator Indonesia Toxics-Free Network Advisor Bali Fokus, Yuyun Ismawati mengatakan, pertemuan itu akan berlangsung pada akhir Juli 2011 di Surabaya.

Pertemuan itu merupakan bagian dari program “Development of National and Regional Approaches to Environmentally Sound Management of Mercury in Southeast Asia”. Yakni program penghapusan dan penyimpanan merkuri di Asia Tenggara, khususnya di Indonesia dan Philipina, yang diprakarsasi Amerika Serikat (AS). Bali Fokus ditunjuk sebagai pelaksananya di Indonesia.

Ditemui di Jakarta, Kamis, 14 Juli 2011, Yuyun mengatakan, dari program itu diharapkan tercipta strategi nasional, dalam mengatur cara atau tahapan penghapusan dan penyimpanan merkuri. Kemudian disusun suatu dokumen, yang berbicara tentang merkuri di berbagai sektor di Indonesia, beserta penjelasan bagaimana menutup, mengeliminasi, dan men-storage merkuri.

Soal tingginya intensitas penggunaan merkuri di Indonesia, Yuyun mencontohkan hasil survei Bali Fokus di daerah tambang rakyat Palu, Sulawesi Tengah. Kandungan merkuri dalam udara di daerah tersebut, rata-rata mencapai 5.000 nanogram/mᵌ. “Seharusnya sudah dilakukan tindak evakuasi terhadap masyarakat di daerah itu,” ujarnya.

Dampak terparah yang bisa diakibatkan oleh merkuri, adalah penurunan tingkat kecerdasan khususnya bagi anak. Fakta di lapangan, Bali Fokus sering mendapat informasi terkait penyakit kulit parah yang diderita rakyat penambang emas di Palu, yang diduga akibat bersentuhan dengan merkuri.

Terkait hal ini, Yuyun mengakui memang belum melakukan pengujian secara klinis. Namun melihat kejadian yang ada, dan bercermin pada masalah-masalah terdahulu terkait merkuri, ia menilai tidak ada salahnya penghentian penggunaan merkuri diserukan mulai sekarang. “Daripada harus menunggu sampai ada korban dulu,” ungkapnya.

Yuyun mengatakan, Bali Fokus akan bekerjasama dengan dinas-dinas di wilayah aktivitas tambang rakyat, untuk melakukan “survey biomarker” kesehatan masyarakat khususnya para penambang. Yakni pengujian pada rambut, darah, dan urin, untuk mengetahui seberapa besar kandungan merkuri di tubuh mereka.

“Melalui program ini kita akan memberikan saran-saran terkait penghapusan atau bagaimana menyimpan merkuri. Sedangkan untuk pelaksanaannya, itu lebih kepada tugas pemerintah,” jelasnya.

Ridwan D. Tamin, Asisten Deputi Pengelolaan Limbah B3 dan Pemulihan Kontaminasi KLH mengatakan, merkuri merupakan salah satu limbah B3 yang dapat merusak kesehatan. “Untuk jenis penyakitnya apa, kita bisa lihat dari hasil-hasil penelitian terdahulu. Karena merkuri, orang bisa saja meninggal,” ujarnya kepada Majalah TAMBANG, Jumat, 15 Juli 2011.

Khusus untuk tambang rakyat yang merupakan kegiatan ilegal, Ridwan mengaku pihaknya mengalami kendala dalam mensosialisasikan bahwa merkuri berbahaya bagi kesehatan. “Kalau kita memberi arahan atau saran penggunaan alat yang bebas merkuri, sama saja dengan melegalkan aktivitas mereka,” jelasnya.

Menurut Ridwan, meski di Palu belum ada uji kesehatan untuk membuktikan bahaya merkuri, tapi masyarakat tetap harus diperingatkan, agar keadaan tidak bertambah buruk. “Kalau untuk rumah sakit kita sudah memberlakukan sistem proper,” tambahnya.

Yuyun menyebutkan, saat ini program penghapusan dan penyimpanan merkuri yang diprakarsai AS tersebut, masih difokuskan pada proses inventarisasi. Yakni pemetaan penggunaan merkuri di Indonesia. Diharapkan tujuan program ini dapat dicapai paling lambat pada batas waktu pelaksanaan program, yaitu Mei 2012.

Sumber: www.majalahtambang.com

 

Thony Irawanto

Assalamu'alaikum Wr, Wb. Terimakasih atas kunjungan Anda. Trimakasih pula atas kritik dan saran yang telah disampaikan, mohon maaf bila masukan dari Anda belum bisa saya wujudkan semua dalam situs ini. Wassalam, Wr, Wb.

You may also like...