<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>TelukPalu.Com &#187; Budaya</title>
	<atom:link href="http://telukpalu.com/category/budaya/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://telukpalu.com</link>
	<description>Info Seputar Teluk Palu dan Wisata Sulawesi Tengah</description>
	<lastBuildDate>Sun, 01 Jan 2012 02:16:13 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Lembah Bada</title>
		<link>http://telukpalu.com/2011/10/lembah-bada/</link>
		<comments>http://telukpalu.com/2011/10/lembah-bada/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 16 Oct 2011 23:54:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Thony Irawanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Galery Foto]]></category>
		<category><![CDATA[Poso]]></category>
		<category><![CDATA[Megalith Lembah Napu]]></category>
		<category><![CDATA[Suaka Margasatwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://telukpalu.com/?p=1852</guid>
		<description><![CDATA[Dua nyonya Belanda berdiri di sebelah salah satu patung di Lembah Bada di tahun 1930-an. Lembah Bada atau Lembah Napu adalah lembah yang terletak di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Lembah ini adalah bagian dari Taman Nasional Lore Lindu. Lembah yang memiliki hamparan padang rumput yang luas serta panorama alam yang indah. Pada sekitar lembah terdapat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter size-full wp-image-1853" title="lembah_napu_bada" src="http://telukpalu.com/wp-content/uploads/2011/10/lembah_napu_bada.jpg" alt="" width="425" height="600" /></p>
<p style="text-align: center;"><em>Dua nyonya Belanda berdiri di sebelah salah satu patung di Lembah Bada di tahun 1930-an</em>.</p>
<p style="text-align: left;">Lembah Bada atau Lembah Napu adalah lembah yang terletak di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Lembah ini adalah bagian dari Taman Nasional Lore Lindu.</p>
<p>Lembah yang memiliki hamparan padang rumput yang luas serta panorama alam yang indah. Pada sekitar lembah terdapat banyak Patung Megalith diperkirakan didirikan di abad ke-14 dan merupakan peninggalan benda purbakala. Patung Megalith adalah merupakan patung yang langka di dunia karena hanya terdapat di Napu, Besoa, Bada dan di Amerika Latin (marquies Island).</p>
<p>Patung ini manyak memuat misteri tentang kejayaan Suku Napu, Besoa dan Bada pada zaman dahulu kala, sehingga menarik minat para ilmuwan dan wisatawan untuk datang berkunjung sekaligus melakukan penelitian. Jarak Lembah Bada 145 KM dari Kota Poso, dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan Jeep dan dilanjutkan dengan berjalan kaki (trekking) ke Lembah Besoa dan Bada.</p>
<p>Disepanjang jalan kita akan menyaksikan keindahan hutan tropis sehingga merupakan suatu objek wisata yang menarik bagi para wisatawan. Selain menggunakan jeep, dapat juga dengan menggunakan penerbangan MAF yang secara reguler dapat melayani rute perjalanan dari tentena – bada dan selanjutnya dengan berjalan kaki untuk sampai ke Besoa dan Napu. Fasilitas yang tersedia antara lain adalah Losmen dan Home Stay.</p>
<p>Foto: http://id.wikipedia.org</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://telukpalu.com/2011/10/lembah-bada/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Raja Haji Awaluddin</title>
		<link>http://telukpalu.com/2010/02/raja-haji-awaluddin/</link>
		<comments>http://telukpalu.com/2010/02/raja-haji-awaluddin/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Feb 2010 08:39:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Thony Irawanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Banggai]]></category>
		<category><![CDATA[Bangkep]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya Sulawesi Tengah]]></category>
		<category><![CDATA[Luwuk Banggai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://telukpalu.com/?p=1304</guid>
		<description><![CDATA[Foto ini merupakan koleksi khusus yang saya dapatkan dari Mr. D.P Tick, beliau adalah pemerhati budaya nusantara yang berkewarganegaraan Belanda. Beliau juga pendiri lembaga Pusat Dokumentasi Kerajaan-Kerajaan di Indonesia “PUSAKA” yang telah berbaik hati mengirimkan foto dan puluhan lembar dokumen sejarah kerajaan Banggai. Raja Haji Awaluddin 1925-1940 (berdiri ditengah) Keraton Raja banggai merupakan peninggalan Raja [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Foto ini merupakan koleksi khusus yang saya dapatkan dari Mr. D.P Tick, beliau adalah pemerhati budaya nusantara yang berkewarganegaraan Belanda. Beliau juga pendiri lembaga Pusat Dokumentasi Kerajaan-Kerajaan di Indonesia “PUSAKA” yang telah berbaik hati mengirimkan foto dan puluhan lembar dokumen sejarah kerajaan Banggai.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-1303" title="raja_banggai_1" src="http://telukpalu.com/wp-content/uploads/2010/02/raja_banggai_1.jpg" alt="" width="500" height="361" /><br />
<strong>Raja Haji Awaluddin 1925-1940 (berdiri ditengah)</strong></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-1305" title="keraton_banggai2" src="http://telukpalu.com/wp-content/uploads/2010/02/keraton_banggai2.jpg" alt="" width="500" height="375" /></p>
<p>Keraton Raja banggai merupakan peninggalan Raja Banggai yang keadaannya masih terpelihara dengan baik. Objek wisata budaya ini berjarak 72 kilometer dari kota Luwuk dan dapat ditempuh dengan kapal laut selama 9 jam. Lokasi keraton terdapat ditengah kota Banggai, Kabupaten Banggai Kepulauan dimana didalamnya terdapat keris kerajaan, payung kerajaan, alat musik kulintang dan pakaian kebesaran raja.</p>
<p>Kerajaan Banggai diperkirakan berdiri pada abad ke 13 tahun saka 1478 atau tahun 1365 masehi. Kerajaan ini berada di bawah pengaruh Kesultanan Ternate di Maluku Utara. Bentuk bangunan keraton menyerupai keraton-keraton yang ada di Tidore dan Ternate karena hubungan historis. Kerajaan Banggai dikenal sebagai kerajaan yang paling demokratis di dunia, karena tidak mengenal putra mahkota atau ahli waris. Siapapun bisa diangkat menjadi Raja atas keputusan Basalo Sangkep. Basalo Sangkep berfungsi sebagai majelis Permusyawaratan Rakyat atau wakil rakyat.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://telukpalu.com/2010/02/raja-haji-awaluddin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Peralatan Tari Tradisional 2</title>
		<link>http://telukpalu.com/2008/04/peralatan-tari-tradisional-2/</link>
		<comments>http://telukpalu.com/2008/04/peralatan-tari-tradisional-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Apr 2008 13:08:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Thony Irawanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Alat Tari Tradisional]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya Sulawesi Tengah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/tlp2010/?p=938</guid>
		<description><![CDATA[Beragam perlatan tari tradidional yang ada di Sulawesi tengah, lebih detail dalam uraian sebagai berikut:&#8230;.. 14. Tali Bonto (pengikat) Bahan: Pelepah sagu atau pelepah enau dan kain serta manik-manik. Bentuk: Pipih dibentuk bulat disesuaikan dengan ukuran kepala. Cara membuatnya. Mula-mula menyiapkan pelepah atau pelepah sagu, lalu dibersihkan kemudian diiris sepanjang 55 cm sampai 65 cm. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<table border="0" width="98%" align="center">
<tbody>
<tr>
<td>
<div>Beragam perlatan tari tradidional yang ada di Sulawesi tengah, lebih detail dalam uraian sebagai berikut:&#8230;..</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div>
<p><strong>14. Tali Bonto<a name="TaliBonto"></a> (pengikat)</strong></p>
<p><em>Bahan</em>: Pelepah sagu atau pelepah enau dan kain serta manik-manik. <em>Bentuk</em>: Pipih dibentuk bulat disesuaikan dengan ukuran kepala.</p>
<p><strong>Cara membuatnya</strong>. Mula-mula menyiapkan pelepah atau pelepah sagu, lalu dibersihkan kemudian diiris sepanjang 55 cm sampai 65 cm. Setelah itu bahan tadi dibungkus dengan kain. Pada umumnya kain pembungkus berwarna merah. Setelah itu dipasangkan manik-manik sampai seluruh permukaan (bagian luar) dari tali tadi, dengan jalan menjahit manik-manik tersebut. Setelah itu tali siap dipakai pada kedua ujung dan dapat langsung dijahit sehingga tali langsung berbentuk bulat atau dengan jalan mengingat kedua ujung tali atau membuat kancing kait.</p>
<p><strong>Cara memakainya</strong>. Tali dipakai diatas kepala tepat di atas dahi sebagai penahan rambut.</p>
<p><strong>Fungsinya</strong>. Tali mempunyai fungi sebagai penahan rambut. Pemakai tali rambutnya harus dilipat keatas. Tali selain sebagai penahan rambut juga sebagai hiasan kepala.</p>
<p><strong>Persebarannya</strong>. Tali dalam kehidupan sehari-hari oleh masyarakat pemakainya bukan saja sebagai alat perlengkapan tari, tetapi talia adalah suatu alat perlengkapan setiap hari yang berfungsi sebagai pebahan rambut baik ke pesta, ketempat kerja (sawah umpamanya) berolah raga selalu memakai disesuaikan dengan kebutuhan. Mana yang cocok untuk ke pesta mana yang cocok untuk kerja atau berolah raga. Sehingga tali atau tali bonto tidak dapat dilepakan sebagai perlengkapan tari dipakai pada semua tarian tradisional dari suku Kulawi di Kabupaten Donggala Sulawesi Tengah. Terhadap tari garapan tari kreasi yang berasal dari tari trasdisional seperti raego juga menggunakan tali yang sidah dibuat dari gardus dan dibungkus dengan kain yang diberi pita manik-manik.</p>
<hr size="1" /><strong>15. Siga<a name="Siga"></a> (Destar)</strong></p>
<p><em>Bahan</em>: Kain (yang dibuat dari bahan tenunan). <em>Bentuknya</em>: Segi empat dengan ukuran 1 m x 1 m.</p>
<p><strong>Cara membuatnya</strong>. Siga yang digunakan oleh penari di Sulawesi Tengah kebanyakan singa hasil tenunan. Siga biasanya dibuat dari benang sutera sintetis atau hasil campuran benang katun dan benang kapas yang lebih dikenal dengan nama Spunlik. Untuk menenun siga diperlukan satu earna saja untuk itu baik benang lungsi maupun pakan dicelup dalam satu warna. Siga ditenun berbentuk segi empat. Pada bagian pinggiran dan bagian tengahnya diberi hiasan dengan benang emas, dengan jalan menyelipkan benag emas atau perak atau ketika menenun. Pembuatan ragam hias ini dilakukan dengan cara menghitung komposisi tingkat benang dalam susunan benang yang mempunyai motif sendiri. Untuk satu lembar siaga biasanya dapat diselesaikan oleh pengrajin desa sampai tiga hari. Pada umumnya cara menenun masih menggunkan alat tenun tradisional yang dikenal gedongan.</p>
<p><strong>Cara memakainya</strong>. Siga diikatkan atau dililit pada kepala sedemikian rupa sehingga salah satu sudut berdiri disamping kiri atau kanan kepala yang akhirnya dijatuhkan diarah yang bertentangan.</p>
<p><strong>Fungsinya</strong>. Siga berfungsi sebagai penutup kepala sekaligus sebagai hiaan kepala. karena Siga adalah pakaian atau perlengkapan serta seperangkat pakaian pria pada umumnya di Sulawesi Tengah maka hampir semua tarian di Sulawesi Tengah harus memakai siga. Baik dia tari upacara tari kerja ataupun tari hiburan sekalipun semua memakai Siga.</p>
<p><strong>Persebarannya</strong>. Berhubung Siga adalah pakaian sehari-hari masyarakat Sulawesi Tengah, maka seperti telah kami ungkapkan di atas, hampir semua tari menggunakan Siga sebagai pelengkap pakaian tari tersebut.</p>
<hr size="1" /><strong>16. Sampolu<a name="Sampolu"></a> (Selendang)</strong></p>
<p><em>Bahan</em>: Kain (hasil tenun). <em>Bentuk</em>: Segi empat panjang dengan ukuran panjang 1,5 m Lebar 60 cm</p>
<p><strong>Cara membuatnya</strong>. Sampolu pada mulanya ditenun dari benang sutera. Seperti kita ketahui bahwa di Sulawesi Tengah khususnya Kabupaten Donggala terkenal dengan tenun sarung Donggala. Jadi yang ditenun bukan hanya sarung saja melainkan bermacam-macam jenis perlengkapan seperti sampolu (selendang) siga (Destar) sitage (stagen), dan lain-lain.</p>
<p>Untuk menenun tersebut masih digunakan alat tenun gedongan. Cara menenun sampolu kedua arah benang nupasau danupasua atau lungsi maupun pakan tersebut dari satu warna. Untuk simpolu dapat memilih warna-warna merah, kuning dan hijau. Pada simpolu kita temui hiasan pada semua tepi, kecuali tepi bagian bawah. Hiasan tersebut dari benang kumbaja atau benang warna emas dan perak dengan jalan menyisipkan benang kumbaja tersebut ketika menenun. Pembuatannya dengan jalan menghitung benag menyerupai piramida tetapi mempunyai motif tertentu seperti bunga. Satu lembar Simpolu dapat diselesaikan dalam waktu dua sampai tiga hari lamanya.</p>
<p><strong>Cara memakainya</strong>. Sampolu dipakai diatas kepala menutup seluruh kepala. Sampolu digunakan pada tarian tradisional seperti tari Pewulu Cinde, Tari Tomanuru dan hampir semua tari tradisional.</p>
<p><strong>Fungsinya</strong>. Pada tari Pewulu cinde, Sampolu dipakai sebagai penutup muka gadis-gadis penari bukan sebagai cadar melainkan Sampolu disini menunjukkan kepribadian dan keseopanan. Sebab apabila tidak memakai Sampolu nampaknya penari seperti kehilangan pakaian.</p>
<p><strong>Persebarannya</strong>. Untuk Sampolu digunakan memakai pada hampir semua tari tradisional dan tari daerah bahkan tari kerja pun kadang-kadang memakai Sampolu hanya saja disesuaikan dengan kebutuhan tari.</p>
<hr size="1" /><strong>17. Pakamba<a name="Pakamba"></a> (sejenis Selendang)</strong></p>
<p><em>Bahan</em>: Kain hasil Tenunan. <em>Bentuk</em>: Segi empat, panjang 1 m, lebar 60 cm.</p>
<p><strong>Cara membuatnya</strong>. Sama seperti mebuat Sampolu, hanya tidak memakai benang emas.</p>
<p><strong>Cara memakainya</strong>. Diikatkan pada pinggang diatas pakaian lain seperti baju dan sarung.</p>
<p><strong>Fungsinya</strong>. Sebagai penutup bagian badan yang dianggap menonjol yakni pantat.</p>
<p><strong>Persebarannya</strong>. Pakamba digunakan pada Pajoge Maradika Dan hampir semua tari upacara penyembuhan seperti tari Tomanuru, tari salonde, juga beberapa tari yang memakai celana panjang seperti tari jepeng, tarin randatovea dan beberapa tari yang sejenis yang menggunakan celana panjang atau sarung yang agak sempit. Seperti beberapa tari kreasi lainnya juga sudah banyak memakai pakamba yang juga sudah dikreasikan bentuknya.</p>
<hr size="1" /><strong>18. Cinde<a name="Cinde"></a></strong></p>
<p>Bahan : Mbesa, kain putih dan potondate.<br />
Bentuk :</p>
<p><strong>Cara membuatnya</strong>. Mbesa adalah bahan (kain) hasil tenunan suku kaili di Kabupaten Donggala yang mempunyai motif dan warna hampir sama dengan motif tenunan Nusa Tenggara Timur atau Timor Timur tetapi lebih dekat dengan motif Toraja di Sulawesi Selatan. Kain ini dibuat dari benang kapas. Dasar membuatkan kain mbesa ini yaitu kain tenun dengan tehnik ikat. Mbesa ini mempunyai unsur khas dalam bentuk corak dan gaya warnanya. Motif-motif hias yang dibuat dengan cara mengikat benang pakannya kemudian dicelup dalam bahan warna, sebelum ditenun. Bagian-bagian yang diikat sudah merupakan pola hias yang dikendaki dan kemudian dicelupkan ke dalam bahan warna.</p>
<p>Bagian-bagian yang diikat tetap mempunyai warna asli benanngnya, sedangkan yang tidak diikat berubah warnanya, sesuai dengan warna celupannya. Cara mengikat benang untuk ragam hias dalam proses mencelup ini, sama dengan cara menutup pola hias batik, yaitu dengan malam atau lilin lebah. Hanya bedanya, jika pada penutupan dengan lilin, setelah selesai proses pencelupan selesai, diakhiri dengan menghilangkan lilin lebah tadi melalui pengerikan. Sedangkan pada tehnik ikat dalam tenun bagian yang diikat hanya dibuka ikatannya. Jenis tali pengikat adalah sejenis rumput yang disebut daun silar, yang dapat menahan cairan air tidak masuk ke dalam bagian benang yang diikat, tetapi sekarang banyak juga yang menggunakan tali serat sintetis yaitu rapia. Setelah ditenun, hasil dari pencelupan menghasilkan bentuk hias yang tampak warna diisi dengan warna benang lungsinya.</p>
<p>Kesamaan ini juga karena kesamaan warna benang lungsi yang gelap atau tua sedangka benang pakannya yang sudah berbentuk ragam hias berwarna terang atau berwarna muda. Pada umumnya warna benang pakan dan lungsi sama. Untuk membuat ragam hias, sebelum dicelup benang dasar warna putih diikat. Setelah dicelup dan dikeringkan maka pengikat dibuka, sehingga nampak ragam hias yang kita kehendaki. Apabila ragam hias tersebut ingin kita beri warna lagi maka cukup dengan mengoleskan warna pada ragam hias yang sudah ada. Kebanyakan mbesa hanya memiliki dua warna yakni warna dasar putih dengan ragam hias coklat atau merah darah. Mbesa dibutuhkan untuk sebuah Cinde dengan ukuran panjang 1,50 cm, lebar 1,10 cm. Kemudian pada ujung mbesa dililitkan kain putih serta dimasukkan sebuah Pontondate.</p>
<p><strong>Cara memakainya</strong>. Cinde diletakkan diatas sebuah piring (antik). Piring tua yang dipegang oleh salah seorang penari. Pada akhir tarian ujung cinde yang diberi kain putih dan ponto diambil oleh penari paling depan kemudian berjalan kembali sembari penari paling belakang menghambur beras kuning. Tari Peulu Cinde ditarikan oleh 3 orang puteri.</p>
<p><strong>Fungsinya</strong>. Cinde mempunyai fungsi untuk menuntun pengantin atau tamu agung. Apabila tari ini ditarikan pada pesta perkawinan maka cinde diulurkan oleh salah seorang penari pada pangantin pria mulai dari tangga sampai pada tempat yang disediakan untuk pengantin (pelaminan). Apabila ditarikan pada penyambutan tamu agung maka cinde diulurkan oleh penari pada sang tamu sejak dari tangga terakhir pasawat atau kendaraan lain atau mulai dari tangga rumah hingga pada tempat yang sudah disediakan untuk tamu tersebut.</p>
<p><strong>Persebarannya</strong>. Cinde sampai saat ini baru digunakan oleh tari peulu cinde dan pada upacara-upacara pencemputan. Baik pengantin maupun tamu-tamu agung. Pada umumnya daerah yang ada rajanya atau dikenal dengan Magau mengenal Cinde. Cinde juga bisa digunakan dalam upacara tanam tembuni yakni dengan jalan mengikat kepala 7 buah berturut-turut satu per satu diturunkan dari rumah yang agak tinggi ketempat dimana tembuni ditanam. 7 butir kelapa ditanam disekeliling tembuni. Jadi cinde sangat dikenal oleh masyarakat Kabupaten Donggala.</p>
<hr size="1" /><strong>19. Silu<a name="Silu"></a> (pengikat)</strong></p>
<p><em>Bahan</em>: Kulit kayu. <em>Bentuk</em>: Pipih panjang dengan ukuran 5 cm panjang 75 cm, lebar 5 cm.</p>
<p><strong>Cara membuatnya</strong>. Mula-mula memilih kayu Nunu (beringin) kemudian dengan memberi makanan atau sesajen yang berupa satu ekor ayam putih dan makanan ketan empat warna yakni merah putih, kuning dan hitam, lalu sando atau dukun membaca mantra yang memohon pada roh halus penghuni pohon besar tersebut tidak marah karena tempat tinggal mereka akan rusak. Seudah itu siap memilih dahan yang cukup untuk kebutuhan pembuatan Silu.</p>
<p>Setelah itu dahan tali dipotong-potong dengan panjang ± 60 cm sampai 70 cm. Kemudian direndam disungai selama tiga malam setelah kulit lepas dari batangnya, lalu kulit tadi diletakkan diatas papan tempat yang sudah disiapkan lalu dipukul-pukul hingga kulit arinya dan kulit bagian atas keluar kemudian direndam lagi di dalam sungai selama tiga hari tiga malam. Setelah itu kulit kita angkat lalu dipukul-pukul kembali diatas papan dengan alat pemukul juga yang sudah disiapkan untuk itu.</p>
<p>Setelah kulit menjadi lebar dan menipis maka terakhir dicuci hingga bersih lalu dijemur dipara-para yang sudah disiapkan untuk itu. Setelah kering maka kulit kayu tadi dapat dibuat silu. Kulit kayu dapat dipotong saja dengan pisau yang tajam sepanjang 75 cm dengan lebar 20 cm kemudian bahan yang sudah dipotong lalu dilipat empat. Setelah itu masing-masing ujung ± 10 cm diris-iris sebesar 1 cm. Ujung yang berjambul ini biasanya diberi warna merah yang juga didapat dari kulit kayu lembagu atau dari kasumba merah. Setelah itu silu siap dipakai.</p>
<p><strong>Cara memakainya</strong>. Silu diikatkan pada kepala tepat diatas dahi pada penari balia Tampilangi atau pada umumnya tari upacara penyembuhan. Para penari apabila kesurupan dapat menari diatas bara yang cukup panas.</p>
<p><strong>Funginya</strong>. Fungsi utama dari silu adalah untuk menguatkan hati penari mengokohkan jiwa dan membesarkan jiwa sebab silu berasal dari kayu Nunu (beringin) yang dikenal kepunyaan roh-roh halus dapat menghalau roh-roh jahat.</p>
<p><strong>Persebarannya</strong>. Sampai saat ini silu masih dipakai oleh penari tari-tari upacara penyembuhan. Pada umumnya. Apabila tari itu sudah dikreasikan maka biasanya silu udah dapat dibuat dari kain yang dihiasi yang nampaknya sebagai hiasan kepala saja. Sedangkan silu sangat dikenal di daerah Kabupaten Donggala dan Poso.</p>
<hr size="1" /><strong>20.Kaliavo<a name="Kaliavo"></a> (Perisai)</strong></p>
<p><em>Bahan</em>: Kayu lepas (bahasa kaili) Kayu lepaa. <em>Bentuk</em> : Lihat foto.</p>
<p><strong>Cara membuatnya</strong>. Mula-mula mencari kayu lepaa dengan membuat upacara berupa memberi makan (sesajen) nasi pulut empat warna, hitam, putih, merah dan kuning, serta ayam putih. Kemudian sang dukun membaca mantera, yang gunanya untuk memohon pada Sang Maha Besar Tuhan memakai perisai ini kuat dan menang dalam medan perang, juga meminta pada para penghuni hutan bahkan kayu-kayu tersebut agar merestui dan memberi dengan senang hati.</p>
<p>Kemudian dipilih kayu yang garis menengahnya ± 18 cm sampai 20 cm, panjang ± 110 cm. Kemudian dibagi empat. Seperempat bagian dibuang, tinggal tiga perempat gabian berbentuk segi tiga. Lalu bagian dalam dipahat dibentuk sehingga yang tinggal adalah tempat pegangan dengan ukuran ± 40 cm yakni 20 + 20 cm batas penahan tempat pegangan sedangkan 20 cm adalah berupa lebar sisi kiri kanan 10 cm, sisi dalam 8 cm, tebal sisi ± 3 cm.</p>
<p>Pada bagian dinding sisi dibuat lubang tempat untuk menanam rambut (memasukan) rambut. Jarak antara bari tempat menanam rambut tersebut ± 6 cm, sebelum lubang diikatkan dahulu rotan selebar kedua sisi kaliavo dengan lebar rotan 2 cm kemudian untuk menggunakan pengikat rotan tadi dijahit pula dengan rotan sepanjang dan selebar rotan pengikat tersebut, agar ikatan tambah kuat. Dengan demikian terbentuklah sebuah kaliavo.</p>
<p><strong>Cara memakainya</strong>. Kaliavo dipakai pada tangan kiri sebagai alat penangkis pukulan atau tombak musuh. Juga digunakan seperti mengeluk-elukan dipermain-mainkan saja pada tangan kiri.</p>
<p><strong>Fungsinya</strong>. Pada tari meaju kaliavo dipegang dengan tangan kiri sedangkan tangan kanan memegang tampi (tombak) kedua alat tersebut diangkat dan mengeluk-eluk dengan maksud memberi semangat para pahlawan baik yang akan menuju medan perang maupun yang kembali dari medan perang. Sedangkan pada tari meaju garapan kedua alat tersebut digunakan sebagai alat perang.</p>
<p><strong>Persebarannya</strong>. Sampai sekarang ini kaliavo dan tampi baru digunakan pada tari meaju, baik meaju asli maupun meaju garapan baru. Kaliavo sangat dikenal dimasyarakat umumnya Sulawesi Tengah khususnya di Kabupaten Donggala. Namun kaliavo yang digunakan pada tari meaju garapan baru bukan lagi kaliavo yang dibuat seperti pada cara pembuatan diatas tetapi sudah dapat dibuat dari dua belah papan yang kemudian dipaku saling dilekatkan sisinya kemudian membuat tempat pegangan di bagian dalam. Sedangkan hiasan dari rambut sudah tidak ditemui lagi kecuali menghiasinya dengan cat yang dibuat sedemikian memberi kesan seperti kaliavo aslinya.</p>
<p>Sumber: Perpustakaan Daerah Propinsi<br />
Jl. Banteng No. 6 Palu Telp. (0451) 482490</p>
</div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://telukpalu.com/2008/04/peralatan-tari-tradisional-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Peralatan Tari Tradisional</title>
		<link>http://telukpalu.com/2008/04/peralatan-tari-tradisional/</link>
		<comments>http://telukpalu.com/2008/04/peralatan-tari-tradisional/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Apr 2008 13:06:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Thony Irawanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Alat Tari Tradisional]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya Sulawesi Tengah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/tlp2010/?p=935</guid>
		<description><![CDATA[Beragam perlatan tari tradidional yang ada di Sulawesi tengah, lebih detail dalam uraian sebagai berikut: 1. Vidu Bahan: Kelopak bambu yang berbuluh dan mengkilat yang dalam bahasa Kaili disebut Sayapu nuavo, batang rumput alang-alang manik-manik dan caba, umbut kayu bakau. Bentuk: Menyerupai kepala manusia tetapi mempunyai ekor seperti ekor burung. Cara membuatnya. Mula-mula mengambil kelopak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beragam perlatan tari tradidional yang ada di Sulawesi tengah, lebih detail dalam uraian sebagai berikut:</p>
<p><strong>1. Vidu</strong></p>
<p><em>Bahan</em>: Kelopak bambu yang berbuluh dan mengkilat yang dalam bahasa Kaili disebut <em>Sayapu nuavo</em>, batang rumput alang-alang manik-manik dan caba, umbut kayu bakau. <em>Bentuk</em>: Menyerupai kepala manusia tetapi mempunyai ekor seperti ekor burung.</p>
<p><strong>Cara membuatnya. </strong>Mula-mula mengambil kelopak bambu yang kemudian dibentuk seperti kepala mausia. Pada talinya digantungkan <em>nida</em> yakni hiasan yang dibuat dari manik-manik dan caba serta pada ekor digantungkan pula jombe yang dibuat dari baco dan pimpi. <em>Baco</em> dibuat dari umbut kayu bakau. Umbut tersebut dipotong-potong sepanjang 1 cm zat pewarna merah biru dan kuning. Kemudian <em>pimpi</em> dibuat dari batang pohon alang-alang sepanjang masing-masing 1/2 cm, kemudian <em>baco</em> dan <em>pimpi</em> dihubungkan dengan benang diselang seling sehingga terbentuk jombe masing-masing sepanjang 1 m untuk satu vidu digunakan 5 &#8211; 6 jombe dengan demikian terbentuklah vidu.</p>
<p><strong>Cara memakainya</strong>. Vidu diikatkan diatas kepala penari <em>Pajoge Maradika</em>.</p>
<p><strong>Fungsinya</strong>. Vidu menandakan kebesaran seperti halnya dengan mahkota. Selain menunjukkan kebesaran vidu juga merupakan suatu perhiasan. Dan pada waktu menari jombe yang berjumbai beberapa kali disentuh oleh penari.</p>
<p><strong>Persebarannya</strong>. Memang perlengkapan tari ini tidak disebarkan pada tari lainnya mengingat fungsinya sebagai lambang kebesaran saja. Dan satu-satunya tari yang menggunakan vidu adalah tari <em>Pajoge Maradika</em>. Sedangkan cara membuat dan bahan yang digunakan sudah dapat dibuat dari gardus yang mengkilat. Kemudian jombe yang terdiri dari baco dan pimpi dapat dibuat dari kancing hias yang berwarna warni yang lebih menarik dan muda didapatkan.</p>
<hr size="1" /><strong>2. Dalitaroe (anting menggantung)</strong></p>
<p><em>Bahan</em>: Logam, emas atau perak. <em>Bentuknya</em>: Kepingan-kepingan kecil berbentuk segi empat.</p>
<p><strong>Cara membuatnya</strong>. Pertama-tama membuat dasar anting-anting dua bagian dicetak. Kemudian membuat kepingan-kepingan kecil berbentuk segi empat. Kepingan kecil dibuat sebanyak tiga puluh buah untuk sebelah anting-anting. Kemudian kepingan yang tiga puluh buah dirangkai dengan rantai menjadi lima untai yang digantungkan pada dasar anting-anting yang agak besar bagian tengah yang berbentuk segi tiga seperti daun. Kemudian dasar anting-anting tengah dirangkai lagi dengan rantai ke dasar atas yang berbentuk bulat seperti kembang yang pada bagian tengahnya diletakkan sebuah permata warna putih atau kuning. Dengan rangkaian-rangkaian tadi maka terbentuklah sebuah Dalitaroe.</p>
<p><strong>Cara memainkannya</strong>. <em>Dalitaroe</em> dipakai sebagaimana memakai anting-anting pada umumnya.</p>
<p><strong>Fungsinya</strong>. Dalitaroe berfungsi sebagai perhiasan penari. Tapi Dalitaroe yang dipergunakan oleh penari pajoge maradika adalah merupakan seperangkat peralatan tari yang tidak bisa dipisahkan dari peralatan lainnya seperti pawala, lola, pontondate, geno, pende yang menunjukkan kebesaran pemakainya.</p>
<p><strong>Persebarannya</strong>. Dalitaroe dalam persebarannya selain digunakan pada tari-tari tradisional dan hampir semua tari daerah, maka dalitaroe sudah sangat memasyarakat sampai-sampai dipakai pada setiap tarian apakah tari muda-mudi (gembira) bahkan tari kerja yang disesuaikan dengan kebutuhan tari itu sendiri.</p>
<hr size="1" /><strong>3. Geeno (Kalung panjang)</strong></p>
<p><em>Bahan</em>: Logam emas atau perak.</p>
<p><strong>Cara membuatnya</strong>. Geno juga dibuat oleh pandai emas. Terdiri dari rantai dan piringan-piringan yang masing-masing berbentuk segi tiga. Piringan-piringan dicetak untuk sebuah geno diperlukan sepuluh buah piringan dengan ukuran dua sisi masing-masing 6 cm, dalam bentuk daun yang bergerigi. Pada bagian tengah piringan diberi batu permata berwarna putih atau kuning. Kemudian piringan-piringan dihubung-hubungkan dengan rantai sepanjang ± 5 cm sedangkan untuk piringan bagian tengah rantainya cukup 2 cm. Piringan paling bawah berukuran agak besar yakni dua sisi masing-masing 7 cm, karena hubungan antara rantai dan piringan-piringan terbentuklah geno.</p>
<p><strong>Cara memakainya</strong>. Geno digantungkan pada leher penari selalu diatas pakaian atau baju supaya geno terlihat oleh orang lain (penonton).</p>
<p><strong>Fungsinya</strong>. Geno dalam <em>Tari Pajoge Maradika </em>merupakan seperangkat pakaian puteri yang tidak boleh ditinggalkan karena tari <em>Pajoge Maradika </em>adalah tari tradisional yang hanya ditarikan ditempat raja-raja dan ditarikan oleh puteri raja atau bangsawan.</p>
<p><strong>Persebarannya</strong>. Berhubung geno merupakan perhiasan maka geno dapat digunakan pada hampir semua tari daerah kecuali tari kerja.</p>
<hr size="1" /><strong>4. Pende (Pending)</strong></p>
<p>Bahan : Logam emas atau perak.</p>
<p><strong>Cara membuatnya</strong>. Seperti pada umumnya perhiasan atau peralatan tari yang terbuat dari logam emas atau perak maka pende juga dibuat dengan jalan mencetak. Pada bagian dalam dibuat tempat untuk memasukkan tali pengikat. Tali pengikat sering dibuat dari kain yang berwarna kuning yang diberi hiasan.</p>
<p><strong>Cara memakainya</strong>. Pende diikatkan pada pinggang penari puteri sebagai ban pinggang.</p>
<p><strong>Fungsinya</strong>. Selain sebagai pengikat pinggang juga sebagai perhiasan. Namun fungsi yang paling menonjol adalah merupakan seperangkat perlengkapan tari yang tidak dapat dilepaskan mengingat tari yang dibawakan adalah tari tradisional yang ditarikan oleh puteri-puteri raja.</p>
<p><strong>Persebarannya</strong>. Pende pada saat ini bukan saja dipakai pada tari-tari tradisional bahkan dapat digunakan pada hampir semua tari daerah. Seperti tari upacara tari gembira (muda-mudi) tari kerja hanya disesuaikan dengan kebutuhan tari itu sendiri. Tetapi pende yang digunakan pada umumnya tari terebut bukan lagi yang dibuat dari logam emas atau perak, tetapi tali pengikat yang dibuat sedemikian rupa sehingga nampak seperti pende aslinya.</p>
<hr size="1" /><strong>5. Pawala (Gelang)</strong></p>
<p>Bahan : Logam (Emas atau Perak)<br />
Bentuk : Bulat-bulat mempunyai hiasan atau ukiran-ukiran kecil.</p>
<p><strong>Cara membuatnya</strong>. Peralatan ini pada umumnya dibuat oleh pandai emas. Menurut pemilik peralata ini bahwa cara pandai emas membuatnya adalah dengan jalan mencetak. Jadi untuk membuat anak-anak pawala sudah siap memang cetakan sesudah emas atau perak dilarutkan kemudian dituangkan pada cetakan. Sesudah hasil cetakan sudah jadi atau sudah berbentuk kemudian dibulatkan setelah memanaskan lebih dahulu lalu disolder. Akhirnya terbentuklah pawala.</p>
<p><strong>Cara memakainya</strong>. Seuntai pawala sering terdiri dari 10 sampai 12 biji pawala yang ditusuk dengan benang. Biasanya banyaknya disesuaikan dengan besarnya pergelangan tangan pemakainya. Pawala diikatkan pada pergelangan tangan kana dan kiri.</p>
<p><strong>Fungsinya</strong>. Pawala merupakan perangkat perhiasan lainnya pada tari Pajoge Maradika. Mengingat tari tersebut adalah tari yang ditarikan oleh puteri raja dalam rumah kerajaan atau pesta-pesta kerajaan maka perlengkapan menari haruslah lengkap sehingga pawala dan perlengkapan lainnya hanya merupakan hiasan penambah agungnya penari.</p>
<p><strong>Persebarannya</strong>. Pawala bukan seperti Dalitaroe atau Lola ataupun Geno, karena pawala tidak sesering perlengkapan lainnya itu digunakan. Sehingga pawala kebanyakan hanya digunakan pada upacara-upacara adat. Kecuali pada tari Pajoge Maradika.</p>
<hr size="1" /><strong>6. Pontondate (Gelang panjang)</strong></p>
<p><em>Bahan </em>: Logam (Emas atau perak sepuhan). <em>Bentuk </em>: Bulat panjang berlubang. Bulatan bagian atas dengan garis menengah 7 cm sampai 8 cm. Bulatan bagian bawah batas pergelangan bergaris menengah 6 cm. Panjang gelang 15 cm sampai 18 cm.</p>
<p><strong>Cara membuatnya</strong>. Pada umumnya peralatan ini dibuat oleh pandai emas. Pontondate dibuat dengan cara mencetak. Sebuah Pontondate terdiri dari dua bagian. Setelah cetakan kedua bagian tersebut jadi lalu sisi satu sama lain dihubungkan dengan jalan membuat lubang untuk memasukkan semacam kawat sebagai bahan penahan sehingga terbentuklah sebuah Pontondate.</p>
<p><strong>Cara memakainya</strong>. Pontondate dimasukkan pada tangan sebagaimana biasanya menggunakan gelang. Hanya saja ini ukurannya dari atas pergelangan hingga sampai batas siku.</p>
<p><strong>Fungsinya</strong>. Pontondate pada tarian pajoge maradika adalah semata-mata sebagai perhiasan. Tetapi bukan sembarang perhiasan melainkan melihat pula penari dan tari yang ditarikan sangat membutuhkan perhiasan tersebut. Biasanya Pontondate digubaka pada tari tradisional seperti tari Pajoge Maradika yang ditarikan oleh puteri-puteri raja atau bangsawan lainnya maka Pontondate merupakan suatu perhiasan kebesaran yang tidak dapat ditinggalkan.</p>
<p><strong>Persebarannya</strong>. Pontondate sangat menarik rupanya sehigga akhir-akhir ini Pontondate bukan saja digunakan pada tari-tari tradisional, melainkan sudah digunakan pada hampir setiap tari daerah kecuali tari kerja.</p>
<hr size="1" /><strong>7. Lola (Gelang)</strong></p>
<p><em>Bahan</em> : Logam Emas atau perak. <em>Bentuk </em>: Bulat, Garis menengahnya 15 cm hingga 20 cm</p>
<p><strong>Cara membuatnya</strong>. Seperti juga Pontondate Lola juga dibuat oleh pandai emas. Dibuat dengan acara mencetak. Setelah dua bagian tercetak maka dibuat lubang pada sisi masing-masing bagian empat kawat halus sebagai penahan sehingga terbentuklah lola.</p>
<p><strong>Cara memakainya</strong>. Lola digunakan diatas Pontondate atau dilengan hampir siku. Jadi menggunakan sesudah memakai lola kemudian Pontondate.</p>
<p><strong>Fungsinya</strong>. Seperti juga Pontondate maka lola juga berfungsi sebagai hiasan tari. Perlengkapan tari ini kebanyakan digunakan pada tari-tari tradisional seperti tari upacara.</p>
<p><strong>Persebaran</strong>. Kita telah melihat Pontondate yang merupakan perlengkapan tari tradisional, demikian pula dengan lola. Akhir-akhir ini lola bukan saja digunakan pada tari tradisional tetapi hampir semua tari daerah namun disesuaikan dengan kebutuhan tari itu sendiri.</p>
<hr size="1" /><strong>8. Kaveba atau Tipasa (Kipas)</strong></p>
<p><em>Bahan</em> : Daun Silar dan kain serta manik-manik, atau dari bahan pelepah kayu. <em>Bentuknya </em>: Seperti kipas.</p>
<p><strong>Cara membuatnya</strong>. Mula-mula mengambil pucuk daun silar kemudian dibersihkan dari lidinya. Lalu dibelah atau diiris selebar 1/2 cm kemudian jemur. Setelah kering dibersihkan kembali lau dianyam dibentuk seperti kipas dengan menggunakan rotan sebagai tulangnya. Kemudian dibungkus dengan kain warna kuning kemudian dihiasi dengan manik-maik yang di sesuaikan dengan selera pembuatnya. Kaveba diatas dipakai pada tari Pajoge Maradika dan tari Kaveba. Sedang kaveba atau yang lebih dikenal dengan Tipasa dapat dibuat dari pelepah sagu yang dibentuk seperti kipas yang berukuran agak kecil. Tipasa ini sering digunakan dalam tari Rego dan tari upacara penyembuhan.</p>
<p><strong>Cara memakainya</strong>. Kipas kebanyakan dipegang dengan tangan kanan. Kecuali pada tari Rego dipegang dengan tangan kiri oleh penari pria.</p>
<p><strong>Fungsinya</strong>. Kaveba pada tari Pajoge Maradika berfungsi untuk mengipas putera dan puteri raja yang sedang menari dan Kaveba ini dipegang oleh penari dayang-dayang. Pada tari Kaveba memang sebagai pada umumnya tari kipas maka kaveba yang menjadi permainan pada tarian tersebut. Atau keterampilan menggunakan Kaveba. Sedangkan pada tari Rego Tipasa berfungsi untuk mengipas pada pebari wanita yang selama menari berada dalam pelukan para penari pria. Sedangkan Tipasa pada tari upacara penyembuhan berfungsi sebagai penghalang roh-roh jahat bersama-sama dengan kita.</p>
<p><strong>Persebarannya</strong>. Kaveba atau Tipasa tidak banyak digunakan pada tari daerah lain kecuali tari-tari yang diangkat dari tari upacara penyembuhan seperti Tari Salonde, Tomanuru dan sejenisnya.</p>
<hr size="1" /><strong>9. Pasatimpo (Keris)</strong></p>
<p><em>Bahan</em> : Logam (tembaga atau kuningan).<em> Bentuk </em>: Panjang kurang lebih 40 cm.</p>
<p><strong>Cara Membuatnya</strong>. Kersi yang sering digunakan atau dipakai oleh penari (Pajoge Maradika) adalah keris milik kerajaan atau keris pusaka. Jadi keris tersebut sudah ada sejak ratusan tahun. Gagang keris dibuat dari emas murni sedangkan sarungnya dibuat dari emas muda.</p>
<p><strong>Cara Pemakainya</strong>. Kersi yang disertai dengan tali pengikat yang sering disebut Kambang keri yang disebut dari kain warna kuning, diikatkan pada pinggang dengan keris tepat disebelah kiri, ganggang menghadap ketas tepat diulu hati, sebab kadang-kadang penari pria memegang gagang keris sebagai pelambang kebesarannya.</p>
<p><strong>Fungsinya</strong>. Menampakan sifat kesatriaan dan kewibawaan sang putera memberikan lambang kejantanan seorang putera saja. Jadi keris benar-benar hanya sebagai pembangkit semangat pemakainya bahwa dia adalah agung dan berwibawa.</p>
<p><strong>Persebarannya</strong>. Pasa Timpo sering pula digunakan dalam tari-tari penyembuhan dengan fungsi untuk mengusir semua roh-roh jahat dan pasa timpo tersebut dipermainkan didepan muka ketas &#8211; kebawah dengan pengertian mengusir roh jahat. Namun kiri lebih sering digunakan pada tari-tari kepahlawanan hanya untuk membesarkan jiwa penarinya. Karena keris tidak digerakan tetapi cukup diikatkan saja pada pinggang penari sebagai hiasan.</p>
<hr size="1" /><strong>10. Pangga (Sinjulo)</strong></p>
<p><em>Bahan</em> : Kulit kayu. <em>Bentunya </em>: Lihat gambar</p>
<p><strong>Cara membuatnya</strong>. Mula-mula memilih kayu kemudian dengan jalan memberi makanan atau sesajen berupa ayam putih satu ekor, nasi ketan hitam, putih, kuning dan merah serta dukun membacakan mantra agar penghuni kayu tersebut (roh halus) tidak marah sebab merusak rumah mereka. Sesudah itu dipilih dahan yang cukup besarnya lalu dipotong-potong sepanjang 60 cm. Kayu tersebut lalu direndam disungai selama tiga hari tiga malam. Setelah kulit lepas dari batangnya lalu diangkat diletakan diatas papan tempat pembuatannya kemudian di pukul-pukul dengan kayu alat pemukul yang udah disiapkan. Setelah kulit luar keluar dari kulit tadi sudah melebar dan menipis, kembali direndam di sungai selama tiga hari tiga malam kemudian di angkat lagi. Kemudian dipukul kembali sehingga lebih lebar dan menipis. Selanjutnya di cuci lalu dijemur di para-para tempat jemuran khususnya pembuatan kulit kayu tersebut. Sesudah kering maka pangga atau sinculo dapat dibuat dengan jalan mengukur panjang yang dibutuhkan. Panjangnya 150 cm lebar 50 cm. Kemudian dilipat dua. Pada bagian atas digunting leter V tempat kepala masuk. Kemudian pada bagian benda dapat diberi warna merah yang diperoleh dari buah kayu atau air dari kayu lambagu. Setelah itu pangga siap dipakai.</p>
<p><strong>Cara memakainya</strong>. Pangga dipakai paling atas atau diatas pakaian lainnya.</p>
<p><strong>Fungsinya</strong>. Menunjukkan bahwa penari tersebut adalah laki-laki menari seperti perempuan (banci). Tetapi penari-penari tersebut bukan banci sebenarnya tetapi banci buatan yang di tandai dengan pangga atau sinjulo tersebut. Selain itu pangga atau <em>sinjulo</em> juga berfungsi sebagai pengetuk bagian depan penari laki-laki yang menjadi perempuan sehinga kita tidak kenal mereka sebagai penari laki-laki. Pakaian ini hanya digunakan pada tari-tari upacara penyembuhan utamanya Tari Balia Bone atau Jinja dan sejenisnya.</p>
<p><strong>Persebarannya</strong>. Sampai saat ini pangga masih dipakai pada hampir semua tari tradisional penyembuhan malahan beberapa tari penyembuhan yang sudah diterima masih menggunakan pangga. Namun pangga tersebut bukan lagi dari kulit kayu melainkan dari kain yang warnanya disesuaikan dengan warna pakaian penari. Kemudian dapat diberi hiasan dari musik-musik supaya menjadi lebih indah. Tetapi apabila tari tersebut masih asli maka harus memakai kulit kayu walaupun pada hiasan sudah dapat menggunakan spidol.</p>
<hr size="1" /><strong>11. Talimpuso (Tapi)</strong></p>
<p><em>Bahan</em> : Pelepah enau, kain, batu banggai, tali perak dan benang. <em>Bentuk </em>: Trapesium (segi empat tidak sama sisi)</p>
<p><strong>Cara membuatnya</strong>. Mula-mula menyimpan pelepah enau. Kemudian membersihkan dan dipotong-potong dengan ukuran dua sisi kiri dan kanan 20 cm lebar dengan atas 30 cm dan lebar bagian bawah 24 cm. Untuk satu buah kalipus diperlukan bilah potongan pelepah enau. Kemudian dibungkus dengan kain berwarna merah. Setelah selesai dibungkus maka lapisan bagian muka diberi hiasan dengan jalan menjahitkan kain kuning yang berbentuk segi tiga pada perempat bagian talipuso dengan berbanjar banyak lima lembar dengan ukuran sisi 4 cm sampai 5 cm. Kemudian pada seluruh bagian yang masih kosong dijahitkan batu banggai atau batu mitra hingga separuh batas talimpuso. Sedangkan separuhnya diisi dengan menjahitkan benang emas berbanjar empat dua baris kebawah dengan motif bunga. Sedangkan bagian yang kosong dijahitkan pula batu banggai atau batu mitra. Setelah pekerjaan menghias selesai sekarang membungkam sisi-sisi kiri kanan. Dan pada bagian atas tersebut dibuat pula tiga buah lobang tempat memasukan hiasan dari buluh ayam berwarna putih dari ayam jantan. Pada sudut kiri kanan dipasang pula tali masing-masing sepanjang 50 cm. Maka terbentuklah talimpuso.</p>
<p><strong>Cara memakainya</strong>. Talimpuso dimasukkan dikepala penari seperti halnya memakai topi tetapi sudutnta berada didekat telinga tetapi harus diikat karena bentuknya agak tinggi.</p>
<p><strong>Fungsinya</strong>. Talimpuso seperti juga pangga atau sinjulo menunjukan atau menandakan bahwa penari tersebut adalah laki-laki yang disebut dengan kata bayasa atau banci. Hanya panggilan pada saat menari mereka disebut bayasa atau banci. Talimpuso dipakai pada tari-tari upacara penyembuhan seperti tari balia bone, balia jinja dan sebagainya.</p>
<p><strong>Peresebarannya</strong>. Perlengkapan ini belum banyak digunakan pada tari-tari lain atau tari daerah, kecuali pada tari kreasi baru yang disingkat dari tari tradisional, khususnya tari upacara penyembuhan. Seperti tari Tomanuru kreasi baru, tari meaju kerasi baru. Tetapi pembuatannya sudah dikreasi pula. Bahan dapat dibuat dari karton yang dibugkus dengan kain warna bukan saja warna merah bahkan warna hitam yang dihiasi dengan manik-manik (pici-pici) dan pita emas.</p>
<hr size="1" /><strong>12. Tampi = Toko = Tavala (tombak)</strong></p>
<p><em>Bahan</em> : Tembaga atau kuningan serta kayu dan rambut. <em>Bentuk </em>: Lihat gambar</p>
<p><strong>Cara membuatnya</strong>. Membuat mata tampi dari tembaga atau kuningan, mula-mula logam dibakar (dipanaskan) lalu dipukul-pukul dengan palu-palu khusus membentuk mata tampi. Setelah itu maka pekerjaan berikut adalah menajamkan mata tampi dengan jalan mengasar. Kemudian membuat tangkai dari kayu hitam yang panjangnya natara 125 ampai 150 cm dengn garis menengah 4 cm sampai 5 cm. Pada ujung tangkai dibuat tempat untuk memasukan mata tampi. Kemudia diatas tempat mata tampi ± 10 cm dari tempat tersebut dibuat lobang. Lobang tersebut adalah tempat menanam (memasukkan) rambut manusia sekeliling batang batang tampi diatas mata tampi tadi. Sehingga rambut tersebut nampak sebagai hiasan tampi.</p>
<p><strong>Cara pemakaiannya</strong>. Tampi dipegang pada tangan kanan dibagian tengah batang tampi.</p>
<p><strong>Fungsinya</strong>. Tombak pada Tari Meaju berfungsi sebagai perlengkapan penambah habaran semangat para pahlawan baik yang akan kemedan perang maupun yang kembali dari medan perang atau semangat pengantin pria atau semangat putera-putera yang masih cukup kecil yang menghadapi upacara khitanan (Nosuna). Tampi dengan penari meaju mengeluk-elukan sambil berteriak.</p>
<p><strong>Persebarannya</strong>. Tampi sampai saat ini masih digunakan pada tari meaju dan pada tari upacaera yang disertai persembahan hewan Kerbau dan Kambing. Tampi masih terbatas pemakaiannya, kecuali tari meaju dan tari upacara penyembuhan tradisional sudah dapat pula digunakan pada tari meaju kreasi baru dan upacara kreasi baru. Tampi yang dipakai bukan lagi tampi asli yang masih memakai rambut manusia yang konon bahwa rambut yang dipasang terebut adalah rambut orang dipotong kepalanya saat perang dahulu kala. Sebagai pengganti rambut biasanya benang berwarna merah atau hitam atau buluh binatang.</p>
<hr size="1" /><strong>13. Tali Tandu (tali kepala berbentuk tanduk)</strong></p>
<p>Bahan : Pelepah enau atau kulit gaba-gaba kain serta manik-manik<br />
Bentuk : Seperti tandung sapi.</p>
<p><strong>Cara membuatnya</strong>. Mula-mula mengambil pelepah enau atau kulit gaba-gaba. Kemudian di potong-potong masing-masing 25 cm. Kemudian dibersihkan lalu dipipihkan setebal 1/4 cm dengan lebar 5 cm. Kedua potong kulit gaba-gaba atau pelepah enau dibungkus dengan kain warna kuning atau merah. Untuk membentuk tanduk digunting pula kain warna kuning dua buah lalu dimasukan kapuk. Kemudian tanduk yang sudah terbentuk diletakan pada kedua ujung pelepah enau yang sudah dibungkus. Setelah pekerjaan itu selesai maka dilanjutkan dengan memberi hiasan dengan manik-manik atau pecahan batu banggai atau batu mitra dengan jalan menjahit atau diikat-ikat dengan benang jahitan tangan. Setelah itu tali tanduk siap dipakai.</p>
<p><strong>Cara memakainya</strong>. Tali tandu diletakan diatas kepala persis seperti tanduk. Untuk menjaga agar tali tadu tidak mudah lepas maka sebelum tali tandu diletakan diatas kepala sudah diletakan dahulu seukurang kecil batas telinga.</p>
<p><strong>Fungsinya</strong>. Fungsi utama adalah untuk mengokohkan membesarkan jiwa penari sebagai dukun penangkal penyakit. Sekarang ini nampaknya sebagai hiasan tetapi pemakaiannya disesuaikan dengan tari yang dibawakan. Pada umumnya digunakan pada tari upacara penyembuhan atau selamatan.</p>
<p><strong>Persebarannya</strong>. Tali tandu udah digunakan oleh beberapa tari upacara lainnya yang masih erat hubungannya dengan selamatan. Juga cara membuat dan bahan sudah dapat dibuat dari gardus yang sudah dapat dibentuk seperti tanduk kemudian dibungkus dengan kain yang cocok dengan tarian yang dibawakan. Juga hiasan dapat dipasang perhiasan yang lebih menarik sebab selain cara membuat dan bahannya juga fungsinya dapat berkembang sebagai hiasan kepala walaupun tidak menghilangkan fungsi aslinya sebagai tanda keberanian.</p>
<p>Sumber: Perpustakaan Daerah Propinsi<br />
Jl. Banteng No. 6 Palu Telp. (0451) 482490<span id="_marker"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 10pt; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">1. Vidu</span></strong><a name="Vidu"></a><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 0pt;"><em><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">Bahan</span></em><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">: Kelopak bambu yang berbuluh dan mengkilat yang dalam bahasa Kaili disebut </span><em><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">Sayapu nuavo</span></em><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">, batang rumput alang-alang manik-manik dan caba, umbut kayu bakau. </span><em><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">Bentuk</span></em><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">: Menyerupai kepala manusia tetapi mempunyai ekor seperti ekor burung. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 10pt; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">Cara membuatnya. </span></strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">Mula-mula mengambil kelopak bambu yang kemudian dibentuk seperti kepala mausia. Pada talinya digantungkan </span><em><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">nida</span></em><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"> yakni hiasan yang dibuat dari manik-manik dan caba serta pada ekor digantungkan pula jombe yang dibuat dari baco dan pimpi. </span><em><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">Baco</span></em><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"> dibuat dari umbut kayu bakau. Umbut tersebut dipotong-potong sepanjang 1 cm zat pewarna merah biru dan kuning. Kemudian </span><em><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">pimpi</span></em><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"> dibuat dari batang pohon alang-alang sepanjang masing-masing 1/2 cm, kemudian </span><em><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">baco</span></em><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"> dan </span><em><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">pimpi</span></em><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"> dihubungkan dengan benang diselang seling sehingga terbentuk jombe masing-masing sepanjang 1 m untuk satu vidu digunakan 5 &#8211; 6 jombe dengan demikian terbentuklah vidu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 10pt; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">Cara memakainya</span></strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">. Vidu diikatkan diatas kepala penari </span><em><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">Pajoge Maradika</span></em><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 10pt; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">Fungsinya</span></strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">. Vidu menandakan kebesaran seperti halnya dengan mahkota. Selain menunjukkan kebesaran vidu juga merupakan suatu perhiasan. Dan pada waktu menari jombe yang berjumbai beberapa kali disentuh oleh penari.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 10pt; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">Persebarannya</span></strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">. Memang perlengkapan tari ini tidak disebarkan pada tari lainnya mengingat fungsinya sebagai lambang kebesaran saja. Dan satu-satunya tari yang menggunakan vidu adalah tari </span><em><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">Pajoge Maradika</span></em><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">. Sedangkan cara membuat dan bahan yang digunakan sudah dapat dibuat dari gardus yang mengkilat. Kemudian jombe yang terdiri dari baco dan pimpi dapat dibuat dari kancing hias yang berwarna warni yang lebih menarik dan muda didapatkan.</span></p>
<div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 0pt;"><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"><br />
<hr size="1" /></span></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 10pt; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">2. Dalitaroe<a name="Dalitaroe"></a> (anting menggantung)</span></strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 10pt; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><em><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">Bahan</span></em><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">: Logam, emas atau perak. </span><em><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">Bentuknya</span></em><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">: Kepingan-kepingan kecil berbentuk segi empat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 10pt; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">Cara membuatnya</span></strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">. Pertama-tama membuat dasar anting-anting dua bagian dicetak. Kemudian membuat kepingan-kepingan kecil berbentuk segi empat. Kepingan kecil dibuat sebanyak tiga puluh buah untuk sebelah anting-anting. Kemudian kepingan yang tiga puluh buah dirangkai dengan rantai menjadi lima untai yang digantungkan pada dasar anting-anting yang agak besar bagian tengah yang berbentuk segi tiga seperti daun. Kemudian dasar anting-anting tengah dirangkai lagi dengan rantai ke dasar atas yang berbentuk bulat seperti kembang yang pada bagian tengahnya diletakkan sebuah permata warna putih atau kuning. Dengan rangkaian-rangkaian tadi maka terbentuklah sebuah Dalitaroe.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 10pt; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">Cara memainkannya</span></strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">. </span><em><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">Dalitaroe</span></em><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"> dipakai sebagaimana memakai anting-anting pada umumnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 10pt; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">Fungsinya</span></strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">. Dalitaroe berfungsi sebagai perhiasan penari. Tapi Dalitaroe yang dipergunakan oleh penari pajoge maradika adalah merupakan seperangkat peralatan tari yang tidak bisa dipisahkan dari peralatan lainnya seperti pawala, lola, pontondate, geno, pende yang menunjukkan kebesaran pemakainya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 10pt; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">Persebarannya</span></strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">. Dalitaroe dalam persebarannya selain digunakan pada tari-tari tradisional dan hampir semua tari daerah, maka dalitaroe sudah sangat memasyarakat sampai-sampai dipakai pada setiap tarian apakah tari muda-mudi (gembira) bahkan tari kerja yang disesuaikan dengan kebutuhan tari itu sendiri.</span></p>
<div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 0pt;"><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"><br />
<hr size="1" /></span></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 10pt; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">3. Geeno<a name="Geno"></a> (Kalung panjang)</span></strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 10pt; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><em><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">Bahan</span></em><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">: Logam emas atau perak. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 10pt; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">Cara membuatnya</span></strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">. Geno juga dibuat oleh pandai emas. Terdiri dari rantai dan piringan-piringan yang masing-masing berbentuk segi tiga. Piringan-piringan dicetak untuk sebuah geno diperlukan sepuluh buah piringan dengan ukuran dua sisi masing-masing 6 cm, dalam bentuk daun yang bergerigi. Pada bagian tengah piringan diberi batu permata berwarna putih atau kuning. Kemudian piringan-piringan dihubung-hubungkan dengan rantai sepanjang ± 5 cm sedangkan untuk piringan bagian tengah rantainya cukup 2 cm. Piringan paling bawah berukuran agak besar yakni dua sisi masing-masing 7 cm, karena hubungan antara rantai dan piringan-piringan terbentuklah geno.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 10pt; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">Cara memakainya</span></strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">. Geno digantungkan pada leher penari selalu diatas pakaian atau baju supaya geno terlihat oleh orang lain (penonton).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 10pt; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">Fungsinya</span></strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">. Geno dalam </span><em><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">Tari Pajoge Maradika </span></em><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">merupakan seperangkat pakaian puteri yang tidak boleh ditinggalkan karena tari </span><em><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">Pajoge Maradika </span></em><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">adalah tari tradisional yang hanya ditarikan ditempat raja-raja dan ditarikan oleh puteri raja atau bangsawan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 10pt; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">Persebarannya</span></strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">. Berhubung geno merupakan perhiasan maka geno dapat digunakan pada hampir semua tari daerah kecuali tari kerja.</span></p>
<div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 0pt;"><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"><br />
<hr size="1" /></span></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 10pt; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">4. Pende<a name="Pende"></a> (Pending)</span></strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 10pt; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">Bahan : Logam emas atau perak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 10pt; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">Cara membuatnya</span></strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">. Seperti pada umumnya perhiasan atau peralatan tari yang terbuat dari logam emas atau perak maka pende juga dibuat dengan jalan mencetak. Pada bagian dalam dibuat tempat untuk memasukkan tali pengikat. Tali pengikat sering dibuat dari kain yang berwarna kuning yang diberi hiasan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 10pt; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">Cara memakainya</span></strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">. Pende diikatkan pada pinggang penari puteri sebagai ban pinggang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 10pt; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">Fungsinya</span></strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">. Selain sebagai pengikat pinggang juga sebagai perhiasan. Namun fungsi yang paling menonjol adalah merupakan seperangkat perlengkapan tari yang tidak dapat dilepaskan mengingat tari yang dibawakan adalah tari tradisional yang ditarikan oleh puteri-puteri raja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 10pt; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">Persebarannya</span></strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">. Pende pada saat ini bukan saja dipakai pada tari-tari tradisional bahkan dapat digunakan pada hampir semua tari daerah. Seperti tari upacara tari gembira (muda-mudi) tari kerja hanya disesuaikan dengan kebutuhan tari itu sendiri. Tetapi pende yang digunakan pada umumnya tari terebut bukan lagi yang dibuat dari logam emas atau perak, tetapi tali pengikat yang dibuat sedemikian rupa sehingga nampak seperti pende aslinya.</span></p>
<div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 0pt;"><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"><br />
<hr size="1" /></span></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 10pt; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">5. Pawala<a name="Pawala"></a> (Gelang)</span></strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 10pt; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">Bahan : Logam (Emas atau Perak)<br />
Bentuk : Bulat-bulat mempunyai hiasan atau ukiran-ukiran kecil.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 10pt; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">Cara membuatnya</span></strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">. Peralatan ini pada umumnya dibuat oleh pandai emas. Menurut pemilik peralata ini bahwa cara pandai emas membuatnya adalah dengan jalan mencetak. Jadi untuk membuat anak-anak pawala sudah siap memang cetakan sesudah emas atau perak dilarutkan kemudian dituangkan pada cetakan. Sesudah hasil cetakan sudah jadi atau sudah berbentuk kemudian dibulatkan setelah memanaskan lebih dahulu lalu disolder. Akhirnya terbentuklah pawala.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 10pt; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">Cara memakainya</span></strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">. Seuntai pawala sering terdiri dari 10 sampai 12 biji pawala yang ditusuk dengan benang. Biasanya banyaknya disesuaikan dengan besarnya pergelangan tangan pemakainya. Pawala diikatkan pada pergelangan tangan kana dan kiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 10pt; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">Fungsinya</span></strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">. Pawala merupakan perangkat perhiasan lainnya pada tari Pajoge Maradika. Mengingat tari tersebut adalah tari yang ditarikan oleh puteri raja dalam rumah kerajaan atau pesta-pesta kerajaan maka perlengkapan menari haruslah lengkap sehingga pawala dan perlengkapan lainnya hanya merupakan hiasan penambah agungnya penari.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 10pt; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">Persebarannya</span></strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">. Pawala bukan seperti Dalitaroe atau Lola ataupun Geno, karena pawala tidak sesering perlengkapan lainnya itu digunakan. Sehingga pawala kebanyakan hanya digunakan pada upacara-upacara adat. Kecuali pada tari Pajoge Maradika.</span></p>
<div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 0pt;"><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"><br />
<hr size="1" /></span></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 10pt; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">6. Pontondate<a name="Pontondate"></a> (Gelang panjang)</span></strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 10pt; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><em><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">Bahan </span></em><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">: Logam (Emas atau perak sepuhan). </span><em><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">Bentuk </span></em><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">: Bulat panjang berlubang. Bulatan bagian atas dengan garis menengah 7 cm sampai 8 cm. Bulatan bagian bawah batas pergelangan bergaris menengah 6 cm. Panjang gelang 15 cm sampai 18 cm.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 10pt; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">Cara membuatnya</span></strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">. Pada umumnya peralatan ini dibuat oleh pandai emas. Pontondate dibuat dengan cara mencetak. Sebuah Pontondate terdiri dari dua bagian. Setelah cetakan kedua bagian tersebut jadi lalu sisi satu sama lain dihubungkan dengan jalan membuat lubang untuk memasukkan semacam kawat sebagai bahan penahan sehingga terbentuklah sebuah Pontondate.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 10pt; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">Cara memakainya</span></strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">. Pontondate dimasukkan pada tangan sebagaimana biasanya menggunakan gelang. Hanya saja ini ukurannya dari atas pergelangan hingga sampai batas siku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 10pt; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">Fungsinya</span></strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">. Pontondate pada tarian pajoge maradika adalah semata-mata sebagai perhiasan. Tetapi bukan sembarang perhiasan melainkan melihat pula penari dan tari yang ditarikan sangat membutuhkan perhiasan tersebut. Biasanya Pontondate digubaka pada tari tradisional seperti tari Pajoge Maradika yang ditarikan oleh puteri-puteri raja atau bangsawan lainnya maka Pontondate merupakan suatu perhiasan kebesaran yang tidak dapat ditinggalkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 10pt; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">Persebarannya</span></strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">. Pontondate sangat menarik rupanya sehigga akhir-akhir ini Pontondate bukan saja digunakan pada tari-tari tradisional, melainkan sudah digunakan pada hampir setiap tari daerah kecuali tari kerja.</span></p>
<div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 0pt;"><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"><br />
<hr size="1" /></span></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 10pt; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">7. Lola<a name="Lola"></a> (Gelang)</span></strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 0pt;"><em><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">Bahan</span></em><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"> : Logam Emas atau perak. </span><em><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">Bentuk </span></em><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">: Bulat, Garis menengahnya 15 cm hingga 20 cm </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 10pt; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">Cara membuatnya</span></strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">. Seperti juga Pontondate Lola juga dibuat oleh pandai emas. Dibuat dengan acara mencetak. Setelah dua bagian tercetak maka dibuat lubang pada sisi masing-masing bagian empat kawat halus sebagai penahan sehingga terbentuklah lola.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 10pt; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">Cara memakainya</span></strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">. Lola digunakan diatas Pontondate atau dilengan hampir siku. Jadi menggunakan sesudah memakai lola kemudian Pontondate.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 10pt; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">Fungsinya</span></strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">. Seperti juga Pontondate maka lola juga berfungsi sebagai hiasan tari. Perlengkapan tari ini kebanyakan digunakan pada tari-tari tradisional seperti tari upacara.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 10pt; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">Persebaran</span></strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">. Kita telah melihat Pontondate yang merupakan perlengkapan tari tradisional, demikian pula dengan lola. Akhir-akhir ini lola bukan saja digunakan pada tari tradisional tetapi hampir semua tari daerah namun disesuaikan dengan kebutuhan tari itu sendiri.</span></p>
<div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 10pt; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"><br />
<hr size="1" /></span></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 10pt; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">8. Kaveba<a name="Kaveba"></a> atau Tipasa (Kipas)</span></strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 10pt; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><em><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">Bahan</span></em><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"> : Daun Silar dan kain serta manik-manik, atau dari bahan pelepah kayu. </span><em><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">Bentuknya </span></em><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">: Seperti kipas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 10pt; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">Cara membuatnya</span></strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">. Mula-mula mengambil pucuk daun silar kemudian dibersihkan dari lidinya. Lalu dibelah atau diiris selebar 1/2 cm kemudian jemur. Setelah kering dibersihkan kembali lau dianyam dibentuk seperti kipas dengan menggunakan rotan sebagai tulangnya. Kemudian dibungkus dengan kain warna kuning kemudian dihiasi dengan manik-maik yang di sesuaikan dengan selera pembuatnya. Kaveba diatas dipakai pada tari Pajoge Maradika dan tari Kaveba. Sedang kaveba atau yang lebih dikenal dengan Tipasa dapat dibuat dari pelepah sagu yang dibentuk seperti kipas yang berukuran agak kecil. Tipasa ini sering digunakan dalam tari Rego dan tari upacara penyembuhan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 10pt; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">Cara memakainya</span></strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">. Kipas kebanyakan dipegang dengan tangan kanan. Kecuali pada tari Rego dipegang dengan tangan kiri oleh penari pria.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 10pt; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">Fungsinya</span></strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">. Kaveba pada tari Pajoge Maradika berfungsi untuk mengipas putera dan puteri raja yang sedang menari dan Kaveba ini dipegang oleh penari dayang-dayang. Pada tari Kaveba memang sebagai pada umumnya tari kipas maka kaveba yang menjadi permainan pada tarian tersebut. Atau keterampilan menggunakan Kaveba. Sedangkan pada tari Rego Tipasa berfungsi untuk mengipas pada pebari wanita yang selama menari berada dalam pelukan para penari pria. Sedangkan Tipasa pada tari upacara penyembuhan berfungsi sebagai penghalang roh-roh jahat bersama-sama dengan kita.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 10pt; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">Persebarannya</span></strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">. Kaveba atau Tipasa tidak banyak digunakan pada tari daerah lain kecuali tari-tari yang diangkat dari tari upacara penyembuhan seperti Tari Salonde, Tomanuru dan sejenisnya.</span></p>
<div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 0pt;"><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"><br />
<hr size="1" /></span></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 10pt; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">9. Pasatimpo<a name="Pasatimpo"></a> (Keris)</span></strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 10pt; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><em><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">Bahan</span></em><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"> : Logam (tembaga atau kuningan).</span><em><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"> Bentuk </span></em><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">: Panjang kurang lebih 40 cm.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 10pt; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">Cara Membuatnya</span></strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">. Kersi yang sering digunakan atau dipakai oleh penari (Pajoge Maradika) adalah keris milik kerajaan atau keris pusaka. Jadi keris tersebut sudah ada sejak ratusan tahun. Gagang keris dibuat dari emas murni sedangkan sarungnya dibuat dari emas muda.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 10pt; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">Cara Pemakainya</span></strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">. Kersi yang disertai dengan tali pengikat yang sering disebut Kambang keri yang disebut dari kain warna kuning, diikatkan pada pinggang dengan keris tepat disebelah kiri, ganggang menghadap ketas tepat diulu hati, sebab kadang-kadang penari pria memegang gagang keris sebagai pelambang kebesarannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 10pt; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">Fungsinya</span></strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">. Menampakan sifat kesatriaan dan kewibawaan sang putera memberikan lambang kejantanan seorang putera saja. Jadi keris benar-benar hanya sebagai pembangkit semangat pemakainya bahwa dia adalah agung dan berwibawa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 10pt; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">Persebarannya</span></strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">. Pasa Timpo sering pula digunakan dalam tari-tari penyembuhan dengan fungsi untuk mengusir semua roh-roh jahat dan pasa timpo tersebut dipermainkan didepan muka ketas &#8211; kebawah dengan pengertian mengusir roh jahat. Namun kiri lebih sering digunakan pada tari-tari kepahlawanan hanya untuk membesarkan jiwa penarinya. Karena keris tidak digerakan tetapi cukup diikatkan saja pada pinggang penari sebagai hiasan.</span></p>
<div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 0pt;"><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"><br />
<hr size="1" /></span></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 10pt; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">10. Pangga<a name="Pangga"></a> (Sinjulo)</span></strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 10pt; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><em><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">Bahan</span></em><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"> : Kulit kayu. </span><em><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">Bentunya </span></em><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">: Lihat gambar</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 10pt; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">Cara membuatnya</span></strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">. Mula-mula memilih kayu kemudian dengan jalan memberi makanan atau sesajen berupa ayam putih satu ekor, nasi ketan hitam, putih, kuning dan merah serta dukun membacakan mantra agar penghuni kayu tersebut (roh halus) tidak marah sebab merusak rumah mereka. Sesudah itu dipilih dahan yang cukup besarnya lalu dipotong-potong sepanjang 60 cm. Kayu tersebut lalu direndam disungai selama tiga hari tiga malam. Setelah kulit lepas dari batangnya lalu diangkat diletakan diatas papan tempat pembuatannya kemudian di pukul-pukul dengan kayu alat pemukul yang udah disiapkan. Setelah kulit luar keluar dari kulit tadi sudah melebar dan menipis, kembali direndam di sungai selama tiga hari tiga malam kemudian di angkat lagi. Kemudian dipukul kembali sehingga lebih lebar dan menipis. Selanjutnya di cuci lalu dijemur di para-para tempat jemuran khususnya pembuatan kulit kayu tersebut. Sesudah kering maka pangga atau sinculo dapat dibuat dengan jalan mengukur panjang yang dibutuhkan. Panjangnya 150 cm lebar 50 cm. Kemudian dilipat dua. Pada bagian atas digunting leter V tempat kepala masuk. Kemudian pada bagian benda dapat diberi warna merah yang diperoleh dari buah kayu atau air dari kayu lambagu. Setelah itu pangga siap dipakai.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 10pt; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">Cara memakainya</span></strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">. Pangga dipakai paling atas atau diatas pakaian lainnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 10pt; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">Fungsinya</span></strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">. Menunjukkan bahwa penari tersebut adalah laki-laki menari seperti perempuan (banci). Tetapi penari-penari tersebut bukan banci sebenarnya tetapi banci buatan yang di tandai dengan pangga atau sinjulo tersebut. Selain itu pangga atau </span><em><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">sinjulo</span></em><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"> juga berfungsi sebagai pengetuk bagian depan penari laki-laki yang menjadi perempuan sehinga kita tidak kenal mereka sebagai penari laki-laki. Pakaian ini hanya digunakan pada tari-tari upacara penyembuhan utamanya Tari Balia Bone atau Jinja dan sejenisnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 10pt; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">Persebarannya</span></strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">. Sampai saat ini pangga masih dipakai pada hampir semua tari tradisional penyembuhan malahan beberapa tari penyembuhan yang sudah diterima masih menggunakan pangga. Namun pangga tersebut bukan lagi dari kulit kayu melainkan dari kain yang warnanya disesuaikan dengan warna pakaian penari. Kemudian dapat diberi hiasan dari musik-musik supaya menjadi lebih indah. Tetapi apabila tari tersebut masih asli maka harus memakai kulit kayu walaupun pada hiasan sudah dapat menggunakan spidol.</span></p>
<div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 10pt; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"><br />
<hr size="1" /></span></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 10pt; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">11. Talimpuso<a name="Talimpuso"></a> (Tapi)</span></strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 10pt; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><em><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">Bahan</span></em><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"> : Pelepah enau, kain, batu banggai, tali perak dan benang. </span><em><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">Bentuk </span></em><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">: Trapesium (segi empat tidak sama sisi)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 10pt; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">Cara membuatnya</span></strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">. Mula-mula menyimpan pelepah enau. Kemudian membersihkan dan dipotong-potong dengan ukuran dua sisi kiri dan kanan 20 cm lebar dengan atas 30 cm dan lebar bagian bawah 24 cm. Untuk satu buah kalipus diperlukan bilah potongan pelepah enau. Kemudian dibungkus dengan kain berwarna merah. Setelah selesai dibungkus maka lapisan bagian muka diberi hiasan dengan jalan menjahitkan kain kuning yang berbentuk segi tiga pada perempat bagian talipuso dengan berbanjar banyak lima lembar dengan ukuran sisi 4 cm sampai 5 cm. Kemudian pada seluruh bagian yang masih kosong dijahitkan batu banggai atau batu mitra hingga separuh batas talimpuso. Sedangkan separuhnya diisi dengan menjahitkan benang emas berbanjar empat dua baris kebawah dengan motif bunga. Sedangkan bagian yang kosong dijahitkan pula batu banggai atau batu mitra. Setelah pekerjaan menghias selesai sekarang membungkam sisi-sisi kiri kanan. Dan pada bagian atas tersebut dibuat pula tiga buah lobang tempat memasukan hiasan dari buluh ayam berwarna putih dari ayam jantan. Pada sudut kiri kanan dipasang pula tali masing-masing sepanjang 50 cm. Maka terbentuklah talimpuso.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 10pt; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">Cara memakainya</span></strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">. Talimpuso dimasukkan dikepala penari seperti halnya memakai topi tetapi sudutnta berada didekat telinga tetapi harus diikat karena bentuknya agak tinggi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 10pt; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">Fungsinya</span></strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">. Talimpuso seperti juga pangga atau sinjulo menunjukan atau menandakan bahwa penari tersebut adalah laki-laki yang disebut dengan kata bayasa atau banci. Hanya panggilan pada saat menari mereka disebut bayasa atau banci. Talimpuso dipakai pada tari-tari upacara penyembuhan seperti tari balia bone, balia jinja dan sebagainya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 10pt; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">Peresebarannya</span></strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">. Perlengkapan ini belum banyak digunakan pada tari-tari lain atau tari daerah, kecuali pada tari kreasi baru yang disingkat dari tari tradisional, khususnya tari upacara penyembuhan. Seperti tari Tomanuru kreasi baru, tari meaju kerasi baru. Tetapi pembuatannya sudah dikreasi pula. Bahan dapat dibuat dari karton yang dibugkus dengan kain warna bukan saja warna merah bahkan warna hitam yang dihiasi dengan manik-manik (pici-pici) dan pita emas.</span></p>
<div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 10pt; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"><br />
<hr size="1" /></span></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 10pt; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">12. Tampi<a name="Tampi"></a> = Toko = Tavala (tombak)</span></strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 10pt; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><em><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">Bahan</span></em><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"> : Tembaga atau kuningan serta kayu dan rambut. </span><em><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">Bentuk </span></em><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">: Lihat gambar</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 10pt; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">Cara membuatnya</span></strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">. Membuat mata tampi dari tembaga atau kuningan, mula-mula logam dibakar (dipanaskan) lalu dipukul-pukul dengan palu-palu khusus membentuk mata tampi. Setelah itu maka pekerjaan berikut adalah menajamkan mata tampi dengan jalan mengasar. Kemudian membuat tangkai dari kayu hitam yang panjangnya natara 125 ampai 150 cm dengn garis menengah 4 cm sampai 5 cm. Pada ujung tangkai dibuat tempat untuk memasukan mata tampi. Kemudia diatas tempat mata tampi ± 10 cm dari tempat tersebut dibuat lobang. Lobang tersebut adalah tempat menanam (memasukkan) rambut manusia sekeliling batang batang tampi diatas mata tampi tadi. Sehingga rambut tersebut nampak sebagai hiasan tampi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 10pt; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">Cara pemakaiannya</span></strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">. Tampi dipegang pada tangan kanan dibagian tengah batang tampi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 10pt; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">Fungsinya</span></strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">. Tombak pada Tari Meaju berfungsi sebagai perlengkapan penambah habaran semangat para pahlawan baik yang akan kemedan perang maupun yang kembali dari medan perang atau semangat pengantin pria atau semangat putera-putera yang masih cukup kecil yang menghadapi upacara khitanan (Nosuna). Tampi dengan penari meaju mengeluk-elukan sambil berteriak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 10pt; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">Persebarannya</span></strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">. Tampi sampai saat ini masih digunakan pada tari meaju dan pada tari upacaera yang disertai persembahan hewan Kerbau dan Kambing. Tampi masih terbatas pemakaiannya, kecuali tari meaju dan tari upacara penyembuhan tradisional sudah dapat pula digunakan pada tari meaju kreasi baru dan upacara kreasi baru. Tampi yang dipakai bukan lagi tampi asli yang masih memakai rambut manusia yang konon bahwa rambut yang dipasang terebut adalah rambut orang dipotong kepalanya saat perang dahulu kala. Sebagai pengganti rambut biasanya benang berwarna merah atau hitam atau buluh binatang.</span></p>
<div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 0pt;"><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"><br />
<hr size="1" /></span></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 10pt; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">13. Tali Tandu<a name="TaliTandu"></a> (tali kepala berbentuk tanduk)</span></strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 10pt; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">Bahan : Pelepah enau atau kulit gaba-gaba kain serta manik-manik<br />
Bentuk : Seperti tandung sapi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 10pt; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">Cara membuatnya</span></strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">. Mula-mula mengambil pelepah enau atau kulit gaba-gaba. Kemudian di potong-potong masing-masing 25 cm. Kemudian dibersihkan lalu dipipihkan setebal 1/4 cm dengan lebar 5 cm. Kedua potong kulit gaba-gaba atau pelepah enau dibungkus dengan kain warna kuning atau merah. Untuk membentuk tanduk digunting pula kain warna kuning dua buah lalu dimasukan kapuk. Kemudian tanduk yang sudah terbentuk diletakan pada kedua ujung pelepah enau yang sudah dibungkus. Setelah pekerjaan itu selesai maka dilanjutkan dengan memberi hiasan dengan manik-manik atau pecahan batu banggai atau batu mitra dengan jalan menjahit atau diikat-ikat dengan benang jahitan tangan. Setelah itu tali tanduk siap dipakai.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 10pt; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">Cara memakainya</span></strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">. Tali tandu diletakan diatas kepala persis seperti tanduk. Untuk menjaga agar tali tadu tidak mudah lepas maka sebelum tali tandu diletakan diatas kepala sudah diletakan dahulu seukurang kecil batas telinga.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 10pt; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">Fungsinya</span></strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">. Fungsi utama adalah untuk mengokohkan membesarkan jiwa penari sebagai dukun penangkal penyakit. Sekarang ini nampaknya sebagai hiasan tetapi pemakaiannya disesuaikan dengan tari yang dibawakan. Pada umumnya digunakan pada tari upacara penyembuhan atau selamatan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 10pt; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">Persebarannya</span></strong><span style="font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">. Tali tandu udah digunakan oleh beberapa tari upacara lainnya yang masih erat hubungannya dengan selamatan. Juga cara membuat dan bahan sudah dapat dibuat dari gardus yang sudah dapat dibentuk seperti tanduk kemudian dibungkus dengan kain yang cocok dengan tarian yang dibawakan. Juga hiasan dapat dipasang perhiasan yang lebih menarik sebab selain cara membuat dan bahannya juga fungsinya dapat berkembang sebagai hiasan kepala walaupun tidak menghilangkan fungsi aslinya sebagai tanda keberanian.</span></p>
<p><span style="line-height: 115%; font-family: &quot;Tahoma&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #555555; font-size: 8pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-ansi-language: EN-US; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA;">Sumber: Perpustakaan Daerah Propinsi<br />
Jl. Banteng No. 6 Palu Telp. (0451) 482490 </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://telukpalu.com/2008/04/peralatan-tari-tradisional/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Yori</title>
		<link>http://telukpalu.com/2008/03/yori/</link>
		<comments>http://telukpalu.com/2008/03/yori/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Mar 2008 12:57:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Thony Irawanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Alat Seni Tradisional]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya Sulawesi Tengah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/tlp2010/?p=933</guid>
		<description><![CDATA[Bahan: Kulit pelepah enau. Tali yang dibuat dari kulit kayu. Bentuk: Pipih dan ada lubang yang berbentuk garpu tala ditengahnya. Ukurannya, panjang ± 15 cm, lebar ± 2 cm. Warna : Coklat seperti warna pelepah enau yang kering. Cara pembuatan: Memilih bahannya, yakni pelepah enau yang bagus, dan tumbuhan sebangsa nenas (teruntu bahasa Kaili) untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bahan: Kulit pelepah enau. Tali yang dibuat dari kulit kayu. Bentuk: Pipih dan ada lubang yang berbentuk garpu tala ditengahnya. Ukurannya, panjang ± 15 cm, lebar ± 2 cm. Warna : Coklat seperti warna pelepah enau yang kering.</p>
<p>Cara pembuatan: Memilih bahannya, yakni pelepah enau yang bagus, dan tumbuhan sebangsa nenas (teruntu bahasa Kaili) untuk baha pembuat talinya. Pelepah enau yang telah dipilih tadi, dikeluarkan bagian dalamnya (gadingnya) dengan hati-hati agar tidak pecah (terbelah). Bagian dalamnya yang dikelurkan, disayat dengan pisau tajam. Pada bagian tengahnya disayat/ diiris dengan pisau tajam dan dibentuk seperti garpu tala. Kedua ujungnya dilubangi, dan diikatkan tali. Ujung kanan talinya berbentuk cicin (gelang) untuk tempat ibu jari, dan pada ujung kirinya diikatka pula tali sambil diikat sambung dengan sepotong bambu tui, untuk tempat memegang. Keadaan pengrajinnya sekarang ini sangat langkah dan hampir-hampir tidak ditemukan lagi.</p>
<p>Fungsi: Alat kesenian ini berfungsi sebagai alat hiburan pribadi, karena suaranya tidak terlalu keras. Sebagai penglipur lara, untuk menghalau rasa sunyi, atau sebagai pengisi waktu saja. Suaranya dapat didengar sekitar 3 &#8211; 10 meter, dimainkan dengan tidak alat lain. Alat kesenian pada mulanya sebagai alat komunikasi antara remaja, untuk menyampaikan perasaannya. Sebab dari bunyi dapat diartikan oleh orang lain lalu dibalas sesuai dengan maksudnya. Begitulah mereka sering berbalas bunyi seakan bercerita langsung.</p>
<p>Cara memainkan: Ibu jari tangan kanan dimasukan ketali yang berbentuk cincin (gelang) dan jari-jari tangan kiri memegang bambu/ bulu tui yang talinya agak panjang. Yori diangkat dan dimasukan kedalam mulut, ibu jari tangan kanan berfungsi sebagai penahan Yori agar tidak bergerak atau tidak bergoyang. Yori ditiup dalam mulut seperti halnya bermain harmonika. Pada waktu pemain meniup jari tangan kiri yang memegang bulu tui, menyentak-sentak tali untuk menggetarkan selaput penggetar yang berbentuk garpu tala dan ibu jari tangan kanan menahan yori, agar tidak tergeser dari mulut. Lidah diusahakan agar tidak menyentuh yori, dengan maksud supaya selaputnya tetap bergetar. Dalam permainan yori berfungsi nafas sangat menentukan sekali untuk mengatur nada, disamping fungsi tangan kiri juga menentukan getarannya. Alat ini dapat dimainkan oleh orang tua, dewasa anak-anak, laki-laki dan perempuan, pada waktu malam hari atau sore hari yang tenag. Dapat dimainkan pada posisi duduk, berdiri, berjalan atau berbaring,</p>
<p>Persebaran: Mungkin karena pembuatannya yang memerlukan ketekunan, kehati-hatian, dan alat kesenian yang mutahir semakin banyak, maka persebaran alat ini sudah punah, disamping pengrajinnya pun sudah langkah. Pada mulanya alat ini banyak tersebar ke desa-desa dimana banyak pohon enau atau sagu yang tumbuh.</p>
<p>Sumber: Perpustakaan Daerah Propinsi<br />
Jl. Banteng No. 6 Palu Telp. (0451) 482490</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://telukpalu.com/2008/03/yori/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tulalo</title>
		<link>http://telukpalu.com/2008/03/tulalo/</link>
		<comments>http://telukpalu.com/2008/03/tulalo/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Mar 2008 12:57:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Thony Irawanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Alat Seni Tradisional]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya Sulawesi Tengah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/tlp2010/?p=931</guid>
		<description><![CDATA[Bahan: Bulu tuli dan rotan Bentuk: Berbentuk jepitan atau garpu tala sama seperti Paree. Warna: Coklat kekuning-kuningan (sama dengan warna bulu yang sudah tua). Cara pembuatan: Untuk membuat alat kesenian ini diperlukan buluh Tui yang tua lurus dan kualitet yang baik. Satu buah alat kesenian hanya diperlukan satu ruas saja. Bahan lain untuk pembuatan alat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bahan: Bulu tuli dan rotan<br />
Bentuk: Berbentuk jepitan atau garpu tala sama seperti Paree.<br />
Warna: Coklat kekuning-kuningan (sama dengan warna bulu yang sudah tua).</p>
<p>Cara pembuatan: Untuk membuat alat kesenian ini diperlukan buluh Tui yang tua lurus dan kualitet yang baik. Satu buah alat kesenian hanya diperlukan satu ruas saja. Bahan lain untuk pembuatan alat ini seutas rotan yang telah diraut. Sebelum dibuat, buluh terlebih dahulu dikeringkan dan disamping itu masih ada alat yang digunakan untuk membuat sayatan, yakni parang atau pisau yang tajam. Membuat alat kesenian ini sama seperti membuat paree. Buluh Tui yang digunakan adalah buluh tui yang salah satu ruasnya tidak dilubangi, sehingga tidak tembus pandang. Pada dua sisi yang bertolak belakang disayat kira-kira 2/3 bagian atau 3/5 dari arah bukunya langsung ke ujung buluh yang tak ada ruasnya, sehingga alat ini berbentuk seperti jepitan. Sejajar dengan bagian buluh yang tidak disayat dibuat satu lubang besarnya dapat ditutup dengan ibu jari. Pada pangkal buluh dekat bukunya dililitkan dengan rotan yang berfungsi sebagai cincin, sebagai penangkal agar buluhnya tidak mudah pecah atau terbelah. Keadaan pengrajin alat kesenian ini hampir-hampir tidak dapat ditemukan lagi, dan kalau ada yang membuatnya semata-mata hanya untuk kepentingan diri sendiri, atau berupa pesanan dari penggemar alat kesenian tradisional sebagai koleksi. Ungkapnya para pengrajin alat kesenian ini disebabkan kurangnya peminat, memerlukan waktu dan tenaga untuk memadukan dengan alat kesenian tradisional lainnya, dan karena didesak oleh alat kesenian mutakhir yang masuk menyusup sampai ke desa-desa.</p>
<p><strong>Fungsi</strong></p>
<p>Alat kesenian ini berfungsi hanyalah untuk hiburan saja. Pada mulanya, walaupun alat ini untuk hiburan tetapi juga sebagai komunikasi dalam kehidupan sehari-hari antar manusia, tetutama bagi remaja tempo dulu. Sebab dengan alat ini mereka saling kenal lewat syair lagu yang menyentuh perasaan. Dengan demikian mempererat hubungan dan persatuan dalam masyarakat dan kehidupanseni sehari-hari.</p>
<p><strong>Cara memainkan</strong></p>
<p>Memainkan alat kesenian ini cukup hanya digenggam dengan salah satu tangan, dan ibu jari menutup lubang, kemudian alat dipukul-pukulkan pada tapak tangan yang lain, sebagian kaki (paha atau lutut) dan bahkan ada yang memukul-mukulkan pada bagian kepala. Sambil memukul-mukulkan, diiringi pula dengan senandung yang berisikan syair-syair yang dapat mengubah perasaan pendengarnya. Pukulan-pukulan tersebut berganti-ganti, ke telapak tangan, ke bagian kaki atau kepala mengikuti irama lagu dan perasaan pemegangnya. Pukulan-pukulan itu tidak terlalu keras tetapi disesuaikan perasaan antara keras dan lembut. Untuk dapat mengubah-ubah bunyi, dapat diatu dengan cara membuka ibu jari dan menutupnya pada lubang. Alat ini dapat dimainkan oleh orang tua remaja perempuan dan laki-laki dan dimainkan pada sore hari utamanya pada malam hari, disaat-saat yang hening dan sunyi. Dimainkan dalam posisi duduk bersila dapat pula pada waktu duduk diatas kayu atau batu, juga dapat dimainkan pada waktu berjalan/ berdiri. Alat ini dimainkan tanpa alat lainnya.</p>
<p><strong>Persebaran</strong></p>
<p>Persebaran alat ini pada waktu dulu ditemukan hampir ada ditiap desa, tetapi dengan ilmu pengetahuan dan teknologi alat kesenian ini terdesak karena kebanyakan orang lebih suka dengan alat kesenian yang baru.</p>
<p>Sumber: Perpustakaan Daerah Propinsi<br />
Jl. Banteng No. 6 Palu Telp. (0451) 482490</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://telukpalu.com/2008/03/tulalo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>T a d i l o</title>
		<link>http://telukpalu.com/2008/03/t-a-d-i-l-o/</link>
		<comments>http://telukpalu.com/2008/03/t-a-d-i-l-o/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Mar 2008 12:56:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Thony Irawanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Alat Seni Tradisional]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya Sulawesi Tengah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/tlp2010/?p=929</guid>
		<description><![CDATA[Bahan: Bambu, kayu dan rotan. Bentuk: Bulat panjang. Warna: Sama seperti bambu yang kering (kekuning-kuningan). Tidak diketahui secara pasti, mengapa alat ini disebut tadilo, karena beberapa warga tidak mampu menjelaskan apa sebab alat itu disebut tadilo. Yang jelas mereka mampu membuatnya dan dapat memainkannya. Cara pembuatan: Sebelum membuat alat ini, terlebih dahulu memilih bahan bambu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bahan: Bambu, kayu dan rotan. Bentuk: Bulat panjang. Warna: Sama seperti bambu yang kering (kekuning-kuningan). Tidak diketahui secara pasti, mengapa alat ini disebut tadilo, karena beberapa warga tidak mampu menjelaskan apa sebab alat itu disebut tadilo. Yang jelas mereka mampu membuatnya dan dapat memainkannya.</p>
<p>Cara pembuatan: Sebelum membuat alat ini, terlebih dahulu memilih bahan bambu (volo lau), yang lurus tua, dan ruasnya agak panjang. Bambu dipotong satu ruas dengan panjang ± 50 cm, dan garis menengahnya ± 8 cm, dan pada kedua ujung ruas bukunya tidak dikeluarkan, sehingga tidak tembus pandang. Bambu yang dipotong dengan ukuran tersebut diatas siap untuk dibulatkan alat tadilo tersebut. Dalam keadaan mentah bambu itu dicungkil dengan ukuran lebar ± 1/2 cm sebagai tali senar sebanyak 2 (dua) tali. Jarak antara tali senar yang dicungkil ± 1/2 cm.</p>
<p>Cara mencungkil kulit bambu luar tadi yakni menggunakan ujung pisau atau parang dengan at-hati sekali. Sebelum kulit bambu yang dicungkil padi diganjal pada kedua ujungnya, terlebih dahulu di lilitkan rotan yang dianyam sehingga apabila kedua kulit bambu yang terlepas dua ujungnya. Pada bagian tengah bambu, yakni dibawah rentangan kedua tali, dibuatkan lubang dengan ukuran ± 1 x 2 cm yang berfungsi sebagai penggema suara. Selesai pembuatan lubang, kedua tali tadi diangkat sedikit untuk dikencangkan, dan dipasang kayu persegi panjang kedua ujungnya sebagai pengganjal untuk lebih mengencangkan talinya. Tidak ada upacara untuk mengambil bahan bambu tersebut, oleh karena itu orang bebas membuat alat tersebut dengan alat tersebut dengan syarat bambu yang lurus dan sudah tua. Kalau bambu yang dimaksud tumbuh secara liar, maka orang yang mengambilnya harus mengucapkan tabe (permisi) sebelum memotongnya. Keadaan pengrajin akhir-akhir ini sudah langa, dan sudah jarang orang menggunakan atau memakainya.</p>
<p>Fungsi: Alat kesenian tadilo ini berfungsi sebagai alat kesenian sebagai penghibur, dan untuk membunuh kesunyian, dimalam hari atau sore hari. Dapat pula alat berfungsi tidak secara langsung yakni saling merasakan perasaan masing-masing, sambil berbicara dengan teman untuk mencurahkan segala isi hati atau sambil bergurau. Dengan demikian ada rasa persahabatan yang erat antar teman lewat penggunaan alat kesenian tadilo ini.</p>
<p>Cara memainkan: Alat kesenian tadilo tesrebut dipegang dengan salah tangan dalam posisi ditidurkan. Pemainnya dalam keadaan duduk bersila atau dengan cara lain, apakah dengan cara menjulurkan kedua kaki atau dengan cara melipat kaki sebelah. Yang penting alat tersebut dapat dimainkan. Bahkan dalam keadaan berdiripun dapat dimainkan.</p>
<p>Tangan yang satu memukul-mukul tali senar tadi dengan ukuran panjang ± 15 cm. Alat kesenian ini dapat mengiringi walau hanya sebagai senandung saja yang berupa pantun-pantun daerah. Semua umur dapat memainkannya, namun yang paling banyak menggunakan adalah kamu remaja lalaki dan perempuan, disamping para orang tua. Dimainkan pada malam hari atau sore hari dikala suasana hening dan aman dari gangguan bunyi-bunyi yang lain. Tempat bermain biasanya di pondok, dikebun, disawah, dan kadang-kadang pula di pelataran rumah.</p>
<p>Persebaran: Sampai sekarang alat kesenian ini sudah jarang dikenal karena persebarannya sudah sempit, karena digeser oleh alat kesenin modern. Hanya ada daerah yang masih mampu bertahan dan masih dikenal di desa-desa, ialah di Kecamatan Sindue. Kalau pada mulanya hampir semua desa di Tanah Kaili, mengenal persis akan alat ini, karena persebarannya hampir merata kepelosok desa.</p>
<p>Sumber: Perpustakaan Daerah Propinsi<br />
Jl. Banteng No. 6 Palu Telp. (0451) 482490</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://telukpalu.com/2008/03/t-a-d-i-l-o/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Santu</title>
		<link>http://telukpalu.com/2008/03/santu/</link>
		<comments>http://telukpalu.com/2008/03/santu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Mar 2008 12:55:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Thony Irawanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Alat Seni Tradisional]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya Sulawesi Tengah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/tlp2010/?p=927</guid>
		<description><![CDATA[Bahan: Bambu kayu dan rotan. Bentuk: Bulat panjang (bentuk bambu). Warna: Sama dengan warna bambu yang kering. Cara pembuatannya: Sebelum alat kesenian Santu ini dibuat terlebih dahulu memilih bambu yang berkualitas baik (Volo lau bahasa Kaili), dan batang yang tua lagi tebal. Bambu pilihan itu dipotong seruas-seruas dengan panjang ± 45 cm garis menengahnya ± [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bahan: Bambu kayu dan rotan. Bentuk: Bulat panjang (bentuk bambu). Warna: Sama dengan warna bambu yang kering.</p>
<p>Cara pembuatannya: Sebelum alat kesenian Santu ini dibuat terlebih dahulu memilih bambu yang berkualitas baik (Volo lau bahasa Kaili), dan batang yang tua lagi tebal. Bambu pilihan itu dipotong seruas-seruas dengan panjang ± 45 cm garis menengahnya ± 8 cm, dan buku-buku ruasnya pada kedua ujung tidak dikeluarkan sehingga tidak tembus pandang. Bambu yang masih mentah, pada salah satu sisinya, bagian kulit luar dicungkil dengan parang atau pisau selebar ± 1/3 cm sampai 1/2 cm., sebanyak 4 (empat) yang merupakan tali. Kulit bambu yang dicungkil sebagai tali, pada kedua bagian ujungnya ditongkat/ dipotong dengan kayu setebal + 1 cm, sampai 1 1/2 cm. Sebelum ditongkat/ dipotong dengan kayu, terlebih dahulu pada kedua ujung bambu dililit dengan rotan (poale, Kaili) ± 5 cm, dari tiap ujung. Rotan pelilit (poale) ini dibuat agar kulit bambu yang berbentuk tali tidak terangkat ke ujung. Pada bagian tengah tepat dibawah tali dibuat 2 (dua) lubang yang bergari tengah ± 2 cm, dan diantara 2 (dua) lubang dipasang kayu penompang setinggi ± 2 cm &#8211; 3 cm agar talinya menjadi tegang.</p>
<p>Fungsi</p>
<p>Alat kesenian ini berfungsi sebagai alat untuk penghibur pelepas lelah dikala senggang, atau pengisi waktu ambil bersenandung. Disamping itu alat ini juga sebagai alat komunikasi diantara para anggota kelompok sosial, sehingga ada kontak jiwa bagi para pemainnya, sehingga menambah eratnya hubungan dan perkenalan. Apabila seseorang berada ditempat lain dan ia ingin memainkan santu, maka ia dapat berhubungan dengan orang ditempat dan dipinjamkanlah alat itu kepadanya, karena ada rasa kebersamaan.</p>
<p>Cara memainkan</p>
<p>Alat kesenian santu ini dimainkan dalam posisi duduk bersila dengan cara dipetik atau dipukul. Tangan kiri memegang alat pada bagian tengah dengan posisi miring atau ditidurkan diatas kaki (paha) dan tangan kanan memetiknya, atau dipukul-pukul dengan kayu bulat yang kecil. Dengan demikian atau memukul-mukulkan kayu pada tali ( kulit bambu itu sendiri), dapat menimbulkan bunyi. Alat kesenian ini dapat dimainkan oleh orang tua, dewasa, anak-anak, laki-laki dan perempuan. Dimainkan pada sore hari, malam hari, atau diwaktu senggang di rumah atau pondok-pondok disawah, dan dimainkan tidak dengan alat lain, kecuali bila kehendak untuk memainkannyadengan alat kesenian lain, seperti paree, tadilo, mbasi-mbasi dan lain-lain.</p>
<p>Persebaran</p>
<p>Pada masa sebelum masuknya alat-alat kesenian modern dipedesaan alat kesenian tradisional ini tersebar kepelosok-pelosok khususnya didaerah pertanian. Setelah masuknya alat kesenian yang mutakhir, maka alat ini dengan sendirinya terdesak, dan juga karena kurang digemari oleh remaja sekarang.</p>
<p>Sumber: Perpustakaan Daerah Propinsi<br />
Jl. Banteng No. 6 Palu Telp. (0451) 482490</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://telukpalu.com/2008/03/santu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rabana</title>
		<link>http://telukpalu.com/2008/03/rabana/</link>
		<comments>http://telukpalu.com/2008/03/rabana/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Mar 2008 12:55:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Thony Irawanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Alat Seni Tradisional]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya Sulawesi Tengah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/tlp2010/?p=925</guid>
		<description><![CDATA[Bahan: Kayu, kulit, rotan bulat, paku. Warna: Coklat kekuning-kuningan. Rabana adalah sama dengan Rebana, sebab bila melihat bentuknya dan cara memainkannya sama. Vokal &#8220;e&#8221; pada kata rebana oleh orang di Tanah Kaili disuarakan/ dibunyikan dengan &#8220;a&#8221;, hal ini terjadi sebab walaupun bahasa Kaili bersifat Vokalis, namun bunyi &#8220;e&#8221; agak kurang digunakan, kecuali bunyi &#8220;e&#8221; pada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bahan: Kayu, kulit, rotan bulat, paku. Warna: Coklat kekuning-kuningan. Rabana adalah sama dengan Rebana, sebab bila melihat bentuknya dan cara memainkannya sama. Vokal &#8220;e&#8221; pada kata rebana oleh orang di Tanah Kaili disuarakan/ dibunyikan dengan &#8220;a&#8221;, hal ini terjadi sebab walaupun bahasa Kaili bersifat Vokalis, namun bunyi &#8220;e&#8221; agak kurang digunakan, kecuali bunyi &#8220;e&#8221; pada kata ledo, nemo atau dalam bahasa Indonesia kata nenek Sepeda. Hal itulah yang menyebabkan kata rebana disebut oleh orang di Tanah Kaili menjadi rabana.</p>
<div>
<p><strong>Cara Membuat</strong></p>
<p>Awal pekerjaan dimulai dengan memilih bahan untuk pembuatannya, yakni, mencari kayu nangka (ganaga dalam bahasa kaili) atau kayu langaru (bahasa Kaili) yang bulat, dan sudah tua. Kulit kambing yang baik mutunya tidak terlalu tebal dan tidak pula terlalu tipis. Kemudian memilih rotan sogisi yang bulat kecil bergaris tengah 1/2 &#8211; 1 cm dan beberpa paku. Kayu nangka atai lengari yang telah dipilih dipotong-potong sesuai ukuran, panjang ± 10 cm dan garis tengahnya sesuai garis tengah kayunya ± 30 cm. Kayu yang telah dipotong itu dilicinkan dengan parang, lalu dibentuk (lihat foto) dan pada bagian tengah dilubang dengan pahat atau alat tajam lainnya. Tebal pinggiran kayu sekelilingnya (dindingnya) ± 2 cm &#8211; 3 cm. Lubang yang telah selesai tadi diperhalus lagi dengan ujung parang yang tajam sampai licin. Kayu yang telah dibentuk dikeringkan dibawah kolong rumah atau dugantung didalam rumah. Jelasnya kayu itu hanya di anginkan dan bukan dijemur dipanas matahari. Sebab baik dipanas matahari, kayunya akan pecah-pecah atau retak-retak.</p>
<p>Perbandingan kedua lubangnya ± 6 : 5. Pada bagian yang lebar dipasang kulit. Kulit kambing yang kering dan telah dikuras bulunya dibentuk dengan cara digunting atau diiris dengan pisau tajam sesuai bentuk lubang yang besar dari kayu yang telah dilicinkan. Kulit direntangkan, pada bagian lubang lalu ditarik-tarik dan pada bagian ujung kulit yang silipat, sekelilingnya dibalut dengan seng atau kulit lainnya, dan kemudian dipaku. Seng atau kulit (bahan lainnya) sebagai pembalut yang dipaku bersama pinggir kulit yang direntangkan, dimaksudkan agar kulitnya tidak sobek.</p>
<p>Apabila kulit itu kurang tegang, dan bunyinya kurang nyaring, maka dipasanglah rotan bundar dari bagian dalam yakni antara kulit dan pinggir kayunya. Memasukan rotan diantara kulit dan kayu, dengan cara menekan rotan itu dengan ibu jari tangan secara paksa. Dengan demikian rentangan kulit itu menjadi tegang, dan bilamana dipukul bunyinya lebih nyaring lagi. Pengrajin alat kesenian ini sampai sekarang masih tetap ada, namun pemasarannya masih sangat kurang. Hal ini disebabkan para pengrajinnya hampir ada disetiap desa, dan juga pemakaian alat ini hanya pada sewaktu-waktu saja.</p>
<p>Para pengrajinnya membuat alat ini, bilamana ada pesanan dari group-group rabana. Jelaslah bahwa para pengrajinnya tidak semata-mata mengharapkan hasil dari pembuatan alat tersebut. Jikalau mereka harus pasarkan, berarti akan ada persaingan dengan rabana yang kini banyak dijual di toko-toko untuk keperluan musik lainnya seperti seni sambra dan Kasidah, yang sangat banyak penggemarnya, utamanya anak-anak dan remaja perempuan. Sedangkan rabana pada tulisan ini hanya khusus dipakai pada pesta perkawinan (mengantar pengantin lelaki kerumah pengantin perempuan), dan dipakai para perayaan Maulid dirumah-rumah pribadi, yang kebanyakan dimainkan oleh orang tua.</p>
<p><strong>Fungsi</strong></p>
<p>Alat ini berfungsi sebagai hiburan musik pada waktu Maulid Nabi Muhammad SAW dan pada waktu mengantar pengantin lelaki bersama-sama dengan sanak saudara dan handai tolan, yang diiringi dengan syair-syair yang indah. Bilamana bunyi rabana terdengar, orang menafsirkan bahwa ditempat itu ada pengantin atau ada peringatan Maulid. Kalau pada pesta pengantin, dari jauh sudah kedengaran musiknya, orang-orang dirumah pengantin perempuan bersiap pula untuk menyambut kedatangan pengantin dengan membunyikan alat kesenian yang namanay kakula. Dan disaat-saat itulah pengantin perempuan menanti dengan hati berdebar-debar. Ada syair yang dipakai orang di Tanah Kaili tentang rabana ini yakni : &#8220;du du nurabana, radu-radu nubambara&#8221; terjemahnya Bunyi (du&#8230;.du) rabana, dada berdebar-debar. Jadi ada hubungan antara bunyi rebana dan sang gadis si calon instri. Kalau didengar syair-syair yang dibawakan oleh para pemain kebanyakan dan bahkan hampir seluruhnya memakai Bahasa Arab, pada waktu Maulid misalnya di Sulawesi Tengah khususnya di Tanah Kaili agama Islam masuk pada abad ke 17, sehingga orang mengatakan bahwa seni rabana adalah seni untuk orang Islam.</p>
<p><strong>Cara Memainkan</strong></p>
<p>Para pemain adalah orang tua laki-laki dan dimainkan dalam satu group dengan anggota 9 &#8211; 10 orang, permainan rabana ini dimainkan pada kesempatan peringatan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW, dan pada saat mengantar pengantin lelaki menuju pengantin perempuan. Para pemain rabana ini memakai sarung Bomba (Sarung Donggala), kemeja lengan panjang dan memakai kopiah hitam. Permainan alat ini dimainkan dalam posisi berdiri, tetapi kalau sedang mengantar pengantin dilaksanakan berjalan. Pada waktu berjalan posisi bermain biasa menyamping atau sekali-sekali mundur menghadap pengantin. Sebelum memainkannya terlebih dahulu salah seorang pemain mengucapkan syair dan para permainan mulai memukul rebananya. Kadang-kadang pula dimainkan dalam posisi duduk dan membnetuk lingkaran.</p>
<p><strong>Persebaran</strong></p>
<p>Banyak orang berpendapat bahwa masuknya permainan musik rebana ini, dibawah oleh orang-orang, pengemban agama Islam. Sehingga pada waktu menyebarkan agama Islam, bersatu dan menyatulah permainan rebana dalam masyarakat. Pembawa syair agama Islam yang banyak mengajarkan permainan ini banyak dipengaruhi oleh unsur budaya dari sumber agama Islam. Pengaruh unsur budaya itu berupa syair-syair lagu yang berbahasa Arab dan berisikan nasehat, petuah, ajaran, yang banyak hubungannya dengan ajaran agama Islam. Dan kelompok pembawa syair agama Islam ini akhirnya menyebar kepada kelompok sosial lainnya, lewat orang yang pernah belajar, dan akhirnya mengajarkan lagi kepada anggota komunitasnya.</p>
<p>Demikianlah pesebaran itu terjadi diantara kelompok itu sendiri dan diantara kelompok atau desa yang sepaham kelompoknya. Sampai sekarang ini permainan rabana ini masih tetap digemari oleh orang-orang khususnya orang-orang tua dan oleh angkatan muda sekarang menganggap kesenian itu adalah kesenian tradisional. Beberapa narsumber mengatakan bahwa pernah suatu ketika permainan rabana ini mengalami masa pause, yakni sekitar tahun 1960 &#8211; tahun 1975. Hal tersebut mungkin karena banyaknya pengaruh alat kesenian mutahir yang sangat digemari oleh masyarakat. akan tetapi setelah tahun 1975 kembali lagi alat dimainkan dan awal-awal tahun 1986 kian digalakkan, malah pernah dilaksanakan secara masal pada waktu setiap pembukaan Musabbaqah Tilawatil Qur&#8217;an Tkt II Daerah Kabupaten Donggala.</p>
<p>Sumber: Perpustakaan Daerah Propinsi<br />
Jl. Banteng No. 6 Palu Telp. (0451) 482490</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://telukpalu.com/2008/03/rabana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Puree</title>
		<link>http://telukpalu.com/2008/03/puree/</link>
		<comments>http://telukpalu.com/2008/03/puree/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Mar 2008 12:54:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Thony Irawanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Alat Seni Tradisional]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya Sulawesi Tengah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/tlp2010/?p=923</guid>
		<description><![CDATA[Alat Kesenian ini dinamakan puree, sebab bilamana dimainkan berbunyi re&#8230;. re&#8230;.. re. Bahannya: buluh tui dan rotan. Bentuknya: Alat ini berbentuk seperti jepitan atau seperti garpu tala. Warna: Kecoklat-coklatan, sesuai dengan warna bambu yang sudah kering. Cara pembuatan Sebelum dilaksanakan pembuatan alat ini terlebih dahulu diadakan pemilihan bahan, berupa buluh Tui yang telah tua, lurus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>Alat Kesenian ini dinamakan puree, sebab bilamana dimainkan berbunyi re&#8230;. re&#8230;.. re.<br />
Bahannya: buluh tui dan rotan.<br />
Bentuknya: Alat ini berbentuk seperti jepitan atau seperti garpu tala.<br />
Warna: Kecoklat-coklatan, sesuai dengan warna bambu yang sudah kering.</p>
<p><strong>Cara pembuatan<br />
</strong><br />
Sebelum dilaksanakan pembuatan alat ini terlebih dahulu diadakan pemilihan bahan, berupa buluh Tui yang telah tua, lurus dan berkualitet bagus serta memilih jenis rotan yang baik untuk dianyam. Buluh Tui yang merupakan buluh pilihan yang dipotong sepanjang satu ruas dengan ukuran panjang 40 &#8211; 50 cm dan garis tengah ± 3 cm. Ukuran ini tidak mutlak sebab tergantung pada buluh yang dipilih, ada ruasnya panjang dan garis tenaghnya lebih besar. Jadi ukuran dari alat kesenian ini bervariasi. Pada salah satu ujungnya, bukunya tidak dikeluarkan, namun sekat pada rongga bulu ini dikeluarkan sehingga tembus pandang. Kira-kira 2/3 atau 3/5 bagian dari bulu tersebut dikeluarkan/ disayat pada dua bagian sisi, sehingga berbentuk seperti jepitan atau garpu tala. Bagian yang tidak disayat diperkirakan masing-masing 1/4 bagian, tetapi di belah-belah, dan belahannya tidak sampai kebagian pangkal. Pada pangkal bagian yang disayat diikat/ dililit dengan rotan yang dianyam sebagai cincin untuk menahan belahan sayatan agar tidak terbelah keujung.</p>
<p><strong>Fungsi</strong></p>
<p>Alat kesenian ini berfungsi sebagai alat hiburan diwaktu senggang sebagai pengisi waktu, dan dapat pula berfungsi sebagai hubungan, perkenalan pergaulan atas anggota kelompok masyarakat dan anggota kelompok sosial. Dengan demikian akan mempererat hubungan dan mempererat persatuan.</p>
<p><strong>Cara memaikannya</strong></p>
<p>Alat kesenian ini dapat dimainkan pada posisi duduk dan berdiri, tangan kanan/ kiri memegang pada ujung yang tidak disayat, digenggam oleh jari-jari dan tapak tangan pada bagian bawah ibu jari, yang dapat dibuka dan di tutup. Alat tersebut dibunyikan dengan cara memukul-mukulkan pada tapak tangan kiri/ kanan, pada kaki bagian paha dari oemegang alat. Pada waktu dipukulkan melalui paha dan tapak tangan itulah yang menimbulkan bunyi. Kadang-kadang pukulan itu bervariasi, berpindah-pindah dari paha ketapak tangan dengan gerakan sesuai dengan irama yang diinginkan. Oleh karena pada bagian yang disayat itu sengaja dibelah sehingga timbullah bunyi re&#8230;&#8230;..re&#8230;&#8230;..re. Untuk dapat mengubah bunyi dari alat tersebut dapat diatur dengan cara menutup dan membuka tapak tangan khususnya ibu jari yang menutup lubangnya. Alat ini dapat dimainkan oleh pria dan wanita dewasa remaja dan orang tua. Bila dimainkan sendiri hanya dapat diiringi dengan senandung. Dapat dimainkan pada posisi duduk atau berdiri.</p>
<p><strong>Persebaran</strong></p>
<p>Dalam persebarannya alat kesenian ini pada mulanya hampir setiap desa dapat ditemukan, namun akhir-akhir ini tidak meluas lagi, hanya sebagian kecil atau sebagian kelompok yang masih mengenalnya, termasuk pecinta musik-musik tradisional.</p>
<p>Sumber: Perpustakaan Daerah Propinsi<br />
Jl. Banteng No. 6 Palu Telp. (0451) 482490</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://telukpalu.com/2008/03/puree/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mbasi-Mbasi</title>
		<link>http://telukpalu.com/2008/03/mbasi-mbasi/</link>
		<comments>http://telukpalu.com/2008/03/mbasi-mbasi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Mar 2008 12:53:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Thony Irawanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Alat Seni Tradisional]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/tlp2010/?p=921</guid>
		<description><![CDATA[Bahan: Buluh Tuli dan rotan. Bentuk: Bulat panjang seperti suling. Warna: Coklat kekuning-kuningan Cara Pembuatan: Sebelum membuat alat kesenian ini, terlebih dahulu pemilihan bahannya, yakni buluh tui yang tua dan lurus. Dipotong-potong sepanjang ± 30 cm dengan garis tengah ± 1 &#8211; 1 1/2 cm. Tidak ada upacara waktu mengambil buluh. Buluh yang telah dipotong [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Bahan</strong>: Buluh Tuli dan rotan. Bentuk: Bulat panjang seperti suling. Warna: Coklat kekuning-kuningan</p>
<p>Cara Pembuatan: Sebelum membuat alat kesenian ini, terlebih dahulu pemilihan bahannya, yakni buluh tui yang tua dan lurus. Dipotong-potong sepanjang ± 30 cm dengan garis tengah ± 1 &#8211; 1 1/2 cm. Tidak ada upacara waktu mengambil buluh. Buluh yang telah dipotong tadi, pada ujung yang ada bukunya disayat sehingga ada lubang sayatan yang tembus dengan rongga buluh. Pada ujung sayatan dibulat atau dililit dengan rotan yang dianyam, dan ujung rotan yang dianyam di lilit lagi pada bagian bawah dari lilitan pertama. Ssisi yang bertolak belakang dengan lubang sayatan, di buat lubang yang bersusun sejumlah 6 (enam) atau 5 (lima). Aturan sayatan dan lilitan rotan ada lubang sebagai saluran udara yang ditiupkan dari mulut. Jarak antara lubang yang enam ± 2 cm, dan jarak lubang-lubnag itu dari ujung peniupnya ± 15 cm. Keadaan pengrajinnya sudah kurang, mungkin karena peminatnya tidak banyak lagi, sehingga tidak ada pemasaran bagi alat kesenian tersebut.</p>
<p><strong>Fungsi</strong></p>
<p>Alat kesenian ini berfungsi sebagai alat hiburan yang dapat dimainkan bersama dengan alat kesenian lain seperti gendang, kecapi, paree dan lain-lain. Dikala berkumpul dan bergembira bersama bagi orang muda merupakan hal yang sangat menyenangkan karena dapat bertemu, bermain bersama dengan remaja lainnya. Alat ini bukan hanya dipakai bermain bersama-ama, tetapi dapat pula dimainkan sendiri, sebagai perintang waktu senggang, dan sebagai kesenangan terhadap diri yang memainkan dan orang lain yang mendengarkannya. Disamping itu dapat pula berfungsi untuk saling mempererat hubungan antara kelompok, keluarga dalam pergaulan sehari-hari dalam berkomunikasi dan saling memberi informasi. Apabila alat ini dimainkan bersama dengan kecapi yang mengiringi lagu yang disebut dadendate maka kesempatan ini digunakan para remaja untuk berbalas lagu yang mempererat hubungan, ataupun saling nasehati, dan saling berpesan satu dengan yang lain.</p>
<p><strong>Cara memainkan</strong></p>
<p>Cara memainkan alat ini sama seperti lalove yakni, pada ujung peniup diletakkan di binir dan jari tangan kanan dan kiri masing-masing jari telunjuk dan jari tengah serta jari manis menutup lubang-lubangnya, sedangkan kedua ibu jari berfungsi sebagai penahan pada bagian bawah. Udara dari mulut ditiup melalui lubang sayatan kecil, dan pada saat ini jari mulai memegang peranan untuk mengatur irama lagu. Alat ini dapat dimainkan dalam posisi duduk berdiri, sedang berjalan, dan bahkan dalam keadaan tidur-tiduran (berbaring) yang memainkan alat kesenian ini adalah orang tua, remaja, dan kadang-kadang mengiringi vokal yang dibawaka oleh remaja putra-putri khususnya mengiringi lagu dadendate bersama alat lainnya yakni kecapi dan lain-lain.</p>
<p><strong>Persebaran</strong></p>
<p>Sejak awal adanya alat kesenian ini persebarannya tidak terlalu menonjol, sebab bukan merupakan alat pelengkap pada suatu upacara. Berarti tidak mutlak harus ada pada salah satu kelompok sosial, tapi dimiliki oleh pribadi saja. Namun pada akhir-akhir ini kelihatan tanda-tanda akan berkembangnya alat kesenian ini di beberapa Kecamatan utamanya Kecamatan Sindue Kabupaten Donggala yang berusaha untuk melestarikannya. Usaha untuk melestarikan alat kesenian ini dibuktikan dengn terbentuknya beberapa organisasi atau grup musik tradisional. Hal ini memungkinkan timbulnya rasa cinta bagi remaja terhadap musik tradisional. Dengan demikian para pengrajin akan bangkit kembali menjamah keterampilan untuk membuat alat kesenin ini.</p>
<p>Sumber: Perpustakaan Daerah Propinsi<br />
Jl. Banteng No. 6 Palu Telp. (0451) 482490</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://telukpalu.com/2008/03/mbasi-mbasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Marawasi</title>
		<link>http://telukpalu.com/2008/03/marawasi/</link>
		<comments>http://telukpalu.com/2008/03/marawasi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Mar 2008 12:53:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Thony Irawanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Alat Seni Tradisional]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/tlp2010/?p=919</guid>
		<description><![CDATA[Bahan: Kayu, kulit kambing, rotan. Bentuk: Seperti gambar (bulat panjang). Warna: Kayunya agak abu-abu, kulit kambing kekuning-kuningan. Kata marawasi sebenarnya sebenarnya berasal dari marwas seperti yang dikenal oleh banyak orang, tetapi bahasa orang di Tanah Kaili yang sifatnya vokalis maka nama alat marwas, disebut menjadi marwasi. Cara membuatnya Terlebih dahulu memilih bahan, yaitu dicari kayu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bahan: Kayu, kulit kambing, rotan. Bentuk: Seperti gambar (bulat panjang). Warna: Kayunya agak abu-abu, kulit kambing kekuning-kuningan. Kata marawasi sebenarnya sebenarnya berasal dari marwas seperti yang dikenal oleh banyak orang, tetapi bahasa orang di Tanah Kaili yang sifatnya vokalis maka nama alat marwas, disebut menjadi marwasi.</p>
<p><strong>Cara membuatnya</strong></p>
<p>Terlebih dahulu memilih bahan, yaitu dicari kayu bulat yang tengahnya berlubang yakni kayu vanau (bahasa Kaili) atau kayu nangka yang dipotong dengan panjang dan lebarnya (garis tengahnya) ± 15 cm. Memilih kulit kambing yang telah dikeringkan dan rotan bulat dan pilih jenis rotan sogisi (lohiti). Kayu vanau yang telah dipotong tadi dilicinkan dengan parang pada bagia luar dan bagian dalamnya, dan pada bagian tengahnya dilubangi dengan garis tengah ± 1 cm, yang dapat mengatur suara. Kalau kayu nangka yang dipakai maka kayu nangka dipotong setelah dilicinkan kemudian dilubangi ditengahnya dengan parang atau pahat. Rotan yang bulat dilicinkan dengan ukuran panjang sama lingkaran kayunya, dan rotan yang pipih juga diraut dengan panjang sesuai kebutuhan. Pertama-tama kulit kambing yang telah dikeringkan dibentuk bundar dengan pisau yang ditukar lebih sedikit dari lingkaran bagian lubang kayu (ditutupkan pada bagian lubang kayu) sebelah menyebelah.</p>
<p>Bulu-bulu kambing pada bagian tengah dikuras habis. Pada pinggir keliling kulit kambing yang telah dibentuk tadi digulung pada rotan bulat dan dipasang pada ujung kayu yang berlubang. Untuk menguatkan gulungan kulit pada rotan bulat tadi maka sekelilingnya dilubang dan dimasukkan dan disimpul dengan rotan pipih yang sudah diraut tadi. Rotan pipih tadi diikat/ disimpul pada kulit dan rotan dengan ujung lainnya. Dengan demikian rotan yang pipih ditarik bersilang sehingga kedua kulit pada ujungnya aling tarik menarik mengencangkan kulit-kulitnya. Kemudian pada bagian tengah kayunya diantara ikatan rotan yang disilang itu dikatakan pula rotan yang telah diraut halus seperti tali yang berfungsi sebagai tempat pegangan (khuusnya untuk ibu jari).</p>
<p>Akhir-akhir ini telah berkembang pembuatannya, yakni rotan pipih yang dipakai untuk mengencangkan kulit, kini dipakai tali plastik. Untuk mengambil dan memilih bahan-bahan untuk alat kesenian, tidak ada dibuatkan upacara-upacara. Keadaan pengrajuinnya masih ada dan tetap masih membuatnya, tetapi pembuatannya dilaksanakan setelah ada pesanan. Dan dengan meningkatnya kegiatan tari jepeng maka ada pula peningkatan pameran kepada pengrajinnya. Dibalik itu ada satu hal menghambat, yakni dengan dikreasikannya tari jepeng yang dikenal dan dimainkan oleh orang lain, seperti gendang misalnya yang juga tetap menggunakan irama jepeng.</p>
<p><strong>Fungsi</strong></p>
<p>Alat kesenian marawasi ini berfungsi sebagai alat pengiring tari jepeng, bersama-sama dengan alat kesenian lainnya seperti gambus, dan biola (viol). Nama bunyi dari alat ini sangat menentukan bagi irama/ langkah dari para penari. Alat ini bila dimainkan sebagai pengiring 2 (dua) sampai 4 (empat) buah. Para pemegangnya harus pandai menyusuaikan dengan para pemain lainnya. Oleh karena itu pemain (pemegang alat) ini harus kompak antara mereka, dan juga dengan pemegang alat lainnya, serta pesan yang berhubungan syair agama islam.</p>
<p><strong>Cara memainkan<br />
</strong><br />
Alat kesenian ini dimainkan dalam posisi duduk berila di atas kursi. pakaian para pemain ialah sarung kemeja lengan panjang (kadang pakai jas), dan kopiah hitam. Sebelum memainkannya tali yang dipasang pada bagian tengah dimasukkan ibu jari, lalu alat ini diputar-putar sehingga erat sekali pada ibu jari. Tangan lainnya (jari tangan) yang meukul-mukul pada bagian kulit yang direntangkan pada salah satu sisi, setelah syair diucapkan oleh pemegang gambus. Ibu jari tangan diputar pada tali dan tampaknya menadah (setengah menggenggam), dan biasanya digerakkan ke atas dan ke bawah, mengikuti irama pukulan. Lubang kecil yang berada di tengah berdekatan dengan tali pegangan berfungsi sebagai pengubah suara apabila tidak ditutup suaranya lembut dan apabila ditutup dengan ibu jari suaranya keras. Pukulan dengan ujung jari-jari tangah 4 (empat) jari suaranya keras, lubang ditutup, dan apabila dipukul hanya dengan 1 (satu) jari suaranya lembut karena lubangnya ditutup. Alat kesenian ini dipakai bersama dengan alat kesenian lainnya yakni gambus dan biola/viol, dan dimainkan untuk mengiringi tari jepeng, yang dilaksanakan pada malam hari bila pesta kawin atau pesta syukuran. Pemegang alat kesenian ialah para orang tua laki, tapi dalam perkembangannya sekarang ini telah banyak para remaja untuk memainkannya.</p>
<p><strong>Persebaran</strong></p>
<p>Menurut para informan bahwa tari jepeng yang diiringi oleh marawasi ini, pada mulanya berkembang seiring dengan perkembangan agama islam di Tanah Kaili, sebagai salah satu media syair agama islam. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan banyaknya syair tang dilagukan oleh pemain gambus berisikan nasehat-nasehat yang sesuai dengan ajaran agama islam. Pesebarannya meluas ke seluruh daerah Sulawesi Tengah, khususnya di Tanah Kaili, jauh menyusup ke desa-desa utamanya penduduknya banyak beraga Islam.</p>
<p>Sumber: Perpustakaan Daerah Propinsi<br />
Jl. Banteng No. 6 Palu Telp. (0451) 482490</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://telukpalu.com/2008/03/marawasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lalove</title>
		<link>http://telukpalu.com/2008/03/lalove/</link>
		<comments>http://telukpalu.com/2008/03/lalove/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Mar 2008 12:52:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Thony Irawanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Alat Seni Tradisional]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/tlp2010/?p=917</guid>
		<description><![CDATA[Alat kesenian lalove berfungsi sebagai alat pengiring tari tradisional disamping alat lain seperti gendang. Tari tradisional ini dalam bahasa daerahnya di sebut balia, yang terdiri dari beberapa jenis. Pada mulanya lalove ini tidak sembarang ditiup, sebab bagi orang-orang yang biasa kerasukan roh mendengarnya maka dengan spontanitas orang tersebut akan kerasukan. Itulah sebabnya lalove tersebut tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<table border="0" width="98%" align="center">
<tbody>
<tr>
<td>
<div>Alat kesenian lalove berfungsi sebagai alat pengiring tari tradisional disamping alat lain seperti gendang. Tari tradisional ini dalam bahasa daerahnya di sebut balia, yang terdiri dari beberapa jenis. Pada mulanya lalove ini tidak sembarang ditiup, sebab bagi orang-orang yang biasa kerasukan roh mendengarnya maka dengan spontanitas orang tersebut akan kerasukan. Itulah sebabnya lalove tersebut tidak sembarang orang yang meniupnya, rebatas pada orang-orang tertentu dan di sebut bule. Lalove ini sangat penting kedudukannya dalam mengiringi tarian upacara penyembuhan, sebab apabila salah irama para penari yang udah kerasukan roh, akan marah dan mengamuk. Upacara penyembuhan dilaksanakan pada malam hari, lamanya upacara berdasarkan lamanya pasien yang kerasukan kadang-kadang sampai siang. Tetapi akhir-akhir ini alat tersebut telah banyak dipakai untuk mengikuti/ mengiringi tarian tradisional yang telah dikreasikan. Namun demikian anak-anak/ remaja masih belum mampu menggunakannya, sehingga hanya orang-orang yang telah berumur yang mampu meniupnya secara sempurna.</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div>
<p>Bahan: Buluh dan Rotan. Bentuk: Bulat Panjang, seperti suling. Warna: Kuning kecoklat-coklatan.</p>
<p><strong>Cara pembuatannya:</strong></p>
<div>
<ol type="a">
<li>Memilih bahan dengan cara mencari buluh yang sudah tua dan lurus. Buluh untuk <em>lalove </em>ini, dicari dan pilih buluh yang tumbuh digunung atau di bukit-bukit, dan rumpun yang terletak paling tinggi.</li>
<li>Sebelum menebang atau mengambil buluh tersebut, terlebih dahulu dibuatkan upacara untuk minta izin kepada penghuni/ penguasa di bukit tersebut. Upacara ini menguguhkan sesajen berupa ayam putih yang diambil darahnya sedikit lalu dilepas. Disamping itu adapula makanan, sambil membacakan mantera-mentera.</li>
<li>Selesai upacara, lalu memilih bulu yang paling tinggi, lurus dan sudah tua, dan ditebang sambil mengucapkan <em>tebe</em> (permisi), sebanyak 3 (tiga) batang.</li>
<li>Buluh-buluh tadi dibawa ke sungai, setelah dikeluarkan ranting-ranting, dan kemudian di sungai yang diikuti oleh pembuatnya.</li>
<li>Oleh pembuat memilih buluh yang terlebih dahulu hanytut dari buluh lainnya, dan buluh tersebut merupakan pilihan utama.</li>
<li>Buluh pilihan tersebut dipotong seruas-ruas, lalu dialirkan lagi kesungai untuk mendapatkan ruas yang utama sebagai pilihan untuk dibuat lalove.</li>
<li>Bulu yang dipotong tadi dianginkan sampai kering. Salah satu ruas buku tidak dikeluarkan. Pada bagian buku ini disayat sedikit, kemudian dililit dengan rotan yang telah diraut, sehingga antara sayatan dan lilitan rotan ada lubang untuk masuknya udara dari dalam mulut. Pada bagian yang bertolak belakang dengan bagian yang disayat tadi buat lubang sejumlah enam (6) dengan jarak yang sama tiap tiga lubang dan antara tiap tiga lubang ± 5 cm, sedangkan jarak tiap lubang ± 2 cm.</li>
<li>Untuk memperbesar suara lalove tadi pada ujungnya ditambah dengan buluh yang lebih besar, sehingga ujung lalove tadi dapat masuk dalam buluh tadi. Buluh untuk menambah besar suara lalove disebut solonga.</li>
<li>Keadaan pengrajin lalove akhir-akhir ini bila dibandingkan pada masa lalu kelihannya agak kurang, namun pada sisi lain nampaknya masih ada usaha untuk melestarikannya.</li>
</ol>
</div>
<p>Usaha ini dikaitkan dengan dikembangkannya usaha melestarikan musik tradisional, tetapi tidak ada lagi upacara-upacara pemilihan buluh, tetapi cukup dengan memilih bulu yang berkualitas baik.</p>
<p><strong>Cara memainkan </strong></p>
<div>
<ol type="a">
<li>Dimainkan dalam posisi duduk, pada waktu malam.</li>
<li>Pada ujung yang dilit pada rotan diletakkan pada bibir dan ujung yang satunya dijepit oleh jari kaki.</li>
<li>Jari-jari tanga kiri (3 jari), telunjuk, jari tengah, dan jari manis menutup tiga lubang bagian atas, begitu pula pada 3 (tiga) lubang pada bagian bawah. Kadang-kadang ibu jari tangan kanan digunakan, apabila <em>Lalove </em>tersebut agak panjang sehingga posisi kaki agak terjulur ke depan.</li>
<li>Pada lubang sayatan yang dililit dengan rotan, napas dihembuskan, dan jari-jari tangan dapat bergerak tutup buka pada lubang-lubangnya.</li>
<li>Apabila suaranya kurang merdu, dapat diatur dengan cara mengatur rotan pelilit tadi.</li>
</ol>
</div>
<p><strong>Persebaran</strong></p>
<p>Karena alat ini pada mulanya digunakan untuk mengiringi tari tradisional <em>Balia</em>, maka perebarannya terbatas pada orang atau kelompok yang mengadakan upacara <em>balia</em> sebagai upacara penyembuhan orang sakit. Namun demikian akhir-akhir ini dimana orang atau kelompok balia sudah mulai berkurang, tetapi dipihak lain ada usaha menggunakan <em>lalove</em> ini sebagai pengiring tari tradisional yang telah dikreasi. Nampaknya masih didominasi oleh pengikut <em>balia</em>, akan tetapi kaum remaja sudah mulai mencintainya, walau masih perlu belajar banyak.</p>
<p>Sumber: Perpustakaan Daerah Propinsi<br />
Jl. Banteng No. 6 Palu Telp. (0451) 482490</p>
</div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://telukpalu.com/2008/03/lalove/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kacapi</title>
		<link>http://telukpalu.com/2008/03/kacapi/</link>
		<comments>http://telukpalu.com/2008/03/kacapi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Mar 2008 12:51:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Thony Irawanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Alat Seni Tradisional]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya Sulawesi Tengah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/tlp2010/?p=915</guid>
		<description><![CDATA[Nama alat ini mungkin diambil dari nama Kecapi, sebab tak ada narasumber yang dapat atau mampu menguraikan atau menjelaskan asal-usul nama tersebut. Dan tidak diketahui secara pasti apa arti Kecapi adalah nama benda itu sendiri Nokacapai atrinya bermain kecapi. Tujuan Upacara tersebut ialah: Bahan : Kayu dan kawat baja yang kecil. Bentuk : Seperti perahu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[
<div>Nama alat ini mungkin diambil dari nama Kecapi, sebab tak ada narasumber yang dapat atau mampu menguraikan atau menjelaskan asal-usul nama tersebut. Dan tidak diketahui secara pasti apa arti Kecapi adalah nama benda itu sendiri Nokacapai atrinya bermain kecapi.</div>
<div>
<p><strong>Tujuan Upacara tersebut ialah:</strong></p>
<p>Bahan : Kayu dan kawat baja yang kecil.<br />
Bentuk : Seperti perahu<br />
Warna : Sesuai nama kayunya, yang kelamaan berwarna hitam.</p>
<p><strong>Cara pembuatannya</strong></p>
<p>Sebelum pembuatan kacapi dibuat terlebih dahulu menentukan dan memilih bahannya. Bahan untuk alat kacapi ini dibuat dari kayu nangka dan dapat pula dari kayu <em>lengaru</em> (bahasa Kaili). Kayu atau bahannya terlebih dahulu dipilih bagian kayu yang telah tua lurus dan dipotong sepanjang ± 125 &#8211; 150 cm. Kayu yang masih bulat itu dibelah dan dibentuk setebal ± 15 cm, kemudian dikeringkan, dan cukup hanya dianginkan saja. Kayu yang setebal (tinggi) ± 15 cm dan lebar ± 20 cm, dibentuk lagi dengan cara: Kira-kira 75 cm dibentuk agak pipih dengan lebar pangkal + 13 cm dan kian ke ujung kian kecil sehingga lebar ujungnya ±7 cm. Bagian yang panjangnya + 75 cm, pada ujungnya dibuat seperti ekornya dengan ± 6 cm, dan bagian kiri kanan dikeluarkan dan bagian tengahnya dengan garis tengah ± 22 cm dari ekor kacapi, dan dibuat lubangditengah-tengah yang tembus ke bawah.</p>
<p>Pada jarak ±55 cm dari tiang bundar dibuat lagi sebanyak 5 tiang yang bergandengan dengan garis tengah ± 2 1/2 cm dengan jarak tiang masing-masing ± 5 cm. Dibagian belakang atau bawah dari badan kacapi yang berbentuk bundar telur dibuat rongga (digali) sepanjang badan kecapi tersebut. Selesai dibuat rongga, lalu ditutup lagi dengan papan tipis yang juga dibuat dari kayu nangka dengan cara dilem atau dipaku papan tipis penutup itu diberi lubang sebanyak 3 lubang. Pada bagian leher yang melengkung ke atas berbentuk tiang dibuat lubang tembus tempat masuknya tali yang dihubungkan dengan kayu pemutar.</p>
<p>Tiang bulat pada bagian badan kecapi diikat dengan kawat yang ditarik kebelakang agar tidak miring bila tali kecapi dikencangka. Dibagian ujung leher masih ada bagian papa tipis sepanjang ± 30 cm, dan pada sisi sebelah-menyebelah dipasang kayu pemutar tali, yang melekat pada lubang. Pemasangan tali kecapi dilakukan dengan cara mengikatkan ujung tali di dalam lubang pada tiang bulat, kemudian ditarik, dimasukkan pada lubang dibagian leher, ujungnya diputar/ dililitkan pada kayu pemutarnya (seperti mengencangkan tali gitar).</p>
<p><strong>Fungsi</strong></p>
<p>Alat kesenian kacapi ini berfungsi untuk mengiringi nyanyian, khususnya nyanyian yang bersyair panjang disebut <em>Dadendate</em> artinya nyanyian panjang yang mempunyai ciri khas. Kecapi ini adalah alat hiburan, baik untuk diri sendiri (petik sendiri dan nyanyi sendiri) maupun bersama teman-teman. Apabila seseorang memiliki/ menyimpan kecapi ini, itu berarti dia pandai bermain kecapi dan pandai membawakan lagu <em>dadendate</em>.</p>
<p><strong>Cara memainkannya</strong></p>
<p>Alat ini dimainkan oleh oarang tua dan dewasa laki-laki. Dimainkan pada waktu senggang sebagai pelipur lara, atau pada upacara selamatan penghibur orang dengan membawakan syair-syair dadendate, yang dapat membalas syair antara remaja pria wanita. Cara memainkannya sama dengan memainkan gambu atau hitar dalam posisi berdiri atau duduk diatas kursi. Sebelum syair-syair dilagukan, terlebih dahulu membunyikan alatini tidak memakai kuku ibu jari sebagai pemetiknya, tetapi menggunakan sepotong rotan yang digenggam oleh atau dijepit oleh ibu jari telunjuk. Jari-jari tangan kiri berfungsi menekan talinya berpindah-pindah pada tempat yang berbentuk tiang berjumlah 5 buah, yang dpat menghasilkan berbagai bunyi. Tidak kelihatah secara nyata pakaian yang harus dipakai oleh pemainnya, kecuali pakai kopiah hitam. Akhir-akhir ini alat kesenian dimainkan bersama-sama dengan alat lainnya seperti, gendang, banggula, mbasi-mbasi (sebangsa suling), dan tampido yang mengiringi lagu-lagu Daerah Tanah Kaili pada pergelaran-pergelaran.</p>
<p><strong>Persebarannya</strong></p>
<p>Persebarannya alat ini, nampaknya bersifat intra kelompok dan antar masyarakat ataupun dari komunitas yang satu kepada masyarakat lainya. Apabila ditinjau dari sisi geografi persebaran alat ini, dapat diambil suatu analisa singkat, bahwa awal persebarannya, pada sepanjang pantai. Pantai ditanah Kaili adalah sebagai tempat-tempat lalu lintas perdagangan, tempat orang dari luar bermukim sambil meluas ke daratan luas ke kaki gunung. Bilamana hal ini benar, berarti telah terjadi suatu difusi, atau proses persebaran unsur-unsur kebudayaan dari berbagai suku bangsa. Alat kesenian bila diinterprestasikan, diidentifikasikan bentuknya mirip sebagai perahu, sebagai perahu, sebagai salah satu alat komunikasi di air.</p>
<p>Sumber: Perpustakaan Daerah Propinsi<br />
Jl. Banteng No. 6 Palu Telp. (0451) 482490</p>
<p>Inti upacara <em>nopamada</em> ialah mengajarkan/mengingatkan atau menuntun orang yang sekarat itu dengan suatu petunjuk atau isyarat tertentu, yang dipercayai sebagai suatu cara yang membuka jalan lempang, agar roh dapat ke luar dengan tenang dari dalam tubuh pada saat menghembuskan napas terakhir.</p>
<p>Ajaran tersebut biasa disebut &#8220;<em>jalan nggamatea</em>&#8221; (jalan menuju kematian), yang isinya mempelajari tanda-tanda akan datangnya ajal dan jalan yang ditempuh oleh roh seseorang, pada saat menghembuskan napas terakhir menuju alam baka. Ajaran ini diperoleh melalui tarikat dengan guru-guru agama, yang biasanya diajarkan kepada seseorang dalam kelambu, dengan sangat rahasia. Pengetahuan tersebut tidak diajarkan kepada sembarang orang melainkan hanya kepada orang-orang tertentu saja, karena mereka yang dianggap ahli dan bertugas mengajar orang-orang yang sedang dalam keadaan sakarat tersebut.</p>
<p><strong>Waktu upacara</strong></p>
<p>Upacara ini dilakukan pada waktu seseorang sedang sekarat (<em>Rilara nuadanga</em>) atau pada saat-saat seseorang sedang gelisah, atau menunjukkan gejala-gejala yang sangat menderita kesakitan, apalagi keadaan yang demikian itu diderita dalam waktu yang agak lama. Tanda-tanda seorang yang sakarat tersebut, disebut <em>nantapasaka</em>; Melepaskan kebiasaan-kebiasaan yang pernah dilaksanakannya selama hidupnya apakah itu yang baik atau yang buruk, sehingga memberikan tuntutan atau bimbingan dari anggota keluarga atau yang dianggap ahli dalam bidang itu secara bergantian. Acara ini disebut <em>mopotuntuaka ritalinga </em>(membisikkan sesuatu pengajaran dengan mendekatkan mulut di telinga orang yang sedang sakarat tersebut).Penyetenggara teknis. Pelaksana teknis upacara ini, dahulu di lakukan oleh dukun (sando) dengan membaca mantra (mogane), sambil meremaskan bagian kepala dengan air, yang telah diflup oleh dukun dengan mantra-mantra tertentu, clan anggota keluarga menyaksikan dengan tenang.</p>
<p>Dewasa ini upacara tersebut dilakukan oleh peranan agama. Dalam keadaan seseorang <em>rilara nuadanga </em>diadakan pengajian AI-Qur&#8217;an (surat Yasin) dari salah seorang anggota yang hadir, yang dianggap memiliki suara yang fasih dan lagu yang baik. Yang bertugas mengajarkan/membisikkan ajaran kepada orang yang sakarat tersebut adalah keluarga yang terdekat, yang dianggap guru atau pegawai syara yang diundang untuk itu.</p>
<p>Kalimat yang dibisikkan ke telinga (<em>nipotuntuaka ritalinga</em>) adalah kalimat Tauhid yaitu <strong><em>Laa ilaha illallah</em></strong>. Siapa yang mampu mengucapkan kalimat tauhid tersebut, dipercayai bahwa orang yang meninggal tersebut pasti masuk Surga.</p>
<p><strong>Pihak-pihak yang terlibat</strong></p>
<p>Pihak-pihak yang terlibat dalam upacara ini adalah seluruh anggota keluarga terdekat/tetangga. Tugas mereka selain datang saling minta maaf dan turut mendoakan, juga memanggil keluarga-keluarga yang agak jauh, yang memungkinkan dapat hadir menyaksikan situasi yang sedang gawat atau menanti saat-saat menghembuskan napas yang terakhir. Di samping mengundang ketua dewan adat/guru/pegawai syara dan sebagainya sebagai petugas teknis.</p>
<p><strong>Jalannya Upacara</strong></p>
<p>Jalannya upacara Nopamada, dapat dibagi dua yaitu:</p>
<div>
<ul>
<li>Pada saat sakaratul maut (rilara nuadanga).</li>
<li>Pada saat setelah menghembuskan napas terakhir.</li>
</ul>
</div>
<p>Pada tahap pertama, upacara yang berlangsung ialah:</p>
<div>
<ol>
<li><em>Nopotuntuaka ritalinga </em>(membisik/menyampaikan kalimat Tauhid). Bila masa sakarat itu agak lama dan sulit mengucapkan, maka orang-orang secara bergilir atau bergantian melaksanakan tugas tersebut.</li>
<li>Membaca AI-Qur&#8217;an Surat Yasin sepanjang saat/waktu seseorang dalam keadaan sakarat (rilara nuadanga).</li>
</ol>
</div>
<p>Tahap kedua ialah saat seseorang telah menghembuskan napas terakhir, maka letak tubuhnya diperbaiki dalam keadaan terlentang, mulut yang terbuka dikatupkan, dan mata yang membelalak ditutup serta kedua tangannya diletakkan di atas dadanya. Bila anggota tubuhnya agak kaku/kejang diatur dalam posisi seperti tersebut, maka untuk itu dipakai minyak kelapa dicampur dengan <em>sikuri-kuri </em>(kencur) untuk melemaskan anggota tubuh si mati. Rasa kepuasan dan kebahagiaan anggota keluarga tergambar mewarnai ketenangan menghadapi musibah tersebut apabila orang yang meninggal sempat mengucapkan kalimat tauhid tersebut baik karena diberi tuntunan atau tidak, serta dalam keadaan posisi badan tertentang, mata terpejam dan kedua tangannya telah diletakkan di atas dadanya secara sempurna. Suatu kondisi ideal bagi seorang yang dianggap selamat menghadap Tuhannya. Suatu simbol dari pribadi orang-orang yang baik amainya dan menjadi kebanggan keluarganya.</p>
<p>Upacara <em>nopamada</em> hingga dewasa ini masih berlaku, baik bagi keluarga raja atau bangsawan maupun anggota masyarakat biasa. Pantangan-pantangan selama upacara <em>nopamada </em>tersebut ialah:</p>
<div>
<ol>
<li>Seluruh anggota keluarga yang hadir, dilarang menangis dan berbicara keras. Maksudnya agar tahu <em>rilara nuadanga </em>tidak terganggu, dan dapat menghembuskan napas terakhir dengan tenang tanpa merasa kesakitan.</li>
<li>Dilarang berjalan menghentakkan kaki dalam rumah, karena mengganggu konsentrasi atau mempersulit seseorang menghembuskan napasnya yang terakhir. Hal tersebut dianggap sebagai suatu penyiksaan.</li>
</ol>
</div>
<p>Sumber: Perpustakaan Daerah Propinsi<br />
Jl. Banteng No. 6 Palu Telp. (0451) 482490</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://telukpalu.com/2008/03/kacapi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

