<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>TelukPalu.Com &#187; Permainan Tradisional</title>
	<atom:link href="http://telukpalu.com/category/budaya/permainan-tradisional/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://telukpalu.com</link>
	<description>Info Seputar Teluk Palu dan Wisata Sulawesi Tengah</description>
	<lastBuildDate>Thu, 29 Jul 2010 10:51:18 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Tilako</title>
		<link>http://telukpalu.com/2007/12/tilako/</link>
		<comments>http://telukpalu.com/2007/12/tilako/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Dec 2007 12:48:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Thony Irawanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Permainan Tradisional]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/tlp2010/?p=907</guid>
		<description><![CDATA[Di daerah Tanah Kaili cukup banyak jenis permainan Tradisional, tapi sayang sekali permainan itu jarang menggunakan peralatan yang diolah secara artistik oleh akal budi dan tangan manusia. Permainan-permainan itu memang menggunakan alat, akan tetapi alat-alat itu merupakan benda alam yang polos dan murni. Tilako = Kalempa Menurut etimologinya Tilako = Ti &#8211; lako Kalempa = [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di daerah Tanah Kaili cukup banyak jenis permainan Tradisional, tapi sayang sekali permainan itu jarang menggunakan peralatan yang diolah secara artistik oleh akal budi dan tangan manusia. Permainan-permainan itu memang menggunakan alat, akan tetapi alat-alat itu merupakan benda alam yang polos dan murni. </p>
<p>Tilako = Kalempa </p>
<p>Menurut etimologinya Tilako = Ti &#8211; lako<br />
Kalempa = Ka + lempa<br />
Tilako = Ti sebagai awalan.<br />
Lako boleh berarti : langkah, jalan dari, dari mana.<br />
Tilako = alat yang dipakai untuk melangkah / berjalan<br />
Kalempa = Ka sebagai awalan lempa berarti datang dari langkah.<br />
Tilako dari dialek Ledo sedang, sedangkan Kalempa dialek Rai.<br />
Notilako = Bermain Tilako.<br />
Bahan : Bambu dan boleh juga dari pelepah sagu dan tempurung.<br />
Bentuk : Panjang.<br />
Makna : Sebagai lambang kedewasaan, ketangkasan dan lambang keberanian dalam permainan tersebut;<br />
Warna : Sesuai dengan warna bambu aslinya. </p>
<p>Cara pembuatannya </p>
<p>Untuk membuat Tilako atau Kalempa tersebut, dipilih bambu yang bentuknya lurus dan sudah tua, terutama volo vatu kemudian dikeringkan. Cara membuatnya bambu bata (volo vatu); pada bagian ujungnya yang bergaris tengah lebih kurang 3 cm atau sebesar sela ibu jari kaki dengan jari lainnya dan panjang ± 3 1/2 &#8211; 3 cm sebanyak 2 (dua) batang. Ranting-rantingnya dibersihkan lalu kedua batang bambu diukur sama panjang, dan diusahakan ruas-ruasnya tepat satu dengan yang lainnya bila ditegakkan. Disamping bambu yang panjang ± 2 1/2 &#8211; 3 m, disiapkan pula bambu yang agak besar panjangnya lebih kurang sama panjangnya dengan tapak kaki pemakai. Jadi bukan merupakan ukuran yang tetap dari masing-masing bambu tersebut. Bambu yang berukuran pendek itu salah satu ujungnya masih ada ruas (bukunya). Pada bagian yang ada ruas (buku) tersebut dilobangi sebesar bambu yang panjang tadi. </p>
<p>Perlu diperhatikan bahwa lubang itu tidak boleh terlalu besar, akan tetapi diperhitungkan, agar dapat tersangkut pada ruas (buku) bambu panjang dengan perkiraan ± 1/2 &#8211; / 4 meter atau lebih, dari bagian pangkalnya. Bambu yang panjang ini berfungsi sebagai kaki tegak berdiri, sedangkan bambu yang pendek berfungsi untuk tempat tapak kaki. Selesai kedua bambu pendek tadi dilubangi, lalu dimasukka pada bambu yang panjang dari bagian ujungnya yang kecil. Perlahan-lahan dimasukkan pada posisi tegak, sampai kandas pada bagian ruas (buku), sesuai kehendak pemakai yang ditentukan sejak awal ukurannya. Tetapi ada pula cara lain yakni pada bambu pajang dibuatkan pasak pangkal untuk memakan tempat kaki dengan cara melubanginya. hal ini dianggap kurang kuat karena bambu panjang tersebut dilubangi, dan kadang-kadang kayu pasak sebagai penahan biasanya patah. </p>
<p>Fungsinya </p>
<p>Tilako atau Kalempa ini berfungsi sebagai alat hiburan anak-anak dalam bermain bersama teman-temannya. Waktu bermain utamanya pada sore hari, pagi dan kadang-kadang waktu malam, bila bulan terang. </p>
<p>Tilako atau Kalempa, seringkali pula digunakan untuk berlomba lari atau saling menjatuhkan dengan cara memukulkan kaki-kaki bambu kepada kaki bambu temannya. Jadi Notilako atau Nokalempa adalah permainan untuk santai sambil menghibur diri. </p>
<p>Cara memainkannya </p>
<p>Permainan ini dilakukan oleh anak-anak umur 7 &#8211; 13 tahun, pada umumnya anak laki-laki dan hanya sebagian kecil anak perempuan. Kedua bambu dipegang kuat dalam posisi tegak, kemudian salah satu kaki diangkat tepat mengenai bambu pendek sebagai tempat kaki kemudian kaki yang satunya ikut diangkat. Pada saat ini sangat diperlukan keseimbangan agar tidak jatuh. Ibu jari kaki dan jari yang satu dijepitkan pada bambu panjang, dan apabila sudah seimbang, maka jari menjepit ikut menentukan kekuatan disamping tangan yang memegang, untuk mengangkat dan melangkah seperti lagaknya orang berjalan. apabila telah dikuasai keseimbangannya, biasa pula anak memberikan fariasi bunyi yang indah, dengan cara-cara memukul-mukulkan bambu itu pada bagian atas yang dipegang dan diselingi pukulan pada kedua kaki bawah. Melangkah dan berhenti sambil memukul-mukulkan kedua bambu itu dengan iramanya, begitu seterusnya hingga mereka puas. </p>
<p>Kalau tempat kaki itu agak tinggi, anak-anak biasa naik tangga, dan dari situlah mereka mulai berjalan, begitu pula sebaliknya kalau mereka turun dari Tilako itu. Siapa diantara mereka dapat menggunakan tilako atau kalempa yang tinggi tempat kakinya, maka dialah yang dianggap jago. Permainan ini tidak diikat dalam satu kelompok dan tidak pula terikat dengan lama waktu yang digunakan. Jadi singkatnya permainan ini bebas dilakukan dalam arti jumlah pemain dan lamanya permainan. </p>
<p>Persebarannya </p>
<p>Sampai sekarang tilako atau kalempa sudah jarang dan bahkan hampir-hampir tak ada lagi. Dahulu, hampir semua anak desa di daerah Tanah Kaili mampu bermain tilako atau kalempa ini, karena di seluruh desa banyak tumbuh jenis pohon jambu, yang dibuat alat permainan. </p>
<p>Sumber: Perpustakaan Daerah Propinsi<br />
Jl. Banteng No. 6 Palu Telp. (0451) 482490 </p>
<h2  class="related_post_title">Artikel Terkait:</h2><ul class="related_post"><li>No Related Post</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://telukpalu.com/2007/12/tilako/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nojapi-japi</title>
		<link>http://telukpalu.com/2007/12/nojapi-japi/</link>
		<comments>http://telukpalu.com/2007/12/nojapi-japi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Dec 2007 12:47:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Thony Irawanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Permainan Tradisional]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/tlp2010/?p=905</guid>
		<description><![CDATA[Nojapi-japi. No artinya = ber (sebagai awalan). Japi = sapi. Japi-japi = bermain sapi-sapi. Alat permainan ini terdiri dari bahan-bahan: pelepah kelapa yang masih mentah, tali dan tempurung kelapa. Alat permainan ini berbentuk seperti sapi. Warna hijau, coklat, makna kekuatan dan keberanian. Cara pembuatan Sebelumnya dipilih pelepah kelapa yang besar dan tebal, pada bagian pangkalnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<table border="0" width="98%" align="center">
<tbody>
<tr>
<td>
<div>Nojapi-japi. No artinya = ber (sebagai awalan). Japi = sapi. Japi-japi = bermain sapi-sapi. Alat permainan ini terdiri dari bahan-bahan: pelepah kelapa yang masih mentah, tali dan tempurung kelapa. Alat permainan ini berbentuk seperti sapi. Warna hijau, coklat, makna kekuatan dan keberanian.</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div>
<p><strong>Cara pembuatan</strong></p>
<p>Sebelumnya dipilih pelepah kelapa yang besar dan tebal, pada bagian pangkalnya sebagai bahan utama, tempurung (batok) kelapah yang tebal dan tua serta daun silar yang panjang lagi lebar. Setelah semua bahannya terpilih kemudian pelepah kelapa, diukur dengan panjang ± 5 cm untuk tempat masuknya tempurung yang berbentuk tanduk. Membuat tanduk dari bahan tempurung ini diperlukan ketekunan, karena diambil dari tempurung yang dalam bentuk utuh pada bagian tebal.</p>
<p>Setelah dibentuk, serat-seratnya (bulunya) dicukur dengan pisau atau parang agar lebih bagus dan licin. Bentuk tanduk ini ada yang panjang dan ada pula yang pendek. Daun silar yang mudah dikeluarkan lidinya lalu dibuat tali. Membuat tali untuk keperluan permainan ini ada bermacam-macam cara. Ada dengan cara hanya memilih sajadaun silar dihaluskan yang terdiri dari dua serat, ada pula cara dengan cara dengan tiga atau empat serat, dan serat-serat tersebut sebelumnya diketatkan yakni dengan memutar-mutar atau dipilin kuat-kuat. Serat-serat yang telah dipilin buat ini diramu menjadi tali, dengan panjang ± 2 1/2 meter. Pelepah kelapa yang telah dibentuk tadi pada bagian yang dibelah, dimasukan tempurung yang berbentuk tanduk dengan cara memukul-mukul tempurung dalam posisi kedua ujungnya mengarah keatas sehingga tempurung tanduk itu menjadi kuat dan tidak gampang tergoyang. Antara tanduk dan batas bagian leher diikatkan tali yang telah dipilin tadi, dengan cara demikian sapi-sapian itu ditarik kemana-mana.</p>
<p><strong>Fungsi </strong></p>
<p>Permainan ini hanya semata-mata untuk kesenangan, disamping dapat sifat kompetitif. Dalam permainan ini seringkali diadakan adu-beradu diantara apia-sapian tersebut.</p>
<p><strong>Cara memainkan</strong></p>
<p>Kalau anak-anak bermain hanya untuk kesenangannya saja, maka sapi-sapian itu ditarik kesana-kemarisambil memegang talinya. kadang-kadang pula dibawa lari sambil melompat-lompat meniru-niru sapi yang melompat, atau meniru sapi yang sedang berlari-lari. Untuk lebih semarak lagi maka setiap anak membuat dua ekor sapi-sapian dan dipasang seperti layaknya sapi yang sedang menarik gerobak. Dalam hal seperti ini anak-anak biasanya mengadu kekuatan membawa lari, sambil berlomba siapa yang lebih cepat dan sapi-sapian itu tidak berguling-guling. Jadi sangat diperlukan keterampilan membawa lari sapi-sapian itu dalam berlomba agar tetap pada posisi semula. Tetapi apabila anak-anak menginginkan ada kekuatan tanduknya yang terbuat dari tempurung, dan ada kekuatan talinya, maka cara memainkannya lain pula.</p>
<div>
<ol type="a">
<li>Pertama-tama menyiapkan arena permainan ditanah datar keras dan tak banyka debu, dan berukuran panjang ± 7 &#8211; 10 meter.</li>
<li>Dua orang anak yang akan bertanding menyiapkan sapi-sapinya masing-masing satu.</li>
<li>Masing-masing anak berdiri pada ujung arena permainan, sipa memegang tali sapi-sapinya, pada tangan kanan.</li>
<li>Setelah mendengar aba-aba, kedua anak membawa lari sapi-sapinya dengan cepat, yang berlawan arah.</li>
<li>Kira-kira pada pertengahan arena sapi-sapian itu dipertemukan dengan cara, tangan yang memegang talinya diayun kekanan sedikit (apabila tangan kanan yang memegang), begitu pula lawan bermain. Pada saat inilah terjadi tabrakan yang keras, sehingga biasanya terjadi dua hal, yakni talinya putus atau tanduk yang patah, Apabila tidak terdapat dua hal tersebut, maka permainan diulang.</li>
<li>Siapa yang putus talinya atau patah tanduknya dia dinyatakan kalah dalam permainan tersebut.</li>
<li>Permainan ini dimainkan anak-anak yang berumur 7-12 tahun.</li>
</ol>
</div>
<p><strong>Persebarannya</strong></p>
<p>Dahulu permainan ini dikenal semua oleh anak-anaki ditanah Kaili, apabila musim mengolah kelapa mulai dari musim panjat sampai pada waktu mengeringkan kelapa. Pengrajin khusus hampir tak ada karena hampir semua anak dapat membuatnya sendiri, walau sekali-kali dibantu oleh orang dewasa atau orang tua. Pada masa sekarang permainan itu hampir tak dikenal oleh anak-anak lagi, jutru karena banyaknya permainan baru yang bermunculan dimana-mana.</p>
<p>Sumber: Perpustakaan Daerah Propinsi<br />
Jl. Banteng No. 6 Palu Telp. (0451) 482490</p>
</div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<h2  class="related_post_title">Artikel Terkait:</h2><ul class="related_post"><li>No Related Post</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://telukpalu.com/2007/12/nojapi-japi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nobangan</title>
		<link>http://telukpalu.com/2007/12/nobangan/</link>
		<comments>http://telukpalu.com/2007/12/nobangan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Dec 2007 12:47:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Thony Irawanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Permainan Tradisional]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya Sulawesi Tengah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/tlp2010/?p=903</guid>
		<description><![CDATA[Nobangan terdiri dari kata no dan banga. No sebagai kata awalan yang menunjukan kata kerja, sedangkan banga berarti (dalam bentukan kata nobanga) atau melakukan sesuatu pada permainan ini adalah, apabila melempar mengena pada benda (kemiri) sebagai yang dilempar (petaa) dan langsung keluar garis lingkaran, maka hal tersebut dinamakan banga (mobanga) sebagai suatu hasil pekerjana. Sedangkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<table border="0" width="98%" align="center">
<tbody>
<tr>
<td>
<div>Nobangan terdiri dari kata no dan banga. No sebagai kata awalan yang menunjukan kata kerja, sedangkan banga berarti (dalam bentukan kata nobanga) atau melakukan sesuatu pada permainan ini adalah, apabila melempar mengena pada benda (kemiri) sebagai yang dilempar (petaa) dan langsung keluar garis lingkaran, maka hal tersebut dinamakan banga (mobanga) sebagai suatu hasil pekerjana. Sedangkan arti kata lainnya banga adalah tempurung kelapa. Data tehnis. Alat permainan nobangan, terdiri dari 2 (dua) macam, masing-masing :</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div>
<p><em>Potaa</em> = yang dipasang untuk dilempar (kemiri) dengan jumlah yang banyak, paling kurang 10 biji kalau pemainnya hanya 2 (dua) orang. Kalau permainan empat sampai lima orang, biasanya 1 (satu) orang, masing-masing lima biji. <em>Pataba</em> = alat pelempar (kemiri) yang agak besar yang dihiasi dengan bulu ekor ayam jantan yang panjang dan beberapa helai bulu lainnya yang kecil dan pendek. Bahan-bahannya terdiri dari kemiri pataba, kemiri petaa bulu ayam, tima, sebangsa perekat (tarung njanese bahasa Kaili). Alat permainan ini berbentuk sama dengan biji kemiri yang dihiasi (dipasang) dengan bulu ayam jantan (lihat foto). Permainan nobanga ini, gambaran dari lambang kejantanan, khuusnya kemiri yang diberi umbai dengan bulu ekor ayam jantan, dan diberi nama pataba.</p>
<p><strong>Cara membuatnya</strong></p>
<p>Bahan yang dipakai dalam permainan ini, terlebih dahulu memilih kemiri-kemiri yang sedang kuat dan kelihatannya sudah kehitam-hitaman. khususnya pada pataba dipilih kemiri yang besar, urat-uratnya timbul, tebal kulitnya dan sudah tua, Bulu ayam yang bagus warna-warnanya, serta satu atau dua bulu ekor ayam jantan, yang berwarna-warna, panjang dan bagus pula lengkungnya serta agak lebar. Memilih taru <em>njanense </em>yang warnanya hitam yang baik dan kalau dipakai untuk membalut bulu ayam pada biji kemiri. Tima yang dipakai yakni tima putih dalam bentuk batangan yang dicairkan.</p>
<p>Cara pembuatan alat permaian ini disebut pataba. Mula-mula kemiri yang telah dipilih untuk pataba, dilubangi pada bagian atanya dengan pisau atau bor, diusahakan lubangnya agar tidak terlalu besar, kira-kira ujung tangkai bulu ekor ayam dan jantan dapat masuk. Seluruh isi kemiri dikeluarkan, sehingga ada rongga pada buah kemiri. Melalui lubang dimasukan bagian bawah bulu ekor ayam jantan, lalu ditereskan atau di masukan tima putih yang cair. Dengan demikianbuah kemiri menjadi bulat, disekitar bulu ayam jantan yang panjang itu, dipasang lagi bulu yang diambil pada bagian leher atau bagian punggung ayam. Bulu-Bulu ayam yang pendek itu, dibalut dengan tarujanese, sehingga untuk kemiri pataba, nampak indah sekali.</p>
<p>Pengrajin alat permainan ini sudah langka, karena tak pernah dibuat lagi, justru permainan ini hampir tak pernah lagi dijamah oleh anak-anak sekarang. Namun demikian bagi orang yang pernah terlibat dalam ingatannya cara membuat dan cara memainkannya. Permainan ini bertujuan hanya untuk mengisi waktu senggang sambil mengadu keterampilan. Dalam permainan ini, anak-anak dapat melatih dirinya baik perorangan maupun secara berkelompok untuk bersifat sportif, jujur terhadap teman-temanya. Memupuk perkembangan sosial anak untuk saling, mengenal dan menghargai keunggulan teman serta dapat menimbulkan rasa kebersamaan dalam kelompok. Tidak kalah pula fungsinya, adalah untuk melatih/ mendidik anak supaya trampil melempar atau mendidik sasaran dengan penuh perhitungan.</p>
<p><strong>Cara memainkan</strong></p>
<p>Sebelum dimulai, terlebih dahulu dibuat lapangan permainnya,(lihat gambar).<br />
A. = Tempat membuang/ melempar pataba<br />
B. = Tempat kemiri Pataa<br />
C. &#8211; B. = + 6 &#8211; 10 , meter</p>
<p>Permainan ini adalah membuang pataba 6 (enam) orang, yang berusia 7 &#8211; 14 tahun, yang pada umunya diikuti oleh anak laki-laki, dan hanya sebagian kecil saja anak perempuan.</p>
<p><em><strong>Tahap pertama </strong></em>permainan ini adalah membuang pataba sambil berdiri pada garis batas (A) menuju pada lingkaran yang berisi kemiri pataa (B). Laporan pertama adalah untuk menentukan titik batas, ketika akan melakukan lemparan selanjutnya.</p>
<p><em><strong>Tahap kedua </strong></em>mengkur jarak pataba dengan garis pinggir lingkaran (B) yang diukur dengan sejengkal-jengkal, satu peserta tiap permainan. Siapa yang lebih jauh dari garis pinggir lingkaran maka dialah yang lebih dulu melempar kemiri potaa, dan seterusnya saling berganti.</p>
<p><em><strong>Tahap ketiga</strong></em>, apabila orang pertama, melemparnya pengena dan <em>potaa </em>keluar dari lingkaran, maka yang keluar itu menjadi haknya, dan ia masih ada kesempatan untuk melempar lagi dari titik/ batas yang baru. sebaliknya pula, walaupun lemparannya mengena, tetapi tidak keluar dari lingkaran, maka ia diganti oleh pelempar berikutnya. Biasanya permainan habis satu putaran sebelum permainan mendapat giliran melempar, sebab ada anak yang sangat jitu lemparannya, dan <em>potaa</em> selalu keluar, sehingga ia berhak terus untuk melempar. Satu hal yang kusus dalam permainan ini yang dapat terjadi permainan berakhir dalam waktu yang sangat singkat sekali. hal tersebut dapat menjadi, apabila seorang anak melemparkan patabanya langsung mengena <em>potaa </em>dan keluar lingkaran, maka semua kemiri yang ada dalam lingkaran menjadi miliknya, permainan pun berakhir. Kejadian seperti itu disebut <em>nobanga</em>.</p>
<p><strong>Persebarannya</strong></p>
<p>Perkembangan dan perseberan permainan ini merata diseluruh Tanah Kaili, dan latar belakang sejarahnya tidak banyak diketahui. Hanya yang pasti, apabila musim kemiri berbuah maka permainan akan muncul. namun sampai sekarang, walau ada buah kemiri tidak ada lagi hasrat anak-anak untuk bermain, apalagi anak-anak yang telah mencapai umur 17 tahun sekarang ini tak mengenal lagi permainan tersebut.</p>
<p>Sumber: Perpustakaan Daerah Propinsi<br />
Jl. Banteng No. 6 Palu Telp. (0451) 482490</p>
</div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<h2  class="related_post_title">Artikel Terkait:</h2><ul class="related_post"><li>27 May, 2010 -- <a href="http://telukpalu.com/2010/05/nelayan-tradisional/" title="Nelayan Tradisional">Nelayan Tradisional</a></li><li>18 February, 2010 -- <a href="http://telukpalu.com/2010/02/raja-haji-awaluddin/" title="Raja Haji Awaluddin ">Raja Haji Awaluddin </a></li><li>4 April, 2008 -- <a href="http://telukpalu.com/2008/04/peralatan-tari-tradisional-2/" title="Peralatan Tari Tradisional 2">Peralatan Tari Tradisional 2</a></li><li>4 April, 2008 -- <a href="http://telukpalu.com/2008/04/peralatan-tari-tradisional/" title="Peralatan Tari Tradisional">Peralatan Tari Tradisional</a></li><li>2 March, 2008 -- <a href="http://telukpalu.com/2008/03/yori/" title="Yori">Yori</a></li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://telukpalu.com/2007/12/nobangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hanta</title>
		<link>http://telukpalu.com/2007/12/hanta/</link>
		<comments>http://telukpalu.com/2007/12/hanta/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Dec 2007 12:46:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Thony Irawanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Permainan Tradisional]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya Sulawesi Tengah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/tlp2010/?p=901</guid>
		<description><![CDATA[Permainannya disebut mohanta. Mohanta terdiri dari mo. Mo yang berfungsi sebagai awalan ber, hanta adalah nama alat itu sendiri yang dibuat dari tempurung. Arti dari mohanta adalah bermain hanta, mungkin juga dalam arti lan yakni asal kata hantam; karena tempurung-tempurung yang dibentuk itu dalam permainan tersebut saling hantam atau baku hantam. Hal ini ada benarnya, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Permainannya disebut mohanta. Mohanta terdiri dari mo. Mo yang berfungsi sebagai awalan ber, hanta adalah nama alat itu sendiri yang dibuat dari tempurung. Arti dari mohanta adalah bermain hanta, mungkin juga dalam arti lan yakni asal kata hantam; karena tempurung-tempurung yang dibentuk itu dalam permainan tersebut saling hantam atau baku hantam. Hal ini ada benarnya, karena bahasa kaili memiliki sifat khas yakni bahasa yang fokalis misalnya: Motor jadi Motoro Kapal jadi Kapala Lonceng jadi Lonce Hantam jadi Hanta. Didaerah Kabupaten Buol dan Kabupaten Toli-Toli permainan ini disenut moyogo, dan didaerah Kabupaten Banggai disebut teba. </p>
<p>Data Teknis </p>
<p>Permainan hanta ini dibuat dari bahan-bahan: tempurung kelapa, bambu. Selain itu juga diperlukan permainan, yang rata tidak berumput. Alat permainan ini berbentuk segi tiga, untuk tempurungnya yang berjumlah 5 &#8211; 10 biji bahkan ada yang lebih dari jumlah tersebut, sebilah bambu yang pipih dengan panjang ± 45 cm. Warna alat permainan ini coklat, seperti warna aslinya dari tempurung kelapa yang telah dicukur sampai licin. Begitu pula halnya sebilah bambu sebagai alat pemukulnya. Permainan hanta ini tak mempunyai makna apa-apa kecuali hanya semata-mata untuk ketangkasan dan keterampilan saja. </p>
<p>Cara pembuatan </p>
<p>Sebelum alat permainan ini dibuat, terlebih dahulu dipilih bahannya, mulai dari tempurungnya sampai pada bambunya. Untuk itu dipilih tempurung yang tua dan tebal serta bambu yang tebal dan tua pula, dan pada saat membuat alat permainan ini harus disiapkan pula parang yang tajam serta pisau tajam pula. Pada waktu membuat/membentuk alat ini diberi tempurung, sangat diperlukan berhati-hatian. Tempurung yang utuh dapat dibagai menjadi empat bagian, dan dari tiap bagian dibentuk seperti segi tiga. Dari bentuk segi tiga itu pada bagian yang lebar dibuat lekuk pada bagian kiri kanan fan lancipan sedikit pada bagian tengahnya. Pada bagian lain ujungnya dilancipkan sedikit degan maksud agar dapat ditancapkan ke tanah. Selesai dibentuk alat permainan tersebut dibersihkan atau dilicinkan dengan pisau, sehingga nampaknya licin kecoklat- coklatan, dengan ukuran lebar permukaan atas ± 6 &#8211; 7 cm tingginya lebih kurang enam sampai tujuh senti meter pula. Sebilah bambu sebagai pemukulnya, yang biasanya dipilih bambu bentung diraut secara baik dengan panjang ± 30 cm dan lebar 2 &#8211; 3 cm serta tebalnya kurang lebih tebal bambu, dan pada salah satu ujungnya disayap sedikit. Pengrajin alat permainan ini sudah sangat langkah. </p>
<p>Fungsi </p>
<p>Permainan ini semata-mata hanya untuk hiburan atau kesenangan saja, akan tetapi pada waktu dahulu berfungsi pula memperlihatkan ketangkasan. Permainan ini adalah permainan musiman, karena diselenggarakan pada saat menjelang panen, atau pada musim mengolah kopra, dimana banyak diperoleh tempurug setelah dikeluarkan dagingnya. Permainan mohanta ini tidak terbatas pada satu kelompok sosial saja, tetapi semua lapisan sosial, permainannya khusus hanya laki-laki saja yang berumur sekitar 10 &#8211; 25 tahun, anak remaja perempuan hanya sebagai penonton. Oleh karena itu permainan ini dijadikan sebagai media untuk saling mengenal lebih dekat antara laki-laki dan perempuan, dan tidak jarang diakhiri dengan membentuk rumah tangga. Cara memakainya. </p>
<p>Permainan ini dapat diikuti pemain minimal 2 orang (satu lawan satu) dan dapat cara kelompok empat sampai enam orang. Lapangan permainan di tanah rata tanpa rumput dengan ukuran panjang 8 &#8211; 10 meter, sedangkan lebarnya menurut banyaknya hanta yang dijajarkan. Setiap pemain biasanya memiliki paling kurang 25 buah hanta, dengan satu pemukul. Sebelum permainan dimulai, diadakan lebih dahulu undian dengan cara membuang hanta, dan siapa yang jauh dialah yang lebih dahulu mulai. Yang kalah harus memasang hantanya lima buah dalam posisi berdiri dan dijajarkan dengan jarak antara tiap hanta 5 atau 7 cm, pada garis sasaran. yang menamg undian berada pada garis start melainkan satu buah hantanya dalam posisi berbaring, dan kayu pemukul ditegakkan dengan ujung yang disayat pada bagian bawah sambil dirapatkan pada ujung hanta yang lancip. </p>
<p>Dalam posisi jongkok pemain memegang kayu pemukul dengan salah satu tangan, dan tangan yang satunya memukul pada bagian bawahnya, dengan demikian hanta tadi merayap/ melayang dan menjatuhkan hanta yang dipasang pada garis sasaran. Setiap giliran memukul diberi kesempatan 5 kali dengan syarat harus menjatuhkan kelima hanta tersebut. Apabila kesempatan yang lima kali itu tak dapat menjatuhkan semua hanta, maka terjadi pengertian dengan cara menukar hanta pada garis sasaran, dengan hanta pihak yang tidak dapat menjatuhkan pemain pertaa. Sebaliknya kalau seluruh hanta itu jatuh, maka hanta menjadi milik pemenang, dan pada kesempatan berikutnya masih tetap diberi kesempatan. Permainan ini biasanya dilaksanakan pada siang hari utamanya pada waktu petang. </p>
<p>Persebaran. Permainan ini pada awalnya dari desa ke desa yang cukup baik, namun pada waktu sekarang permainan sudah hampir punah. </p>
<p>Sumber: Perpustakaan Daerah Propinsi<br />
Jl. Banteng No. 6 Palu Telp. (0451) 482490 </p>
<h2  class="related_post_title">Artikel Terkait:</h2><ul class="related_post"><li>27 May, 2010 -- <a href="http://telukpalu.com/2010/05/nelayan-tradisional/" title="Nelayan Tradisional">Nelayan Tradisional</a></li><li>18 February, 2010 -- <a href="http://telukpalu.com/2010/02/raja-haji-awaluddin/" title="Raja Haji Awaluddin ">Raja Haji Awaluddin </a></li><li>4 April, 2008 -- <a href="http://telukpalu.com/2008/04/peralatan-tari-tradisional-2/" title="Peralatan Tari Tradisional 2">Peralatan Tari Tradisional 2</a></li><li>4 April, 2008 -- <a href="http://telukpalu.com/2008/04/peralatan-tari-tradisional/" title="Peralatan Tari Tradisional">Peralatan Tari Tradisional</a></li><li>2 March, 2008 -- <a href="http://telukpalu.com/2008/03/yori/" title="Yori">Yori</a></li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://telukpalu.com/2007/12/hanta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gonde</title>
		<link>http://telukpalu.com/2007/12/gonde/</link>
		<comments>http://telukpalu.com/2007/12/gonde/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Dec 2007 12:46:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Thony Irawanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Permainan Tradisional]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya Sulawesi Tengah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/tlp2010/?p=899</guid>
		<description><![CDATA[Terbuat dari daun kelapa yang muda, atau daun silar yang muda. Bentuk: Persegi, dan adapula yang bulat atau bulat panjang. Warna: Sesuai warna bahan yang dipakai (hijau). Tidak diketahui secara pasti mengapa alat ini dinamakan gonde, tetapi akhir-akhir ini nama / kata gonde ini, dikenal sebagai istilah dikalangan remaja, utamanya dikalangan remaja dengan arti lain [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Terbuat dari daun kelapa yang muda, atau daun silar yang muda. Bentuk: Persegi, dan adapula yang bulat atau bulat panjang. </p>
<p>Warna: Sesuai warna bahan yang dipakai (hijau). Tidak diketahui secara pasti mengapa alat ini dinamakan gonde, tetapi akhir-akhir ini nama / kata gonde ini, dikenal sebagai istilah dikalangan remaja, utamanya dikalangan remaja dengan arti lain yakni: gonde yang artikan pacar. Nogonde = berpacaran. </p>
<p>Cara pembuatannya </p>
<p>Sebelumnya, terlebih dahulu memilih daun kelapa muda/ daun silar muda yang dan panjang, sebanyak 2 (dua) daun. Lidinya dikeluarkan, sehingga tiap daun menghasilkan 2 (dua) helai, berarti 2 (dua) daun akan mendapatkan 4 (empat) helai. Pada bagian ujung yang kecil dipertemukan, lalu digulung dan kemudian helai-helai daun itu dipisah-pisahkan (diurai) saling tindis dan dibentuk sesuai bentuk yang dinginkan pembuat. Helai satu ditindis oleh helai dua, dan helai dua ditindis oleh helai ketiga dan helai ketiga tindis oleh helai ke empat, sambil membentuk persegi atau bulat. Singkatnya helai-helai itu saling bersilang (saling masuk satu dengan yang lain). Sebagai dasar ukuran keserasian bentuk adalah ujung yang kecil tadi tetap berada di tengah yang dikelilingi secara silang dari helai-helai daun yang besar, sehingga ujung yang kecil tadi tetap muncul sebagai hiasan setelah gonde selesai dibuat. Ujung daun yang besar, setelah selesai disilang-silang akhirnya dikunci dengan cara memasukkan pada bagian yang sudah disilang (diurai), sehingga tidak kelihatan ujungnya. Alat permainan ini masih tetap dibuat oleh orang, tetapi bukan merupakan pengrajin khusus, sebab hampir semua orang baik orang tua, dewasa bahkan anak-anak dapat membuatnya. Pembuatan alat permainan gonde ini biasanya muncul apabila sekitarnya terdapat musim panjat kelapa, atau ada kelapa yang ditebang/ tubuh. Biasanya untuk membulatkan gonde ini, digunakan batu kecil ibu jari kaki anak, pada bagian tengahnya, yang saat mulai membuatnya telah dibungkus oleh daun-daun itu sendiri. </p>
<p>Fungsi </p>
<p>Alat permainan ini mempunyai fungsi untuk digunakan pada permainan nokaba dan permainan lempar-lemparan yang dalam perkembangannya dipakai dalam permainan kasti sebagai bola. Kadang-kadang pula oleh anak laki-laki dipakai sebagai bola kaki. Dengan demikian permainan ini dapat mempererat hubungan pergaulan antar sesama pemainnya, dan juga dapat melatih keterampilan para pemainnya. Pada mulanya fungsi utama alat permainan ini adalah dipakai untuk nokaba, dan penggunaan lainnya adalah sebagai perkembangannya. </p>
<p>Cara memainkan </p>
<p>Cara memainkan alat ini dalam permainan, yakni disamping alat itu sendiri, juga ada pelengkap lainnya, batu, atau sebangsa kelereng (garata bahasa Kaili). Jumlah pemain 2 (dua) orang atau 4 (empat) yang berpasangan masing-masing menyiapkan batu atau garata sebanyak 10 biji. Sebelum permainan ini dimulai, terlebih dahulu diadakan undian (sut), yang menang sut (undi) pertama kali melakukan permainan. Mula-mula biji batu atau garata dihambur tidak terlalu luas daerahnya, kemudian gonde tadi dibuang ke atas sejajar dengan biji yang dihambur tadi. </p>
<p>Di saat gonde berada diatas tangan yang membuang gonde tadi mengambil biji satu sampai diulangi biji-biji itu habis. Apabila tidak terjadi kesalahan maka pemain pertama dianggap menang. Tahap pertama biji-biji tadi diambil satu persatu, dan tahap berikutnya dua-dua sampai tiga-tiga sekali kumpul pada waktu gonde berada diudara. Pada saat itu diperlukan ketangkasan/ keterampilan jarai-jari tangan dan perhitungan waktu selama bola berada diudara dan waktu mengumpulkan biji-biji itu satu-satu, atau dua-dua dan seterusnya. </p>
<p>Pemain dapat diganti apabila melakukan kesalahan seperti gonde tidak dapat ditangkap atau menyentuh biji-biji sesuai tehapan-tahapan pemain. Permainan ini tidak memerlukan lapangan yang luas, cukup 1 meter persegi sampai 1 1/2 meter persegi. Pemain-pemain duduk berhadapan sambil bersila atau melipat kaki kebelakang. Permainan ini hanya dimainkan oleh anak perempuan saja yang berumur 7 &#8211; 13 tahun, karena anak laki-laki disebut nalenda (banci). Dimainkan pada sore hari di rumah atau di tanah. </p>
<p>Persebaran </p>
<p>Permainan ini cukup luas, hampir setiap desa di Tanah Kaili, anak-anak perempuan dapat memainkannya dengan menggunakan gonde. Akhir-akhir ini permainan tetap ada, tetapi telah menggunakan bola tenes, dan semakin bertambah variasi permainannya. </p>
<p>Sumber: Perpustakaan Daerah Propinsi<br />
Jl. Banteng No. 6 Palu Telp. (0451) 482490 </p>
<h2  class="related_post_title">Artikel Terkait:</h2><ul class="related_post"><li>27 May, 2010 -- <a href="http://telukpalu.com/2010/05/nelayan-tradisional/" title="Nelayan Tradisional">Nelayan Tradisional</a></li><li>18 February, 2010 -- <a href="http://telukpalu.com/2010/02/raja-haji-awaluddin/" title="Raja Haji Awaluddin ">Raja Haji Awaluddin </a></li><li>4 April, 2008 -- <a href="http://telukpalu.com/2008/04/peralatan-tari-tradisional-2/" title="Peralatan Tari Tradisional 2">Peralatan Tari Tradisional 2</a></li><li>4 April, 2008 -- <a href="http://telukpalu.com/2008/04/peralatan-tari-tradisional/" title="Peralatan Tari Tradisional">Peralatan Tari Tradisional</a></li><li>2 March, 2008 -- <a href="http://telukpalu.com/2008/03/yori/" title="Yori">Yori</a></li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://telukpalu.com/2007/12/gonde/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gasi</title>
		<link>http://telukpalu.com/2007/12/gasi/</link>
		<comments>http://telukpalu.com/2007/12/gasi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Dec 2007 12:45:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Thony Irawanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Permainan Tradisional]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya Sulawesi Tengah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/tlp2010/?p=897</guid>
		<description><![CDATA[Arti kata gasi dalam bahasa Kaili ialah cepat. Mungkin karena alat gasi ini apabila diputar dengan tali sangat cepat dan kadang-kadang kelihatan seperti diam dengan bunyi yang indah, sehingga dinamakan gasi. Nogasi = bermain gasi. Alat permainan gasi ini dibuat dari bahan berupa : teras kayu asam, atau bonati, atau tumpujono, atau sebangsanya yaitu kayu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Arti kata gasi dalam bahasa Kaili ialah cepat. Mungkin karena alat gasi ini apabila diputar dengan tali sangat cepat dan kadang-kadang kelihatan seperti diam dengan bunyi yang indah, sehingga dinamakan gasi. </p>
<p>Nogasi = bermain gasi. </p>
<p>Alat permainan gasi ini dibuat dari bahan berupa : teras kayu asam, atau bonati, atau tumpujono, atau sebangsanya yaitu kayu yang kuat lagi pula berat, yang tidak gampang pecah atau retak. Bentuk alat permainan ini mirip seperti guci, ada yangh pendek dan ada agak tinggi. Alat permainan gasi mempunyai makna gambaran kejantanan. Warnanya sama seperti warna kayunya, dapat pula di hitamkan seperti warna teras asam. Adapun sebagai alat bantunya disiapkan tali yang panjangnya kurang lebih satu meter, yang berumbi di ujungnya. </p>
<p>Cara membuatnya </p>
<p>Untuk membuat gasi ini diperlukan pemilihan bahan dari kayu yang kuat dan berat, akan tetapi pada umumnya yang dipakai ialah tras kayu asam dan kayu bonati (Bahasa Kaili). Ukuran besarnya tergantung dari kehendak yang membuatnya atau disesuaikan dengan umur pemakai. Apabila alat itu dibuat dari tunas kayu asam yang hitam, sepanjang teras kayu itu dibentuk bulat dan dilicinkan, kemudian dipotong-potong sesuai dengan perkiraan tinggi gasi yang akan dibuat. Kemudian, dengan menggunakan barang yang tajam dibentuk/ dibuatlah gasi itu (lihat gambar). Bilamana gasi telah jadi dibentuk perlu dilicinkan lagi agar lebih bagus lagi, alat yang dipakai melicinkan terbanyak dipakai pecahan-pecahan botol yang pinggir atau sisinya yang tajam. Ada dua macam nama kayu yang dibuat gasi ini, yakni yang berwarna hitam dari teras kayu asam, dan warna yang coklat kekuning-kuningan, dan kayu bonati, tumpujono. Teras kayu sama yang warna hitam dianggap yang paling kuat dan berat. Oleh karena itu, gasi yang dibuat dari bonati, tumpjono dan sebangsanya dihitamkan, dengan cara; gasi yang dibentuk jadi direndam dalam lumpur selama kurang lebih tiga hari. Dengan demikian warnanya jadi hitam dan beratnya bertambah, dan lebih bertambah kuat. Dahan tali yang dipakai dalam permainan gasi diolah dari bermacam jenis, dan berbeda pula cara pengolahannya. Misalnya dari kulit kayu taruntu. Dahan kayu taruntu dipotong kurang lebih 1 1/2 meter lalu direndam dalam air selama lebih kurang tiga hari. Kulit bagian luarnya hancur, dan kulit bagian dalam yang halus dan berserat-serat dengan gampang dapat dikeluarkan, kemudian dijemur sampai kering. Kemudian dipilih dan diatur dengan cara, mulai dari ujung yang satu agak tebal dan ujung lainnya agk tipis, sehingga tali itu kelihatannya, mulai agak tebal/ besar dan akhirnya pada ujung lainnya mengecil. Pada ujung besar yang disimpul diberi berumbai. Cara membuat tali ini dengan memilih diatas paha, dan salah satu tapak tangan memutarnya. Selanjutnya dapat pula menggunakan daun silar. Daun silar yang masih muda, dikeluarkan/ dikuras bagian luarnya dengan pisau yang tajam, sehingga yang tinggal bagian halus dan berserat-serat. Serat-serat itu dibuat tali, yang prosesnya sama dengan membuat tali dari taruntu. </p>
<p>Fungsinya </p>
<p>Permainan gasi ini berfungsi sebagai permainan anak-anak dan orang dewasa, untuk kesenangan sambil mengadu ketangkasan dan keterampilan, yang hanya dimainkan pria saja. Cara memainkannya. Permainan gasi lakasanakan dalam bentuk pertandingan, sehingga di dalamnya ada unsur kompotitif, yang dapat dilaksanakan satu orang lawan satu orang dan dapat juga dengan cara bersama-sama memutar gasing (cukup hanya dua gasing), yang dalam Bahasa Kaili disebut nosinggale. Untuk memutar gasi ini digunakan tali yang dililitkan pada leher gasi, lalu dengan ayunan dan tarikan tangan yang memegang ujung tali, sambil menggenggam pinggang gasi dengan tarikan putar itu dilepas. Gasi yang putarannya lebih lama dinyatakan menang, dan sebelum permainan dimulai secara resmi, diadakan dulu percobaan sebagai perkenalan yang dalam bahasa Kaili disebut metodi. Selanjutnya yang menang lebih dahulu memutar gasinya. Pada waktu pelemparan dilaksanakan dan mengena dengan tepat lalu gasi yang dilempar terbuang dan berhenti berputar, maka ia dianggap kalah. Begitu pula apabila tidak mengena, yang melempar dinyatakan kalah, atau apabila lemparannya mengena, namun kedua gasi itu masih berputar, dan yang lebih dahulu berhenti berputar dinyatakan kalah. namun kadang-kadang putaran gasi itu dapat dibantu dengan cara memukulkan ujung tali yang diberi jumbai, menurut arah gasi berputar. Begitu mereka ganti berganti memperlihatkan keterampilan ketangkasan mereka sampai puas. Tempat permainan dilakukan dilapangan tanpa rumput dan dipilih tanah yang gak keras tanpa batas dan dilaksanakan pada petang hari. Dalam permaianan ini nilai sportivitas terpelihara, yang saling menghargai keunggulan, karena gasi yang dipakai besarnya dan bentuknya sama. </p>
<p>Persebarannya </p>
<p>Permainan gasi ini dahulu sangat digemari sehingga persebarannya meluas di Daerah Kaili. Hal ini dikarenakan bahan untuk membuat masih gampang ditemukan, dan orang-orang yang membuat khususnya laki-laki merata mengetahui membuatnya. Tapi sekarang hampir tak dikenal lagi oleh anak remaja khususnya yang berumur + 20 tahun kebawah, baik di kota maupun didesa. Hal ini karena masuknya permainan baru; akan tetapi tidaklah berarti bahwa tak ada lagi yang dapat membuat gasi tersebut. </p>
<p>Sumber: Perpustakaan Daerah Propinsi<br />
Jl. Banteng No. 6 Palu Telp. (0451) 482490 </p>
<h2  class="related_post_title">Artikel Terkait:</h2><ul class="related_post"><li>27 May, 2010 -- <a href="http://telukpalu.com/2010/05/nelayan-tradisional/" title="Nelayan Tradisional">Nelayan Tradisional</a></li><li>18 February, 2010 -- <a href="http://telukpalu.com/2010/02/raja-haji-awaluddin/" title="Raja Haji Awaluddin ">Raja Haji Awaluddin </a></li><li>4 April, 2008 -- <a href="http://telukpalu.com/2008/04/peralatan-tari-tradisional-2/" title="Peralatan Tari Tradisional 2">Peralatan Tari Tradisional 2</a></li><li>4 April, 2008 -- <a href="http://telukpalu.com/2008/04/peralatan-tari-tradisional/" title="Peralatan Tari Tradisional">Peralatan Tari Tradisional</a></li><li>2 March, 2008 -- <a href="http://telukpalu.com/2008/03/yori/" title="Yori">Yori</a></li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://telukpalu.com/2007/12/gasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Garata / Galasa</title>
		<link>http://telukpalu.com/2007/12/garata-galasa/</link>
		<comments>http://telukpalu.com/2007/12/garata-galasa/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Dec 2007 12:45:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Thony Irawanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Permainan Tradisional]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/tlp2010/?p=895</guid>
		<description><![CDATA[Permainannya disebut nogarata / nogalasa garata atau galasa adalah nama sebangsa tumbuhan yang berduri dan bijinya bundar laksana kelereng. Biji garata atau palasa ini terbungkus dalam satu kantorng berduri dan terdiri dari beberapa biji. Biji-biji garata/ galasa ini bermacam-macam bentuknya, tetapi umumnya berbentuk bundar, ada yang pipih ada pula yang bulat panjang. Data teknis. Permainan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Permainannya disebut nogarata / nogalasa garata atau galasa adalah nama sebangsa tumbuhan yang berduri dan bijinya bundar laksana kelereng. Biji garata atau palasa ini terbungkus dalam satu kantorng berduri dan terdiri dari beberapa biji. Biji-biji garata/ galasa ini bermacam-macam bentuknya, tetapi umumnya berbentuk bundar, ada yang pipih ada pula yang bulat panjang. Data teknis. Permainan nogarata / nogalasa ini, mempunyai alat pelengkap lainnya disamping biji-biji garat/galasa, yakni kayu berbentuk persegi empat dengan ukuran panjang ± 60 &#8211; 75 cm, lebar ± 30 &#8211; 40 cm dan tebal ± 5 &#8211; 7 cm. Kayu yang berbentuk persegi empat itu diberi lobang sebelah menyebelah masing-masing 6 buah menurut panjang dan 2 buah lobang pada ujung lebar kayu tersebut. Warna permainan ini tidak tentu karena tergantung dari warna kayu yang dipakai, dan membuat warna garata / galasa yang kelihatannya keabu abuan. Permainan garata / galasa ini mempunyai makna sebagai alat penghibur, untuk kesenangan atau perintang waktu. Namun pada mulanya permainan hanya biasa dimainkan pada saat duka, biasanya apabila ada raja atau keluarga raja yang meninggal. </p>
<p>Cara pembuatan dan pemilihan bahan </p>
<p>Memilih buah/biji garata diperlukan perhatian yang serius, sebab ada beberapa jenis/bentuk garata ini. Yang menjadi pilihan utama adalah biji garata yang bentuknya bundar lagi licin. Garta/galasa dalam permainan ini adalah merupakan biji yang dapat dipindah-pindahkan. Kayu yang sengaja dibuatkan lubang-lubangnya dipilh kayu yang keras tidak terbelah-belah lagi pula yang sudah tua. Biasanya kayu yang menajdi piliha adalah jeni kayu cempaka yang mudah dilubang, dalam bahasa Kalili disebut kayu lepaa. Kayu yang berbentuk persegi panjang ini berukuran lebih kurang 75 cm x 30 cm pada ujung sebelah menyebelah dibentuk agak tuncing dengan panjang ± 15 cm. Pada ujung yang agak lancip ini dibuat lubang bulat seperti bentuk telur (lonjong) yang dibuat pada pertengahan lebar dan panjangnya kayu tersebut dengan garis tengah ± 5 &#8211; 7 cm. Pada kedua belah sisi panjang dibuatkan pula lubang berturut-turut sejumlah 6 (enam) buah pada tiap sisi. Pada bagia tengah dibuat 2 (dua) lubang yang panjang tempat biji garata/ galasa yang dimenangkan. Jadi tiap pemain, diberi lubang panjang sebagai tempat menyimpan garata/ galasa kemenangan. Lubang-lubang yang membentuk telur semuanya 12 lubang, dan lubang-lubang ini diperhalus dengan pisau tajam. Alat yang dipakai untuk membuat alat permainan ini adalah parang, pahat, pisau. Pengrajin alat permainan tidak ada lagi. </p>
<p>Fungsi </p>
<p>Permainan ini dilaksanakan hanya pada waktu ada hubungannya atau pada saat ada keluarga meninggal dunia, utamanya keluarga bangsawan. Jelaslah bahwa permainan ini berfungsi untuk menghibur pada keluarga yang berduka. Sebab dengan adanya permainan ini, banyak anak gadis kumpul beramai-ramai sehingga suasana duka tidak terasa mencekam keluarga yang berduka. Cara memainkan. Permainan ini hanya dimainkan oleh perempuan yang masih gadis atau remaja. Pelaksanaan permainan inibiasa dilaksanakan pada malam hari, dalam keadaan duduk berhadapan. Tidak dapat dimainkan lebih dari 2 orang. Masing-masing pemain menyiapkan kelerengnya paling kurang 36 biji. Tiap pemain berhak atas 6 lubang dan 1 (satu) lubang yang disebut kepala, dan pada 6 lubang tersebut diisi masing-masing 6 biji kelereng (garat). </p>
<p>Siapa yang menang dia yang mulai mengangkat kelerengnya, (garata) dengan cara mengambil seluruh kelereng (garata) pada lubang ujung sebelah kanannya. Tiap lubang diisi dengan 1 biji kelereng (garata) dan berakhir pada lubang kepala pada sebelah kiri. Kalau berakhir pada lubang kepalanya, maka ia mesih berhak mengangkat kelerengnya, da apabila kelereng pada lubang lawan atau lubangnya sendiri, mka seluruh kelereng (garata) (garata), yang berada di lubang tersebut diangkat dan kembali diisi pada setiap lubang. </p>
<p>Begitu seterusnya berputar berulang-ulang sampai pada lubang kepalanya penuh dengan kelereng (garata). Untuk ganti pemain mengangkat kelereng (garata) apabila terjadi biji kelereng (garata) itu jatuh pada lubang yang kosong, namun demikian kelereng garata terakhir tersebut jatuh pada lubangnya sendiri, dan berada tepat bertentangan dengan lubang lawan, maka semua isi pada lubang tersebut adalah menjadi haknya. Kejadian tersebut dikenal dengan cara notede. </p>
<p>Karena pengrajin alat hiburan ini tidak ada lagi, anak-anak gadis yang berumur 7 &#8211; 12 tahun, bermain dengan cara menggali tanah denga jumlah lubang yang tidak berbeda dengan alat aslinya, dan biji kelereng (garata) diganti dengan batu yang bundar kecil, dan biasanya dipilih batu yang agak putih. Permainan ini memerlukan permainan yang mantap untuk mencocokan jumlah kelereng (garata) yang ada dengan jumlah lubang, dan beberapa kali diangkat, sehingga tidak jatuh pada lubang yang kosong. Kalau pemain yang sudah mahir sekali biasanya tidak terjadi pergantian sampai kelereng (garata) lawan jatuh pada lubang dan lubang kepalanya. Dengan demikian maka perhitungannya lawan dinyatakan kalah, dan kembali diulang lagi permainan dengan cara mengadakan lagi sut. </p>
<p>Persebaran </p>
<p>Permainan pada mulanya merata dimana-mana, tetapi sekarang hampir-hampir tak menyebar lagi baik menggunakan alat, ataupun diatas tanmah. Hal ini mungkin karena banyaknya jenis permainan baru, dan yang jelas karena orang-orang tua tidak lagi mengeluarkan lagi kepada anak-anak cucunya, disamping anak-anak gadis kurang tertarik lagi. </p>
<p>Sumber: Perpustakaan Daerah Propinsi<br />
Jl. Banteng No. 6 Palu Telp. (0451) 482490 </p>
<h2  class="related_post_title">Artikel Terkait:</h2><ul class="related_post"><li>No Related Post</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://telukpalu.com/2007/12/garata-galasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
