<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>TelukPalu.Com &#187; Suku Kulawi</title>
	<atom:link href="http://telukpalu.com/category/budaya/sukukulawi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://telukpalu.com</link>
	<description>Info Seputar Teluk Palu dan Wisata Sulawesi Tengah</description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Sep 2010 00:33:38 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Ratompo</title>
		<link>http://telukpalu.com/2007/11/ratompo/</link>
		<comments>http://telukpalu.com/2007/11/ratompo/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Nov 2007 11:51:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Thony Irawanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Suku Kulawi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/tlp2010/?p=892</guid>
		<description><![CDATA[Tujuannya dari Upacara Ratompo ini biasanya sudah dilaksanakan setelah yang diupacarakan sudah sembuh dari rasa sakit yang dialaminya dalam suatu upacara yang disebut mancumani yang sudah merupakan pesta antar kampung. Tempat Penyelenggaraan Upacara Mengenai tempat penyelenggaraan upacara ratompo ini tidak terikat kepada sesuatu tempat tertentu seperti di rumah orang tua ataupun tempat khusus seperti di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tujuannya dari Upacara Ratompo ini biasanya sudah dilaksanakan setelah yang diupacarakan sudah sembuh dari rasa sakit yang dialaminya dalam suatu upacara yang disebut mancumani yang sudah merupakan pesta antar kampung.</p>
<div>
<div>
<p><strong>Tempat Penyelenggaraan Upacara</strong></p>
<p>Mengenai tempat penyelenggaraan upacara <em>ratompo </em>ini tidak terikat kepada sesuatu tempat tertentu seperti di rumah orang tua ataupun tempat khusus seperti di rumah tua adat, dan sebagainya.</p>
<p>Akan tetapi tradisi setempat telah menetapkan dalam hal pelaksanaan <em>ratompo </em>adalah dipilih suatu tempat yang jauh dari keramaian orang, misaInya di hutan di bawah pohon yang besar yang memang telah disiapkan untuk pelaksanaan upacara tersebut. Alasan ini adalah berdasarkan pada pertimbangan bahwa upacara sama sekali tidak dapat disaksikan oleh keluarga yang diupacarakan ataupun orang lain, kecuali penyelenggara teknis upacara, pembantunya, dan yang diupacarakannya sendiri. Kadangkala keluarga yang diupacarakan sudah menyiapkan terlebih dahulu rumah yang sudah dalam keadaan kosong, yang juga tempatnya sudah diperhitungkan jauh dari keramaian orang atau tempat Ialu lalang orang. Di sinilah tempat penyelenggaraan upacara yang sangat dirahasiakan.</p>
<p><strong>Penyelenggaraan Teknis Upacara</strong></p>
<p>Pada bagian upacara hanya ada seorang sebagai penyelenggara teknis upacara yakni <em>tope tompo </em>(dukun). <em>Tope tompo </em>adalah seorang pria yang kedudukan sosialnya adalah dari kalangan orang kebanyakan di mana mempunyai keahlian khusus dalam melakukan mencabut gigi bagi perempuan, dan menurut salah seorang informan yang peneliti sempat wawancarai bahwa orang biasa melaksanakan <em>ratompo </em>hanya seorang saja ada di daerah Kulawi yang memang sudah menjadi pekerjaannya adalah melaksanakan di bawah pengaruh kuasa lembaga adat dan raja-raja pada saat itu.</p>
<p><strong>Pihak-pihak yang Terlibat dalam Upacara</strong></p>
<p>Di samping penyelenggara teknis upacara, maka satu-satunya orang yang terlibat dalam upacara <em>ratompo </em>adalah <em>tope pahilu </em>(orang yang membantu <em>topetompo</em>) yang bertugas memegang kedua belah pipi yang diupacarakan pada saat <em>ratompo </em>dilaksanakan. Jadi, karena upacara ini harus terpisah dari keluarga yang diupacarakan, maka dalam pelaksanaarmya pun lebih diperketat agar tidak dapat disaksikan baik.</p>
<p><strong>Persiapan dan Perlengkapan Upacara</strong></p>
<p>Pengadaan materi dalam kegiatan upacara <em>Ratompo </em>adalah dua buah barang (ton&#8217;o), air hangat secukupnya, tikar dan bantal untuk tempat tidur yang diupacarakan, <em>painpongoa </em>(tempat sirih) tempat penampungan darah, <em>ayu </em>(abu dapur) untuk peresap darah dalam tempat sirih, tabo ngkala (cebokan) untuk menampung darah yang lebih banyak (pendarahan), dan <em>porama mavau </em>(sejenis rumput yang busuk baunya).</p>
<p><strong>Jalannya Upacara Menurut Tahap-tahapannya</strong></p>
<p>Peristiwa upacara <em>ratompo </em>menurut tahap-tahapnya adalah berbeda dengan upacara-upacara lainnya. <em>Ratompo </em>dilaksanakan bagi seorang gadis yang mempunyai sifat-sifat khusus dan hanya dilakukan di kalangan golongan bangsawan berdasarkan keturunan, sehinga tahap upacaranya sangat berbeda seperti misaInya sebelum <em>ratompo </em>dilaksanakan maka terlebih dahulu pihak keluarga yang diupacarakan meminta izin kepada raja bahwa pada hari yang telah ditentukan nanti anak saya si A akan <em>ratompo</em>, maka atas dasar permintaan izin tersebut, <em>ratompo </em>dapat dilaksanakan. Pada saat hari yang telah ditentukan di mana yang diupacarakan di rumahnya telah terkumpul sanak keluarga dan <em>topetompo </em>serta <em>tope palielit </em>(pembantu) telah siap semua, maka yang diupacarakan mulai diberi pakaian secukupnya yakni <em>halili </em>(baju putih dari kulit kayu ) dan sarung dari <em>mbesa</em>. Setelah selesai dipakaikan pakaian lalu diberi makan dengan ketan dan telur. Setelah selesai makan dengan diantar oleh keluarga yang diupacarakan, <em>topetompo </em>dan <em>topepahelu </em>mulai berjalan ke depan pintu rumah yang diupacarakan. Keluarga yang mengantarkan hanya sampai di halaman rumah sebagai tanda melepas kepergian yang diupacarakan. Maka yang diupacarakan pun dengan diikuti oleh <em>topetompo </em>serta <em>topepalielu </em>berangkat meninggalkan rumah menuju tempat vang sudah ditentukan seperti dahulu yang sunyi dari keramaian atau sebelah rumah yang dikosongkan. Sesudah tiba di tempat yang telah ditentukan maka <em>topetompo </em>mulai menyiapkan perlengkapan yang dibawanya serta yakni dua buah guma (parang) dan <em>topepahelu </em>sudah menyiapkan tikar dan bantal.</p>
<p>Setelah siap semua peralatan upacara, maka yang pertama dilakukan adalah <em>topepalielu </em>mulai menutup mata anak yang diupacarakan dengan kain <em>nunu</em>, dan ditidurkan di atas tikar, kepalanya di atas bantal. Kemudian kedua kaki yang diupacarakan pun mulai diikat dengan kain nunu dan kedua belah tangannya pun diikat.</p>
<p>Selanjutnya semuanya telah siap maka <em>topepahelu </em>menyiapkan perlengkapan-perlengkapan lain seperti air hangat, <em>am </em>(abu dapur), <em>pompangoa </em>(tempat siri), dan <em>taba ngkala </em>(cebokan). Bila segala persiapan ini sudah disiapkan maka <em>topepahelu </em>mulai mengambil tempat di bagian kepala yang diupacarakan, sedangkan <em>topetompo </em>sudah memulai memegang peralatannya berupa dua buah <em>guma </em>(parang) masing-masing parang ini adalah sebagai pahat dan martil. Parang yang berupa pahat ini pada ujung gagangnya sudah ditipiskan yang cocok bila dimasukkan di antara sela-sela gigi; sedangkan parang yang dijadikan martil yang digunakan untuk memukul pahat tersebut adalah bagian belakang parang. Sebelum <em>ratompo </em>dilaksanakan, maka terlebih dahulu <em>topetompo </em>membacakan <em>gane </em>(mantera) antara lain: &#8220;<em>Ane moto moleko patumpako, ane matumpako patumoleko, bona nemo madea ra mchuko tiroi daka kami</em>&#8220;. Artinya: Bila kami tidur tengadah, lihatlah kami dan bila kami tidur tengkurap angkatlah kami, jangan sampai banyak darah yang keluar lihatlah kami.</p>
<p>Sesudah membaca mantera tersebut, maka <em>topetompo </em>mulai memasukkan parang yang serupa pahat tadi ke sela-sela gigi yang akan ditanggalkan dengan maksud untuk menjarangkan. Sesudah digoyang-goyangkan pahat yang sudah berada di sela gigi bagian atas dan bawah yang terdiri dari delapan gigi seri, empat gigi taring atas dan bawah. Setelah pahat sudah selesai digoyang-goyangkan di antara sela-sela gigi, maka <em>topetompo </em>mulai memukulkan belakang parang pada pahat itu dengan sekuat-kuatnya. Karena itu, sejumlah gigi tersebut menjadi tanggal dan <em>topepohelu </em>mulai mencabut satu per satu gigi yang sudah tanggal tersebut.</p>
<p>Setelah semua gigi tersebut dikeluarkan, maka mulai diberi pengobatan berupa air hangat untuk dikumur-kumur dan semua darah yang keluar ditampung di tempat sirih dengan diberi abu dapur agar darah yang sudah tertampung tersebut dapat terserap oleh abu dapur tersebut. Setelah darah mulai berkurang dan yang diupacarakan sudah siuman maka yang diupacarakan pun dengan diantar oleh <em>topetompo </em>dan <em>topepalielu </em>kembali ke rumah yang diupacarakan. Sesudah tiba di rumah, maka anak yang diupacarakan lalu di tidurkan di tempat tidur yang sudah disiapkan. Selama pengobatan berlangsung di rumah yang diupacarakan, dilakukan oleh <em>topepahelu </em>sampai anak yang diupacarakan itu sembuh benar.</p>
<p><strong>Pantangan-pantangan Yang Harus Dihindarkan</strong></p>
<p>Selain tujuan penyelenggaraan upacara adalah mencuri keselamatan dan menghindarkan malapetaka maka dalam upacara <em>ratompo </em>juga mengenal pantangan-pantangan yang tidak bersifat-sakral magis, tetapi pantangan di sini menyangkut hal cepatnya kesembuhan yang diupacarakan. Pantangannya meliputi tingkah laku dan perbuatan, seperti selama dalam pengobatan yang diupacarakan tidak boleh banyak bergerak karena akibatniya dapat menimbulkan pendarahan yang banyak atau bengkaknya tidak akan turun. Pantangan lainnya adalah selama pengobatan berlangsung yang diupacarakan tidak boleh makan yang asam-asam dan selama tiga hari sejak saat <em>diratompo </em>tidak boleh minum air akibatnya bila hal ini dilanggar akan lebih lama proses kesembuhan yang diupacarakan.</p>
<p><strong>Lambang-lambang atau Makna yang Terkandung dalam Unsur-unsur Upacara</strong></p>
<p>Ketan putih dan satu butir telur sebagai simbol yang diupacarakan. Lambang ini adalah merupakan tanda keihlasan dan ketulusan hati daripada yang diupacarakan yang seputih dan sebulat hati menyerahkan anak untuk diupacarakan. Sebab hal ini menurut tradisi setempat bahwa upacara <em>ratompo </em>adalah sebagai tanda setengah berkabung bagi keluarga yang diupacarakan.</p>
<p>Sumber: Perpustakaan Daerah Propinsi<br />
Jl. Banteng No. 6 Palu Telp. (0451) 482490</p>
</div>
</div>
<h2  class="related_post_title">Artikel Terkait:</h2><ul class="related_post"><li>No Related Post</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://telukpalu.com/2007/11/ratompo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ratoe</title>
		<link>http://telukpalu.com/2007/11/ratoe/</link>
		<comments>http://telukpalu.com/2007/11/ratoe/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Nov 2007 11:50:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Thony Irawanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Suku Kulawi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/tlp2010/?p=890</guid>
		<description><![CDATA[Pengertian upacara ratoe ini adalah menaikkan bayi ke dalam ayunan, sejak bayi telah berumur tiga hari sesudah lahir. Upacara ini hanya berlaku bagi anak yang pertama. Dalam penyelenggaraan upacara masa bayi mempunyai beberapa tahap lagi sesudah upacara ratoe. Seperti tahap upacara mupanuang (injak tanah), tahap upacara pencorea (memandikan). Maksud dan Tujuan Upacara Upacara ratoe (naik [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pengertian upacara ratoe ini adalah menaikkan bayi ke dalam ayunan, sejak bayi telah berumur tiga hari sesudah lahir. Upacara ini hanya berlaku bagi anak yang pertama. Dalam penyelenggaraan upacara masa bayi mempunyai beberapa tahap lagi sesudah upacara ratoe. Seperti tahap upacara mupanuang (injak tanah), tahap upacara pencorea (memandikan).</p>
<div>
<div>
<p><strong>Maksud dan Tujuan Upacara</strong></p>
<p>Upacara ratoe (naik ayunan) mempunyai maksud dan tujuan yakni agar bentuk badan terutama kepala dari bayi mempunyai bentuk yang baik artinya tidak Ionjong (benjol). Di samping anak telah naik ayunan, kepada orang tuanya terutama ibunya sudah berkesempatan melakukan pekerjaan-pekerjaan serta tugas-tugas sehari-hari baik dalam rumah maupun di luar rumah. Selain itu untuk menjaga keselamatan bayi dari gangguan-gangguan serangga misalnya semut, lipan, dan sebagainya.</p>
<p><strong>Waktu Upacara</strong></p>
<p>Adapun pelaksanaan upacara adalah sesudah tiga hari waktu kelahiran bayi dan diadakan pada pagi hari. Di mana dalam waktu ini tidak dapat ditunda lagi. Dengan pertimbangan bahwa pada hari ketujuh masih ada upacara-upacara lainnya, sehingga waktu yang dipilih dalam penentuan upacara ini tidak semata-mata berdasarkan pada perhitungan bulan di langit ataupun waktu-waktu lain, tetapi harus terlaksana tiga hari sesudah kelahiran.</p>
<p><strong>Tempat Penyelenggaraan Upacara</strong></p>
<p>Upacara traidisi ini sangat sederhana, maka penentuan tempat upacara tidak berdasarkan pada tempat-tempat tertentu tetapi cukup dilaksanakan di rumah tempat tinggal kedua orang tua. Dan tidak dibuatkan simbol-simbol maupun lambang-lambang tertentu sebagai bukti upacara. Penyelenggaraan teknis upacara adalah seseorang dukun yang biasanya <em>sando mpoana </em>(dukun melahirkan) itu sendiri, terkadang juga sebagai orang yang menaikkan bayi ke atas ayunan, kecuali bila dukun tersebut hanya khusus membantu melahirkan saja dan tidak dapat merangkap sebagai orang yang dapat menaikkan bayi ke atas ayunan, maka barulah dicari kepada orang yang dituakan dalam kampung dan di kalangan keluarga orang yang diupacarakan. Biasanya orang ini mempunyai sifat-sifat pribadi yang baik dan bertangan dingin yang diharapkan nantinya bayi dalam ayunan dapat tenang.</p>
<p><strong>Pihak-pihak yang Terlibat dalam Upacara</strong></p>
<p>Selain penyelenggara teknis upacara, juga yang telah membantu membuatkan perlengkapan ayunan atau sekedar sebagai saksi dalam upacara seperti <em>totua nungata </em>(orang tua kampung), <em>sando mpoana </em>(dukun beranak), <em>tupu </em>(nenek), dan sebagainya.</p>
<p><strong>Persiapan-persiapan dan Perlengkapan Upacara</strong></p>
<p>Persiapan dan pelaksanaan <em>ratoe</em> cukup sederhana sekali sesuai dengan kemampuan keluarga. Yang terpenting ialah persiapan perlengkapan upacara seperti <em>toe </em>(ayunan) dengan segala perlengkapannya. Ayunan terbuat dari <em>balovatu </em>(bambu besar) atau <em>volo </em>(bambu kecil) yang dibuat sedemikian rupa, serupa ayunan dengan masing-masing pertemuan ujung-ujung bambu diikat dengan <em>valo vake </em>(tali pohon waru), dan setiap sudut pertemuan bambu yang sudah terikat diberi <em>buntoyo </em>(tali gantung) dari <em>valo vake </em>(kulit pohon waru) yang sudah dipilih. Kayu tempat menggantungkan ayunan adalah dari pohon langsat yang sifatnya <em>langara </em>(lentur) dan elastis.</p>
<p>Adapun perlengkapan ayunan itu sendiri adalah kelambu yang terbuat dari kain <em>nunu </em>(kulit pohon beringin), <em>luna </em>(bantal) dari kain nunu dijahit dan diisi <em>avu </em>(avu dapur) maksudnya agar kepala bayi tidak lonjong, dulang yang tidak berkaki yang diletakkan di bawah punggul bayi tempat menampung kotoran; <em>ambe </em>(pelepah enau) sebagai tempat menyalurkan kotoran bayi ke dalam dulang yang diletakkan pada bagian bawah lantai ayunan.</p>
<p><strong>Jalannya Upacara Menurut Tahap-tahap</strong></p>
<p>Jalannya upacara naik ayunan sebagai berikut: Pertama-tama adalah pemasangan atau menggantungkan <em>toe </em>(ayunan). Sebelum menggantungkan ayunan terlebih dahulu dipilih tempat memasangkan <em>langora </em>dalam rumah yang memberikan ketenangan bagi bayi bila sudah di atas ayunan serta tidurnya nyenyak.</p>
<p>Memilih tempat ayunan ini adalah berdasarkan hasil pertimbangan dan musyawarah di antara <em>sando mpoana </em>(dukun) dengan orang tua kedua pihak bersama orang tua bayi. Setelah mereka sepakat, dengan petunjuk dukun maka ayunan pun mulai digantung dengan jalan menghindari pantangan dalam pemasangan ayunan di mana letak ayunan tidak boleh berada tepat di bawah sambungan atap rumah. Seperti diketahui bahwa rumah-rumah mereka belum ada yang mempunyai loteng, sehingga jelas kelihatan sambungan-sambungan atap itu dalam ruangan tempat menggantungkan ayunan. Akibat dari penempatan ayunan yang salah adalah merupakan akibat bagi bayi yaitu bahwa bila ayunan itu bergantung di bawah sambungan atap rumah akan mendapat beban berat sehingga berpengaruli pada <em>longora</em>, yang dapat merupakan juga beban bagi bayi sehingga bayi merasa tertindis dan tidak dapat tidur nyenyak. Dalam hal pemasangan ayunan ini menurut tradisi setempat adalah digantunglcan sendiri oleh dukun atau oleh <em>topotoe </em>(orang lain yang ditunjuk untuk menaikkan bayi ke ayunan).</p>
<p>Sesudah penggantungan ayunan dan seluruh perlengkapan ayunan telah siap terpasang, maka bayi pun langsung di mandikan oleh dukun dengan air yang diambil dari sungai, dengan menggunakan air sungai dimaksudkan agar kelak di kemudian hari bayi setelah dewasa dapat hidup dengan baik sejernih air sungai dan menjadi orang yang perkasa. Setelah dimandikan, kemudian diselimuti <em>mbesa </em>(kain kulit kayu). Selanjutnya bayi diangkat oleh dukun dengan cara kepala bayi berada di tangan kiri dan badannya di atas tangan kanan dengan sangat hati-hati serta situasi sekeliling rumah harus tenang, jangan gaduh dan sedapat mungkin jangan menangis pada saat diletakkan di atas ayunan.</p>
<p>Sambil berjalan, dukun dan kedua orang tua bayi menuju ke tempat ayunan, sebelum bayi dimasukkan ke dalam ayunan maka dukun mulai dengan <em>nogane </em>(membaca mantera) yang isinya sebagai berikut:</p>
<p>&#8220;<em>Kupopehuako rigana ri toe, moa mahata nipohaviraka ilolo taena, maraha paletana</em>&#8220;, Artinya &#8220;&#8221;Kunaikkan anak ini di ayunan, dengan hati-hati ke dalam ayunannya agar tidurnya dapat tenang&#8221;.</p>
<p>Kemudian bayi mulai diletakkan di atas ayunan (toe). Dengan selesainya <em>ratoe </em>ini maka upacara ini berakhir. Kemudian dilanjutkan dengan makan dan minum alakadarnya sebagai tanda syukur kepada Tuhan bahwa upacara ini telah berjalan dengan baik dan selamat.</p>
<p><strong>Pantangan-pantangan yang harus dihindari</strong></p>
<p>Pantangan-pantangan yang harus dihindari hanya berlaku pada saat puncak upacara <em>ratoe </em>diadakan yang mana dimaksudkan pada waktu naik ayunan keadaan cuaca di luar rumah harus bersih dengan pengertian agar kehidupan dan penghidupan bayi setelah dewasa akan secerah cuaca pada saat dia naik ayunan. Keadaan sekitar rumah harus tenang dan jangan gaduh agar bayi jangan kaget dan menangis karena apabila pada saat naik ayunan bayi menangis berarti bayi tersebut belum siap dinaikkan ke ayunan.</p>
<p>Letak dan tempat menggantungkan ayunan tidak boleh berada di bawah sambungan atap rumah adalah agar hidup dan kehidupan sang bayi untuk selanjutnya jangan terputus rejekinya.</p>
<p><strong>Lambang-lambang atau Makna yang Terkandung Dalam Unsur-unsur Upacara. </strong></p>
<p>Untuk upacara <em>Ratoe </em>unsur-unsur yang berupa lambang-lambang yang digunakan yang memiliki daya magis yang berpengaruh baik terhadap kehidupan bayi tidak ada. Demikian pula pemilihan benda-benda yang berdasarkan kepada nama, warna, dan sifatnya juga tidak ada. <em>Toe </em>(ayunan) yang digunakan oleh bayi hanya merupakan alat semata-mata yang dapat memberikan pengaruh terhadap keselamatan, ketenteraman, dan kesempatan bekerja bagi bayi dan orang tuanya.</p>
<p>Sumber: Perpustakaan Daerah Propinsi<br />
Jl. Banteng No. 6 Palu Telp. (0451) 482490</p>
</div>
</div>
<h2  class="related_post_title">Artikel Terkait:</h2><ul class="related_post"><li>No Related Post</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://telukpalu.com/2007/11/ratoe/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rakeho &#8211; Mancumani Rakeho</title>
		<link>http://telukpalu.com/2007/11/rakeho-mancumani-rakeho/</link>
		<comments>http://telukpalu.com/2007/11/rakeho-mancumani-rakeho/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Nov 2007 11:48:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Thony Irawanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Suku Kulawi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/tlp2010/?p=886</guid>
		<description><![CDATA[Rakeho adalah salah satu upacara masa peralihan dari masa remaja ke masa dewasa, bagi seorang laki-laki, di mana upacara ini tidak berlaku bagi anak perempuan. Rakeho mempunyai pengertian meratakan gigi bagian depan atas dan bawah serata dengan gusi. Makna yang terkandung dalam upacara ini adalah merupakan salah satu upacara adat istiadat dalam kehidupan individu dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rakeho adalah salah satu upacara masa peralihan dari masa remaja ke masa dewasa, bagi seorang laki-laki, di mana upacara ini tidak berlaku bagi anak perempuan. Rakeho mempunyai pengertian meratakan gigi bagian depan atas dan bawah serata dengan gusi. Makna yang terkandung dalam upacara ini adalah merupakan salah satu upacara adat istiadat dalam kehidupan individu dalam masyarakat yang menunjukkan seseorang telah mulai menjelang dewasa. Berbeda dengan upacara ratompo di kalangan golongah bangsawan khusus perempuan yang sudah menjelang dewasa, di mana upacaranya berdasarkan pengaruh kuasa dan izin adat istiadat dan raja-raja yang berkuasa pada masanya; sedangkan rakeho adalah berdasarkan pada suatu tuntutan keadaan seseorang yang telah tumbuh dewasa bagi laki-laki serta kebanyakan dilaksanakan oleh ntodea (orang kebanyakan).</p>
<div>
<p><strong>Maksud Penyelenggaraan Upacara</strong></p>
<p>Maksud upacara <em>rakeho </em>tidak hanya untuk mencari keselamatan, akan tetapi juga berdasarkan atas motivasi tradisi setempat bila seseorang pria benar-benar telah menjelang dewasa sehingga mendorong penyelenggaraan upacara ini. Di samping mencegah terjadinya hal-hal yang tidak dikehendaki hal yang dapat menimbulkan kasus pertengkaran suami isteri yang dapat berbahaya bagi kedua belah pihak seperti haInya yang terjadi kasus yang telah dikemukakan pada upacara <em>ratompo.</em></p>
<p><strong>Waktu Penyelenggaraan Upacara</strong></p>
<p>Dalam waktu penyelenggaraan upacara ini tidak terikat kepada suatu perhitungan waktu, hari ataupun bulan. Hanya waktu pelaksanaan upacara biasanya dipilih waktu siang hari. Di samping waktu pelaksanaan upacara biasanya dikaitkan dengan ada atau tidaknya kesempatan atau kemampuan orang tua yang diupacarakan. Menurut tradisi setempat waktu pelaksanaan upacara ini dikaitkan dengan berhasilnya panen atau sesudah panen, dengan pertimbangan bahwa sesudah panen orang tua yang diupacarakan sudah mempunyai kemampuan untuk mengupacarakan anaknya.</p>
<p><strong>Tempat Penyelenggaraan Upacara</strong></p>
<p>Mengenai tempat penyelenggaman upacara ini tidak berbeda dengan tempat penyelenggaraan upacara <em>ratompo </em>yakni dipilih tempat-tempat tertentu, seperti di bawah pohon yang besar yang jauh dari keramaian orang ataupun tempat Ialu lalang orang. Sering pula mengenai tempat upacara ini telah disiapkan oleh orang tua pihak yang diupacarakan seperti sebuah rumah yang sudah dikosongkan dan letaknya agak terpencil dan jauh dari keramaian.</p>
<p><strong>Penyelenggaraan Teknis Upacara</strong></p>
<p>Dalam upacara <em>rakeho</em> hanya ada seorang penyelenggara teknis upacara, yaitu <em>topekeho </em>(dukun) yang sudah mempunyai keahlian khusus dalam menggosok gigi (pengikir gigi).</p>
<p>Penyelenggara teknis upacara ini dipilih berdasarkan keahlian yang sudah diturunkan atau telah dimiliki seseorang secara turun temurun. Menurut beberapa informan yang sempat peneliti wawancarai bahwa satu-satunya orang yang biasa melakukan <em>rakeho </em>masih hidup dalam keadaan phisik yang sudah tidak mengizinkan lagi karena ketuaan.</p>
<p><strong>Pihak-pihak yang Terlibat dalam Upacara</strong></p>
<p>Selain penyelenggara teknis upacara, masih ada orang lain yang terlibat dalam upacara ini antara lain empat orang yang disebut <em>tadulako-tadulako </em>yang bertugas <em>mobago </em>(membantu) <em>topokeho </em>dalam melaksanakan upacara <em>rakeho</em> ini, di samping keluarga daripada yang diupacarakan seperti <em>toama </em>(orang tua), <em>ompi-ompi </em>(paman), <em>tumpu </em>(nenek), dan <em>tina lolo </em>(bibi). <em>Tadulako </em>yang dimaksud adalah sebagai orang yang mempunyai kekuatan berdasarkan ilmu sakti (berdasarkan tenaga dalam).</p>
<p><strong>Persiapan dan Perlengkapan Upacara</strong></p>
<p>Penyediaan/pengadaan materi dalam kegiatan upacara rakeho meliputi: lide &#8211; (tikar), luna (bantal), baju dan puruka (baju dan celana), cawat dari kulit kayu bagi yang diupacarakan, pengoaha (kikir besi), air hangat, ketan putih, dan satu biji telur.</p>
<p><strong>Jalannya Upacara Menurut Tahap-tahapnya</strong></p>
<p>Pada upacara <em>ratompo </em>tidak banyak perbedaannya dengan upacara <em>rakeho </em>ini. Dalam tahap-tahap upacara <em>rakeho </em>pun tidak jauh berbeda. Setelah upacara <em>rakeho </em>ini tiba, maka pada saat yang telah ditentukan di rumah orang tua yang diupacarakan telah berkumpul sanak keluarga, <em>topekeho </em>(dukun), dan <em>tadulako</em>-<em>tadulako </em>yang membantu <em>topekeho </em>semua telah hadir. Sebelum anak yang diupacarakan diantar ke tempat pelaksanaan upacara yang sudah dipersiapkan sebelumnya, maka di rumah yang diupacarakan dilaksanakan, terlebih dahulu upacara sekedarnya seperti memakaikan pakaian yang terdiri dari baju biasa dan <em>puruka </em>(celana pendek atau kalau dahulu dengan cawat).</p>
<p>Sudah berpakaian maka oleh topekeho mulai dengan menyuapi yang diupacarakan dengan ketan putili dan telur. Selanjutnya pada waktu anak yang diupacarakan sudah siap melakukan upacara di rumah, maka <em>topekeho </em>juga telah menyiapkan segala perlengkapan upacara. Sambil berpamitan kepada keluarga yang diupacarakan keempat orang <em>tadulako </em>(pembantu <em>topekeho</em>) diiringi oleh ibu bapak dan sanak keluarga yang diupacarakan bersama-sama berdiri sambil berjalan turun ke halaman rumah. Setelah tiba di halaman rumah, maka topekeho, anak yang diupacarakan, dan empat orang tadulako <em>mobago </em>(tadulako pembantu) mulai berjalan menuju tempat upacara <em>rakeho </em>dilaksanakan, sedangkan keluarga yang diupacarakan kembali ke dalam rumah untuk menunggu selesainya upacara <em>rakeho </em>ini dilaksanakan.</p>
<p>Selama dalam perjalanan ke tempat upacara tidak diadakan lagi upacara tertentu. Sesudah tiba di tempat upacara yang sudah ditentukan seperti di bawah sebuah pohon yang besar serta jauh dari keramaian ataupun di sebuah rumah yang telah dikosongkan, maka para tadulako mulai menghamparkan tikar dan meletakkan bantal di atasnya untuk tempat tidur yang diupacarakan. Selanjutnya sudah pemasangan tempat tidur selesai, maka kemudian anak yang diupacarakan mulai diikatkan kain <em>nunu </em>ke bagian muka anak yang diupacarakan, yaitu bagian kedua matanya, Ialu ditidurkan. Sesudah anak yang diupacarakan ditidurkan dalam keadaan terlentang, maka <em>topekeho </em>sudah mengambil kikir dan <em>tadulako </em>pun sudah mengambil tempat masing-masing, yakni dua orang di samping bahu kiri kanan anak dan dua orang masing-masing di bagian kaki kiri dan kanan yang diupacarakan. Keempat tadulako tersebut bertugas memegang yang diupacarakan jangan sampai pada saat <em>rakeho </em>dilaksanakan sempat menggoyangkan tubuhnya (bergerak).</p>
<p>Beberapa informan yang sempat peneliti wawancarai dan telah pernah mengalami sendiri upacara <em>norakeho </em>ini mengatakan bahwa dari semua upacara masa dewasa menurut tradisi setempat sudah upacara <em>rakeho </em>inilah yang paling sakit yang dialami oleh yang diupacarakan. Demikian pula proses kesembuhannya cukup lama.</p>
<p>Sesudah masing-masing tadulako sudah siap pada posisinya masing-masing, maka <em>topekeho </em>sambil di tangan kanannya sudah memegang kikir (pongaha) di mana <em>topekeho </em>dalam posisi jongkok di samping yang diupacarakan, maka mulai dengan <em>gane </em>(membacakan mantera) sebagai berikut &#8220;<em>Ane motomoleko potumpako, ane motumpako patumoleko, Bona nemo madea ra mehuko tiroi daka kami</em>&#8220;.</p>
<p><em>Artinya</em>: Bila tidur tengadah dan tengkurap, bila tidur tengkurap dan tengadah, jangan sampai banyak darah, maka lihatlah kami.</p>
<p>Setelah itu, topekeho mulai memasukkan <em>pangaha </em>(kikir) di antara seluruh bagian gigi atas dan bagian gigi bawah. Bersamaan dengan itu para <em>tadulako </em>mulai memegang erat tubuh dan bagian kaki yang diupacarakan. Mulailah <em>topekeho </em>mengayunkan kikirnya pada bagian gigi atas sampai benar-benar hampir serata dengan gusi, demikian seterusnya sampai selesai, kemudian pindah pada bagian gigi bawah juga dengan hal yang serupa. Menurut perhitungan waktu dahulu biasanya pelaksanaan <em>rakeho </em>ini mulai dari pagi hari sampai sore hari.</p>
<p>Sesudah <em>rakeho </em>dilaksanakan, maka yang diupacarakan diberi pengobatan berupa air hangat untuk dikumur-kumur dan diberi parania mavau (scienis rumput-rumputan) yang baunya sangat busuk untuk digigit-gigit oleh yang diupacarakan sesudah rakeho.</p>
<p>Pada akhirnya sesudah pelaksanaan rakeho ini, di mana yang diupacarakan sudah siuman kembali, sambil dibopong oleh tadulako-tadulako dan topekeho berjalan kembali ke rumah mengantarkan anak yang diupacarakan dan diserahkan kembali kepada orang tuanya. Begitu anak yang diupacarakan sampai lalu ditidurkan di tempat tidur yang sudah disediakan dan selama perawatannya dilakukan oleh ibu bapaknya, sedangkan pengobatannya dilakukan oleh topekeho sampai sembuh.</p>
<p><strong>Pantangan-pantangan yang Harus Dihindarkan</strong></p>
<p>Dalam upacara rakeho ini, pantangan yang harus dihindarkan hanya bersifat tingkah laku dan perbuatan yang sama haInya dengan pantangan yang terdapat dalam upacara <em>mopatini </em>dan <em>ratompo</em>. Dalam upacara rakeho bahwa pantangan bagi orang yang diupacarakan antara lain tidak boleh makan makanan yang keras dan tidak boleh minum air selama tiga hari sesudah rakeho, pelanggaran atas pantangan ini mempunyai akibat akan bertambah membengkaknya mulut yang diupacarakan atau proses kesembuhannya akan lebih lama lagi, sehingga keluarga yang diupacarakan harus benar-benar mengawasi gerak-gerik dan tingkah laku daripada yang diupacarakan, terutama sekali mengenai makannya di mana yang diupacarakan harus makan bubur.</p>
<p><strong>Lambang-lambang atau Makna yang Terkandung dalam Unsur-unsur Upacara</strong></p>
<p>Salah satu lambang dalam upacara rakeho adalah baju putih dan <em>puruka </em>(celana) yang juga berwarna putih sebagai lambang yang diupacarakan yang mengandung makna penyerahan diri yang diupacarakan dan keluarga yang diupacarakan berdasarkan atas keihlasan hati yang putih bersih dalam merelakan anak yang diupacarakan untuk dirakeho.</p>
<p>Disamping itu juga seperti nasi ketan putih dan telur juga mengandung makna selain sebagai permohonan kepada Tuhan atas keselamatan anak yang diupacarakan, juga merupakan simbol keihlasan dan kebulatan hati yang putih bersih dari keluarga yang diupacarakan dalam metaksanakan upacara ini. Sesuai sifat dari upacara <em>rakeho </em>menurut tradisi setempat adalah suatu upacara dalam keadaan setengah berkabung.</p>
<p>Sumber: Perpustakaan Daerah Propinsi<br />
Jl. Banteng No. 6 Palu Telp. (0451) 482490</p>
</div>
<h2  class="related_post_title">Artikel Terkait:</h2><ul class="related_post"><li>No Related Post</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://telukpalu.com/2007/11/rakeho-mancumani-rakeho/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mopahiva / Ulang Tahun</title>
		<link>http://telukpalu.com/2007/10/mopahiva-ulang-tahun/</link>
		<comments>http://telukpalu.com/2007/10/mopahiva-ulang-tahun/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Oct 2007 11:45:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Thony Irawanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Suku Kulawi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/tlp2010/?p=880</guid>
		<description><![CDATA[Pengertian mopahiva (ulang tahun) adalah mempunyai arti tersendiri di mana menurut tradisi setempat bahwa upacara ini adalah merupakan rasa syukur dari masing-masing orang tua karena anak yang diupacarakan telah tumbuh dan berkembang dengan baik tanpa mengalami gangguan penyakit dan sebagainya. Pelaksanaan upacara mopahiva dilakukan antara umur anak dari satu tahun sampai berumur 15 tahun dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pengertian mopahiva (ulang tahun) adalah mempunyai arti tersendiri di mana menurut tradisi setempat bahwa upacara ini adalah merupakan rasa syukur dari masing-masing orang tua karena anak yang diupacarakan telah tumbuh dan berkembang dengan baik tanpa mengalami gangguan penyakit dan sebagainya. Pelaksanaan upacara mopahiva dilakukan antara umur anak dari satu tahun sampai berumur 15 tahun dan di mana orang tua yang diupacarakan sudah mempunyai kesempatan dan kemampuan mengupacarakan anaknya.</p>
<div>
<p><strong>Maksud dan Tujuan Upacara</strong></p>
<p>Sebagaimana telah dikemukakan di atas bahwa upacara <em>mopahiva </em>adalah ucapan syukur yang biasanya melalui suatu hajat orang tua dengan melihat anaknya telah tumbuh dengan baik tanpa adanya gangguan penyakit, sehingga benar-benar bahwa hajat jangan sampai menjadi suatu beban bagi orang tua dan anak selanjutnya, maka <em>mopahivu </em>ini pun dilaksanakan. Jadi, upacara ini bukan saja menyangkut pertumbuhan anak itu sendiri, akan tetapi memohonkan kesembuhan anak dari suatu penyakit yang dialami anak itu sendiri. Dalam memohonkan kesembuhan anak, dan bila anak jadi sembuh karena permohonan kepada Tuhan, maka <em>mopahivu </em>pun dilaksanakan.</p>
<p>Upacara mopahivu juga mempunyai kaitan dengan perkawinan adat masyarakat Kulawi yang biasanya pada saat perhitungan mahar sering yang dipertanyakan adalah dari pihak keluarga ialah sudah berapa kali diadakan <em>mopahivu </em>bagi pihak pengantin semasa kanak-kanaknya.</p>
<p><strong>Waktu Penyelenggaraan Upacara</strong></p>
<p>Waktu penyelenggaraan upacara mopahivu menurut tradisi setempat dipilih pada siang hari dan tepatnya pada hari genapnya usia anak antara satu tahun dan seterusnya sampai lima tahun. Selain itu bahwa waktu penyelenggaraan upacara ini adalah sebaiknya pada saat anak belum di <em>ratini </em>(disunat).</p>
<p><strong>Tempat Penyelenggaraan Upacara</strong></p>
<p>Untuk tempat pelaksanaan upacara tidak terdapat ketentuan-ketentuan khusus, tetapi cukup diadakan pada rumah orang tuanya dengan tidak ada sesuatu bentuk atau keadaan yang menggambarkan bahwa akan diadakannya suatu upacara <em>mopahivu</em>.</p>
<p><strong>Penyelenggaraan Teknis Upacara</strong></p>
<p>Dalam upacara <em>mopahivu </em>biasa hanya seorang saja penyelenggara teknis upacara, yaitu <em>tobalia </em>(dukun). <em>Tobalia </em>ini adalah orang yang pekerjaan khususnya adalah selain mengobati anak yang diupacarakan sampai mendapatkan kesembuhan dari penyakit-penyakit tertentu. Karena upacara <em>mopahivu</em> ini adalah salah satu upacara selain karena anak telah tumbuh dengan baik, juga sehubungan dengan hajat orang tua karena permohonan kesembuhan daripada anak yang dilakukan oleh <em>tobalia </em>tersebut, sehingga upacaranya pun termasuk <em>mopahivu </em>yang dilaksanakan sendiri oleh <em>tobalia</em>.</p>
<p><strong>Pihak-pihak yang Terlibat dalam Upacara</strong></p>
<p>Selain penyelenggara teknis upacara, maka pihak-pihak yang terlibat dalam upacara adaIah sebagai berikut:</p>
<p><em>Topo polibuka </em>(penterjemah) yang selalu mendampingi <em>tobalia </em>(dukun) karena biasanya apabila <em>tobalia </em>sudah kemasukan roh-roh halus, biasanya bahasa yang digunakan tidak sama dengan bahasa yang digunakan sehari-hari, bahkan adakalanya bahasa yang mereka gunakan dengan menggunakan gerakan-gerakan/isyarat-isyarat raut muka, mata ataupun dengan tangan. Gerakan ini hanya dapat diketahui oleh <em>topo polibuka </em>(penterjemah) dalam setiap melaksanakan upacara. Di samping itu masih ada lagi sebagai pembantu yakni <em>moulia </em>= <em>topo dade </em>(penyanyi) yang terdiri dari laki-laki dan perempuan yang masing-masing membawakan lagu yang berisi mantera-mantera.</p>
<p><em>Moulia / topodade</em> biasanya terdiri atas orang-orang tua yang cukup banyak mengetahui tentang seluk beluk tarian dan syair mantera yang bila dinyanyikan saling berbalasan antara laki-laki dan perempuan sesuai upacara mana yang dilaksanakan. Selain itu pula masih ada lagi orang-orang yang ikut terlibat dalam upacara ini, seperti <em>topogima </em>(pemukul gendang) yang bertugas mengiringi tarian dan syair-syair lagu yang dinyanyikan oleh penyanyi rego (mantera-mantera yang berupa syair).</p>
<p>Alat kesenian lain yang juga digunakan dalam upacara Mopahivu ini adalah <em>lengtoa </em>(tambur kecil) yang terbuat dari kayu cempaka yang lubang tengahnya bentuknya agak kecil, sedangkan bagian atasnya ditutup dengan kulit anoa. Fungsi daripada alat ini adalah untuk memisahkan tangga nada dan pemberi aba-aba dari masing-masing pemukul gima.</p>
<p>Pemukul <em>lengtoa </em>ini disebut <em>topolento </em>(pengatur tangga nada). Orang yang bertugas memandikan anak pada saat upacara puncak dilaksanakan adalah <em>topejunu </em>(memandikan), sedangkan yang duduk sebagai <em>motiroi </em>(saksi) adalah masing-masing <em>sando mpoana </em>(dukun beranak) dan <em>totu ngata </em>(tua kampung) yang bertugas mengawasi jalan upacara menurut tata urutan upacara yang dilaksanakan.</p>
<p><strong>Persiapan dan Perlengkapan Upacara</strong></p>
<p>Upacara <em>mopahivu</em> (ulang tahun) memerlukan persiapan dan perlengkapan upacara, antara lain <em>bengga </em>(kerbau) sebanyak satu ekor, <em>manu </em>(ayam). Salah satu terpenting adalah <em>pohampe </em>(tenda) yang terbuat dari bambu hutan. Pembuatan <em>pohampe </em>ini menyerupai tangga yang dijalin saling melintang dan membujur dari masing-masing bambu tersebut, yang disebut <em>lalangi </em>(yang panjangnya sampai 3 m dan kaso 1 m, kaso terdiri atas 4 buah yang diikatkan dengan rotan yang masing-masing jaraknya antara kaso yang satu dengan kaso yang lain adalah 1 m. Setiap ujung kaso diikatkan dengan buah pinang (santei) sebanyak 8 biji. Di atas <em>pohampe </em>(tenda) di bentangkan <em>mbesa </em>yang mempunyai luas 3 x 1 m (saboka).</p>
<p><em>Pohampe </em>ini digantungkan sebagai loteng di kamar (ruangan) di mana upacara dilaksanakan. <em>Gima </em>(tambur) dan pemukulnya sebanyak dua buah, pakaian adat secukupnya yang dipakai penyelenggara teknis upacara, pihak-pihak yang terlibat dalam upacara dan yang diupacarakan. <em>Dulang palangka </em>(dulang berkaki) yang dipakai sebagai piring tempat makan dipersiapkan secukupnya.</p>
<p><em>Here </em>(cerek) yang dipakai untuk memandikan yang diupacarakan, dan <em>ohe mputi </em>(beras putih) sebanyak satu genggam yang dipakai menaburkan kepada kerbau sebelum dipotong. Daun pinang sebanyak tujuh lembar yang dipakai nantinya untuk menginjakkan kaki apabila yang diupacarakan selesai dimandikan di sungai. <em>Sagu </em>yang dimasak dalam satu ruas bambu sampai kental dan kemudian dibungkuskan pada sigar dan ditetesi minyak kelapa serta diikat pada kepala yang diupacarakan:</p>
<p>Adapula beberapa jenis tumbuhan sejenis rumput yang disebut <em>pegia </em>dan <em>ncala </em>yang semuanya merupakan tumbuhan tahan hidup baik musim panas maupun musim dingin.</p>
<p><strong>Jalannya Upacara Menurut Tahap-tahapnya</strong></p>
<p>Dua hari menjelang upacara diadakan di mana seluruh persiapan telah rampung seluruhnya sudah dilakukan malam tari dan lagu (morego) yang dimulai pada jam 9.00 malam sampai jam 6 &#8211; 7 pagi selama dua hari berturut-turut. Tari dan lagu ini merupakan tradisi setempat yang bersifat magis religius yang dibawakan oleh penyanyi secara berbalasan antara laki-laki (<em>balailo</em>) dengan perempuan (<em>bangkele</em>).</p>
<p>Lagu-lagu yang dinyatakan berisi mantera-mantera yang mengandung suatu permintaan keselamatan dan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan kesehatan dan kekuatan bagi yang diupacarakan.</p>
<p>Bahasa atau kalimat yang digunakan oleh para penyanyi kadang-kadang bukan semuanya bahasa Kulawi sehari-hari, tetapi kadang-kadang bahasa kepercayaan mereka yang sukar dimengerti oleh yang mendengarkan. Di sinilah fungsi seorang penterjemah untuk menterjemahkan kalimat yang terdapat dalam lagu rego.</p>
<p>Jumlah orang yang melakukan nyanyian rego lebih dari dua orang, makin banyak makin baik. Lagu dan tari diikuti dengan <em>gima </em>(tambur) sebanyak tiga buah dan gendang (lentoa) sebanyak satu buah.</p>
<p>Orang yang melakukan atraksi pem ukul tambur (topogima) dan pengatur nada adalah pemukul gendang (topolento). Pada saat upacara ini dilaksanakan juga telah digantungkan <em>lologigi </em>(tenda) sebagai dekorasi di mana yang diupacarakan duduk di bawahnya yang dapat disaksikan oleh semua yang hadir.</p>
<p>Setelah puncak upacara tiba, maka anak yang diupacarakan maupun yang mengupacarakan serta orang yang tua yang diupacarakan dan semua yang terlibat dalam upacara telah berpakaian adat selengkapnya dari rumah masing-masing. Pada pagi hari yang telah ditentukan, anak dengan didampingi kedua orang tuanya bersama yang mengupacarakan duduk di bawah <em>Ialangi</em>. Sesudah siap maka upacara memandikan anak ke sungai. Apabila anak tersebut belum dapat berjalan maka dapat digendong oleh ibunya ke sungai di mana nanti upacara mandi dilaksanakan. Dalam perjalanan yang berada paling depan adalah <em>tobali</em>, kemudian disusul oleh anak yang diupacarakan dan diikuti oleh keluarga lainnya. Selama perjalanan ke sungai tidak dilakukan upacara-upacara tertentu, kecuali telah dibawa serta daun pinang (<em>tava mpangana</em>) sebanyak 7 lembar yang dipakai nanti sebagai tempat menginjakkan kaki bagi anak sesudah mandi dan akan pulang ke rumah.</p>
<p>Pada saat anak tiba di sungai, langsung saja dimandikan oleh ibunya, sedangkan dukun dan sanak keluarga yang mengantarkannya (<em>topobawa</em>) hanya sebagai saksi dalam upacara tersebut. Anak sesudah dimandikan Ialu dipakaikan pakaian adat kembali dan pemasangan ikat kepala dari sagu yang dimasak dalam satu ruas bambu sampai kental sehingga bisa dibentuk sedemikian rupa seperti lingkaran (ikat kepala) yang dinamakan <em>bai</em>. Sagu yang sudah dimasak tersebut dibungkus lagi dengan <em>sigar </em>(higa) yang berwarna merah kemudian ditetesi minyak kelapa sehingga menimbulkan bintik-bintik menambah indahnya pengikat kepala tersebut. Sesudah pemasangan pakaian adat dan ikat kepala, anak diantar kembali ke rumah dengan menuruti perjalanan semula.</p>
<p>Selama dalam perjalanan pulang ke rumah, anak tidak diperbolehkan menginjakkan kakinya pada tanah sehingga ia hanya digendong oleh ibunya. Jadi, pada saat upacara menginjakkan kaki di atas tujuh lembar daun pinang secara bergantian adalah ibu yang menggendong anak yang diupacarakan sebanyak tujuh kali saling bergantian yang dilakukan oleh siapa saja yang turut serta termasuk keluarga yang diupacarakan. Setelah tiba di halaman rumah, sudah siap <em>tomepatomu </em>(penjemput) dari kalangan keluarga didampingi oleh <em>topejunu </em>(orang yang mengusapkan air) dan menyemburkan air dari <em>here </em>(cerek) yang sudah dicampurkan dengan potongan-potongan kayu yang keras dari pohon <em>pegia </em>dan <em>ncala</em>.</p>
<p>Setelah upacara ini dilaksanakan maka diadakanlah kembali nyanyian rego selama setengah jam. Setelah selesai merego, diadakanlah pemotongan bengga (kerbau).</p>
<p>Sebelum dipotong, kerbau terlebih dahulu diikat dan kemudian direbahkan ke tanah dan ditaburkan beras putih mulai dari kepala kerbau sampai ekornya. Pada saat itu <em>tobalia </em>mulai berdiri diikuti oleh anak yang diupacarakan sambil digendong oleh ibunya mengikuti <em>balia </em>berjalan ke tempat kerbau yang sudah diikat. <em>Tobalia </em>dengan memegang <em>tono lampa </em>(parang paniang) dan didampingi anak dan ibu yang menggendong, maka <em>tobalia </em>dengan memegang tangan kanan anak bernama <em>tono lampa </em>tersebut maka mulailah dengan <em>mantene </em>(melukai) leher kerbau tersebut. Pada saat itu pula setelah meletakkan <em>tono lempa </em>di leher kerbau, <em>tobalia </em>membacakan manteranya sebagai berikut: &#8220;<em>Sipuro-puramo kita hi mantimbemo bengga, domo maria kita ma dua-dua, maka puramu buka madea rahi rasampamo bengga</em>&#8220;. Artinya : Semua kita ini turut menyaksikan memotong kerbau dan tidak ada lagi sakit-sakit dan agar anak ini banyak rejeki dan saya potonglah kerbau ini.</p>
<p>Setelah membaca mantera ini <em>tobalia </em>bersama anak mulai mengayunkan <em>tono lampa </em>di atas leher kerbau sekedar melukai leher kerbau tersebut. Kerbau yang dipotong ini tidak lagi dikuliti tetapi langsung dipotong-potong untuk kemudian dagingnya <em>ditibo </em>(dibagi-bagikan) kepada semua undangan yang hadir. Pembagian daging kerbau menurut tradisi setempat adalah sebagai berikut:</p>
<p><em>Tobalia </em>diberikan paha kanan, <em>topopolibuka </em>(penterjemah) bagian leher; <em>sando mpoana</em> (dukun beranak), <em>totua nuada</em> (tua adat), <em>topodade</em> (penyanyi rego), <em>tina nggandea </em>(ibu yang membagi nasi dalam pesta), dan <em>tina nuuta </em>(ibu yang membagi sayur) masing-masing 1 kg. Sedangkan kepada <em>topogima </em>(pemukul tambur), <em>topolento </em>(pemukul gendang), dan <em>tepojunu </em>(yang memandikan anak) masing-masing 1/4 kg. Dan sisa daripada daging tersebut dibuat lauk pauk untuk disajikan dalam makan bersama.</p>
<p>Sesudah pemotongan dan pembagian daging tersebut, maka anak yang diupacarakan naik kembali ke rumah dan duduk di tempat semula bersama <em>tobalia </em>beserta seluruh yang hadir sambil menantikan acara santap bersama. Bersamaan pula dengan hal di atas maka <em>lalangi </em>beserta peralatannya dibongkar dan bambu-bambu yang dipergunakan dalam pembuatan <em>lalangi </em>tersebut dibawa turun dari rumah dan disimpan di bawah pohon beringin dan yang ditinggalkan di dalam rumah hanya <em>mbesa</em>.</p>
<p>Sebelum makan bersama kembali lagi lagu rego diperdengarkan untuk menyemarakan upacara tersebut. Dalam heberapa hal mengenai tata cara makan bersama masih terdapat klasifikasi dalam pemakaian alat perlengkapan yang digunakan yang semuanya bersifat penghormatan antara lain digunakan <em>dulang palangka </em>yang diperuntukkan kepada masing-masing tamu yang hadir seperti kepada <em>toniasa </em>(yang diupacarakan), <em>tobalia</em>, <em>madika </em>(raja), <em>totua ngata </em>(tua kampung), dan <em>totua nuada </em>(tua adat) di mana isi dulang masing-masing terdiri dari daging, hati, jantung, dan paru-paru kerbau yang sudah dibakar dengan nasinya, sedangkan sayurnya dengan menggunakan <em>santi moko </em>(tempurung kelapa). Bagi tamu-tamu lainnya cukup dengan memakai piring biasa saja. Sesudah makan bersama selesai, maka makanan yang masih tersisa dapat dibawa pulang bersama daging kerbau yang sudah dipotong tadi dibagi-bagikan kepada masing masing orang tertentu saja. Dengan demikian upacara ini pun telah selesai.</p>
<p>Pada keesokan harinya diadakan lagi upacara pelengkap dari upacara puncak, yakni memandikan anak yang diupacarakan dimuka pintu rumah oleh <em>tobalia </em>(dukun). Dalam memandikan anak tidak lagi membawanya ke sungai tetapi cukup dengan mandi menggunakan air yang sudah dipersiapkan sebelumnya dalam <em>here </em>(cerek) yang dicampurkan dengan potongan kayu yang keras (<em>pegea + ncele</em>). Anak sebelum dimandikan, maka terlebih dahulu dia dibawa ke depan pintu rumah, dalam keadaan berdiri, kemudian <em>tobalia </em>mengikutinya dari belakang sambil memegang cerek tersebut kemudian menyiramkan air tersebut pada bagian kepala daripada anak (<em>nihive</em>) sebanyak tujuh kali berturut-turut sambil membaca manteranya sebagai berikut:</p>
<p>&#8220;<em>Karampua ri langi, karampua mataeo, mata vula maporahika moto no pahaga gika moto, hi mulina hampe tupuna</em>&#8220;. Artinya &#8220;Ya Tuhan di langit, di matahari, di bulan yang memberikan rejeki dan kekuatan kepada seluruh turunannya sampai kepada anak cucunya&#8221;.</p>
<p>Sesudah upacara ini selesai, maka seluruh rangkaian <em>mopahivu </em>(ulang tahun) dinyatakan selesai.</p>
<p><strong>Pantangan-pantangan yang Harus Dihindari</strong></p>
<p>Satu-satunya pantangan yang harus dihindari dalam upacara mopahivu yang cukup mengandung makna magis sakral, yaitu kepada anak yang diupacarakan tidak boleh menginjakkan kakinya ke tanah setelah selesai dimandikan di sungai. Akibat yang ditimbulkan karena pelanggaran tersebut adalah dapat berakibat bagi yang diupacarakan mengalami atau dimasuki roh-roh yang jahat, sehingga anak dapat sakit yang mungkin pula dapat mempunyai akibat yang fatal bagi anak sendiri, baik kesehatan jasmaninya maupun gangguan rohaninya; sedangkan pantangan pada penggunaan benda-benda dan ataupun yang meliputi perbuatan serta tingkah laku sama sekali tidak ada.</p>
<p><strong>Lambang-lambang atau Makna yang Terkandung dalam Unsur-unsur Upacara</strong></p>
<p>Daya magis yang bersifat sakral adalah kerbau hitam yang melambangkan kekuatan. <em>Poliampe </em>(lalangi) sebagai alat dekorasi dan juga sebagai simbol bagi yang diupacarakan bahwa anak tersebut telah sembuh dari suatu penyakit yang dideritanya. Pakaian adat selengkapnya dan memandikan anak di sungai sebagai simbol traidisi setempat juga mengandung makna mensucikan anak tersebut dari semua penyakit yang telah dialaminya. Beras putih yang dihambur pada kerbau adalah nierupakan lambang kesucian hati dan rasa syukur kepada sang pencipta dengan terwujudnya pelaksanaan upacara ini dengan baik. Daun pinang sebanyak tujuh lembar sebagai simbol daripada kejadian bumi ini. Sagu sebagai simbol ikatan kekeluargaan yang akrab di antara mereka. Sigar yang berwarna merah melambangkan sifat-sifat kepahlawanan dan keberanian. Kayu <em>pegea </em>dan kayu <em>ncala </em>sebagai simbol penangkal dan penawar segala macam penyakit. Pada sebelah kanan kerbau untuk <em>tobalia </em>sebagai simbol kekuatan dan terima kasih keluarga yang diupacarakan atas daya upaya <em>tobalia </em>dalam menyembuhkan anak yang diupacarakan. Leher kerbau untuk <em>topopalibuka </em>(penterjemah) sebagai simbol bagi yang diupacarakan agar penghidupannya kelak tidak akan kekurangan makanan.</p>
<p>Demikian beberapa unsur-unsur yang terkandung dalam lambang-lambang pada upacara nopanoung pada upacara traidisi suku Kulawi.</p>
<p>Sumber: Perpustakaan Daerah Propinsi<br />
Jl. Banteng No. 6 Palu Telp. (0451) 482490</p>
</div>
<h2  class="related_post_title">Artikel Terkait:</h2><ul class="related_post"><li>No Related Post</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://telukpalu.com/2007/10/mopahiva-ulang-tahun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mancumani</title>
		<link>http://telukpalu.com/2007/10/mancumani/</link>
		<comments>http://telukpalu.com/2007/10/mancumani/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Oct 2007 11:44:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Thony Irawanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Suku Kulawi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/tlp2010/?p=878</guid>
		<description><![CDATA[Pengertian dan makna upacara mancumani adalah upacara keselamatan yang dilakukan atas selesainya ketiga upacara ratini (sunatan), rakeho (menggosok) gigi, dan ratompo (menanggalkan) gigi bagi perempuan. Atau dapat dikatakan bahwa upacara mancumani dilaksanakan sesudah segala pantangan dalam ketiga unsur upacara sudah diselenggarakan. mancumani dapat pula berarti pesta keselamatan antar kampung, di mana yang terlibat dalam upacara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pengertian dan makna upacara mancumani adalah upacara keselamatan yang dilakukan atas selesainya ketiga upacara ratini (sunatan), rakeho (menggosok) gigi, dan ratompo (menanggalkan) gigi bagi perempuan. Atau dapat dikatakan bahwa upacara mancumani dilaksanakan sesudah segala pantangan dalam ketiga unsur upacara sudah diselenggarakan. mancumani dapat pula berarti pesta keselamatan antar kampung, di mana yang terlibat dalam upacara adalah para orang tua yang telah selesai melaksanakan upacara ratini, ratompo, ataupun rakeho. Jadi, menurut tradisi setempat dalam tahap-tahap penyelenggaraan upacara mempunyai sebutan khusus seperti mancumani noratini, mancumani ratompo, mancumani rakeho, mancumani nebolai (pesta perjodohan), dan mancumani pompatodui (pesta menginjak rumah mertua). Karena unsur upacara ratini, ratompo, dan rakeho dianggap satu dalam pelaksanaan mancumani, maka ketiganya digabung, dalam suatu pesta keselamatan yang sudah meliputi pelaksanaannya bersifat antar kampung.</p>
<div>
<p><strong>Maksud Penyelenggaraan Upacara</strong></p>
<p>Maksud penyelenggaraan upacara <em>mancumani </em>adalah sebagai rasa kegembiraan serta rasa syukur kepada Tuhan bahwa masing-masing yang diupacarakan dalam ketiga unsur upacara tersebut telah mendapat keselamatan dan kesehatan kembali setelah mengalami upacara yang cukup membahayakan dirinya. Selain daripada itu <em>mancumani </em>juga sifat keakraban yang dilambangkan dalam rasa gotong-royong di antara keluarga yang dituangkan dalam pesta <em>mancumani </em>tersebut. Hal ini dapat dibuktikan bahwa pada saat <em>mancumani </em>paling sedikit ada 50 ekor kerbau yang dipotong dalam pesta ini. Kerbau sebanyak itu adalah sesuai banyak keluarga yang diupacarakan yang turut terlibat di dalamnya, yang masing-masing menyumbangkan kerbau. Jadi, dalam <em>mancumani </em>tidak terlihat perbedaan antara golongan bangsawan (maradika) dan orang kebanyakan (ntodea) karena merasa punya kepentingan yang sama dalam <em>mancumani </em>tersebut.</p>
<p><strong>Waktu Penyelenggaraan Upacara</strong></p>
<p>Waktu penyelenggaraan upacara <em>mancumani </em>adalah sama dengan upacara <em>mopahivu </em>yakni diadakan pada siang hari di mana waktu penyelenggaraan berdasarkan pada keadaan daripada yang diupacarakan, yaitu bila anak yang diupacarakan sudah sembuh dari sakit yang dialaminya.</p>
<p>Sebagai salah satu upacara puncak yang sangat besar artinya bagi tradisi masyarakat setempat, maka penentuan waktu penyelenggaraannya banyak ditentukan oleh kesempatan dan kemampuan masing-masing keluarga yang diupacarakan, sehingga sebagai ukuran waktu adalah berdasarkan pada saat selesainya panen mereka.</p>
<p><strong>Penyelenggara Teknis Upacara</strong></p>
<p>Dalam penyelenggaraan uipacara <em>mancumani </em>biasanya terdiri atas satu orang saja, yaitu <em>tobalia </em>(pemimpin upacara) dalam semua kegiatan dan orang-orang yang banyak berperan dalam masyarakat atau orang yang banyak mempunyai hubungan dengan roh-roh halus atau dewa ataupun menghubungkan manusia dengan roh halus.</p>
<p><strong>Tempat Penyelenggaraan Upacara</strong></p>
<p>Mengenai tempat penyelenggaraan <em>mancumani </em>berdasarkan hasil musyawarah antara keluarga yang diupacarakan dengan penyelenggara teknis upacara, yakni <em>tobalia </em>di mana diputuskan bahwa mengenai tempat penyelenggaraan upacara adalah <em>dikaravana </em>(lapangan) yang terbuka yang dapat disaksikan oleh orang banyak. Dasar pertimbangannya adalah karena pesta upacara adalah meliputi upacara antar kampung, di mana seturuh masyarakat dapat menyaksikan upacara tersebut.</p>
<p><strong>Pihak-pihak yang Terlibat dalam Upacara</strong></p>
<p>Selain penyelenggara teknis upacara maka masib ada pihak lain yang juga terlibat dalam upacara ini antara lain <em>topopolibuka </em>(penterjemah) yang selalu mendampingi <em>tobalia </em>dalam upacara-upacara <em>mancumani</em>. Tugas utama <em>topopolibuka </em>adalah menterjemahkan kata-kata <em>tobalia </em>apabila sudah kemasukan roh halus. Apabila <em>tobalia </em>kemasukan roh halus menggunakan kata-kata (bahasa) yang tidak sama dengan bahasa sehari-hari yang digunakan oleh masyarakat setempat. Bahkan biasanya dengan isyarat tertentu, dengan gerakan-gerakan tangan, mata, atau raut muka, dan sehagainya.</p>
<p>Selain adanya unsur seni dan hiburan yang melibatkan <em>topogima </em>(pemukul tambur) dan <em>topolento </em>(pemukul gendang-) yang bertugas sebagai pengatur nada dari pemukul tambur. sedangkan orang yang memandikan yang diupacarakan adalah <em>topejunu </em>(memandikan). Selanjutnya yang turut sebagai saksi upacara (motiroi) adalah <em>topotini</em>, <em>topetompo</em>, <em>topekeho</em>, <em>maradika </em>(bangsawan), <em>totua nungata </em>(tua kampung), <em>totua nuada </em>(tua adat), dan seluruh keluarga yang diupacarakan.</p>
<p><strong>Persiapan dan Perlengkapan Upacara</strong></p>
<p>Dalam upacara <em>mancumani </em>tidak jauh berbeda dengan upacara-upacara lainnya. Di mana persiapan dan perlengkapan tersebut masing-masing disiapkan oleh keluarga yang diupacarakan. Sebagai suatu puncak upacara menurut tradisi setempat setiap diadakan <em>mancumani </em>makin paling banyak <em>bengga </em>(kerbau) yang dipotong berkisar antara 30 &#8211; 50 ekor kerbau.</p>
<p>Di samping perlengkapan lain seperti <em>dulang palangkah </em>(dulang berkaki), kain <em>mbesa</em>, pakaian adat bagi yang diupacarakan, guna (tambur), lentoa (gendang) masing-masing tiga buah dan satu buah batang pisang yang akan di buat sebagai orang-orangan.</p>
<p><strong>Jalannya Upacara Menurut Tahap-tahapnya</strong></p>
<p>Sebelum upacara <em>mancumani </em>sampai pada saat yang telah ditentukan tiba, maka sebelumnya diadakan selama dua malam berturut-turut <em>morego </em>berupa seni dan hiburan di mana diperdengarkan lagu-lagu dengan irama khas serta diiringi bunyi tambur yang dipukul bertalu-talu oleh dua orang <em>topogima </em>(pemukul tambur) dan saling berganti irama yang dilakukan oleh satu orang <em>topelento </em>(pemukul gendang) sebagai pengatur nada. Dalam upacara rego <em>mancumani </em>ini diikuti pula alunan suara dari nyanyian pujian, kegembiraan yang dinyanyikan secara berbalas-balasan antara <em>balailo </em>(laki-laki) dan <em>bangkele</em> (perempuan). Rege <em>mancumani </em>yang dinyanyikan tersebut berisi mantera-mantera (gane) yang mengandung permintaan keselamatan dan rasa syukur kepada Tuhan yang telah memberikan kesehatan dan kekuatan bagi yang diupacarakan. Sesudah rego <em>mancumani </em>selama dua hari berturut-turut dilaksanakan, maka pada hari yang<br />
terakhir rego <em>mancumani </em>ini diadakanlah upacara <em>mancumani </em>itu sendiri pada siang hari.</p>
<p>Sebelum <em>mancumani </em>berlangsung maka yang diupacarakan <em>toratini </em>(yang dikhitan), <em>toratompo </em>(yang ditanggalkan giginya), dan <em>torakeho </em>(yang digosok giginya) masing-masing dipakaikan pakaian adat secukupnya termasuk penyelenggara teknis upacara <em>tobalia </em>dan semua yang terlibat dalam upacara semua berpakaian adat selengkapnya. Tatkala yang diupacarakan masih berada di rumah dan belum dibawa ke <em>karava </em>(lapangan), maka di tempat upacara tersebut diadakanlah rego kembali dengan nyanyian-nyanyian pujaan yang dinyanyikan oleh peserta dari orang tua dan muda, dengan satu tarian (noenje) yang bergerak berputar mengelilingi tempat pusat upacara. Ketiga yang diupacarakan, penyelenggara teknis upacara, keluarga yang diupacarakan, dan para <em>motiroi </em>(saksi) sudah dalam keadaan siap, maka apabila dengan diikuti oleh<br />
yang diupacarakan dan pengiring lainnya mulai melangkah menuju <em>kerava </em>(lapangan) upacara. Sesampainya di tempat upacara <em>tobalia</em>, yang diupacarakan sudah mengambil tempat di tengah lapangan dengan disaksikan oleh para yang hadir dan orang-orang lain yang cukup banyak jumlahnya menyaksikan jalannya upacara.</p>
<p>Sesudah <em>tobalia </em>dan yang diupacarakan sudah berada di tempat masing-masing, maka mulailah diadakan kembali nyanyian rego yang disertai noenje (tarian) secara berputar mengelilingi yang diupacarakan sebanyak 2 x 7 kali berputar. Sesudah putaran yang ke 14 kalinya, maka diadakanlah <em>nkola </em>(persembahan) yang dilakukan oleh <em>tobalia </em>diikuti yang diupacarakan.</p>
<p><em>Nkola </em>dilaksanakan oleh <em>tobalia </em>serta yang diupacarakan, berjalan bersama ke tempat di mana kerbau itu ditambatkan dan orang-orangan dari batang pisang sudah disiapkan. Dengan memegang <em>tono lampa </em>(parang panjang), <em>tobalia </em>mulai <em>nogane </em>(membaca mantera) sebagai berikut:</p>
<p>&#8220;<em>Sipura-puramo kita hi mantine he eno bengga, domo maria kita madua-dua, maka puramo buka madea rahi rasampamo bengga</em>&#8220;.</p>
<p>Artinya:</p>
<p>Semua kita ini turut menyaksikan pemotongan kerbau dan tidak ada lagi sakit-sakit, dan agar anak ini banyak rejeki, saya potonglah kerbau ini.</p>
<p>Selesai membacakan mantera, maka tobalia bersama yang diupacarakan menyerahkan <em>tono lumpa </em>tersebut kepada yang diupacarakan secara bergantian <em>mantine bengga </em>(melukai) leher kerbau dan bersamaan itu pula maka dipancunglah leher orang-orangan itu sampai terputus. Sesudah leher orang-orangan ini terpotong, maka kemudian ditetesi darah dari kerbau yang sudah <em>dimantine</em>. Selanjutnya kerbau yang sudah dipotong bagian lebernya sampai putus dari tubuhnya secara bersama-sama diletakkan di atas <em>dulang palangka</em>. Dulang palangka yang isinya terdiri atas kepala kerbau bersama kepala orang-orangan dari batang pisang tadi dibawa kembali ke tempat upacara bersama tobalia dan yang diupacarakan untuk diperkirakan sebagai bukti persembahan telah dilakukan. Persembahan ini mempunyai unsur kepercayaan dan pemujaan serta penghormatan kepada Tuhan (dewa) dalam berbagai bentuk, dan untuk berbagai maksud dan tujuan tertentu seperti untuk pengobatan dan untuk hiburan bagi para raja dahulu.</p>
<p>Setelah seluruh upacara mancumani selesai dilaksanakan, maka yang diupacarakan bersama <em>tobalia</em> serta yang menyaksikan kembali ke tempat semula sambil menunggu selesainya pemotongan semua kerbau yang sudah dipersiapkan. Setelah pemotongan hewan tersebut selesai, dagingnya dibagi-bagikan baik bagi tobalia, totua nungata, totua nuada, mardika maupun orang-orang yang terlibat dalam upacara tersebut. Dan selebihnya dimasak sebagai lauk-pauk yang kemudian nantinya akan disajikan dalam makan bersama di mana semua yang turut dalam pesta tersebut akan menikmatinya. Setelah makan bersama dilaksanakan, maka upacara mancumani ini pun dianggap selesai.</p>
<p><strong>Pantangan-pantangan yang Harus Dihindari</strong></p>
<p>Upacara <em>mancumani </em>ini adalah suatu upacara tradisi yang sudah sedemikian lamanya berlaku di kalangan masyarakat pendukungnya. Tujuan utamanya adalah mencari keselamatan dan menghindarkan segala malapetaka. Tetapi karena proses upacara yang sudah dilakukan sebelumnya, sehingga seluruh pantangan yang ada sudah dihindari (ditaati), maka <em>mancumani </em>khusus mengenai pelaksanaan pesta keselamatannya saja. Dengan kata lain sebelum <em>mancumani </em>maka seluruh pantangan bagi yang diupacarakan sudah dihindari seluruhnya.</p>
<p><strong>Lambang-lambang atau Makna yang Terkandung dalam Unsur-unsur Upacara</strong></p>
<p>Unsur-unsur upacara <em>mancumani </em>melambangkan sifat magis sakral adalah kepala kerbau dan kepala orang-orangan dari batang pisang yang mempunyai makna sebagai persembahan atas keselamatan kepada Tuhan dan memberi kekuatan kepada orang yang diupacarakan. Pakaian adat adalah simbol rasa kebanggaan dan kegembiraan bagi yang diupacarakan.</p>
<p>Sumber: Perpustakaan Daerah Propinsi<br />
Jl. Banteng No. 6 Palu Telp. (0451) 482490</p>
</div>
<h2  class="related_post_title">Artikel Terkait:</h2><ul class="related_post"><li>No Related Post</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://telukpalu.com/2007/10/mancumani/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Halili Bulai (Upacara Masa Kehamilan)</title>
		<link>http://telukpalu.com/2007/10/halili-bulai-upacara-masa-kehamilan/</link>
		<comments>http://telukpalu.com/2007/10/halili-bulai-upacara-masa-kehamilan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Oct 2007 11:44:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Thony Irawanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Suku Kulawi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/tlp2010/?p=876</guid>
		<description><![CDATA[Nama upacara masa hamil ini disebut atau Balua Putih. Suatu upacara yang dilaksanakan pada usia kandungan 6 &#8211; 7 bulan. Maksud dan tujuan upacara ialah agar bayi yang masib dalam kandungan dapat tumbuh dan berkembang secara sempurna dan sehat sebagaimana perkembangan bayi layaknya. Secara kejiwaan upacara tersebut memberikan semangat dan dorongan bagi yang hamil untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Nama upacara masa hamil ini disebut atau Balua Putih. Suatu upacara yang dilaksanakan pada usia kandungan 6 &#8211; 7 bulan. Maksud dan tujuan upacara ialah agar bayi yang masib dalam kandungan dapat tumbuh dan berkembang secara sempurna dan sehat sebagaimana perkembangan bayi layaknya. Secara kejiwaan upacara tersebut memberikan semangat dan dorongan bagi yang hamil untuk merawat kandungannya secara baik, agar bayi dapat lahir dengan selamat. Di samping unsur kepercayaan yang terdapat dalam upacara ini bahwa kehidupan di dunia ini ditentukan oleh Karampuan ilangi, Karampua itanah (pencipta langit dan bumi) termasuk kejadian manusia ditentukan oleh-Nya.</p>
<div>
<p>Pelaksanaan <em>Halili bulai </em>ini hanya diselenggarakan sekali saja bagi anak yang pertama dalam keluarga.</p>
<p><strong>Waktu Penyelengaraan Upacara</strong></p>
<p>Upacara ini diselenggarakan berdasarkan perhitungan waktu menurut tradisi setempat, yaitu pada masa hamil 6 sampai 7 bulan yang diperkirakan bahwa pada saat itu kandungan ibu sudah nampak, sedangkan waktu upacaranya berdasarkan atas perhitungan hari munculnya bulan purnama di langit dengan suatu pengertian agar masa depan bayi sejak ia lahir sampai dewasa akan secerah bulan di langit.</p>
<p><strong>Tempat Penyelenggaraan Upacara</strong></p>
<p>Pada masyarakat Kulawi tempat upacara umumnya dapat dikatakan terdiri atas dua jenis, tempat bagi khusus upacara masa hamil, naik ayunan, injak tanah, ulang tahun, baik bagi golongan Maradika (bangsawan) maupun <em>ntodea </em>(orang kebanyakan) adalah di rumah masing-masing yang diupacarakan, sedangkan pesta adat yang merupakan penutup dari semua upacara tersebut untuk golongan bangsawan adalah <em>Lobo (rumah tempat bangsawan mengadakan pertemuan) dan bagi orang kebanyakan adalah <em>Bantaya </em>(rumah adat tempat pertemuan orang kebanyakan). Jadi, upacara <em>Halili bulai </em>ini dapat pula dilaksanakan di rumah masing-masing orang tua, artinya baik mertua laki-laki maupun mertua perempuan. Asalkan di antara keduanya mana yang lebih dahulu mempunyai kemampuan.</em></p>
<p><strong>Penyelenggaraan Teknis Upacara</strong></p>
<p>Pada saat upacara ini diselenggarakan biasanya si suami dan istri didampingi <em>sando mpoana </em>(dukun beranak) dan <em>topogane </em>(pemantera) sebagai penyelenggara teknis upacara di samping piliak keluarga yang ikut hadir dalam upacara tersebut. Biasanya penyelenggara teknis upacara adalah orang yang dituakan dalam kampung dan mempunyai keahlian khusus dalam upacara ini. Kepercayaan masyarakat terdapat pada orang yang melaksanakan upacara ini seperti orang yang akan memasangkan <em>halili bulai </em>ini benar-benar mempunyai keturunan yang baik di samping memiliki sifat-sifat pribadi yang cukup tinggi.</p>
<p><strong>Pihak-pihak Yang Terlibat dalam Upacara</strong></p>
<p>Selain penyelenggara teknis upacara, terdapat pula <em>totua nungata </em>(orang tua kampung) dan <em>totua ada </em>(orang tua adat) yang bertugas menjaga supaya upacara adat dapat berjalan sebagaimana mestinya dan tempat meminta pertimbangan apabila dalam upacara ini mengalami kesulitan atau hambatan secara sakral. Selain itu <em>sando mpoana </em>(dukun beranak) sebagai saksi dalam upacara, sanak keluarga dan pihak-pihak yang membantu dalam pelaksanaan upacara, sedangkan sebagai pelaksana khusus upacara adalah <em>topogane </em>(pemantera).</p>
<p><strong>Persiapan dan Perlengkapan Upacara</strong></p>
<p>Dalam upacara ini persiapan dan perlengkapannya cukup sederhana berdasarkan kemampuan keluarga yang mengadakan upacara. Adapun perlengkapan yang disediakan adalah <em>halili bulai </em>(blus putih) yang terbuat dari kulit pohon beringin, <em>bingka </em>(dulang berkaki dari rotan), nasi putih (konia), ntolu (telur), dan <em>manti bula </em>(ayam putih).</p>
<p>Masing-masing perlengkapan tersebut adalah yang merupakan isi daripada bingka sebagai simbol persembahan kepada Tuhan yang Maha Esa dan merupakan ucapan syukur kepadaNYA. Bilamana upacara selesai, perlengkapan tersebut dimakan oleh yang diupacarakan.</p>
<p><strong>Jalannya Upacara Menurut Tahapan-tahapannya</strong></p>
<p>Apabila seluruh persiapan dan perlengkapan upacara telah siap dan hari yang telah ditentukanpun sudah tiba, maka upacara ini dimulai. Seluruh keluarga termasuk yang diupacarakan sudah mengambil tempat masing-masing, <em>topogane </em>(pemantera) sudah berada di tempat yang sudah disediakan, maka yang diupacarakan pun dengan diantar oleh ibunya didudukkan tepat di muka pemantera dengan disaksikan oleh yang hadir dalam upacara tersebut. <em>Topogane </em>(pemantera) mengambil <em>halili bulai </em>(blus putili) yang diletakkan di atas dulang bersama <em>mbesa </em>(kain dari kulit kayu) dan dengan cara berganti-ganti mulai memasangkan <em>halili bulai </em>ke dalam tubuh yang hamil, disusul kemudian dengan <em>taluwewe </em>(melilitkan kain mbesa) kebagian perut si hamil. Setelah kedua perlengkapan ini (<em>halili bulai </em>dan mbesa) terpasang, maka <em>topogene </em>meminta <em>manu bula </em>(ayam putih) satu ekor. Sambil memegang ayam putih, yang diharapkan kepadanya mulailah ia membaca manteranya (nogane) sebagai berikut:</p>
<p>&#8221; <em>Kutahuiko manu bulai bona topejadi, ane motu moleko patumpako torai kami, ane patompoko patumoleko rade kami, kami tina toama ompi-ompi kami timali-mali no halili bulai anakamie bonangana tai nihua mabelo lako hi tanana ei pogane kami kiperapi hi iko topejadi pade kihilo ihule manue ei kanotoana</em> &#8220;.</p>
<p>Artinya:</p>
<p>&#8221; Kupersembahkan ayam putih ini kehadapan sang pencipta agar kiranya bila kami tidur tengadah ataupun tidur tengkurap lihatlah kami, dan apabila kami tidur tengkurap ataupun tidur tengadah angkatlah kami. Kami serta ayah bunda, saudara-saudaranya dan sanak keluarga turut serta menyaksikan dalam memakaikan baju putih ini agar anak dalam kandungannya lahir dengan baik dan selamat. Inilah permohonan kami kepadaMU dan dengan kekuasaanMU kami dapat melihat keadaan bayi yang dikandungannya dengan jalan melihat jantung ayam ini&#8221;.</p>
<p>Ayam pun disembelih oleh <em>topogane </em>dan dibakar <em>ripoavua </em>(di dapur) sampai seluruh bulu ayam tersebut terbakar habis yang kemudian diangkat dan ditempatkan di atas dulang serta diberikan kembali pada pemantera kemudian diletakkan di tengah untuk disaksikan oleh yang hadir. Kemudian pemantera pun mulai mengiris kedua sisi dada ayam tersebut dan membuka belahan dada, sambil memperhatikan keadaan jantung ayam tersebut.</p>
<p>Apabila keadaan jantung pada saat dibuka kedua sisinya memperlihatkan tanda-tanda agak kehitam-hitaman dan tidak tegak letak nya, maka hal ini akan memperlihatkan hahwa bayi dalam kandungan tidak terjalin secara sempurna dan mungkin pula bayi lahir dengan cacat dan bagi sang ibu akan mendapat gangguan serta kesukaran dalam melahirkan. Jadi apa yang tergambar pada jantung ayam tersebut upacara <em>nohalili bulai </em>ditunda pelaksanaannya. Sebaliknya bila <em>iluhe </em>(jantung) ayam ini memperlihatkan tanda-tanda/ciri-ciri &#8220;merah tegak&#8221; letaknya, maka bayi dalam kandungan ibu yang diupacarakan terjalin dengan baik dan sempurna atau dengan pengertian bahwa bayi nantinya akan lahir dengan baik dan sempurna. Karena itu, upacara pun dapat dilanjutkan di mana masing-masing <em>topogane</em>, yang hamil dan suaminya bersama-sama turun ke halaman rumah, di mana kerbau atau ayam yang akan dipotong diikatkan untuk dimakan bersama dalam upacara tersebut. Sebelum pemotongan hewan-hewan tersebut dilakukan, maka yang pertama-tama <em>topogane </em>dengan dibantu seseorang mengambil ayam untuk dipotong. Sesudah ayam ini dipegang dan siap untuk dipotong, <em>topogane </em>sudah memegang pisau dan bagian kepala ayam Ialu memanggil si hamil untuk bersama-sama memegang gagang pisau dan mulailah diletakkan mata pisau tersebut di atas lelur ayam sambil mengayunkan tangan ke bawah dan ke atas.</p>
<p>Dalam upacara pemotongan ayam ini si hamil cukup melukai bagian leher ayam tersebut sebagai pertanda orang yang diupacarakan. Untuk pemotongan selanjutnya dilakukan oleh <em>topogane</em> dengan yang membantunya sampai seluruh ayam yang tersedia selesai dipotong semuanya. Apabila pemotongan telah selesai, maka dilanjutkan dengan pemotongan <em>bengga </em>(kerbau) di mana tata upacaranya sama dengan pemotongan ayam tadi, yaitu topogane bersama si hamil bersama-sama memegang gagang <em>taonolampa </em>(parang panjang). Hal yang sama juga yang dilakukan di atas adalah dengan cukup melukai leher kerbau saja dan kemudian dilanjutkan oleh <em>tomantine </em>(orang yang khusus pekerjaannya sebagai pemotong kerbau).</p>
<p>Setelah pemotongan ayam dan kerbau selesai, maka topogane, si hamil bersama suaminya naik kembali ke rumah serta duduk di tempat semula. Untuk hewan-hewan yang sudah dipotong tadi kemudian dimasak dan dimakan bersama-sama sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Sesudah makan bersama maka upacara ini pun dinyatakan selesai.</p>
<p>Suatu hal yang perlu diketahui pula bahwa sebelum upacara <em>halili bulai </em>ini diadakan, maka orang tua pihak perempuan bila anaknya (isteri) sudah memperlihatkan tanda-tanda kehamilan, di sini orang tua sudah berhajat untuk keselamatan anaknya serta bayi yang ada dalam kandungannya. Dalarn melakukan hajat (permohonan) kepada sang pencipta, <em>Karamptia rilangi</em>, <em>Karamptia ritanah </em>(pencipta langit dan bumi) biasanya dengan simbol-simbol tertentu seperti memasangkan <em>lalangi </em>(tenda) di atas tempat tidur suarni isteri.</p>
<p><em>Lalangi </em>(tenda) ini terdiri atas jalinan bambu-bambu kecil yang letaknya membujur sebanyak dua buah dan tujuh bambu yang sama lainnya diletakkan melentang dengan jarak yang sama kemudian tiap-tiap pertemuan antara bambu yang membujur dan melintang diikat dengan rotan dan ukuran tepat sebesar tempat tidur yang diupacarakan.</p>
<p>Bagian atas jalinan bambu yang telah diikat ditutupi dengan <em>mbesa</em> (kain kulit kayu) yang sudah diberi warna hitam. Setiap ujung lubang bambu baik yang membujur maupun yang melintang diberi <em>tawa muku </em>(daun paku) selembar tiap lubang, dan ditambah dengan dedaunan seperti <em>silaguri</em>, <em>siranindi </em>(sejenis coktes) yang bersifat sebagai obat-obatan.</p>
<p>Menggantungkan <em>Ialangi </em>dimulai pada saat orang tua berhajat, dan lalangi sudah dapat diturunkan apabila yang hamil telah melahirkan dengan selamat. Maksudnya adalah sebagai permohonan kepada Tuhan agar baik bayi yang dikandungnya maupun ibu yang hamil diberi kesehatan dan kekuatan selama dan sesudah melahirkan.</p>
<p><strong>Pantangan-pantangan yang harus dihindari</strong></p>
<p>Adapun pantangan-pantangan yang harus dihindari adalah saat <em>halili bulai </em>dipakai tidak boleh ditanggalkan, kecuali mandi. <em>Halili bulai </em>ini baru dapat ditanggalkan oleh si hamil nanti pada saat upacara masa bayi <em>pincorea </em>(membersihkan diri) dilaksanakan. Pantangan lain sesudah upacara ini adalah si hamil tidak boleh hanyak ke luar rumah dengan anggapan bahwa di luar rumah banyak roh-roh jahat yang dapat mengganggu, sedangkan yang disenangi oleh roh-roh jahat itu adalah orang-orang yang hamil. Si hamil tidak boleh <em>meboka</em> (santan kelapa) mencuci rambut dengan santan kelapa sebab mengandung minyak dan licin yang bisa menggugurkan kandungan.</p>
<p><strong>Lambang atau Makna yang Terkandung dalam Unsur-unsur Upacara</strong></p>
<p>Unsur-unsur yang berupa lambang yang mempunyai sifat magis berdasarkan pada nama, warna, sifat, atau keadaan benda tersebut. <em>Halili bulai </em>(blus putih) merupakan lambang kesucian hati atas anugerah Tuhan yang telah memberikan kandungan kepada sang ibu. <em>Manu bula </em>(ayam putih) adalah kebulatan hati yang bersih dalam menerima kelahiran bayi dan sebagai tanda terjalinnya secara sempurna bayi dalam kandungan si ibu sehingga dapat dipastikan keadaan bayi sebelum dan sesudah lahir.</p>
<p><em>Mbesa lipegali </em>(kain kulit kayu yang berwarna hitam) sebagai lambang agar anak (bayi) tumbuh dengan baik sekuat dan sekokoh pohon dengan warna hitam adalah suatu warna yang khusus kepada yang diupacarakan bila ia seorang bangsawan. Warna hitam pada pakaian mbesa tidak terdapat dalam upacara masa hamil di kalangan <em>ntodea </em>(orang kebanyakan).</p>
<p><em>Bingka </em>(dulang rotan) tempat menaruh sesajian sebagai lambang bahwa rotan adalah kekuatan, dan <em>bai pulu </em>(ketan putih) lambang kehidupan masa depan anak.</p>
<p>Sumber: Perpustakaan Daerah Propinsi<br />
Jl. Banteng No. 6 Palu Telp. (0451) 482490</p>
</div>
<h2  class="related_post_title">Artikel Terkait:</h2><ul class="related_post"><li>No Related Post</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://telukpalu.com/2007/10/halili-bulai-upacara-masa-kehamilan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
